
Saat mobil berhenti, Mira buru-buru keluar dan berjalan ke arah trotoar. Ia memuntahkan semua isi perutnya, akibat pengar yang ia alami setelah mabuk semalam.
Lingga yang melihat itu pun buru-buru menyusulnya, dan membantu memijat tengkuk Mira untuk mengurangi rasa mualnya.
Mira berjongkok sambil memegangi lututnya. Rambutnya yang tergerai, membutnya kerepotan untuk menghalau ketika ia muntah.
Lingga meraih sebuah sapu tangan yang ada di dalam saku celananya dan memilinnya, lalu mengikatkannya pada rambut Mira, agar tidak membuat wanita itu tergangggu.
Mira merasakan hangat di dalam hatinya, kala menerima perlakuan sederhana itu dari Lingga. Namun, egonya menepis jauh-jauh perasaan itu.
Setelah dirasa cukup membaik, Mira pun bangkit berdiri namun masih terasa sepoyongan. Akhirnya, Lingga berinisiatif memapahnya, meski Mira selalu menghalau tangan pria itu melekat di tubuhnya.
"Kamu duduk lah dulu di sini. Aku akan cari sesuatu sebentar," ucap Lingga yang lalu meninggalkan Mira di dalam mobil sendirian.
Mira tak peduli pria itu mau ke mana. Dia hanya bersandar di kursi sambil memejamkan mata, untuk mengurangi rasa pusingnya.
Rasa asam lambung yg naik hingga ke lidah, membuat tenggorokannya terasa terbakar. Mira terus menelan ludahnya sendiri, untuk mengurangi rasa tidak nyaman di dalam mulutnya.
Tah berselang lama, pintu sebelah kemudi terbuka dan Lingga pun masuk ke dalam.
"Minumlah!" ia menyodorkan sebotol air minum yang telah dibukanya kepada Mira.
Wanita itu melirik sekilas, lalu menyambarnya dan meneguk isinya begitu saja.
"Ah …." Mira memberikan kembali botolnya kepada Lingga.
__ADS_1
"Sudah mendingan?" tanya Lingga yang benar-benar khawatir kepada Mira.
Namun, Mira bersikap masa bodo dengan kekhawatiran Lingga saat itu, dan membuatnya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kita jalan lagi ya. Kalau nanti kerasa mual, bilang saja," ucap Lingga yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.
Mira hanya ber 'hem' ria, dan tak menimpali apapun lagi perkataan Lingga.
Lingga pun melajukan kembali mobilnya, dan menuju ke suatu tempat.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, kini mereka telah tiba di sebuah pusat perbelanjaan.
"Mau apa kita ke sini, Tuan?" tanya Mira yang kaget dengan tempat mereka berada sekarang.
"Tentu saja makan. Kan tadi aku bilang, kita makan dulu sebelum pulang. Di sini ada restoran yang punya sup ayam, yang rasanya sangat lezat. Itu bagus buat meredakan pengar akibat mabukmu semalam," ucap Lingga yang kemudian membukakan seat belt Mira.
"Apa Anda bercanda ,Tuan? Anda tidak lihat bagaimana penampilan saya saat ini?" tanya Mira kesal.
"Memangnya bagaimana penampilanmu?" tanya Lingga yang tak paham dengan maksud wanita es itu.
"Lihat ini! Saya masih pakai pakaian aneh ini. Ditambah lagi, saya juga belum sempat cuci muka sama sekali, dan Anda mengajak saya ke tempat umum seperti ini? Anda sengaja mau mempermalukan saya?" cecar Mira sambil menarik-narik ujung lengan piyamanya dengan kesal.
Lingga berkedip beberapa kali, sambil melihat penampilan wanita di hadapannya. Dia baru menyadari, jika Mira masih dengan wajah bantalnya, karena mereka langsung pergi begitu saja sesaat setelah bangun tidur tadi.
Pria itu pun lalu melihat dirinya di kaca spion depan, yang ternyata tak jauh beda dengan Mira. Rambutnya masih acak-acakan khas orang yang baru bangun tidur, dengan kotoran yang ada di sudut matanya yang telah mengering.
__ADS_1
"Kau benar. Kita sangat kacau sekarang ini," gumamnya.
Mira melengos kesal dengan sikap pria di sampingnya itu, yang selalu saja berbuat seenaknya.
"Tapi kenapa tadi kau mengiyakan begitu saja ajakan ku?" tanya Lingga yang balik kesal kepada Mira.
"Saya baru sadar tadi," sahut Mira datar.
"Hah …." Lingga lagi-lagi hanya bisa menghela nafas, dan bersabar menghadapi sikap Mira.
.
.
.
.
Ribut lagi pemirsah😅kapan akurnya ya🙄
Next eps, besok lagi ya😊
jangan lupa like dan komen di bawah.
Kirim kopi atau kembang banyak2 juga nggak nolak🤭🤭🤭🤭
__ADS_1