
Di mana aku? batin Mira.
Wanita itu nampak mulai membuka matanya, meski belum terbuka sepenuhnya. Kepalanya terasa pening akibat efek obat yang masih tersisa.
"Ehm …," lenguh Mira.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk mengurangi pusing yang dia rasakan.
Seperti ada orang di depan gue? Siapa? batin Mira yang masih samar-samar melihat keberadaan Soraya yang masih memandanginya dengan mengangkat sebelah sudut bibir.
"Haus," rintih Mira lirih.
Soraya mendekatkan wajahnya dan meraup segenggam rambut Mira, dan kemudian menariknya hingga wajah wanita hamil itu menengadah ke atas.
"Aahh …," pekik Mira yang merasakan sakit di kepalanya akibat jambakan Soraya.
"Apa kau haus?" tanya janda itu.
Mira hanya mampu mengangguk pelan.
"Bawa airnya ke sini!" seru Soraya kepada salah satu anak buahnya.
Segera, salah satunya membawakan sebotol air minum dan menyerahkannya kepada bos mereka dalam keadaan tutup yang terbuka.
Soraya lalu menuangkannya begitu saja ke atas mulut Mira, hingga wanita itu gelagapan dan tersedak oleh air yang masuk ke dalam rongga hidungnya.
"Uhuk … uhuk … uhuk … hah … hah … apa yang kau lakukan … uhuk … uhuk …," ucap Mira yang mulai sadar sepenuhnya.
Soraya menghempaskan genggamannya di rambut Mira dengan kasar dan membuat wanita itu terhuyung ke belakang. Beruntung dia tengah duduk terikat di atas kursi, sehingga tak membuat dirinya terjatuh.
Mira terkejut saat menyadari jika dia tengah berada di tempat asing dan terikat di kursi. Pandangannya berkeliling dan melihat banyak sekali laki-laki berbaju hitam yang ada di sana.
"Hahaha … Apa kabar Mari, putri si j*lang Sofia … atau, harus ku panggil si primadona paradise fall, Mira? Heh," ucap Soraya dengan tertawa yang terdengat mengejek.
"Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini padaku?" tanya Mira menatap tajam ke arah Soraya.
"Wah … apa aku harus memperkenalkan diriku pada orang rendahan sepertimu? Hahahaha …," ucap Soraya terbahak.
Dia kembali mendekat ke arah Mira dan mencondongkan wajahnya ke hadapan wanita yang terikat itu.
"Apa kamu tidak bisa mengingat wajah ini? Hem," lanjut Soraya.
Mira memicingkan kedua matanya dan mencoba mengingat ingat siapa orang itu.
__ADS_1
gue ngerasa nggak asing dengan orang ini. Tapi siapa? batin Mira.
Soraya menyeringai saat melihat Mira terlihat tengah berpikir keras mengingat dirinya.
"Apa perlu ku ingatkan padamu, hah?!" ujar Soraya memalingkan wajah.
"Siapa … kau …," Mira menghentikan pertanyaannnya saat siluet wajah soraya terlihat dari samping.
"Kau … kau istri Thomas? Yah, kau istrinya. Aku melihatmu di rumah sakit waktu itu dan di berita juga," tutur Mira.
"Wah … cepat sekali kau mengingatnya. Tapi, apa hanya itu saja?" sahut Soraya.
"Apa kau melakukan ini karena tau tentang wasiat Thomas yang ditujukan padaku? Aku bersumpah aku tidak menerima semua harta itu. Dan … dan maafkan aku karena selama ini telah dekat dengan suamimu. Tapi, ku mohon lepaskan aku," ucap Mira.
Wanita itu merasa menyesal dengan Soraya, yang tak lain adalah istri Thomas, pria yang selama empat tahun sudah bersama dengannya, bahkan hingga berbagi ranjang bersama.
Dia merasa bersalah karena perbuatannya yang sudah menjadi simpanan Thomas selama ini, dan tentu saja Mira mengira jika Soraya marah akan hal itu.
