Mirage

Mirage
Sadap


__ADS_3

Di sebuah ruangan, nampak seorang wanita yang tengah duduk di balik meja kerjanya, dengan head phone yang bertengger di kepalanya. Dia terlihat mengepalkan tangannya saat mendengarkan sesuatu dari benda yang menempel di telinganya tersebut.


"Apa kau dapat sesuatu, Nyonya?" tanya pria yang sedari tadi menemani wanita itu.


"Semua harta dan asetnya, dia berikan pada j*lang si*lan itu? Ini keterlaluan. Nggak bisa dibiarkan," ucap wanita itu geram.


"Kerjaku lumayan bagus kan. Kalau tidak, kau tidak mungkin akan mendapat rekaman sejelas itu," sahut pria lain yang juga sedang berada di tempat tersebut.


Mereka bertiga tak lain adalah Soraya, Robert dan juga Erik.


"Kapan ini diambil?" tanya Soraya.


"Tadi siang. Anak buahku yang selalu memantau setiap pergerakan di apartemen itu, dan menemukan kehadiran si pengacara yang kamu cari-cari selama ini," jawab Erik.


"Kurang ajar. Robert! Perintahkan anak buahmu untuk menghadang pria tua itu di bandara. Jangan biarkan Moris pergi keluar negeri lagi," perintah Soraya.


"Baik, Nyonya," Robert pun pergi meninggalkan Soraya bersama dengan Erik.


"Dan kau, aku punya tugas satu lagi untukmu," seru Soraya.


"Apa bayarannya kali ini?" tanya Erik.


"Seperti biasa. Aku akan menghargai sesuai hasil kerjamu," jawab Soraya dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas meja.


"Baiklah. Lalu apa tugasnya?" tanya Erik lagi.


"Bawa si j*lang kecil itu kehadapanku!" perintah Soraya.


"Apa sudah saatnya dia mati? Aku kira, kau ingin membuatnya gila dulu," ucap Erik.


"Aku sudah muak melihat dia terus-terusan lolos dari kesialan yang sengaja ku buat. Jadi kali ini, aku akan lakukan sendiri dengan tangaku," ujar Soraya.


Terlihat sebelah sudut bibirnya terangkat.


...πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹...


Di apartemen The Royal Blossom, unit yang ditempati oleh Mira dan juga Lingga. Keduanya kini tengah duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di head board.


Lingga nampak memeluk wanitanya yang terlihat diam merenung.


Mira masih memikirkan kedatang Moris siang tadi. Dia tak menyangka jika Thomas meninggalkan wasiat seperti itu untuknya.


"Mir, apa kamu masih memikirkan kejadian tadi siang?" tanya Lingga.


"Ehm … bagaimana aku ngga kepikiran, Kak. Aku nggak tau apa yang ada dipikirannya saat membuat wasiat itu," ucap Mira yang masih diam di dalam pelukan prianya.


"Mungkin saja, karena dia sangat peduli padamu," sahut Lingga.


"Peduli? Yah, aku tau, Kak. Tapi, tidak seharusnya dia menjadikan aku sebagai anak angkatnya kan. Ini terlalu konyol! Mana ada anak angkat yang menjadi teman tidur ayah angkatnya. Ini menjijikan, Kak. Sangat menjijikan," ucap Mira.

__ADS_1


Lingga semakin erat memeluk tubuh wanitanya, saat Mira kembali merendahkan dirinya sendiri.


"Memang semua berawal dari kesalahn, tpi kasih sayang Thomas ke kamu itu nyata," ujar Lingga.


"Yang aku tak habis pikir, dia masih ada istri, kenapa juga membuatku menjadi pewaris tunggalnya. Aku tidak mau dikira simpanan yang menyamar jadi anak angkat, dan merebut semua harta pria kaya itu. Ini … ini benar-benar konyol," tukas Mira.


Lingga tak bisa mengatakan apapun kepada Mira, karena wanita itu terus menolak menerima semua yang diwasiatkan Thomas kepadanya.


...πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹...


keesokan harinya, Lingga mempunyai rapat penting yang tak bisa diwakilkan, sehingga mau tak mau, dia harus memanggil Tania kembali untuk menemani Mira.


"Ingat! Jangan sekali-kali kamu tinggalin Mira. Kalau tidak, kamu akan terima akibatnya," ancam Lingga.


