
Mira kini telah tiba di salon milik Sist Mona.
"Hai, Jeng." Sist Mona menyambut Mira dengan heboh seperti biasa.
"Hai! Itemin lagi dong, Say." Mira langsung saja duduk di depan cermin besar.
"Cuma semir aja?" tanya Sist mona.
"Sama catok deh biar lurusan," sahut Mira.
"Nggak perawatan full body lagi kayak yang kemaren, Jeng?" ujar Sist Mona menawarkan.
"Ehm ... nggak dulu lah. Kelamaan," jawab Mira setelah sekilas melirik jam di pergelangan tangannya.
"Ya sutralah. Cus di cecong, Jeng." Sist Mona pun mengajak Mira untuk ke tempat cuci rambut, dan menyerahkannya kepada stylist.
Saat itu sudah lewat tengah hari, sekitar pukul dua siang. Butuh waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikan urusannya di salon kecantikan tersebut.
...πππππ...
Di kantor Shine group, Lingga sudah tak bisa fokus lagi untuk bekerja, gara-gara ulah Mira yang dengan nakalnya mengirimkan foto yang begitu menggoda.
"Tuan, ini ada laopran dari tim perencanaan, mengenai event valentine yang akan diadakan bulan depan," seru Nicholas di saat menjelaskan beberapa laporan yang masuk.
Lingga terus diam. Pikirannya tak fokus, dan terus membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.
"Ehem ... Tuan." Nicholas berdehem untuk menyadarkan bosnya.
"Ehm ... ya, tadi kenapa, Nick?" tanya Lingga yang terkaget karena deheman sang asisten.
"Tuan, sepertinya Anda sangat tidak fokus hari ini. Apa Anda kurang sehat? Kalau memang seperti itu, sebaiknya kita istirahat dulu dan lanjutkan lagi nanti," saran Nicholas.
"Tidak. Tidak usah nanti. Sekarang saja. Aku harus selesaikan ini sekrang juga, agar aku bisa cepat pulang. Ayo kita kembali bekerja," sahut Lingga.
Rapat berdua dengan nicholas pun berlanjut. Kali ini, Lingga mencoba untuk lebih fokus agar semua urusannya bisa segera terselesaikan.
...πππππ...
Sore hari, tepatnya pukul setengah enam petang, Lingga telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia pulang lebih awal dikarenakan konsentrasinya buyar gara-gara pesan chat bergambar dari Mira, yang membuat pikirannya traveling kemana-mana.
"Apa kau sudah selesai belanja?" tanya Lingga di sambungan telepon.
Saat itu, dia tengah berjalan menuju parkiran kantornya, dan hendak mengambil mobil.
"Sudah. Aku juga sudah pulang. Kenapa, Kak?" tanya Mira dari seberang.
"Bagus. Aku pulang sekarang. Bersiaplah untuk makan malam yang kau janjikan," ucap Lingga.
"Hah β¦ tapi ini masih sore, Kak. Yang benar saja," keluh Mira.
"Nggak ada tapi-tapian," Lingga pun segera memutuskan panggilan dan melajukan mobilnya menuju apartemen The Royal Blossom.
Perjalan yang harusnya memakan waktu kurang dari satu jam itu, terasa sangat lama, dikarenakan Lingga yang memilih pulang di jam sibuk, ketika para pekerja pulang dan memenuhi jalanan kota.
Dia sesekali berdecak kesal, karena harus terjebak macet di jalanan.
Lingga akhirnya tiba di apartemen sekitar pukul setengah sembilan malam, setelah melewati kemacetan parah selama satu setengah jam, dan itu membuat emosinya naik.
Dia langsung berjalan dengan langkah lebar menuju apartemen miliknya, dan segera masuk ke dalam.
"Gelap," gumam Lingga saat suasana apartemnnya sangat gelap sekali seperti tak ada orang di dalam sana.
"Mir. Mira." Lingga memanggil ratu esnya dan berjalan terus menuju ke lantai atas.
Ketika masuk ke dalam kamar, dia dikejutkan dengan suasan di dalam sana yang sangat berbeda.
Taburan kelopak mawar berserakan di lantai, dengan temaramnya cahaya lilin putih yang cukup banyak di beberapa sudut ruangan.
Dan yang paling membuatnya tak mampu menelan salivanya adalah, sesuatu yang berada di atas tempat tidur.
Ya, Mira yang tengah duduk bersandar di head boar, dengan mengenakan pakain yang sempat ia tunjukkan kepada Lingga lewat pesan chat tadi siang, serta balutan make up bold dengan lipstik yang merah merona, membuat emosi Lingga turun, dan menaikkan hasratnya seketika.
