Mirage

Mirage
Penasaran


__ADS_3

Wanita itu kemudian membaca keterangan di lembar kertas terakhir. Netranya membulat seketika kala mendapati sebuah kenyataan yang mengejutkan tentang kondisi dirinya saat ini.


Dia kembali menatap foto hitam putih itu lekat-lekat. Lingkar matnya mulai memerah, dan genangan sedikit demi sedikit terbentuk di pelupuk matanya.


"Nggak mungkin. Ini โ€ฆ ini pasti salah," gumamnya yang begitu lirih hampir berbisik, dengan sebelah telapak tangan yang membekap mulutnya sendiri.


Lelehan bening luruh di pipi Mira. Dia seakan tak percaya tentang apa yang ia lihat saat ini.


...๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹...


Di tempat lain.


Di sebuah perusahaan brand fashion ternama, nampak seorang wanita dengan mengenakan dress hijau berkerah lebar dan beraksen kotak, tengah duduk di belakang meja kerjanya, dengan tatapan yang kesal.



"Kenapa kalian mengurus seorang wanita saja tidak pernah becus, hah!" teriaknya kepada Robert, sang pengawal.


"Maaf, Nyonya. Ada dua pria yang datang dan menyelamatkan wanita itu. Bahkan, setelahnya, sepasukan orang datang dan membereskan orang-orang suruhan kita. Tempat itu sekarang sudah dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Sepertinya, penolong wanita itu bukan orang sembarangan," papar Robert.


Wanita yang tak lain adalah Soraya, istri mendiang Thomas, tak percaya jika rencana jahat yang ia rancang untuk Mira, selalu saja berhasil digagalkan orang.


Kurang ajar! Ku kira setelah Thomas mati, tak ada lagi yang akan melindunginya. kenapa anak sofia itu sangat beruntung, batin Soraya


Nampak tangannya mengepal erat, hingga kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.


Tidak โ€ฆ Tidak โ€ฆ aku tidak boleh kalah dari anak ****** itu. Aku harus cari tau siapa kedua pria yang menolongnya, dan menggali sesuatu yang bisa menghancurkannya, Soraya kembali berdialaog dalam hati, dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat ke atas, membentuk sebuah senyuman yang sangat mengerikan.


...๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹...


Siang hari, Mira dikejutkan dengan kedatangan Samuel dan Mom Winda.


"Miraaaa!" pangil Mom Winda dengan hebohnya dan menghampiri Mira.


Wanita tua menor itu langsung memeluk ladies-nya yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur pasien.


"Ehm โ€ฆ Mom, sesak. Aku nggak bisa nafas," keluh Mira sambil menepuk-nepuk punggung wanita tua itu.


Mom Winda pun mengurai pelukannya, dan menangkup kedua pipi Mira dengan keras, hingga bibir wanita itu maju karena terhimpit kedua pipinya.


"Apa kamu nggak papa, Hah?" tanya Mom Winda sambil membolak balikkan kepala Mira ke kiri dan kanan.


"Mum, uku ngguk pupu. Kuu busu lupuskun uku sukurung," ucap Mira dengan pelafalan yang aneh, karena ulah Mom Winda.


Samuel menahan tawa saat melihat perilaku bosnya yang kekanakan, begitu pun Lingga yang gemas melihat interaksi keduanya.


"Kamu beneran nggak papa โ€ฆ Hei anak muda, dia beneran nggak papa?" tanya Mom Winda kepada Mira dan juga Lingga bersamaan.


Akhirnya, Mira yang kesal dengan kelakuan bosnya pun langsung menurunkan paksa tangan yang sedari tadi menempel di pipinya.

__ADS_1


"Mom, aku beneran nggak papa. Kalo nggak percaya, tanya saja sama dokter," keluh Mira sambil memegangi kedua pipinya yang terasa sakit karena ulah Mom Winda.


"Hah โ€ฆ syukurlah. Aku sangat terkejut pas tadi pagi Sam memberitahuku kau ke tempat itu, Mir." Mom Winda mengusap-usap dadanya, sambil berjalan menuju sofa dan duduk di sana.


"Samuel?" ucap Mira dengan alis yang berkerut menatap heran ke arah bartender itu.


Dia menoleh ke arah Samuel, yang kini sedang tidak bertugas dan menemani bosnya berkunjung untuk menjenguk Mira.


Penampilannya sangat berbeda dengan ketika sedang berada di belakang meja bar dan meracik minuman.


