Mirage

Mirage
Berbicara dengan dia


__ADS_3

Seperginya Mom Winda dan Samuel, Mira kini sendirian di runag rawatnya. Dia masih dalam posis duduk bersandar di atas ranjang.


Wanita itu terdengar menghela nafas panjang, sambil menoleh ke arah laci yang ada di bawah nakas, di samping kanannya.


Mira kembali membuang nafas beratnya, dan meraih sebuah anggur merah yang berada di dalam keranjang yang dibawakan oleh Steve.


Ia mengangkat buah kecil itu tinggi-tinggi, dan Mira menatapnya seolah tengah menerawang di bawah cahaya lampu.


"Apa sekecil ini?" gumamnya.


Dia merebahkan tubuhnya, lalu kemudian mengarahkan buah mungil itu ke atas perutnya yang rata, dan meletakkannya di sana.


Mira menatap lurus ke arah buah yang ada di atas tubuhnya itu dengan tatapan berbeda. Seperti ada rasa kasih tetapi juga tersirat kesedihan di matanya.


"Jadi, kamu sudah datang dan sekarang ada di dalam sana?" ucapnya lirih sambil terus memandangi buah mungil itu.


"Tenang … aku sama sekali nggak nyesel bahkan nggak benci juga. Aku justru senang dengan kehadiranmu. Maaf yah kalau tadi siang aku menangis." Mira mengulas senyum simpul ke arah buah anggur yang masih betah berada di atas perutnya.


"Aku hanya berpikir, bagaimana kalau nasibmu berujung sama sepertiku? Bagaimana kalau pria itu tidak mau menerima kehadiranmu?" Mira membuang pandangannya, dan menatap ke arah pintu.


Helaan nafas yang dalam kembali terdengar dari mulut wanita tersebut.


"Dia memang bilang cinta sama aku, tapi entah kenapa aku ragu untuk memberitahunya tentang adanya kamu di dalam sana. Aku takut dia tak mau percaya jika kamu adalah miliknya."


"Yah … kau bisa salahkan aku untuk hal ini. Itu karena pekerjaanku yang selalu berhubngan dengan banyak pria. Jadi, wajar saja kalau dia ragu untuk mengakui mu. Maafkan aku yah," ucap Mira yang seolah tengah berdialog dengan seseorang, namun pandangannya kembali tertuju pada anggur itu.


"Tapi kau tenang saja. Aku akan tetap menjagamu hingga besar. Aku tak keberatan untuk merawatmu, karena aku dulu juga punya seorang ibu hebat, yang bisa membesarkan ku seorang diri," serunya dengan senyum getir.


"Abaikan ayah ku yang ternyata hanya ayah tiri. Dia sama sekali tak menganggapku ada. Jadi, kalau memang ternyata pria itu tak menginginkanmu, maka aku janji tak akan mencari pria lain untuk menjadi ayahmu. Kita hanya akan hidup berdua, saling menjaga dan menyayangi satu sama lain. Kamu setujukan," tanya Mira yang masib menatap lekat buah anggur kecil dia atas perutnya.


Mira mengambil buah anggur itu, dan meletakkan kembali di dalam keranjang bersama buah-buah lainnya. Tangannya perlahan terulur dan meraba perutnya yang langsing.


Dia mengusapnya lembut, lalu lama kelamaan, dia memeluk perutnya sendiri seakaan tengah mendekap sesuatu.


"Aku akan selalu melindungi dan menjagamu. Aku janji," ucapnya.

__ADS_1


...💋💋💋💋💋...


Malam telah larut. Jam menunjukkan sudah pukul setengah sepuluh malam. Mira masih terjaga dan makanan yang diantar oleh perawat sama sekali tidak disentuhnya.


Jatah sarapan dan makan siang sebelumnya, dimasukkan ke dalam kantong plastik kemudian dibuang Lingga ke tempat sampah depan. Sehingga petugas kebersihan tak akan menemukan sisa makanan itu.


Sangat tidak sopan bukan, jika tidak memakan sesuatu yang sudah disiapkan dengan baik, dari segi komposisi dan nilai gizinya.


Namun karena Mira tetap bersikeras tidak mau, jadi apa boleh buat.


