
Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian tragis itu. Selama itu pula, Mira sama sekali tak keluar dari apartemennya. Dia lebih memilih mengurung diri di dalam sana, sambil ditemani puluhan botol minuman keras yang terlihat berserakan di lantai ruang tamunya.
Matanya terlihat lelah, dengan lingkar mata yang menghitam. Wajahnya kusam, menutupi kecantikannya.
Mom Winda sesekali mendatangi kediaman wanita cantik itu, namun Mira sama sekali tak mau menemuinya.
Lingga pun dibuat cemas dengan kondisi Mira yang seperti itu. Dia berusaha mengganggu wanita itu dengan terus menggedor pintunya, setiap pagi siang sore dan malam hari.
Namun, Mira sama sekali tak peduli dengan mereka yang khawatir padanya. Tatapannya kosong, dan tangannya yang terus menggenggam botol minuman keras, sambil sesekali menenggaknya.
Berawal dari hari itu, saat sepulang dari pemakaman Thomas, dan suasana masih mendung. Lingga kembali ke kantor setelah mengantarkan Mira pulang ke apartemennya.
Lingga sebenarnya tak tega meninggalkan Mira seorang diri, terlebih keadaannya yang masih sangat labil. Namun, pekerjaannya pun tak bisa terus ia tinggalkan. Terlebih hari sebelumnya, ia terus menemani Mira hingga pagi menjelang.
Saat dalam kesendiriannya, Mira yang seakan hilang arah itu pun, berdiam diri di dalam kamar, sambil duduk di atas ranjangnya, dengan masih mengenakan pakaian pemakaman.
Wajahnya terlihat muram, datar dan tak berekspresi.
Cukup lama ia dalam posisi seperti itu, hingga Mira memutuskan untuk berganti pakaian, dengan sebuah kaus oblong dan celana jeans hitam panjang.
__ADS_1
Dia pun mengambil sebuah jaket ber-hoodie hitam yang sangat jarang ia gunakan, dan tergantung rapi di sudut lemari pakaiannya.
Ia memakai semua itu, dan lalu berjalan keluar dari apartemen.
Mira tak terlihat seperti dirinya yang biasa. Dengan mengenakan hoodie jaketnya, ia berjalan sambil menundukkan kepala, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya.
Ia berjalan menyusuri trotoar dan berujung pada sebuah swalayan.
Mira masuk dan mengambil keranjang belanja. Ia berjalan menuju deretan lemari pendingin yang ada di dalam sana.
Langkah kainya terhenti tepat di depan pendingin yang menyimpan berbagai minuman beralkohol dari mulai bir kaleng hingga yang lebih keras dalam kemasan botol.
Setelah selesai memenuhi isi keranjangnya, Mira bersusah payah membawa belanjaanya ke depan meja kasir.
Sang kasir sempat tertegun melihat belanjaan Mira yang hanya berupa minuman berlkohon dari berbagai merek dan jenis.
Namun, sudah menjadi pekerjaannya melayani pembeli, sehingga ia pun tetap memproses pembayarannya.
Setelah membayarkan semuanya, Mira membawa dua kantong besar berisi minuman kerasnya, dan kembali berjalan pelan, sambil menahan beratnya barang bawaanya itu menuju ke apartemen.
__ADS_1
Dia tak peduli lagi pandangan orang lain terhadapnya. Yang ia butuhkan saat ini adalah melampiaskan rasa sedihnya, menyalurkannya menjadi sebuah mabuk, agar ia bisa melupakan semua kejadian yang menimpa Thomas.
Sesampainya di apartemen, Mira meletakkan kedua kantong besar berisi minuman itu di atas meja ruang tengah, tepat di depan TV.
Ia mulai membuka satu kaleng bir, dan menghabiskannya. kemudian kembali membuka satu lagi, hingga akhirnya satu demi satu kaleng dan botol itu kosong.
Mira duduk di lantai, bersandar pada kursi, sambil meluruskan sebelah kakinya, dan kaki sebelahnya tertekuk ke atas, menopang lengan yang memegangi minuman.
Entah sudah berapa yang ia habiskan, yang jelas Mira masih merasa belum juga mabuk. Hingga akhirnya, ia merasa lelah dan mengantuk, kemudian tertidur meringkuk di lantai yang beralaskan karpet di tempat yang sama.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1