Mirage

Mirage
Story of Cheria : Menangkap basah


__ADS_3

“Kamu?!” pekik Cheria.


Wanita itu nampak terkejut dengan kehadiran orang yang baru saja masuk, dan seketika duduk di sampingnya.


Dia pun segera berdiri dan menjauhi orang tadi, kemudian berjalan ke arah meja kerjanya.


“Mau apa kamu ke sini? Apa belumm cukup tamparan ku waktu itu?” ucap Cheria ketus.


“Ri, aku bisa jelasin sama kamu, kalau waktu itu cuma salah paham,” ucap orang tersebut.


“Salah paham? Joshua, kamu kira aku sebodoh apa? Jelas-jelas aku lihat sendiri, kalau sekretaris mu itu hampir telanj*ng di atas pangkuanmu,” teriak Cheria geram.


Dia tak habis pikir, jika laki-laki yang sudah menjalin kasih dengannya diam-diam selama kurang lebih satu setengah tahun ini, malah menghianatinya dengan bermain dengan sekeretarisnya sendiri.


Cheria dan Joshua sudah menjadi sepasang kekasih, semenjak wanita itu masih tinggal di negeri pandai sana. Namun, dia tak berani berpacaran terang-terangan, karena sikap protektif sang bunda yang membuatnya enggan untuk terbuka dalam segala hal.


Bahkan, meski hidup di luar negeri, gaya pacaran mereka terbilang naif, karena sama sekali tidak ada kontak fisik berlebih. Hanya sebatas pegangan tangan, itu pun sangat jarang. Apa lagi hubungan badan.


Mereka bahkan jarang bertemu. Hanya sesekali jika kebetulan Cheria ada inspeksi ke department store, yang ada di dekat kantor kekasihnya itu.


Suatu hari, Cheria yang akan memberitahukan rencana ibunya untuk melihat wanita kakaknya, sekaligus pamit pergi selama beberapa hari, datang ke kantor pria itu tanpa pemberitahuan seperti biasa.


Dia kira semua baik-baik saja, sampai akhirnya dia tiba di kantor, dan semua orang nampak terlihat menegang.


Cheria merasa curiga, jika ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi. Akhirnya, dia segera naik ke atas untuk bertemu kekasihnya.


Begitu tiba di lantai tiga puluh lima, di mana kantor pria itu berada, Cheria segera dicegah untuk masuk oleh seorang karyawan.


“Maaf, Nona Cheria. Tuan Joshua sedang tidak ada di tempat. Sebaiknya, Anda kembali lagi nanti,” ucap karyawan tersebut.


Melihat gelagat semua orang yang nampak aneh sejak dari meja resepsionis, Cheria pun tak peduli, dan tetap menuju ke kantor prianya.


Sesampainya di kantor Joshua, Cheria tidak menemukan keberadaan siapapun. Namun, dia tak lantas pergi begitu saja. Wanita itu justru berjalan masuk, dan menuju ke kamar istirahat yang ada di ruangan tersebut.


Benar saja, dia melihat pemandangan menjijikan yang sangat membuatnya marah.


“Jadi ini kelakuanmu di kantor, Josh? Bermain dengan ... Sekeretarismu sendiri?” cecar Cheria yang baru menyadari, siapa yang sedang bersama kekasihnya dengan pakaian yang sudah tidak pada tempatnya.


Sekretaris itu nyaris tel*njang, dengan kemeja yang sudah terbuka, bra yang masih menggantung akan tetapi pengaitnya telah lepas, serta rok yang sudah naik ke atas hingga tersisa lapisan tipis penutup intinya saja.

__ADS_1


Joshua terlihat panik dengan segera meninggalkan sekretarisnya yang merasa malu itu. Dia berjalan menghampiri kekasihnya, dengan kemeja yang sudah lepas dan celana yang bahkan lupa ditarik resleting nya.


Pria itu berjalan menghampiri Cheria yang masih berdiri di depan pintu, dan hendak memberikan penjelasan. Namun, wanita yang sudah terlanjur kecewa itu, mundur dan menepis setiap sentuhan yang hendak di daratkan ke tubuhnya.


“Jangan sentuh aku! Aku jijik sama kamu, Josh. Kita putus!” seru Cheria tegas.


“Ri, aku mohon dengerin dulu penjelasan ku,” pinta Joshua.


“Mau jelasin seperti apa lagi? Semua sudah jelas! Bahkan, bisa jadi bukan hanya dengan dia saja kamu berbuat seperti ini, melihat resepsionis di lantai bawah pun begitu ketakutan saat aku tiba-tiba datang kemari,” sindir Cheria.


Joshua nampak mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kemudian berkacak pinggang menghadap ke arah Cheria.


“Ri, kamu tahu nggak kalau ini semua salah kamu!” ucap Joshua tiba-tiba.