__ADS_1
Mira nampak tengah duduk sambil meluruskan kakinya, dan sebelah tangannya memegangi sebuah gelas berisi anggur merah. Rambut hitam lurusnya ia biarkan terurai menutupi sebelah dadanya yang menonjol.
Dia berjalan mendekati Lingga yang masih tertegun di depan pintu. Dengan nakalnya, ia mengusap pundak prianya naik turun, dengan wajahnya yang ia buat se seksi mungkin.
"Kau pasti lelah. Mandi dulu sana," ucapnya dengan suara yang terdengar begitu menggoda.
Lingga seketia meraih pinggul Mira, dan menekannya agar semakin menempel pada pria itu. Lingga mendekatkan wajahnya di telinga Mira dan membisikkan sesuatu.
"Apa tidak bisa ku makan sekarang? Aku sudah sangat menginginkannya sampai hampir gila di jalan," tanyanya sambil menggigit kecil ujung cuping telinga si ratu es.
"Ehm β¦,"
Mira seketika meremang mendapat satu sentuhan dari Lingga.
"Mandilah. Aku tunggu, hem β¦," ucap Mira sambil mengusap lembut pipi Lingga dengan punggung tangannya.
"Baiklah," Lingga pun melepaskan Mira dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Mira kembali ke tempat semula, dan menuangkan anggur merah ke gelas yang lain.
Tak berselang lama, pria itu muncul dari balik pintu dengan mengenakan piyama kimono hitam, yang sudah sengaja disediakan oleh Mira sebelumnya di dalam kamar mandi, dan tertempel sebjah sticky note di atasnya agar Lingga mengenakan benda tersebut.
Aura lingga begitu menyihir Mira. Rambut basahnya, dan juga kulitnya yang tampak segar seusai mandi, ditambah bulu-bulu halus di dadanya yang menyembul dari balik kimono yang dipakai pria itu, membuat Mira seketika menggigit bibir bawahnya.
Tubuhnya mulai bereaksi hanya dengan melihat prianya berjalan menuju ke arahnya.
Lingga naik dari arah kaki, merangkak di atas tubuh Mira hingga wajah mereka pun berada pada jarak yang sangat dekat.
Mira tersenyum dengan bibir merahnya yang begitu sensual.
"Mau minum?" tawar wanita itu.
Namun, Lingga tak menjawab. Dia hanya meraih gelas yang dipegang oleh Mira sedari tadi.
Dengan seringainya, pria itu tiba-tiba menuangkan sedikit anggur merah ke tubuh Mira, dan menyiramnya dari leher hingga ke perut.
"Kak β¦," pekik Mira kaget dengan apa yang dilakukan Lingga kepadanya.
Linga meletakkan kembali gelas di atas nakas, dan mulai menyerang leher Mira, menjil*tnya dengan perlahan, menyapu semua sisa-sisa anggur yang menempel di sana.
"Ehm β¦,"
Rintihan pun terdengar dari Mira, yang mulai menikmati setiap sentuhan prianya itu.
Lingga menurunkan tali bahu baju tembus pandang Mira, dan semakin turun menyapu lelehan red wine yang ada di dada ratu esnya dengan lidah serta bibirnya. Ia semakin turun menyusuri lembah diantara dua gunung besar, dengan puncak merah muda itu.
"Aaaahhhh β¦,"
Mira semakin tak terkendali. Tangannya menyusup ke celah rambut belakang Lingga dan meremasnya kuat, sembari mendorong wajah pria itu semakin masuk ke dalam.
"Eeeehhhmmm β¦ kau tau, Mir? Ini adalah cara minum yang paling nikmat," ucap Lingga yang masih berada di sana.
"Curang β¦ eeeeehhhmmmm β¦,"
Mira kembali tak bisa berkutik, kala bibir Lingga mulai bermain dengan puncak mungilnya, menyesap dan memelintirnya dengan sedikit hisapan lembut.
Wanita itu semakin menggelinjang di bawah kungkungan Lingga yang semakin turun menyusuri hingga ke perut Mira.
Mira terhanyut hingga tak sadar kini prianya telah berada di bawah sana, memandangi keindahan tubuhnya yang telah polos.
"Apa kau siap dengan hukuman gabungan mu?" tanya Lingga yang terus memandang wajah Mira yang telah memerah, dengan mata yang berkabut penuh g*irah.
Wanita itu hanya mampu menggigit bibir bawahnya, dengan nafas yang memburu. Dia pasrah sepenuhnya.
Lingga pun menyeringai, dan mulai melepaskan kain yang menutupi tubuh telanj*ngnya, hingga monstres miliknya yang telah bangun, terlihat begitu kokoh menjulang hingga keperutnya.
