
Mira memberanikan dirinya untuk membuka kain penutup itu. Mira menariknya perlahan, dan terlihatlah wajah tua yang biasanya selalu menggoda Mira, kini pucat bak tak ada darah di sana.
Mira mundur selangkah, melihat pria yang begitu berarti baginya, kini telah terpejam dan tak akan pernah terbangun lagi.
Wanita itu berusaha untuk tetap tenang di dalam sana, dan membendung sekuat hati air matanya agar tak kembali tumpah seprti sebelumnya.
"Mir," panggil Linggaa lirih, sambil menyentuh kedua pundak Mira dari belakang.
"Aku tak apa," ucap Mira menepis pelan tangan yang menyentuhnya.
Wanita itu kembali menghela nafas panjang, dan memantapkan hatinya untuk kembali mendekati pria yang telah terbujur kaku itu.
Mira mencoba mengulurkan tangannya, untuk menyentuh tubuh yang dingin itu. Meski ragu, namun rasa inginnya untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Thom begitu besar.
Dia mulai menyentuh kening Thom. Terasa begitu dingin di kulitnya. Tak ada lagi kehangatan yang tersisa sedikitpun dari pria tua itu.
Hati Mira begitu sakit. Dadanya terasa sesak hingga rasanya ingin meledak. Lingkar matanya memerah, dan genangan mulai terlihat di pelupuk matanya.
__ADS_1
Dia memejamkan mata untuk membendung aliran yang hampir terciota itu. Helaan nafasnya terdengar bergetar dan berat.
"Apa kau semarah itu padaku, Thom? Sampai-sampai kau meninggalkan aku dengan cara sememnyakitkan ini?" ucapnya sambil mengusap puncak rambut pria tua yang tetap diam itu.
"Mir, Thomas sangat menyayangi mu. Aku sangat tau akan hal itu," ucap Lingga dari belakang Mira.
"Ya, aku tau itu. Dan kau pun pasti tau kalau aku sangat menyayangimu, Thom. Tapi, kenapa sepulang dari negara K, kau justru menjauhiku. Harusnya kau tau, tadi aku hanya sedang merajuk padamu. Kenapa kau tak mau untuk membujukku? Kenapa malah menuruti perkataanku untuk pergi yang jauh dan membawa mobilku, yang membuatmu berakhir seperti ini?" sahut Mira, yang berbicara pada Thomas.
Linangan air matanya, tak bisa lagi ia tahan. Hatinya begitu pedih, sangat pedih. Tangannya mengepal, menahan sakit yang ia rasakan. Tubuhnya bergetar karena isakkannya yang kembali terdengar.
"Dia terpaksa melakukannya, Mir." Lingga memutuskan untuk menceritakan hal yang ia ketahui kepada Mira.
"Apa maksud Anda?" tanya Mira sambil menoleh ke samping, tanpa menatap langsung ke arah Lingga.
"Dia menghubungiku, untuk mencegahmu mengendarai mobil itu. Namun sayangnya, aku sedang sangat sibuk, dan baru membuka pesannya, kemungkinan saat dia telah menemuimu."
"Aku mencoba menghubungimu beberapa kali, namun kamu tak juga mengangkatnya. Saat Aku melihat mobilmu melaju dengan kencang menerobos lampu merah, hingga sebuah truk menabraknya dengan keras, saat itulah panggilanku kau terima? Dan dari sana lah aku tau, jika di dalam mobil itu bukanlah kamu, melainkan Thomas, yang pasti telah lebih dulu menemuimu," tutur Lingga.
__ADS_1
Mira seketika merosot, dan berjongkok di bawah ranjang jenazah itu. Ia menangis sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
Penuturan Lingga, sangat memukulnya. Rasa egoisnya, telah merenggut nyawa pria yang telah mencurahkan segala perhatiannya kepada Mira.
"Maafkan aku. Maafkan aku …," ucap Mira berulang-ulang.
Lingga yang melihat itu pun, tak kuasa membiarkan Mira menangis sendiri. Ia pun mendekat, dan merengkuh pundak ringkih wanita itu.
"Ini bukan salahmu. Percayalah, Thomas pasti bahagia bisa menyelamatkanmu," ucap Lingga membuat Mira semakin menjerit histeris.
Wanita itu duduk bersimpuh di lantai, dan menyandarkan punggungnya pada dada bidang Lingga. Tangisnya terdengar begitu pilu, membuat Lingga pun turut hanyut dalam kesedihan si ratu esnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