
Mira nampak terkejut melihat kehadiran pria, yang kini tengah berdiri di hadapannya itu. Dengan tatapan tajam, dia menoleh ke arah Thom yang berada tepat di sampingnya, seolah bertanya 'Kenapa dia ada di sini?' pada pria paruh baya itu.
“Oh! Aku lupa bilang sesuatu padamu, Mir! Sebenarnya, ini adalah undangan pesta dari perusahaan Tuan Lingga!” bisik Thom, seolah ia tahu arti tatapan tajam wanita cantik yang datang bersamanya itu.
Mira memutar bola matanya dan menghela nafasnya kasar, saat Thom mengatakan hal tersebut. Sedangkan Thom, tentu saja dia kembali menyapa pria di hadapannya itu dan tak sadar jika Mira melepaskan rangkulannya dari lengan Thom.
Wanita itu nampak geram dengan kelakuan pria yang pergi dengannya itu.
“Bukankah sudah ku katakan, kalau aku nggak suka dengan orang itu, Thom! Kurang ajar kau!” gerutu Mira dalam hatinya.
Dia masih berdiri di belakang pria yang mengajaknya ke tempat pesta besar itu, namun senyum yang ia ulas sebelumnya, hilang entah ke mana.
Dia terus memperhatikan kedua pria yang seolah menganggap dirinya makhluk tak kasat mata yang tak terlihat, dan mengabaikan keberadaannya.
Karena kesal, Mira pun mengambil segelas Sampanye yang dibawa seorang pelayan yang melintas di hadapannya. Diteguknya sekaligus minuman itu hingga tandas, dan kembali menaruh gelasnya di atas nampan, kemudian ia ambil satu gelas lagi untuk ia pegang.
Dia tak sadar, jika ada sepasang mata bening yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan menyelidik dan penuh tanya.
“Sepertinya, pasangan anda malam ini, nampak kesal berdiri sendirian di sana!” ucap Tuan Lingga saat menoleh ke arah di mana Mira berada saat ini.
Thom pun mengikuti arah pandangan mata pria itu, dan dia melihat Mira yang terus menatap tajam ke arah mereka berdua.
“Hahaha! Ya ampun, aku sampai lupa padanya! Tapi, biarkan saja dia! Dia akan menikmati pesta ini dengan sendirinya!” kata Thom sambil tertawa mengejek ke arah Mira.
Tak pelak, hal itu membuat Mira melempar tatapan tajam ke arah pria paruh baya itu. Wanita itu pun berjalan mendekat ke arah kedua pria itu dan menghampiri mereka berdua.
“Sepertinya, aku kau bawa ke sini hanya untuk diacuhkan, Thom!” gerutu Mira.
“Hahaha! Ayolah, Mir! Bukankah kau yang tadi mau berhenti di sana sendiri! Ku kira, tadi kau mau mengambil beberapa cemilan!” sahut Thom yang sengaja membuat Mira kesal.
“Kau tak akan dapat apa-apa malam ini, Thom!” bisik Mira di telinga Pria itu.
“Wah! Sepertinya kalian sangat dekat yah!” ucap Tuan Lingga yang melihat interaksi keduanya.
“Ya, Sir! Tentu saja! Mira dan aku memang sangat dekat! Saaaangat dekat!” sahut Thom sambil menuntun tangan wanita itu, agar merangkul lengannya kembali.
Tiba-tiba, dari arah lain, sebuah tangan menarik lengan Mira, hingga wanita itu spontan menoleh ke arah orang itu.
“Mari!” serunya sambil memandang ke arah Mira dengan mata berbinar.
Mira terdiam. Nampak ekspresi terkejut yang ia perlihatkan sesaat setelah orang itu memanggilnya dengan nama orang lain.
Dilihatnya, seorang perempuan cantik, tengah tersenyum manis ke arahnya, dengan tatapan yang hangat dan sangat bersahabat.
Namun, Mira segera menghilangkan keterkejutannya itu, dan kembali memasang wajah ala poker face-nya.
__ADS_1
“Maaf! Anda siapa, Nona?” tanya Thom kepada perempuan yang menarik lengan Mira tadi.
“Mari! Ini aku, Cheria! Riri, teman kecil kamu dulu! Apa kamu ingat?” tanya perempuan itu yang tak menghiraukan pertanyaan dari Thom.
“Maaf, Nona. Namaku Mira, ukan Mari seperi yang Nona sebutkan tadi. Mungkin Anda salah orang,” sahut Mira dengan ekspresi dinginnya.
“Benarkah? Tapi kamu sangat mirip dengan temanku Maria,” jawab Cheria murung. “Aku sangat merindukannya,” gumamnya pelan dengan kepala yang tertunduk lemah.
“Mungki saya hanya mirip sekilas! Tapi maaf, saya bukan orang yang anda kenal itu!” seru Mira tegas kepada perempuan di depannya.
