
Mira terpojok di antara tembok ruang makan dan dapur. Dia tak bisa lari lagi karena jarak antara dirinya dan pria bertopi itu tinggal beberapa meter lagi.
Nampak pria itu mengambil sesuatu dari balik saku belakang celananya.
Pisau, batin Mira
Wanita itu bergidik ngeri saat melihat benda yang tengah dipegang oleh pria di depannya
BUG!
Tepat saat itu, seseorang memukul pria bertopi dengan menggunakan sebuah vas bunga yang cukup besar, hingga membuat pria itu terhuyung.
"Mir, lu nggak papa?" tanya Tania yang telah kembali berdiri setelah sebelumnya sempat terkapar di ruang tamu.
Belum sempat Mira menjawab, dia kembali terkejut saat pria itu hendak menyerang Tania.
CRASH!
Sebuah tusukan mendarat di perut wanita itu.
Mira menutup mulutnya melihat rekannya bersimbah darah. Dia melihat sebuah rolling pin yang ada di dekatnya. Si ratu es pun mengambil benda tersebut dan memukul tengkuk pria itu hingga jatuh tersungkur.
Mira memukuli pria bertopi beberapa kali. Dia mencoba menggoyang-goyangkan tubuh si peneror dengan menggunakan kaki. Wanita itu pun membuang benda yang dipegangnya seketika saat si pria bertopi sudah tak bergerak lagi.
"Tan, Tania. Lu nggak papa kan, Tan." Mira menghampiri Tania dengan panik.
Dia mencoba mengangkat kepala rekannya itu, dan meletakkan di atas pangkuannya. Terlihat darah segar sudah menggenang di bawahnya hingga mengotori pakaian Mira.
Rekannya itu masih bisa meresponnya, dan meraih tangan wanita hamil yag sudah menangis sesenggukan.
"Ce … cepet pa … panggul orang di … depan …," ucap Tania terbata.
"O … orang? Orang apa, Tan?" tanya Mira tak paham.
"O … orangnya Nick a … ada di … depan. Cepat!" seru Tania di tengah-tengah kesakitannya.
"Gu … gue tinggal dulu bentar. Gue akan cari bantuan buat lu," ucap Mira.
Dia pun meletakka kepala Tania ke lantai dan berlari menuju ke arah luar. Mira melihat ke sekelilingnya namun tak ada seorang pun yang tampak berada di sana.
Mana? Kata Tania ada orang-orangnya Nick? batin Mira.
Dengan putus asa, Mira pun berteriak meminta pertolongan kepada siapapun, berharap ada yang mendengar jeritannya.
Tiba-tiba, beberapa orang muncul dari segala arah, dan menghampiri Mira.
"Ada apa, Nona Mira?" tanya Salah satunya.
"Ta … Tania … E … Erik …," ucap Mira panik.
__ADS_1
Mendengar nama Erik disebut, dua orang dari mereka bergegas masuk dan yang lainnya mengamankan Mira.
"Cepat panggil ambulance!" pekik seseorang dari dalam apartemen.
Mereka pun meringkus pria bertopi dan membawa Tania untuk mendapatkan penanganan di runah sakit atas luka tusuk yang ia derita.
...💋💋💋💋💋...
Lingga nampak berlari terburu-buru menuju ke arah sebuah ruang parawatan di bangdal VIP. Dia mendengar kabar dari sang asisten, bahwa Erik telah tertangkap. Namun sempat terjadi keributan di dalam apartemennya yang mengakibatkan salah satu wanita yang ada di sana terluka.
Pria itu tak mendengar penjelasan Nicholas sampai selesai, hingga dia mengira jika Mira lah yang terluka.
Wajahnya begitu panik dan tak peduli lagi akan rapat penting yang tengah ia hadiri saat itu. Dia segera menuju ke rumah sakit tempat kedua wanita itu berada.
GREG!
Pintu terbuka, dan Lingga muncul dari sana. Mata pria itu membola dengan jantung yang hampir lepas dari tubuhnya, saat melihat bahwa Mira, wanitanya, terlihat baik-baik saja dan sedang duduk menelungkupkan wajahnya di samping seseorang yang tengah terbaring di ranjang pasien.
"Tania?" gumamnya saat melihat sosok yang terbaring itu.
Lingga pun berjalan menghampiri Mira, dan meraih pundaknya.
"Mir," pangil Lingga lirih.
Mira pun mengangkat wajahnya, dan jelas terlihat lingkar mata yang bengkak dan sembab. Hidungnya pun terlihat merah karena terlalu banyak menangis.
