
Di tengah kepanikannya, Tania terus meniti tangga yang cukup membuatnya kelelahan. Dia lupa jika Mira berada di unit di lantai dua puluh empat.
"Mampus gue. Gue lupa kalo si semok unitnya di lantai dua empat. Mending gue keluar cari lift aja deh," ucap Tania.
Dia merasa tak sanggup lagi jika harus berlari menaiki anak tangga yang jumlahnya puluhan.
Wanita itu pun kemudia keluar dari pintu darurat, dan berjalan menuju ke arah di mana lift berada. Beruntung, saat itu lift cepat datang dan membuatnya bisa segera naik ke atas.
Karena sempat berlama-lama di dalam tangga darurat, Tania butuh waktu yang lumayan panjang untuk sampai di lantai dua puluh empat.
"Semoga lu nggak kenapa-napa, Mok. Mati gue kalo elu sampe diapa-apain sama tuh orang. Bisa digantung gue sama si Lingga itu," racau Tania yang terus berharap agar rekannya baik-baik saja.
Begitu pintu lift terbuka tepat di lantai dua puluh empat, Tania segera berlari menuju unit Mira, tanpa mempedulikan sekitarnya lagi.
BRAK! BRAK! BRAK! BRAK!
"MIR! MIRA! MIR, INI GUE TANIA. BUKA PINTUNYA, MIR. BUKA," teria Tania yang begitu ketakutan seandainya terjadi sesuatu dengan Mira.
Orang-orang suruhan Nicholas pun melihat hal itu, dan salah satu dari mereka menghampiri Tania yang terlibat panik dan terus menggedor pintu apartemen Lingga.
"MIR! MIRA, BUKA! INI GUE TANIA! MIR …," teriak Tania yang terus berusaha memanggil-manggil rekannya yang ia tinggalkan di dalam.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang, dan membuat wanita itu terperanjat. Tania pun menoleh dan melihat seorang pria berjaket kulit tengah berdiri dibelakangnya.
"Siapa lu? Lu komplotan orang di dalem juga?" tanya Tania serta merta.
"Maaf, saya ditugaskan untuk menjaga tempat ini. Tolong jangan buat kegaduhan di sini," ucap pria itu.
"Eh … siapa yang nugasin elu hah? Apa jangan-jangan bener, lu komplotan mereka, iya?" tuduh Tania.
"Apa maksud Anda. kami hanya diperintahkan untuk menjaga tempat ini, beserta isinya. Jadi, keamaan dan kenyamanan mereka pun prioritas kami," ucap pria itu lagi.
"Gue tanya, siapa yang nyuruh lu, hah? JAWAB!" penik Tania.
"Tuan Nicholas, atas permintaan Tuan Lingga," jawab pria tersebut.
"Kalo gitu, cepat bantu buka pintu ini. Mira dalam bahaya. Si peneror ada di dalem. dia nyamar jadi tukang ledeng tadi," tutur Tania.
"Apa kau yakin? Dia baru saja masuk lift saat Anda keluar dari sana tadi," sahut pria itu yang merasa terkejut dengan penuturan Tania.
Dia menekan sesuatu yang menempel di telinganya, dan berbicara pada seseorang.
__ADS_1
"Hentikan tukang ledeng yang baru saja keluar. Kemungkina, dia adalah si peneror," ucap pria tersebut.
Di samping itu, Tania terus saja menggedor pintu hingga tangannya memerah.
"MIRA! BUKA, MIR! INI GU … e …," teriak Tania.
Dia seketika diam, saat pintu terbuka dan terlihat bahwa orang yang sedari tadi dia panggil, tengah berdiri di hadapannya.
"Elu kenapa sih tereak-tereak gitu, kek orang gil …," keluh Mira.
Perkataannya terhenti saat tiba-tiba Tania menghambur dan memeluknya erat.
"Syulurlah, Mok. Gue kira lu …," ucap Tania terhenti.
Nggak! Sebaiknya gue nggak usah ngomong apa-apa sama si semok. Entar dia kena serangan panik lagi kaya kemaren-kemarin, batin Tania.
Wanita itu pun melepas pelukannya dan merengkuh pundak Mira. Tania mencoba meneliti semuanya dari ujung rambut hingga kaki, bak mesin scanning yang tengah memindai benda di depannya.
Syukurlah dia nggak kenapa-napa, batin Tania.