"Aaaaahhhh β¦,"
Lingga memulai penyatuan mereka. Pria itu tak selembut biasanya. Dia cenderung lebih agresif. Henktakan yang begitu menhujam, benar-benar membuat Mira seolah dikendalikan olehnya.
Suara-suara indah terus mengiringi percintaan mereka. Lingga benar-benar sedang menghukum Mira.
__ADS_1
"Aku akan tunjukan, siapa aku sebenarnya saat di atas ranjang," ucapnya sambil terus memacu dengan ritme yang cepat dan menghujam dalam.
Semua badan Mira telah merah oleh bekas kecupan dari pria itu hingga seolah tak ada lagi kulit putih yang tersisa, yang luput dari kecupan pria itu.
"Kau liar sekali, Kak β¦ aaaaahhhhh β¦,"
Mira semakin kepayahan menghadapi Lingga.
"Kak β¦ aku β¦ aaaaahhhhhh β¦,"
******* panjang menandai peleoasan Mira. Namun, Lingga tak terlihat akan segera menyudahi permainannya.
"Kau akan kubuat pingsan malam ini, Mir. Nikmatilah," ucap Lingga.
Benar saja, pelepasan demi pelepapasan telah Mira alami hingga lebih dari lima kali. Namun, Lingga masih terus memacunya dengan kuat.
Pria itu menghentikan gerakannya sesaat, dan mengusap wajah dan rambutnya yang telah penuh dengan keringat.
"Apa sudah selesai?" tanya Mira yang terdengar lemas.
"Jangan mimpi," seru Lingga menyeringai.
Mira seketika seakan tak mampu menelan salivanya, karena khawatir dengan nasibnya malam ini.
"Oh, ****! Gue sudah capek banget. Berapa kali tadi gue keluar. Tapi dia belum puas juga. Ini gue bisa pingsan," batin Mira.
Lingga mengangkat sebelah kaki Mira melewati kepalanya, dan menumpangkannya di kaki sebelahnya, membuat Mira dalam posisi miring dengan penyatuan yang belum terlepas.
Pria itu mulai mencumbu punggung mulus wanita itu, dan memacu yang di bawah sana dengan perlahan.
Mira kembali merintih, namun dia mengangkat pinggulnya ke atas dengan sendirinya, membuat milik Lingga terjepit dan terbenam sepenuhnya.
"Aaaaahhhhh β¦ nikmat sekali, Sayang β¦ aaaahhhhh β¦," ucap Lingga.
Saat bibirnya menc*mbu punggung mulus itu, tangannya menjalar ke depan dan menyentuh buah mungil yang terjepit di antara lembah Mira.
Wanita itu semakin merintih-rintih merasakan sensasi yang laur biasa, yang belum pernah ia rasakan selama menjalani kehidupannya di dunia pel*curan.
"Kak β¦ aku β¦ eeehhhhmmmm β¦,"
Mira sudah tak mampu lagi menahan dirinya, ia pun kembali mencapai puncaknya yang kesekian kali.
"Kenapa, Mir. Sudah tau bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh menghukummu, hem?" ucapnya tepat di depan telinga Mira dengan memberinya sedikit jil*tan.
"Eeehhhmmm β¦ sudah β¦ aku β¦ aaaahhhh β¦," rintih Mira.
"Mampus, Gue! Gue udah nggak tahan lagi. Tapi gengsi kan kalau pel*cur sampe pingsan gara-gara em el," batinnya.
Mau gengsi setinggi apapun, tenaga Mira tak mampu menandingi Lingga yang sedang dalam mode full charge, dan membuat si kupu-kupu malam itu pun tak mampu lagi terjaga, dan pasrah dengan semua perlakuan Lingga terhadapnya.
Suara rintihan halus sesekali terdengar dari mulut wanita yang telah tak sadarkan diri itu.
Lingga pun akhirnya sampai pada puncaknya, dan semakin memacu dengan keras, menghentak dan menabrak dinding rahim Mira.
"Aaaarrrgghhh ... Aaaarrrghhhh ... Aaaarrrrrgghhh ...,"
Semburan lava berwarna vanilla, memenuhi rahim Mira dan menyemai benih yang ada di dalam sana.
Lingg pun ambruk dan terkulai lemas di atas tubub wanitanya. Dia mengecup pelipis Mira, dan memeluknya erat hingga keduanya pun tertidur bersama.
.
.
.
.
Panas....panas....panas....
dah lah, kalian komen aja, aku capek ngetik panas-panasπ
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yahπ kembang ma kopi juga boleh bangetπ