Mirage

Mirage
Pengaruh Buruk


__ADS_3

Hari berganti, keberangkatan Lingga dan Mira pun tiba. Keluarga Wijaya kini tengah berkumpul di  bandara, untuk mengantarkan kepergian keduanya.


Terlihat juga Tania yang membawa koper besar dan berdiri di samping Nicholas, yang terus memperhatikan layar tab-nya.


“Pesawat kita akan berangkat setengah jam lagi. Sebaiknya, kita masuk sekarang dan tunggu di dalam, Tuan,” seru Nicholas.


Lingga dan Mira yang sedari tadi bercakap-cakap dengan keluarganya itu, kini harus berpisah.


Nampak Aletta memeluk Mira, dan mengucapkan beberapa pesan kepada wanita itu.


“Kamu jaga diri baik-baik di sana ya. Kalau ada apa-apa, cepat bilang sama Mami. Terlebih lagi, kalau anak nakal ini kumat, jangan ragu untuk ngadu ke Mami, biar Mami hukum dia,” seru Aletta sambil melirik ke arah putranya.


“Oh, ayolah, Mi. Jangan diungkit mulu napa. Malu kan sama Mira,” keluh Lingga.


“Syukurlah kalau kamu sudah punya malu,” sahut Aletta ketus.


Mira terkekeh mendengar perdebatan tak berfaedah, antara anak dan ibu itu.


“Tenang, Mi. Kak Arya udah jinak kok. Kalau dia macem-macem, ntar nggak akan ku kasih dia jatah sebulan,” sahut Mira terkekeh.


Lingga panik. Dia segera merangkul pundak Mira dan memeluknya erat.


“Jangan dong. Nanti aku merana lagi kaya kemarin,” rengek Lingga.


Semua pun tertawa melihat kelakuan manja pria dewasa itu.


“Kalian masuklah. Jangan lupa kabari kami saat sudah tiba di sana,” pesan Tuan Wijaya.


“Baik, Yah. Kami berangkat dulu,” pamit Lingga.


Mereka berempat pun masuk dan melakukan pemeriksaan tiket dan passpor masing-masing. Sebelum masuk ke dalam, mereka kembali menoleh ke belakang, melihat orang-orang yang akan ditinggalkan.


Semua nampak saling meleambai, melepas kerinduan masing-masing yang bahkan belum berpisah.


Setelah itu, semuanya kembali berjalan masuk dan benar-benar menghilang dari pandangan.


Di ruang tunggu dalam, Lingga, Mira, Nicholas dan Tania, duduk di sabuah caffee yang eksklusif diperuntukkan bagi penumpang VVIP.


“Tuan, boleh aku tanya sesuatu?” ucap Tania membuka percakapan.


“Ada apa?” sahut Lingga ketus.


Pria itu nampak tengah memakai kaca mata hitamnya, dan melipat kedua lengan di depan dada. Sedangkan Mira, duduk sembari menikmati semangkuk eskrim aneka rasa pesanannya.


“Kenapa Mira dan adikmu memanggil orang tua tadi dengan sebutan ‘Papi Mami' tapi Anda malah memanggil mereka ‘Ayah Ibu'? Apa Anda anak pungut?” tanya Tania dengan polosnya.

__ADS_1


Mira seketika tergelak mendengar pertanyaan temannya itu, hingga es krim di mulutnya berantakan hingga ke dagu.


Lingga meraih sebuah tisu yang ada di atas meja, dan mengelap es krim yang belepotan di bibir si ratu es.


“Hahahaha... Maaf, Kak. Aku reflek ketawanya,” ucap Mira.


“Kenapa emangnya, Mok? Ada yang lucu ya?” tanya Tania penasaran.


“Ehem ... Biar aku yang jawab ya, Kak,” ujar Mira.


Lingga hanya mengangguk malas.


“Jadi, dulu aku juga penasaran kenapa bisa beda gitu manggilnya, terus aku tanya ke Mami, dan kata Mami, itu gara-gara dulu dia di buli sama temen-temennya dan dipanggil anak mami. Soalnya, dia selalu bilang kata Mami A, kata Mami B, gitu. Dia ini kan penurut sekali dulu. Aku aja sampe gemes. Hehehe,” tutur Mira.


“Oh, jadi karena dipanggil anak Mami, makanya ganti manggil Ibu. Hahahah, alasan yang lucu. Tapi harusnyakan Papi dan Ibu, kenapa ganti semua? Emang dia ada dipanggil anak papi juga?” tanya Tania lagi.


“Mami Aletta sempat protes, katanya nggak cocok banget, masa satunya Papi satunya Ibu. Akhirnya, karena Kak Arya nggak mau balik lagi panggil Mami, jadilah Papi Wijaya juga diubah panggilannya jadi ayah. Gitukan, Kak,” jawab Mira.


Wanita itu lendotan manja di lengan prianya, yang terlihat diam saja dari tadi. Mira merasa seperti mendengar sesuatu, seperti suara dengkuran dari arah sampingnya.


Dia pun kemudian memperhatikan prianya itu dengan lekat-lekat. Hampir ia melepas kacamata hitam Lingga, namun Nicholas mencegahnya.


“Sebaiknya, Anda tidak mengganggu beliau Nona. Biarkan Tuan Lingga beristirahat. Beberapa hari ini, dia sangat lelah karena harus menyelesaikan sisa urusannya di sini, agar nanti bisa dipindah tangankan kepada Nona Cheria,” ucap Nicholas.