Rambut gondrongnya yang khas dan selalu diikat ke atas, kali ini ia biarkan tergerai. Style-nya yang selalu memakai kemeja putih dengan lengan yang dilipat sesiku, lengkap dengan rompi ala bartender, kini cenderung lebih santai dengan kemeja biru gelap berlengan pendek.



"Kenapa liatin gue kek gitu? Gue cuma bilang yang gue tau saja," ucap Samuel sebelum ditanya oleh Mira.


"Darimana lu tau kalau gue ke sana?" tanya Mira penasaran.


"Temen kamu yang kasih tau kita bertiga," sahut Lingga sambil menyuapi Mira sesendok salad buah yang ia belikan sebelumnya bersama dengan sarapan.


"Temen? siapa?" tanya Mira kepada kedua pria itu.


"Tania," jawab Sam yang juga duduk di sofa bersama Mom Winda.


"Tania?" tanya Mira terheran mendengar nama temannya itu disebut.


Dari mana dia tau kalau gue ke sana? batin Mira.


"Tunggu! Apa? Steve? Steve juga tau masalah ini?" tanya Mira semakin tak percaya mendengar penuturan Samuel.


"Dia bahkan ikut Tuan Lingga menyusulmu ke sana," tutur Sam.


Mira menoleh ke arah Lingga, tetapi pria itu diam dan kembali menyuapkan sesendok salad ke muljt wanita cantik itu.


"Kak, kenapa nggak bilang kalau Steve juga ikut?" tanya Mira.


"Nggak papa," jawab Lingga ketus.


"Aku kan juga perlu mengucapkan terimaksih kepadanya," ucap Mira sambil menoleh ke kanan dan kirinya mencari sesuatu.


"Cari apa?" tanya Lingga datar sambil kembali menyuapi Mira.


"Cari hand phone lah. Aku mau ngucapin makasih sama dia," sahut Mira.


"Hand phone mu nge-drop semalem. Masih di charge," jawab Lingga ketus.


"Ya udah, ambilin." Mira pun merengek.


"Nanti aja. Makan dulu," seru Lingga yang masih saja ketus.

__ADS_1


"Iissshhh โ€ฆ Kakak!" rengek Mira.


Lingga seolah tak peduli dengan rengekan wanitanya itu. Dia lebih memilih untuk terus menyuapinya hingga mulutnya penuh dengan makanan, sedangkan Mira makan dengan merengut kesal.


Samuel meng*lum senyumnya sedangkan Mom Winda memijat keningnya kala melihat Lingga yang cemburu, sedangkan Mira yang sama sekali tidak peka.


Saat itu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Semua menoleh, dan melihat jika pintu terbuka dari luar.


Nampak seorang pria datang dengan membawa sebuket bunga mawar, dan juga sekeranjang buah di tangannya.


"Selamat siang," sapanya.


"Steve!" panggil Mira yang terlihat begitu antusias.


"Hai, Mir. Apa kabarmu?" tanya Steve sambil berjalan menuju ke arah wanita itu.


"Sudah lumayan baikan," jawab Mira dengan senyum yang terlihat ramah.


Dia tak tau jika pria di sampingnya itu kesal bukan main melihat wanitanya begitu akrab dengan pria lain.


"Ehem ... bukankah sudah ku katakan, Tuan Lee. Anda tidak perlu lagi kemari," ucap Lingga pada akhirnya.


"Kak," keluh Mira yang tak suka dengan sikap Lingga kepada Steve.


"Apa?" Sahut Lingga judes.


"Isshhh ... niat dia kan baik, mau jengukin aku. Masa gitu aja nggak boleh sih, Kak," gerutu Mira.


"Hah ... terserah," ucap Lingga.


Pria itu kemudian beranjak dari duduknya, dan berjalan keluar. Ia melewati Steve dan sempat melempar tatapan tajam ke arah pria itu.


Steve tak menanggapi. Dia pun kmeblai tersenyum kepada Mira dan juga kembali menyapa yang ada di dalam sana.


.


.


.


.


Bang, jangan ngambek nape, bang.


Lingga : sebel gue ama lu thor. Awalnya gue seneng karena nggak ada pelakor sampai eps ini, eh..... tapi malah dikasih pebinor๐Ÿคจ


Kan buat kembang-kembang hati elu bang. kalo seneng mulu, nggak seru dong, hambar.


Kalau menurut reader gimana?

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah๐Ÿ˜Š kembang ma kopi juga boleh banget๐Ÿ˜


__ADS_2