Mira menyalakan TV flat berukuran 40 Inch yang tertanam di tebok sebelah kirinya. Sebuah berita ekonomi dan bisnis tengah diputar oleh salah satu stasiun televisi swasta.


Saat itu, berita yang disiarkan adalah tentang pergantian pemimpin pada salah satu perusahaan brand fashion ternama di dunia yang berpusat di tanah air.


"Itu kan, perusahaannya Thomas," gumam Mira sambil terus menyaksikan berita tersebut.


Pembaca berita mengungkapkan jika pengganti mendiang Thomas, adalah sang istri yang bernama Soraya Hellena Wiratmaja.


Saat itulah, visual Soraya ditampilkan dengan sangat jelas di layar kaca lebar itu. Mira seketika mengernyitkan kedua alisnya, seolah memikirkan sesuatu.


Dia berusaha mengingat-ingat lagi di mana dirinya pernah bertemu dengan wanita itu.


"Di rumah sakit? Ya aku pernah melihatnya. Tapi kayaknya bukan saat itu. Pemakaman? Ehm … kayaknya juga bukan. Kayaknya udah lama banget kejadiannya. Tapi kapan yah?" tanya Mira pada dirinya sendiri, sambil mencoba menggali memorinya.


"Ah … tapi apa iya. Kayaknya nggak mungkin. Paling aku cuma lihat dia sekilas di TV. Dia kan istri pengusaha kaya, nggak mungkin kan kalau nggak pernah sama sekali nampang di situ," pikir Mira sambil mencibir wanita yang muncul di TV tadi.


Tak berselang lama, pintu dibuka dan Lingga muncul dari sana. Mira seketika menoleh dan tersenyum menyambut kedatangan pria itu.


Lingga pun membalas senyum Mira dengan berpura-puta tenang di depan wanitanya. Namun, mata Mira yang jeli bisa menangkap sesuatu yang salah di dalam tatapan mata prianya.


Pria itu berjalan menuju ke sofa, dan terlihat meletakkan sebuah tas belanjaan besar yang dia bawa dari luar. Dia pun kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa, sambil menyandarkan punggung dan tengkuknya terasa kaku.


"Capek banget ya? Ada masalah di kantor?" tanya Mira seketika.


"Ehm … nggak kok. Biasa lah, Nick selalu saja heboh kalau aku nggak ada," kilah Lingga yang mendongak ke atas.

__ADS_1


Pria itu kemudian bangkit berdiri dan berjalan mengampiri Mira. Dia kini telah ada di samping wanita itu. Lingga mengusap lembut puncak kepala Mira, dan mengecup kening ratu esnya dalam-dalam, menghirup aroma rambut Mira hingga memenuhi rongga dadanya.


"Kamu nggak makan?" tanya Lingga yang melihat sekilas jatah makan dari rumah sakit yang masih dalam kondisi tertutup rapat.


"Emang aku bisa makan apa? Itu? Nggak mau," rengek Mira sambil menunjuk makanan rumah sakit yang ada di atas nakas.


"Ehm … Aku mandi dulu bentar yah. Habis itu, kita turun ke kantin yuk. Aku dorong pake kursi roda yah," ajak Lingga.


"Beneran boleh keluar? Asiiikk … kebetulan aku juga bosen di kamar mulu seharian, Kak," sorak Mira begitu senang.


"Boleh lah … nanti aku marahin kalo ada yang ngelarang," ucap Lingga dengan sombongnya.


"Idih … yang sok bossy," ledek Mira.


Pria itu pun terkekeh. Dia lalu kembali ke arah sofa, dan mengambil sebuah handuk yang berada di dalam tas belanja yang dibawanya masuk.


"Kakak habis pulang?" tanya Mira.


"Nggak kok. Aku cuma minta tolong Nick buat cariin baju ganti sama peralatan mandi," sahut Lingga sambil berlalu ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Lingga keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya. Dia kembali mengambil sesuatu dari dalam paper bag tadi dan masuk ke dalam kamar mandi lagi.


"Aneh. Kenapa nggak dibawa sekalian sih. Kau lihat, dia sengaja mau godain aku. Ayahmu memang selalu begitu," gerutu Mira.


.


.


.


.


Guys, maaf banget, hari ini aku cuma janjiin up 1 doang ya, kalau emang sempet aku kasih 1 lagi nanti siang atau sore. Tapi nggak janji😅


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2