Mirage

Mirage
Diawasi Aletta


__ADS_3

Keesokan harinya, rumah Lingga kedatangan tamu tak diundang, yang langsung membuat suasana tempat tinggal mereka mendadak jadi ramai.


Mira hari ini seperti pasien yang tak boleh turun dari tempat tidur sama sekali, hanya gara-gara penuturan Lingga pada ibunya kemarin, yang mengatakan jika sang istri terus muntah-muntah hingga lemas.


“Mami, aku nggak papa. Nggak harus kaya gini juga,” keluh Mira.


“Eeeeeh, nurut! Mami nggak mau kalau kamu sampe jatuh gara-gara lemes. Tadi pagi aja kamu muntah lagi kan,” Seru Aletta.


“Kata siapa?” tanya Mira sambil melirik ke arah suaminya.


Lingga yang dilihat pun hanya nyengir, sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sama sekali.


“Kak Arya cuma lebay, Mi. Aku cuma muntah dikit aja kok, gara dia nyium aku pas belum gosok gigi,” keluh Mira mendengus kesal.


“Sama aja. Namanya tetap muntah. Udah ngga usah protes. Pokonya, mulai sekarang Mami akan tinggal di sini, nemenin kamu sampe anak ini lahir. Biar terjamin keamanannya. Mami nggak percaya kalo cuma suamimu yang ngurus kamu pas hamil. Yang ada, dia malah minta jatah terus tiap hari,” omel Aletta.


Sebenarnya, tanpa diawasi pun, Lingga tahu betul akan hal itu. Dia sudah mendengar sendiri dari dokter, dan berusaha untuk menekan h*sratnya.


Tapi nggak gini juga kali. Kalau Ibu terus di sini, bisa-bisa aku beneran nggak dapet jatah sama sekali lagi, terka Lingga dalam hati.


Mira melihat suaminya yang nampak berpikir karena ucapan ibu mertuanya tadi. Dia pun hanya bisa meng*lum senyum menyadari hal itu.


"Kamu kenapa, Mari? Kok diem? Nggak suka ya Mami di sini?" tanya Aletta yang sedari tadi melihat Mira diam saja.


“Nggak kok, Mi. Aku suka. Tapi, nanti Riri gimana? Dia sendirian kan di sana,” tanya Mira.


“Riri sekarang udah ada yang jagain. Mami udah tenang buat ninggalin dia,” sahut Aletta.


“Oh ya? Siapa, Mi?” tanya Mira penasaran.


“Namanya Samuel. Dia dulu kerja di bar, tapi sekarang udah buka sendiri bar and resto sendiri,” jawab Aletta.


“Samuel? Itu pacar Riri, Bu?” tanya Lingga.


“Mereka sih nggak bilang kalau lagi pacaran. Cuma sejak beberapa tahun belakangan, mereka emang deket banget. Mungkin mau ke arah situ. Cuma Mami lihat, dia anaknya baik. Meskipun gayanya sedikit terlihat urakan dengan rambut gondrong, tapi dia cukup tau sopan santun kok,” tutur Aletta.


“Ati-ati tuh. Siapa tahu cuma modus,” celetuk Lingga.


“Samuel?” gumam Mira.


Dia kemudian meraih ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Dia membuka galeri dan mencari sebuah foto.


“Ehm, Mi. Apa Samuel yang Mami maksud itu orang ini?” tanya Mira sambil memperlihatkan sebuah foto laki-laki, yang tengah bekerja di belakang meja bar.


“Iya bener. Itu Samuel, temennya Riri. Kamu kenal dia? ” sahut Aletta.


“Dia temanku, Mi. Sam emang cowo baik. Meskipun kerja di tempat hiburan malam, tapi nggak pernah sekalipun dia ada godain wanita penghibur yang ada di sana. Dia bahkan memilih nggak punya pacar selama bekerja sebagai seorang peracik minuman beralkohol. Katanya takut diamuk pacar gara-gara kerja di tempat begituan. Aku malah nggak tau kalau sekarang dia udah keluar dari tempat Mom Winda,” ungkap Mira.


“Wah, jadi Mami udah bener dong ya nitip  Riri ke dia. Syukurlah,” ucap Aletta.


Memang kedatangan Aletta membuat ruang gerak Mira mnjadi kurang leluasa. Terlebih wanita itu terus melarang Lingga untuk berhubungan dengan sang istri, mengingat kandungan keduanya yang cukup riskan.

__ADS_1


Namun, dengan kehadirannya di sini, membuat Mira seakan mendapat perhatian dari seorang ibu, yang telah lama ia rindukan.


Lingga yang awalnya bisa menekan h*sratnya, lama kelamaan menjadi tak tahan. Pasalnya, sejak Aletta datang, wanita itu menyuruh Lingga untuk sementara tidur di kamar tamu, yang terpisah dari Mira. Dia selalu saja merengek, agar diperbolehkan tidur dengan istrinya, namun tetap tidak diijinkan oleh Aletta.


Seperti kejadian hari ini, saat Lingga sedang begitu bergairah karena ketika di kantor tadi, dia tidak sengaja melakukan panggilan vidio, tepat saat sang istri baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.


