
Lingga melepas pagutannya, dan mulai menyusuri leher jenjang Mira, sambil sesekali menyesap di beberapa bagian.
"Eeehhhhmmmm … Kak … aaaahhhh …," Mira semakin menggila saat puncak merah mudanya dimainkan oleh Lingga dengan bibir pria itu.
Mira terus merem*s rambur belakang Lingga sambil membenakan wajah pria itu di dadanya yang membusung.
"Oh … cantik sekali, Mir … ehm …," ucap Lingga saat menyesap ujung mungilnya.
"Kak … aaaahhhh …," Mira semakin menggelinjang.
Tangan Lingga mulai merayap, menyusuru perut Mira, dan sampailah di padang rumput hitam wanita itu.
Ia belai dengan perlahan bulu-bulu yang ada di sana, hingga membuat Mira semakin melenguh terbawa hasr*tnya.
"Uh … basah, Sayang … kau sudah basah … eeehhhmmmm …," ucap Lingga saat menyentuh lembah Mira yang terasa berlendir.
Ia meraba ke dalam, dan memainkan buah kecil yang terjepit di antara lembah, hingga Mira terus gelisah dan menendang-nendang sprei yang ada di sekitar kakinya.
"Eeeehhhmmmm … Kak … aaaaahhhhh … jangan …," cegah Mira yang seketika menahan tangan Lingga agar tak melesak masuk ke miliknya.
Pira itu pun mengangkat kepalanya yang sedari tadi terbenam di dada Mira, dengan tatapan sayu yang dipenuhi oleh kabut g*irah.
"Kenapa, Sayang? Apa kamu nggak mau, hem?" tanya Lingga dengan nafas yang terdengar memburu.
Mira pun sama, dadanya naik turun karena nafasnya yang tak beraturan akibat ulah Lingga.
"Jangan pake itu, Kak … ehm … langsung aja …," ucap Mira.
Lingga menyeringai, dan naik ke atas. Dia membisikkan sesuatu di telinga Mira.
"Kau jadi tidak sabaran, hah," bisiknya dengan sebuah gigigan kecil yang membuat Mira kembali mengerang lirih.
"Eeeeehhhhhmmmm … tapi pelan-pelan yah," ucap Mira lirih hingga hampir berbisik.
"Kenapa? Bukannya kamu suka yang kasar-kasar, hem," sahut Lingga yang kembali meng*lum cuping telinga Mira dan membuat wanita itu kegelian.
"Aku … aku kan baru keluar dari rumah sakit. Nggak lucu kan kalau tiba-tiba pingsan lagi," jawab Mira yang memalingkan wajahnya karena malu.
Lingga tersenyum dan mengecup pelipis Mira agak lama.
"Ya sudah. Kamu istirahat saja yah,"ucap Lingga tersenyum dan hendak bangkit dari posisinya saat ini.
Namun, Mira segera menahannya dan kembali menarik leher pria itu hingga mereka berciuman. P*gutan mereka lambat laun kian dalam dan liar, sambil saling melepas pakaian yang menempel di tubuh masing-masing.
Lingga tak melepaskan p*gutannya, bahkan saat ia menyatukan miliknya dengan Mira.
"Eeeehhhhmmmm …," lenguhan Mira dengan mulut yang masih terbungkam, menandakan penyatuan mereka dimulai.
Sesuai permintaan Mira, Lingga melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Membiarkan semua h*srat mereka terurai sedikit demi sedikita hingga mengantarkan mereka pada puncaknya.
"Aaaaaahhhhh … Kak, aku… eeeehhhhmmm …," rintih Mira.
__ADS_1
"Ehm … kau sudah sampai?" tanya Lingga.
Mira mengamgguk sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya terbuka separuh dan hanya terlihat bagian putihnya saja.
"Ohh … lepaskan saja, Mir … lepaskan, Sayang … aaaahhhh …," sahut Lingga.
Pria itu sedikit mempercepat pacuannya, dan membuat Mira sampai pada pelepasannya.
"Kak … aaaahhhhh … aaaaaahhhhh …," ******* panjang menandai pelepasan Mira, dan membuat Lingga semakin memacunya hingga dia pun sampai dipuncaknya.
"Aaaarrrgghhhh … Aaaarrrrghhh … Eeehhhhmmmm …." Lingga menjatuhkan dirinya di samping wanita itu, dan menarik Mira masuk ke dalam dekapannya.
"I love you," ucap Lingga sambil mengecup kening wanita esnya.
"Ehm … aku tau kok," sahut Mira yang membalas pelukan Lingga.