"Kak, jangan galak-galak dong. Kasihan kan Tanianya," keluh Mira.


"Biarin dia tau tugasnya dan jangan ceroboh lagi," sahut Lingga ketus.


Tania hanya diam. Dia sadar sepenuhnya akan kesalahannya tempo hari, yang hampir membuat Mira celaka.


"Aku berangkat dulu ya. Kamu baik-baik di rumah," ucap Lingga.


Pria itu mengusap lembut belakang kepala Mira sambil mengecup kening wanitanya.


"Ehm … Kakak hati-hati juga ya," sahut Mira.


"Tan, sorry ya. Lingga udah marahin kamu tadi," ucap Mira saat prianya telah hilang di balik Pintu.


"Iya. Nggak papa kok, Mok. Lagian gue juga yang salah udah ninggalin elu sendirian," jawab Tania.


"Eh … elu udah makan belum. Gue mau pesen delivery order nih. Mau sekalian nggak. Mumpung aku lagi baik nih," tawar Mira.


"Tumbenan lu baek. Jangan bilang lu lagi ngerayu gue buat nggak benci ma cowo lu. Iya kan," terka Tania.


"Eh buset. Ya kagak lah. Gue cuma nawarin doang. Nggak mau ya udah. Untung gue," sungut Mira.


"Gado-gado pake lontong dua," ucap Tania.


"Laper lu, Puk. lontong dua lho. Hahahaha …," sindir Mira.


"Ini sarapan sekalian makan siang, Mok. Udah cepet pesenin," seru Tania.


Mira pun memesankan makanan yang diminta oleh Tania dan untuk dirinya sendiri.


Mereka terlihat sedang duduk di sofa ruang tengah, sambil menonton TV. Tania nampak mengantuk karena dia belum sempat tidur sejak pulang dari paradise fall.


"Tidur aja kalo ngantuk, Puk," seru Mira.


"Ehm …iya deh. Ntar kalo pesenannya udah nyampe, lu bangunin gue ya," ucap Tania.

__ADS_1


Mira mengangguk, sedangkan Tania seketika berbaring dan memejamkan matanya. Tak perlu waktu lama hingga wanita itu terlelap dalam tidur. Dengkuran halus pun terdengar dari mulutnya.


Tak berselang lama, pesanan mereka datang. Notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Mira yang mengatakan bahwa makanan sudah sampai.


Mira pun mendengar ketukan di pintu, dan segera membangunkan kembali Tania yang sudah sangat pulas.


"Ehm … kenapa, Mok? Makanannya dah nyampe?" tanya Tania dengan mata yang belum mau terbuka dengan benar.


"Iya, Puk. Tuh udah ketok-ketok pintu dari tadi," tutur Mira.


Tania pun berjalan menuju ke arah pintu depan dan membuka pintunya tanpa melihat terlebih dulu dari lupang intip.


"Pesanannya ya, Bang?" tanya Tania.


"Iya, Neng." Kurir itu pun menyerahkan pesanan kepada Tania.


Tania pun mundur dan hendak menutup pintu. Namun, kurir itu justru mendorong tubuh Tania yang memang belum sepenuhnya sadar, hingga terjungkal ke belakang.


Kepalanya terbentur sesuatu hingga terlihat darah mengalir di pelipisnya.


"Kenapa, Puk?" tanya Mira yang mendengar teriakanTania dari arah depan.


Mira pun berdiri dan melihat jika rekannya itu telah terjaruh dan terkapar di lantai.


Dia semakin terkejut saat melihat seorang pria yang memakai topi dan penutup wajah, tengah berjalan mendekat ke arahnya.


Mira seketika ketakutan dan mundur.


"Siapa lu? Mau apa lu masuk ke sini?" tanga Mira di tengah ketakutannya.


"Mari. Apa kamu lupa sama kakakmu sendiri hah? Hahahahah …," ucap pria bertopi itu.


Mira sektika membolakan matanya.


Kak Erik? Nggak mungkin. Bagaimana ini? batin Mira panik.


Dia mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikannya sebagai senjata, namun karena panik, Mira sampai tak sadar jika di belakangnya adalah jalan buntu.


Mira terpojok di antara tembok ruang makan dan dapur. Dia tak bisa lari lagi karena jarak antara dirinya dan pria bertopi itu tinggal beberapa meter lagi.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2