“Baiklah! Kalau begitu, aku minta maaf! Tapi, bisakah kita berteman?” ucap Cheria sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum ke arah Mira.
Dengan ragu, Mira meraih uluran tangan Cheria dan tersenyum ke arahnya. Kedua pria yang berdiri di antara mereka, memperhatikan kedua perempuan itu dengan ekspresi yang berbeda.
Thom terlihat seakan biasa saja, namun Tuan Lingga terlihat tertarik dengan interaksi antara keduanya, hingga tatapannya selalu tertuju pada kedua perempuan di hapadannya itu.
“Tentu, Nona. Tapi, aku rasa, kita tidak akan pernah bertemu lagi!” ucapnya dengan senyum manis, namun terasa begitu dingin.
“Tapi, aku sangat yakin, kita pasti akan segera bertemu lagi.” jawab Cheria yang terlihat begitu optimis.
Mira hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan perempuan itu.
“Maaf, saya permisi ke toilet sebentar!” pamit Mira yang berjalan meninggalkan mereka semua di sana.
“Ri! Sebaiknya kau kembali ke sana! Para tamu pasti sudah menunggumu!” ucap Tuan Lingga kepada perempuan itu.
Perempuan itu pun pergi meninggalkan Thom dan juga Tuan Lingga, yang nampak kembali berbincang.
.
.
.
.
Di toilet,
Mira berdiri di depan cermin washtafle. Dia memutar krannya, namun tak kunjung melakukan apapun dengan air yang mengalir itu. Kedua tangannya bertumpu pada tatakan wastafle di depannya dengan menghela nafas berat.
Dia menatap lurus ke arah cermin. Dengan wajah datarnya, dia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin itu.
“Cheria? Apa aku harus mengenalmu?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Setelah dari toilet, Mira kembali menghampiri Thom yang masih berbincang dengan Tuan Lingga. Wanita itu nampak enggan untuk kembali bergabung ke sana, namun dia tak ingin membuat malu Thom, karena sudah bersikap tidak sopan terhadap tuan rumah.
__ADS_1
Mau tak mau, Mira pun harus kembali memasang poker face-nya dan berbaur dengan kedua pria itu.
“Maaf! Apa aku lama?” tanya Mira basa-basi.
“Wajar kalau perempuan lama di toilet!” sahut Tuan Lingga kepada Mira.
“Wah! Sepertinya Anda sangat tau kebiasaan-kebiasaan wanita yah, Tuan!” sindir Mira.
“Aku memang sangat paham dengan semua hal tentang mereka, terutama, wajah asli di balik topeng yang mereka pakai!” balas Tuan Lingga, sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
Mira nampak berusaha untuk tetap tersenyum ke arah pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu, hingga Thom merasa jika ini berlanjut, maka hanya akan membuat malu mereka berdua.
“Wah! Sepertinya kalian cocok! Kenapa tidak coba berkencan saja?” ucap Thom dengan entengnya.
“Thom!” panggil Mira dengan geram, sambil menatap tajam ke arah pria buncit itu.
“Hahaha! Santai, Mir! Aku hanya bercanda!” sahut Thom dengan kelakarnya, mencoba mencairkan ketegangan yang ada di antara kedua orang itu.
“Sepertinya, itu ide bagus, Tuan Thom! Kapan kita bisa mulai berkencan?” ucap Tuan Lingga sambil menatap Mira dengan kedua alisnya yang terangkat tanda menantang.
Mira semakin geram, hingga dia sudah hampir tak mampu menahan kemarahannya lagi.
“Tuan Lingga yang terhormat, Anda pastilah seseorang yang saaaaangat sibuk, jadi bukankah saya yang harus menyesuaikan jadwal tuan?” sahut Mira yang membalas tantangan dari tuan Lingga.
Tuan Lingga tersenyum sekilas dan berjalan maju mendekat kepada wanita itu.
“Bagaimana kalau malam ini?” bisiknya tepat di telinga wanita itu.
Mira membelalak mendengar ucapan dari pria itu. Dia sudah tak bisa lagi menahan rasa geramnya terhadap Tuan Lingga. Setelah pria itu menarik dirinya kembali menjauh dari Mira, wanita itu menatap tajam ke arah Thom.
“Sepertinya, aku sudah cukup mabuk, Thom! Bolehkah aku kembali duluan?” tanya Mira.
“Ya, baiklah! Kau istirahat saja di hotel!” jawab Thom.
Mira pun sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan, sambil memegangi bagian dadanya. Setelah itu, dia berjalan meninggalkan tempat acara.
Tuan Lingga nampak memperhatikan Mira yang berjalan menjauh darinya hingga wanita itu menghilang di kejauhan.
“Jika kau memang dia, kenapa aku tak menemukannya pada dirimu?” gumam tuan lingga dalam hati, saat memperhatikan kepergian Mira.
.
.
.
__ADS_1
.
Jika kamu suka dengan ceritanya, silaka tinggalkan like dan komen di bawah 😊