
Sebuah tempat di ibu kota, dimana semakin malam akan semakin ramai dan semakin berisik. Tempat di mana orang-orang mencari pelarian atas masalah yang sedang mereka hadapi, dan menginginkan kesenangan semu sesaat.
Tempat hingar bingar malam di kota itu begitu terasa, dan sempat menjadi pembicaraan karena seorang wanita yang begitu menantang setiap hidung belang yang mencoba menggagahinya, meskipun kini wanita itu sudah tak lagi berada di sana.
Terlihat seorang wanita dengan mengenakan pakaian smart casual. Sebuah atasan dengan bagian bawah yang mengembang, dipadukan celana bahan yang berwarna senada, serta tas tangan merah, nampak masuk ke tempat hiburan malam tersebut.
Penampilan wanita ini begitu kontras dengan orang-orang yang berada di tempat tersebut. Semuanya bahkan melihat aneh ke arah wanita itu.
Dia berjalan lurus melewati lautan manusia yang berkerumun di lantai dansa, dan tak menghiraukan tatapan mereka sama sekali.
Wanita yang terlihat kusut, meski dengan polesan make up yang masih utuh itu, menghampiri meja bar yang ditunggui oleh seorang barista kepercayaan bos paradise fall.
“Minta yang paling keras,” seru wanita tersebut.
Samuel tak menjawab. Dia hanya memperhatikan sekilas wanita di hadapannya, lalu kemudian mulai memahatkan sebuah batu es hingga berbentuk agak bulat.
Dia kemudian meletakkan bongkahan es tersebut ke dalam gelas kaca pendek, juga sebuah botol wishkey, dan menyajikannya di hadapan wanita tersebut.
“Thanks,” ucapnya.
Si wanita tadi terlihat kesusahan saat sedang membuka penutup botol, yang sebenarnya tak begitu kencang, hingga membuat Samuel kembali menghampirinya dan meraih botol minuman tadi dari tangan si wanita.
“Ini harusnya tidak terlalu sulit,” ucap Samuel datar.
Dia mengembalikan botol yang telah terbuka dan menuangkan sedikit isinya ke dalam gelas.
“Maaf. Suasana hatiku sedang kacau, jadi semuanya terasa sulit untukku,” sahut wanita itu.
“Aku tau. Kalau hatimu sedang baik-baik saja, nggak mungkin juga kamu datang ke tempat seperti ini, terlebih dengan penampilanmu ini,” ucap Samuel sambil melihat kembali pakaian si wanita
Wanita itu pun melihat ke arah dirinya sendiri. Dia pun terkekeh geli sambil memegangi keningnya. Minuman yang tadi dituang oleh sang barista, diminumnya dengan sekali tenggak.
“Aaaahh, ini benar-benar keras. Tenggorokanku terasa terbakar,” keluh Cheria.
“Tapi, sepertinya, itu bukan pertama kalinya kamu minum alkohol,” sindir Samuel.
__ADS_1
Wanita itu kembali menuang minumannya segelas penuh, dan menyesapnya perlahan.
“Yah, hanya ini temanku selama beberapa tahun ini. Terlebih saat aku benar-benar kacau,” sahut wanita itu.
Dia mengulurkan tangan ke arah Samuel.
“Aku Riri, boleh tau siapa namamu?” ucap wanita yang tak lain adalah Cheria, adik Lingga.
Samuel menyambut tangan wanita di depannya.
“Samuel. Panggil saja Sam,” sahut Samuel.
“Baiklah, Sam. Sepertinya aku akan sering kemari karena hariku sudah bisa dipastikan akan semakin berat,” ucap Cheria.
“Tidak masalah. Tapi aku jarang memberi traktiran kepada orang lain,” sindir Samuel.
Cheria justru tergelak mendengar sindiran pria yang baru saja dikenalnya.
“Hahahaha, kau lucu sekali, Sam. Apa aku terlihat seperti orang susah? Tenang, aku akan selalu membayar untuk apa yang ku pesan,” jawab Cheria.