Sikapnya yang tadi memohon, kini justru berbalik menyalahkan Cheria atas tindakan berkhianatnya.


Wanita itu mengerutkan keningnya, karena tak habis pikir dengan ucapan pria yang baru saja diputuskan.


“Aku? Salah aku? Ngaco kamu? Memangnya aku berbuat apa, sampai kamu begini menjijikannya berkhianat di belakang aku?” cecar Cheria.


“Aku ini pria dewasa, Ri. Kamu tahu itu. Hubungan kita adalah hubungan orang dewasa, yang sangat wajar jika ada **** di dalamnya. Tapi apa? Kamu selalu beralasan dan menghindari setiap kali ku sentuh. Bahkan, kiss pun tidak pernah. Aku juga butuh pelampiasan. Aku ini pria normal, Ri,” ungkap Joshua.


“Ohhh, jadi menurutmu, hubungan kita ini hambar karena nggak ada ****? Baiklah, kalau memang tujuanmu menjalin hubungan hanya untuk hal semacam itu, aku lebih baik mundur. Silakan lanjutkan yang terhenti tadi. Aku pergi, dan jangan pernah cari aku lagi. Permisi!” pungkas Cheria.


“Br*ngsek! Kenapa laki-laki selalu berpikir menjijikan seperti itu? Apa tidak cukup untuk menjaga semuanya sampai benar-benar sah? B*jingan!” makinya saat dia tengah mengendarai mobilnya sendiri, dan melaju menuju ke arah pantai.


Dia menghabiskan sisa harinya untuk menangisi kekasih yang sudah menkhianatinya hingga matanya sembab. Dia bahkan harus pulang larut, menunggu ibunya tidur agar tak melihat matanya yang sudah menggelambir.


Susah payah dia berusaha move on, dan bersedia pindah ke tanah air agar tidak lagi bertemu dengan Joshua, tapi pria itu justru mengejarnya hingga ke tempat ini.


“Sebelum aku kasar, sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga!” seru Cheria.


Dia nampak begitu muak dengan kehadiran Joshua di hadapannya.


Melihat jika kemarahan di mata wanita itu belum reda, Joshua pun bangkit berdiri dan berjalan ke arah meja Cheria.


“Aku bilang pergi. Kalau kamu mendekat, aku panggil keamann untuk menyeretmu keluar,” ancam Cheria.


“Hah, kamu ini munafik, Ri. Aku tau kamu nggak polos itu. Kamu hanya pura -pura jual mahal agar dikira gadis baik-baik. Iya kan. Ayolah. Jaman sekarang mana ada yang masih virgin di usiamu?” ucap Joshua sarkas.

__ADS_1


“Kau ... Berani kamu kurang ajar di sini? Aku bukan wanita murahan yang bisa disentuh oleh siapapun!” bentak Cheria.


“Lalu, kenapa nggak biarin aku memeriksanya sendiri? Apa kamu takut ketahuan kalau ternyata sama br*ngseknya, hah?” sanggah Joshua.


“Keterlaluan!” gumam Cheria geram.


Dia segera menekan sebuah tombol di telepon yang berada di atas meja kerjanya. Dia memanggil petugas keamanan, untuk mengusir tamu tak diundang itu agar keluar dari ruangan tersbeut.


“Ri, kamu nggak bisa gini sama aku. Aku jauh-jauh ke sini cuma buat nemuin kamu dan ngajakin kamu damai. Ri!” teriak Joshua saat dirinya dibawa paksa oleh petugas keamanan kantor tersebut.


Seperginya joshua, Cheria merasakan jika kepalanya begitu terasa pusing. Dia duduk kembali di belakang meja kerjanya dengan menyangga kepala dengan kedua tangannya.


Dia memijat sendiri pelipisnya yang menegang, akibat pertengkaran dengan mantan kekasihnya tadi.


Jennifer, sang asisten datang dan menanyakan perihal kondisi atasannya saat ini.


“Maaf, Nona. Apa anda baik-baik saja?” tanya Jennifer.


Cheria tak lantas menjawab. Dia menyandarkan punggungnya di kursi, dan mendongakkan kepala ke atas. Wanita itu nampak begitu lelah.


“Maaf, Jenn. Sepertinya kita sudahi saja dulu hari ini. Aku butuh istirahat,” ucap Cheria.


“Lalu es krimnya?” tanya Jennifer.


“Untukmu saja,” sahut Cheria cepat.


Dia lalu bangun dan mulai memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas.


“Perlu saya antar, Nona?” tawar Jennifer.


“Tidak perlu. Aku bawa mobil sendiri saja. Kamu pulanglah, Jenn,” seru Cheria.


Wanita itu pun pergi, dengan tubuh yang begitu lelah dan hati yang benar-benar kacau.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2