Mirage

Mirage
Kamu bau!


__ADS_3

Lima tahun kemudian, Paris sebuah kota fashion dunia, di mana telah banyak lahir berbagai brand fashion ternama dunia.


Di sebuah pusat perbelanjaan yang beberapa tahun belakangan resmi beroperasi dan menjadi pusat perbelanjaan terkemika di kota tersebut, Shine department store, terlihat hiruk pikuk orang yang berlalu lalang, sedang mempersiapkan sebuah perhelatan peragaan busana dari merek baru yang sedang viral saat ini, MW fashion.


Sebuah brand fashion yang muncul sekitar dua tahun belakangan, dan sudah memiliki pangsa pasar tersendiri.


Rata-rata peminatnya adalah wanita yang menyukai gaya glamour dan seksi. Namun tak hanya itu, MW fashion pun menciptakan produk yang bisa dipakai oleh wanita yang menyukai gaya casual elegant, bahkan ada juga untuk kaum pria.


Di antara banyaknya orang yang tengah mempersiapkan acara tersebut, tampak seorang wanita yang sedang mencoba berjalan di atas cat walk, sambil melenggak lenggokan badannya bak super model.


“Gimana? Apa panggungnya udah oke?” tanya Wanita lain yang berada di bawah panggung, dan memperhatikan semua dari tempatnya.


“Lumayan, Puk. Cuma, mungkin kalau nyobanya sekalian ama lighting-nya bagus kali ya,” sahut wanita yang masih berada di atas panggung.


Mereka berdua adalah dua sahabat yang berhasil keluar dari lembah pel*curan, berkat pria yang mereka cintai, Mira dan Tania.


Mira kini tengah menggeluti dunia fashion, di mana design-nya berhasil diterima dipasaran dengan merek MW fashion, sedangkan sahabatnya Tania, memilih untuk menjadi brand ambasador MW fashion sejak awal peluncurannya, bahkan saat Mira masih berstatus sebagai mahasiswa.


Bukan perkara mudah untuk menciptakan brand fashion-nya sendiri, terlebih di kota fashion di mana begitu banyak fashion designer handal yang banyak berada di sini.


Namun, dengan bakat alaminya, ditunjang dengan peninggalan Thomas, serta dukungan penuh dari sang suami, membuat Mira mampu untuk meraih hal tersebut.


Memang belum sebesar brand fashion dunia yang lebih dulu ada, namun setidaknya, Mira bisa membuktikan jika dirinya mampu untuk bersaing di kancah dunia.


Kini, namanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat dunia, berkat rancangannya yang dinilai luar biasa.


Di tengah kesibukannya mengatur persiapan event, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Sang asisten, Julia, menyerahkan ponsel Mira kepada si empunya.


“Nyonya, ada telepon dari Suami Anda,” ucapnya.


Mira pun segera meraih benda pipih terebut. Sebuah senyum terbit di bibirnya, saat melihat nama sang suami tertera di layar. Dia kemudian menerima panggilan dari Lingga.


“Halo, Honey,” sapa Mira.


“Hai, Sweet heart. Bagaimana persiapannya? Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Lingga dari seberang sambungan.


“Sepertinya semua sudah beres. Tinggal pengecekan lampu dan bagain-bagian kecil lainnya aja,” jawab Mira.


“Jadi, apa siang ini kita bisa makan bersama?” tanya Lingga.


“Ehm, baiklah. Kamu mau makan di mana?” tanya Mira.


“Bagaimana kalau di rumah? Dia atas ranjang, berdua?” goda Lingga.


“Kak!” seru Mira.


“Hahahaha, I miss you so much, Sweetie. Kamu akhir-akhir ini selalu sibuk menyiapkan peragaan busana mu, sampai lupa sama aku,” rengek Lingga.


“Ohhh, bayi besar ku haus yah. Kangen pengin *****? Hehehe,” ledek Mira.


“Tuh kan, nakal. Awas nanti, jangan salahin aku kalau kamu pingsan lagi,” ucap Lingga memperingati.

__ADS_1


“Hahaha, takut. Hahaha,” ledek Mira.


“Hah, kamu menyiksaku. Masih jam sepuluh. Apa makan siangnya bisa dipercepat?” tanya Lingga.


“Hahahaha, tunggu dua jam lagi. Aku akan berikan menu spesial buatmu,” sahut Mira.


“Baiklah. Aku akan sabar. Sampai bertemu di rumah,” ucap lingga.


“Selamat bekerja, Honey. Muuaaaaccchh!” sahut Mira diakhiri dengan kecup jauh.


“Kamu juga, sayang,” ujar Lingga.


Panggilan pun dimatikan.


Mira kembali menyibukkan diri dengan mengarahkan para kru, agar bisa menyelesaikan semua persiapan dengan baik.


“Bisa kita coba lighting-nya?” seru Mira.