Pria itu pun turut tersenyum mendengar perkataan wanita yang sudah sedikit mabuk.
Perhatiannya teralihkan, saat seorang pelanggan datang ke meja barnya dan memesan sesuatu.
Samuel pun kemudian membiarkan Cheria minum seorang diri, karena dia pun masih harus melanjutkan kerjanya.
Baru saja dia selesai melayani seorang pelanggan, Samuel yang kembali melihat kondisi Cheria, dibuat geleng-geleng kepala.
“Baru sebentar ku tinggal, dia sudah tumbang. Benar-benar payah,” ejek Samuel.
Namun tiba-tiba, Cheria yang sedari tadi tertelungkup di atas meja, dengan kedua lengannya terlipat sebagai tumpuan, menegakkan duduknya dan melihat langsung ke arah Samuel.
“Aku belum mabuk. Aku cuma lelah,” ucap Cheria dengan suara yang terdengar meracau.
“Jelas-jelas mabuk. Masih mengelak. Hei, Nona. Sebaiknya kau pulang lah. Biar ku panggilkan supir pengganti,” seru Samuel.
“Jangan!” pekik Cheria, hingga Samuel yang hendak menghubungi seseorang pun, kembali meletakkan ponsel nya.
__ADS_1
“Tolong jangan suruh aku pulang. Aku benar-benar ingin melarikan diri untuk saat ini. Hari ini sangat berat buatku. Biarkan aku di sini dulu, Sam,” rengek Cheria.
“Baiklah. Tapi ingat, ini tempat setan berkumpul. Aku tidak bisa menjamin kamu tetap utuh saat pulang nanti. Dan satu hal lagi, jangan repotkan aku, apa lagi saat kau sudah hang over,” seru Samuel.
“Baiklah. Baiklah. Terserah kau saja, Sam. Aku hanya mau melupakan masalah hari ini,” sahut Cheria.
Wanita itu kembali meneguk minumannya. Samuel yang saat itu sedang tak ada pelanggan, terus dibuat repot dengan Cheria yang mengadu kepadanya, tentang berapa berat pekerjaan yang ditinggalkan sang kakak padanya.
Apalagi, kedatangan mantan kekasihnya yang membuatnya kesal, dan menambah beban pikiran.
Samuel tak menghiraukannya sama sekali. Namun, dia tetap menangkap semua ucapan yang tutur kan oleh Cheria.
Malam semakin larut, dan Cheria masih bersikeras untuk tetap di tempat itu. Sedangkan di paradise fall, justru suasana semakin bertambah ramai dan rawan untuk seorang wanita yang sudah sangat mabuk seperti itu.
Samuel berkali-kali memintanya untuk pulang, tapi Cheria tetap tak mau.
“Ibu ku bisa menggantung ku hidup-hidup kalau aku pulang dalam keadaan mabuk begini, Sam. Kau tau? Gantung,” ucapnya sambil memeragakan orang yang meninggal dalam kondisi tergantung, dengan lidah yang menjulur keluar dan mata yang terbuka lebar.
Keras kepala sekali. Lebih baik aku coba lihat kartu identitasnya. Maaf kalau aku lancang, batin Samuel.
Pria itu kemudian membuka tas milik Cheria yang ada di atas meja bar, dan mengambil dompet dari dalam sana.
Diambilnya sebuah kartu Tanda pengenal, yang tersemat di salah satu kantung.
“Amarta Cheria Putri Wijaya. Wijaya? Sepertinya nama ini tidak asing,” gumam Samuel.
Saat dirinya masih sibuk mengingat nama keluarga dari wanita yang sedang mabuk itu, segerombolan pria yang terdiri dari tiga orang, mendekat dan mulai mengganggu Cheria.
“Hai, cantik. Sendirian aja? Ikut kakak yuk,” godanya, sembari merangkul tubuh yang sudah sangat mabuk itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