Mira pun menarik kembali tangannya, dan membiarkan pria itu tidur sambil duduk di sampingnya.


“Gue ada satu pertanyaan lagi, Mok,” ucap Tania.


“Apaan?” tanya Mira yang ikut-ikutan mendekatkan wajahnya ke arah temannya itu.


“kenapa lu sama keluarga Tuan ini manggilnya Arya, bukan Lingga?” tanya Tania.


“Sekepo itu kah elu, Puk?” tanya Mira balik.


“Jawab aja sih. Gue penasaran dari udah lama,” seru Tania.


“Gue nggak tau pastinya, yang jelas, Cuma keluarganya aja yang boleh panggil dia Arya, yang lain nggak,” jawab Mira


“Kalau gue, boleh nggak?” tanya Tania.


“Hei, Anda siapa ya?” sindir Mira.


“Gue? Kenalin, Tania, ceweknya Nicholas. Asisten Tuan Lingga,” ucap Tania sambil merangkul lengan pria di sampingnya.


“Cieeee, yang udah jadian. Baik-baik, lu. Anak orang jangan diajarin macem-macem. Polos dia,” ledek Mira terkekeh.

__ADS_1


“Eits, jangan salah. Udah gue ajarin macem-macem lho dia. Udah Sama-sama polosnya,” sahut Tania.


Kedua wanita itu tergelak dan membuat gaduh tempat tersebut. Nicholas hanya menggelengkan kepalanya mendengar perbincangan kedua wanita itu, sedangkan Lingga, memilih untuk tetap tidur meski sejujurnya dia sangat terganggu.


...💋💋💋💋💋...


Dua bulan kemudian, sejak kepergian Lingga ke Paris untuk mengurus proyek eropanya, yang sedang dimulai dari kota menara Eiffel itu, kini Cheria yang harus memegang kendali penuh di kantor pusat yang berada di tanah air.


Taun Wijaya, kini harus bolak balik negeri panda ke tanah air, karena Aletta memutuskan untuk kembali tinggal di rumah lama mereka, sambil menemani putri bungsunya bekerja.


Meski tumbuh besar di luar negeri, namun Aletta tak lantas membebaskan putrinya untuk hidup sendiri. Dia khawatir dengan pergaulannya yang sempat salah di masa remajanya dulu, hingga membuat putri keluarga kaya itu kehilangan sahabat baiknya.


Flash back on …


Setalah mengusir Mari kecil dengan begitu kasarnya, Riri kecil masuk ke dalam kamar dan bergabung dengan teman-temannya yang disebut benalu oleh sang Kakak, Arya.


Saat masuk ke dalam sana, dia melihat semua teman-teman barunya, nampak asik mengacak-acak barang pribadi Riri.


Dari mulai isi lemari, laci meja, make up hingga apapun yang mereka lihat di sana. Awalnya, dia senang dengan mereka, tapi setelah mengusir Mari, hatinya menjadi sepi.


Namun, Riri menepis semuanya jauh-jauh dan kembali membaur dengan teman-temannya.


Hati berganti. Mereka semakin sering datang ke rumah besar itu. Arya pun selalu memperhatikan tingkah mereka yang seenaknya. Selalu minta dibawakan makanan dan minuman yang banyak ke dalam kamar Riri, lalu setelah itu membiarkan kamar adiknya berantakan bak kapal pecah.


Bungkus makanan ringan kosong yang berserak di atas lantai, ditambah kaleng dan botol minuman ringan yang tergeletak begitu saja di atas meja, dan bahkan tak jarang seisi lemari Riri keluar semua dan menumpuk di atas tempat tidur.


Arya sudah berkali-kali menasehati adiknya itu, agar jangan lagi bergaul dengan mereka yang disebut parasit olehnya.


“Kamu lihat? Asisten rumah tangga kita sampe kecapean, karena harus membereskan kamarmu yang super acak-acakkan itu hampir setiap hari. Kamu tau nggak? Kerjaan mereka banyak, nggak cuma ngurusin kamarmu aja, Ri,” tutur Arya.


“Apa salahnya sih, Kak. Mereka kan cuma mau lihat baju-baju aku. Cuma mau cobain aja. Apa salah? Lagian, wajar lah kalau pembantu kita capek. Mereka kan dibayar buat kerja. Kalau nggak capek, itu namanya makan gaji buta,” sahut Riri sarkas.


“Otak mu udah nggak beres, Ri. Baru berapa lama kamu bergaul dengan mereka, sikap kamu udah picik kayak gini. Gimana ntar. Dan lagi, mungkin sekarang mereka cuma bilang mau lihat, mau coba, tapi bentar lagi, pasti mereka akan ngerampok seisi kamar kamu, malah kalau dibiarin, seisi rumah bakal diambil sama mereka,” ujar Arya.


“Nggak. Temen ku nggak gitu,” sanggah Riri.


“Kita lihat aja ntar. Dan sikap kamu pun, akan semakin buruk dari sekarang. Jika itu bener-bener terjadi, kakak akan laporin ke ibu dan ayah,” ancam Arya.


Riri tak menggubris. Dia justru balik ke lantai atas dan masuk kembali dengan membanting pintu hingga berdentum sangat keras.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2