"Puk, lu kenapa sih? Kesambet setan apa lagi sih lu?" keluh Mira yang merasa risih dipandang seintens itu oleh sesama wanita.
"Nggak papa. Tukang ledeng itu udah pergi kan?" tanya Tania cepat.
"Udah tadi. Beberapa menit yang lalu lah, sebelum elu bikin ribut. Lagian, lu kenapa sih pake acara gedor-gedor pintu kek tadi. Berisik tau nggak," tutur mira.
"Ya habisnya, lu lama banget buka pintunya. gue kan cuma khawatir," sanggah Tania.
Kedua wanita itu pun melanjutkan perdebatan mereka di dalam apartemen. Mira tak sempat melihat pria berjaket yang bersama Tania sebelumnya.
Tania pun berusaha mengerti jika orang berjaket tadi diminta mengawasi secara diam-diam agar Mira tak ikut panik.
Sekarang, yang bisa gue lakuin cuma jagain lu, Mok, dan nggak bilang soal tadi ke elu, supaya elu nggak tremor lagi kek kemarin, batin Tania.
...💋💋💋💋💋...
Di kantor Lingga, Nicholas nampak berjalan terburu-buru menuju ke ruangan atasannya.
"Tuan, maaf saya langsung masuk," ucap Nicholas yang masuk begitu saja tanpa permisi.
"Ada apa, Nick?" tanya Lingga yang nampak tengah sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Tadi, baru saja saya mendapat kabar, kalau si peneror sempat masuk ke dalam apartemen Anda, tuan," lapor Nicholas.
Lingga seketika bangun dari duduknya karena begitu terkejut mendengar berita tersebut.
"Apa?" pekiknya.
"Maaf, Tuan. Ruapanya, dia menyamar menjadi tukang ledeng yang hendak memperbaiki pipa air di unit milik Anda. Bahkan, Tania sempat diminta keluar meninggalkan Nona Mira berdua dengan si peneror itu," lanjut Nicholas.
"Keterlaluan. Kenapa wanita itu sembarangan sekali meninggalkan Mira seorang diri sih. Cepat kita pulang. Aku ingin memastikan kalau Mira baik-bik saja, dan memberi perhitungan dengan wanita bernama Tania itu," ucap Lingga.
Pria itu pun berjalan keluar meninggalkan semua pekerjaannya, diikuti oleh Nicholas yang bertugas sebagai supirnya.
Sesampainya di apartemen, Lingga menghampiri kedua wanita yang tengah duduk-duduk santai di depan TV.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Tania. Lingga merasa geram dengan perbuatan Tania yang dengan seenaknya meninggalkan Mira berdua dengan orang asing di dalam apartemen.
"Kak! Kenapa kamu pukul Tania? Memangnya dia salah apa?" tanya Mira yang terkejut dengan sikap Lingga yang tiba-tiba memukul rekannya.
"Salah dia? Dia sudah seenaknya biarin kamu berdua dengan orang asing di sini. Itu salahnya, Mir. Dan kamu Tania, kamu tau jelas akan hal itu kan," ucap Lingga kepada Mira dan Tania.
"Ya, Tuan. Aku sadar aku salah. Aku minta maaf," sahut Tania yang hanya bisa diam dan menerima perlakuan Lingga padanya.
"Tan, elu nggak salah kok. Lagian, elu kan cuma mau ke swalayan depan doang buat lem pipa kan," ungkap Mira.
"Lem pipa?" tanya Lingga tak mengerti.
"Iya, Tuan. Dia minta dibelikan lem pipa karena lupa bawa. Awalnya aku menolak, tapi nggak ada cara lain, jadinya mau gimana lagi. Aku juga buru-buru balik lagi kok … saat tau kalau tukang ledeng itu hanya samaran …," ucap Tania yang dilanjut dalam hati.
"Hah … ini peringatan terakhir buat kamu, Tania. Kalau kamu sampe teledor lagi, aku pastikan kamu nggak bakal dapet apa-apa. Kamu boleh pergi sekarang!" seru Lingga.
Tanpa menyahut, Tania segera meraih tasnya dan berjalan keluar dari apartemen itu. Ada rasa bersalah pada mira yang hampri saja celaka karena keteledorannya, dan juga rasa kesal akan sikap Lingga yang tak mendengarkan dulu duduk permasalahannua.
"Dasar orang kaya suka semena-mena" gerutu Tania.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