Wanita itu bangkit dan menghambur ke pelukan Lingga. Fangisnya kembali terdengar saat pria itu mendekap tubuhnya erat.
"Sssttt … tenang yah. Sekarang semuanya sudah tidak apa-apa," ucap Lingga.
"Ta … tapi Ta… Tania … Tania gimana, Kak?" tanya Mira dalam isaknya.
"Kita akan berusaha untuk memberikan perawatan yang terbaik, supaya dia bisa sembuh, hem," ucap Lingga.
Pria itu mencoba menenangkan wanitanya, yang nampak begitu terguncang.
...💋💋💋💋💋...
Di tempat lain, Nicholas dan anak buahnya, membawa pria bertopi yang menyerang Mira dan Tania ke dalam sebuah gudang bekas yang terabaikan.
Mereka mengikat kedua tangan pria itu ke atas dalam posisi berdiri dan sedikit menggantung hingga kedua kakinya pun harus berjinjit saat hendak menyentuh lantai.
Nicholas terlihat membuka jas hitamnya, dan menyerahkannya kepada salah sekrang anak buah yang berdiri tak jauh darinya.
Lengan bajunya ia gulung hingga siku, dan membuka dua buah kancing baju bagian atas yang sebelumnua terlihat rapi.
Dia pun berjalan menghampiri pria yang diduga Erik itu, sambil melepas ikat pinggangnya.
"Jadi, elu yang namanya Erik, Kakak tiri Mari?" tanya Nicholas.
__ADS_1
Pria itu tetap diam dan tertunduk. Dia enggan menjawab dan membuat Nicholas pun menendang perutnya dengan keras.
"Aarrghhh!" jeritnya.
Nick meraih puncak kepala yang tergantung itu dan menarik rambut pria tersebut ke belakang hingga wajahnya pun terangkat.
"Apa mau lu sebenarnya? Kenapa lu terus-terusan neror Mira?" tanya Nicholas lagi.
Nampak pria itu balas menatap tajam mata Nicholas, tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Nich pun melepas genggamannya dari rambut pria itu dengan kasar, hingga tubuhnya berayun ke kanan dan kiri.
Nampak ikat pinggang yang dipegang oleh Nicholas, mulai di lilitkan beberapa kali di telapak tangannya, dan memukulkannya ke udara hingga tercipta bunyi cambukan.
"Katakan, atau kau akan menyesal," seri Nicholas.
Pria bertopi itu justru meludah dan menatap Nicholas dengan nyalang.
"Baiklah. Lu yang mau," ucap Nick.
Pria yang selalu tampil penurut dan sopan, kini terlihat begitu liar dan kejam. Dia memberikan cambukan kepada pria yang sudah melukai Tania itu berkali-kali hingga pingsan.
Tak sampai di situ, dia kemudian menyiram tubuhnya dengan air agar kembali sadar, dan memberinya cambjkan lagi hingga pria bertopi itu mau menjawab pertanyaannya.
...💋💋💋💋💋...
Malam hari, di rumah sakit, Mira yang tak mau pergi meninggalkan Tania pun akhirnya meminta Lingga untuk memberinya sebuah tempat tidur agar dia bisa menjaga rekannya itu yang masih belum sadarkan diri sejak siang.
"Kamu kenapa nggak mau pulang sih? Aku akan minta orang untuk menjaga dia. Kamu juga harus jaga kondisi tubuhmu, apa lagi lil baby juga pasti sempat ikut ketakutan tadi," ucap Lingga yang tengah duduk di samping Mira dan mengusap lembut perut wanitanya.
"Dia udah nolong aku, Kak. Aku hanya ingin gantian menjaganya aja. Coba kamu bayangin kalau nggak ada Tania, bisa saja sekarang aku yang terbaring di sana, atau bahkan lebih parah," ujar Mira.
"Tapi semuanya sekarang sudah selesai. Erik sudah tertangkap, dan kamu bisa tenang," tutur Lingga.
"Yah … aku harap setelah ini dia tidak lagi menggangguku. Aku lelah terus-terusan ketakutan karena dia yang tiba-tiba muncul setelah menjualku dan sekian lama mengabaikanku," ungkap Mira.
Lingga memeluk erat wanitanga, dan memintanya untuk segera beristirahat.
"Kamu naiklah ke tempat tidur. Aku akan menemanimu hingga kamu terlelap," ucap Lingga yang memapah .ira menuju ke ranjangnya yang ada di samping Tania.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1