"Hahahaha … wasiat? Yah, aku memang marah soal wasiat itu. Tapi, jauh sebelum itu, aku sudah menyimpan dendam padamu, terutama ibumu si j*lang itu," ungkap Soraya.
Mira nampak mengerutkan keningnya.
Bukan soal wasiat, tapi soal Ibu? Apa maksdunya? Apa hubungan dia dengan mendiang Ibu gue? batin Mira yang diliputi berbagai macam tanda tanya.
"Apa kau hanya mengingatku sebagai istri pria tua itu saja? Apa kau yakin tak pernah melihat ku sebelumnya?" tanya Soraya.
Mira menggeleng pelan.
"Wah … kenapa aku merasa sedih yah karena kamu tak bisa mengingatku?" keluh Soraya dengan suara yang terdengar kecewa.
Dia semakin menarik kuat rambut Mira, hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Apa harus ku ingatkan lagi kejadian lima tahun lalu, hah?" ucap Soraya dengan seringainya yang terlihat mengerikan.
"Li … lima tahun lalu?" tanya Mira.
"Erik!" panggil Soraya.
Seorang pria yang sedari tadi duduk di dalam ruangan itu, tiba-tiba saja muncul dari salah satu sudut yang gelap di ruangan tersebut.
Mira terbelalak saat mendengar wanita di hadapannya itu memanggil nama sang kakak tiri.
Kak Erik? Dia … dia di sini? Apa hubungan mereka sebenarnya? batin Mira bertanya-tanya.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa melakukannya dengan cepat? Aku yakin sebentar lagi pacarnya yang b*doh itu akan segera menemukan kita di sini," ucap Erik yang kini telah berdiri di samping Soraya.
Janda Thomas itu kembali menghempaskan rambut Mira hingga wanita itu kembali terhuyung.
"Aku hanya tidak ingin membuatnya penasaran sampai mati, atas semua kesialan yang selama ini menimpanya. Itu saja," jawab Soraya sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Kak, apa hubungan lu sama wanita ini?" tanya Mira yang belum juga menemukan kaitan antara dirinya, Erik dan juga wanita itu.
Erik maju mendekat, dan meraih wajah Mira. Pria itu mencengkeram kedua pipi adik tirinya hingga Mira merasakan kuku jari Erik menancap di sana.
"Ssshhhh …," desis Mira kesakitan.
"Elu mau tau, apa hubungan gue sama dia? Kami cuma partner bisnis. Mungkin lu lupa, tapi jangan khawatir, gue bakal kasih tahu semuanya ke elu … semuanya. Heh … hehehehe …," ujar Erik terkekeh.
Dia melepaskan cengkeramannya, dan meninggalkan bekas kuku di sana yang nampak menggores kulit mulus Mira.
"Partner bisnis?" gumam Mira.
"Yah, lu nggak mungkin lula kan pas waktu gue jual elu lima tahun lalu," ucap Erik yang terlihat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.
"Lima tahun lalu?" gumam Mira.
Ingatannya kembali berputar ke kejadian kelam, di mana dia untuk pertama kali di jual oleh sang kakak tiri, saat hendak mencari bantuan untuk biaya operasi sang ibu.
Bayangannya mengingatkan saat dirinya bersama dengan sosok wanita yang berada dalam mobil van, yang memberikan alat suntik kepada dua orang yang mencekal lengannya.
Tidak mungkin! batin Mira.
Dia segera mengangkat wajahnya dan menajamkan penglihatannya ke arah wanita yang masih berdiri di dapannya itu.
Soraya seolah tau arti tatapan Mira, dan wanita itu pun menyeringai ke arah sandranya.
"Ingat kan sekarang?" tanya Soraya tersenyum mengejek.
.
.
.
.
Maaf telat🙏liburan othor malah sibuk😅maaf yah, semoga kalian masih mau setia nungguin ceritanya nyai😁
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