Tak ada selimut yang menutupi tubuh polos mereka, hingga lambat laun pendingin ruangan membuat mereka menggigil.
"Kak, dingin." Mira semakin mengeratkan pelukannya pada pria tampan itu.
"Ehm … kau benar. Ayo kita pindah ke kamar saja," ajak Lingga
Dia pun bangkit bediri dan mengangkat tubuh polos Mira, dan menggendongnya ke atas.
"Kak, antarkan aku ke toilet," pinta Mira.
Setelah sampai di atas, Lingga membawa Mira menuju ke toilet dan membiarkan wanita itu membersihkan dirinya terlebih dulu.
Tak berselang lama, Mira keluar dan segera menuju tempat tidur. Dia merebahkan diri di samping Lingga, dan masuk ke dalam selimut.
"Ehm … lumayan lelah," sahut Mira sambil memeluk prianya dari samping.
"Istirahatlah, Sayang." Lingga mengecup kening Mira sekilas, dan mereka pun terlelap bersama.
...💋💋💋💋💋...
Keesokan harinya, Lingga seperti biasa begitu sibuk mencari pengganti Steve untuk menjalankan rencana ekspansi bisnisnya ke tanah Eropa.
Tak semudah membalikkan telapak tangan, pria itu mengalami kesulitan karena dari sekian arsitek yang mengikuti sayembara di perusahaannya, hanya sedikit yang mengenal area tempat pembangunan. Malah mungkin, hanya Steve seorang yang tau dengan rinci setiap hal yang ada di sana.
Hal itulah yang membuat Lingga pusing mencari ke sana kemari pengganti pria bermarga Lee itu, untuk menangani proyeknya.
Mira pun bisa merasakan kekalutan prianya dalam menghadapi masalahnya kali ini. Selama beberapa saat menemani Lingga, dia belum pernah melihat pria itu nampak melamun memikirkan urusan kantor.
Hal itulah yang membuat Mira berinisiatif untuk membantu prianya agar bisa lepas dari masalahnya kali ini.
Siang itu, Mira mempunyai sebuah rencan, yang sebenarnya ia pun ragu untuk melakukannya. Namun, demi membantu Lingga, Mira pun tetap melaksanaakan rencannya tersebut.
"Halo," sapa Mira saat sambungan telepon terhubung.
"Halo, Mir. Sebuah kejutan kau menelepon ku. Ada apa?" sahut orang di seberang.
__ADS_1
"Steve, aku ingin mengucapkan terimakasih pada mu atas pertolonganmu tempo hari. Apa kamu ada waktu hari ini?" ucap Mira.
"Aku selalu punya waktu untukmu, Mir." Steve terdengar sangat senang karena tau jika Mira akan mengajaknya bertemu.
"Bagaimana kalau kau jemput aku sekarang. Kita makan siang bersama. Aku yang traktir. Apa kau mau?" ajak Mira.
"Apa tuan lingga akan ikut atau menyusul?" tanya Steve.
"Tidak. Dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi, apa kau mau?" jawab Mira meyakinkan.
"Baiklah. Aku akan sampai dalam dua puluh menit," sahut Steve.
"Oke. Aku tunggu," ucap Mira yang kemudian mematikan teleponnya.
Mira pun bersiap-siap untuk pergi. Dia memilih dress terusan selutut dengan lengan sesiku, agar tak terkesan terlalu seksi. Dengan corak floral yang membuatnya tampil segar dan pas untuk suasana siang hari yang cerah.
Seperti yang dikatakannya, dua puluh menit kemudian, Steve sudah tiba di gedung Royal Rose. Dia tak tau lantai mana Mira tinggal, sehingga Steve memilih menunggunya di lobi.
Tak berselang lama, Mira keluar dari lift dan menghampirinya.
"Hai, Steve. Maaf menunggu," sapa Mira.
"Tidak. Aku baru beberapa menit duduk di sini. Pergi sekarang?" ajak Steve.
"Ayo," sahut Mira.
Steve mempersilakan wanita itu berjalan mendahuluinya beberapa langkah menuju ke parkiran depan di mana mobil Steve berada.
.
.
.
.
othor : Nyai, elu mau bujuk babang setip kek gimana?
Mira : tunggu dan lihatlah.
othor : Eh, nyai. Ini othor, bukan Mom Winda ye.
Mira : ah … sama aja. sama2 tua
othor : Woi … nih anak kebangetan ya
Mom Winda : sabar. Kita kan samaan.
othor : TIDAAAAAAAKKKKK!!!
cius othor nggak setua itu kok😅
__ADS_1
Garing ah, abaikan aja becandaannya🤭
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