Dengan isengnya, Lingga meminta Mira agar berganti pakaian di depan kamera, agar dia bisa melihat tubuh polos sang istri dari kantor.


Tapi, karena hal itu dia jadi ter*ngsang, dan teripang daratnya berubah menjadi monster yang ingin segera masuk ke liang.


“Aku pulang sekarang!” ucap Lingga segera setelah melihat tubuh telanjang Mira di layar ponselnya.


“Tapi Kak...,” cegah Mira, namun lebih dulu Lingga mematikan panggilannya.


Pria itu bergegas pulang lebih awal, karena rasa rindu ingin menjamah istrinya yang sudah lama tak ia lakukan, tepatnya setelah kedatangan Aletta di rumah.


Saat sampai di sana, Lingga segera berlari menuju kamarnya, di mana sang istri sudah pasti berada. Mira berkata jika saat ini ibu mertunya sedang pergi keluar untuk berbelanja  bahan makanan bersama supir.


Lingga merasa, ini waktu yang pas untuk bercinta dengan Mira, sebelum Aletta datang dan mengacaukan lagi keromantisan pasangan tersebut.


“Mira sayaaang. Suamimu pulaaaang,” seru Lingga dengan girangnya.


Namun, saat dia membuka pintu kamar, wajahnya seketika menjadi muram.


“Udah pulang, Ar?” tanya Aletta yang ternyata sudah kembali ke rumah.


Terdengar helaan nafas yang dalam dari pria itu. Lingga pun berjalan gontai menghampiri ibu dan istrinya yang sedang duduk di sofa kamar mereka.


“Ya emang udah selesai. Kenapa sih? Nggak seneng banget lihat ibu sendiri,” keluh Aletta.


Mira hanya terkekeh dengan menutup mulutnya, melihat tingkah Lingga yang tengah merajuk.


“Gagal lagi deh!” gerutu Lingga.


Aletta paham maksud putrnya itu. Dia bukannya kasihan, malah memukul lengan Lingga hingga pria itu mengaduh.


“Kamu ini. Tunggu beberapa bulan lagi sampai kandungan istrimu masuk trimester ketiga. Baru boleh lakuin itu. Dasar nggak sabaran,” omel Aletta.


“Udah kangen. Nggak tahan, Bu,” rengek Lingga.


“Mandi sana biar adem. Pasti sekarang lagi kepanasan kan. Cepet sana masuk kamar mandi!” seru Aletta.


Lingga pun memilih menurut dan mandi agar hasratnya bisa turun, seiringi tubuhnya yang menjadi dingin.


Mira sebenarnya tak tega melihat, saat melihat suaminya harus menahan diri, karena mertunya yang over protective terhadapnya.


Namun, dia pun senang akan hal itu. Karena setidaknya, itu membuktikan jika keduanya benar-benar peduli pada kondisinya dan kondisi kandungannya.


...💋💋💋💋💋...


Beberapa bulan kemudian, sebuah kabar gembira datang dari pasangan Nicholas dan Tania. Mereka hari itu sengaja datang ke rumah Mira dan Lingga, membawa undangan pernikahan yang akan digelar seminggu lagi.

__ADS_1


“Selamat ya, Puk. Akhirnya lu bakal jadi Nyonya Nicholas juga,” ucap Mira.


“Makasih ya, Mok. Ini juga berkat doa dan dukungan elu, gue sama Nick bisa sampai di tahap ini,” sahut Tania.


“Kami harap, Tuan Lingga dan Nona Mira bisa datang ke pernikahan kami berdua,” ucap Nicholas.


“Kami pasti usahakan buat datang,” sahut Lingga.


Tania yang sedari tadi duduk di samping Mira, terus mengelus perut wanita itu yang sudah semakin membesar.


“Udah berapa bulan?” tanya Tania.


“Udah masuk bulan ke delapan,” jawab Mira.


“Bentar lagi yah,” sahut Tania.


“Sekitar sebulan lagi,” ucap Mkra.


“Udah sering ditengok dong,” celetuk Tania.


“Ngapain nanya-nanya?” sergah Lingga.


“Cuma nanya doang. Katanya kan kalau hamil tua,harus sering ditengok biar lahirannya gampang,” ucap Tania dengan datarnya.


Wanita itu terus mengusap-usap perut temannya yang menurutnya menggemaskan.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya kedua orang itu pun pergi, dan meninggalkan Lingga yang entah kenapa terus mengusap-usap punggung istrinya dengan sesekali menarik tali bra hingga membuat bunyi yang keras.


Mira pun merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya itu.


“Kak,kenapa sih?” tanya Mira melihat ke arah suaminya.


“Ehm, nggak papa. Ke kamar yuk,” ajak Lingga.


“Ngapain Siang-siang ngamar? Mending keluar jalan-jalan,” sahut Mira.


“Issh! Nggak denger tadi Tania bilang apa? Hamil besar itu, kudu sering ditengokin katanya,” ucap Lingga.


Mira seketika menyikut perut suaminya karena selalu ingat menagih jatah.


“Emang Mami udah ngijinin?” tanya Mira.


“Pasti boleh. Yuk, mumpung sepi nggak ada orang,” seru Lingga yang seketika menggendong istrinya naik ke lantai atas.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2