Para kru yang bertugas mengendalikan lampu-lampu panggung pun mulai mencobanya. Cahaya dia sekitar tempat acara sengaja diredupkan, dan Tania mulai berjalan di atas cat walk. Lampu mulai mengikutinya, dan berhenti ketika di ujung panggung.


Semua berlangsung hingga jam makan siang. Mira meminta semua untuk beristirahat, dan dilanjut lagi nanti hingga acara dimulai.


“Mok, gue pulang dulu ya. Laki gue nungguin di rumah. Minta *****,” ucap Mira.


“Emang sedeng nih anak. Vulgar gitu lu umbar di sini. Eling woi,” seru Tania.


“Bodo amat. Emang ada yang tau kita lagi ngomongin apaan? Hahaha,” kelakar Mira.


“Enak aja! Dia udah jinak sekarang. Dah ah, gue balik. Titip yang di sini ya. Kalau ada yang kurang pas, tinggal bilang sama Julia. Jangan galak-galak lu ama dia,” pesan Mira.


“Nggak kok. Gue kan mesti jaim,” sahut Tania yang disambut tonyoran di kepalanya.


“Aww! Sakit beg*!” keluh Tania.


Mira terkekeh dan berjalan meninggalkan sahabatnya yang merangkap menjadi penata panggungnya.


Bukan kali pertama Mira menyerahkan tugas itu kepada Tania. Pasalnya, sebagai seorang model, dia pasti tau bagian-bagian mana yang perlu diperhatikan agar penampilan bisa terlihat apik dan menunjang pakaian yang dikenakan si model.


...💋💋💋💋💋...


Sesampainya di rumah berlantai dua yang Lingga beli untuk tempat tinggal mereka selama di Paris, Mira memarkirkan mobilnya di garasi yang bisa terbuka otomatis dengan menggunakan pengendali jarak jauh.


“Sudah pulang rupanya,” gumamnya saat melihat mobil suaminya sudah terparkir rapi di dalam sana.


Dia kemudian  turun, dan membawa sebuah paper bag yang berisi peralatan tempur untuk menghangatkan ranjangnya bersama suami.


Dia berjalan masuk dan melihat ke sekeliling, namun rumah terlihat begitu sepi. Seorang asisten rumah tangga nampak berjalan menghampiri wanita itu, dan meraih tas serta mantelnya.


“Di mana Tuan?” tanya Mira


“Tuan ada di kamar, Nyonya,” jawab sangat ART.

__ADS_1


Mira pun kemudian naik ke lantai atas, di mana kamar mereka berdua berada. Dia segera membuka pintu masuk ke dalam, namun di sana pun sepi seperti tak ada orang.


“Honey!” panggilnya.


Dia melangkah menuju ke kamar mandi, namun di sana pun sama. Mira kemudian pergi ke walk in closet, tapi di sana pun nihil. Saat dirinya berbalik dan kembali ke kamar, dia melihat ke arah balkon.


Dibukanya tirai yang menutupi area tersebut, namun sama. Di luar juga tak ada siapapun.


Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh lehernya, dan menyimkap rambutnya yang tergerai, ke belakang bahu.


“Kak!” panggil Mira yang hendak berbalik, namun segera di tahan oleh tangan itu.


“Tetap seperti ini, oke,” seru Lingga.


Dia memeluk erat pinggang sangat istri dari belakang, dengan meletakkan dagunya di pundak Mira.


“Miss you, Sweet heart,” ucap Lingga.


“Ehm, maaf yah. Belakangan ini jadi nyuekin Kakak,” sahut Mira.


Lingga memutar tubuh istrinya, dan melihat lekat-lekat wajah cantik yang kini selalu menghiasi Hari-harinya.


Kedua tangannya menangkup pipi wanita itu, dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir merah tebal Mira.


“Ehm! Kak, bau!” pekik Mira saat mencium aroma yang menurutnya tidak sedap dari Lingga.


Mira segera menghindar dan melepaskan diri dari suaminya, serta menjauh dari prianya. Kedua tangannya membekap mulut dan hidung, agar aroma itu tak tercium lagi.


“Kamu kenapa?” tanya Lingga yang kebingungan melihat reaksi sangat istri.


“Kamu bau banget, Kak. Aku nggak suka,” keluh Mira.


Lingga akhirnya ikut mengendus dirinya sendiri karena melihat Mira yang begitu terganggu dengan aroma tubuhnya. Tapi, dia merasa tak ada yang aneh dari dirinya.


“Nggak bau kok. Malah wangi,” sanggah Lingga.


Mira kemudian mendekat dan kembali mengendus. Saat hidungnya berada di depan mulut suaminya, Mira kembali menjauh dan menutup rapat hidungnya.


“Kamu habis ngerokok ya? Bau banget!” tebak Mira.


“Bau? Bukannya biasanya juga nggak papa? Jangan aneh-aneh deh,” keluh Lingga.


“Tapi beneran bau banget. Hoek! Hoek!” Mira merasa begitu terganggu dengan aroma tersebut hingga membuatnya mual.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2