
"Jadi, kakak beneran yang udah nolong aku?" tanya Mira yang duduk sambil bersandar di bahu kekar Lingga, dengan jemari keduanya yang saling bertaut.
"Hem … memang aku orangnya," sahut Lingga sambil mengusap-usap punggung tangan Mira.
"Aku memang sempat ingat, kalau ada keributan di sana. Tapi benar-benar tidak tau apa-apa setelah pria itu mau membuka bajuku," tutur Mira.
"Yah, wajar saja … karena kamu dalam pengaruh obat. Kamu sangat beruntung waktu itu, Mir. Malam itu hujan turun sangat deras bukan? Hal itu lah yang membuat efek obat itu tidak bekerja karena aku yakin kamu pasti pulang hujan-hujanan, yang otomatis mendinginkan tubuhmu," papar Lingga.
"Yah … dan keberuntunganku hanya sampai di situ saja, karena saat aku sampai di rumah sakit, ibuku sudah tak ada," ungkap Mira.
Lingga menjauhkan sedikit kepalanya, dan mencoba melihat wajah Mira saat itu.
Mira yang yang mengerti bahasa tubuh Lingga pun menegakkan posisi duduknya, dan menatap wajah pria di sampingmya itu.
"Ya, Kak. Malam itu juga ibuku meninggal, dan pagi harinya, aku dikeluarkan dari sekolah," tutur Mira.
"Kenapa … Bagaimana ibumu meninggal, Mir?" tanya Lingga.
__ADS_1
"Penyakitnya sudah terlalu parah. Ibu selalu saja beralasan ketika aku memintanya untuk pergi berobat. Yah, walaupun aku tau, itu semua semata-mata karena keterbatasan ekonomi kami, Kak. Makanya, Ibu sama sekali nggak mau diajak ke rumah sakit. Baru setelah ibu muntah darah siang itu, beliau dengan terpaksa mau ku ajak ke rumah sakit. Namun, sayangnya itu sudah sangat terlambat," tutur Mira dengan matanya yang terlihat sendu.
Lingga menyentuh pipi wanita itu, dan mengusapnya dengan lembut.
"Lalu, kenapa kamu dikeluarkan dari sekolah? Apa karena masalah biaya juga?" tanya Lingga menduga-duga.
Mira menggeleng. Wajahnya terus tertunduk, dengan genggaman di tangan Lingga yang semakin erat.
"Disaat aku sedang berduka karena kehilangan Ibu, pihak sekolah menghubungi ku agar hari itu juga aku datang ke sekolah. Dia bilang ada hal penting yang harus di sampaikan."
"Apa alasannya?" tanya Lingga yang terus memandangi wanitanya itu.
"Entah dari mana, foto-fotoku yang tengah berlari keluar dari klub itu dengan baju yang sudah rusak, tersebar di seluruh sekolahan. Atas alasan itulah, pihak sekolah mengeluarkan aku, atas kelakuan buruk yang mencoreng nama sekolah," ungkap Mira.
Mira mengangkat wajahnya, dan memandang wajah pria itu dengan tatapan yang begitu sedih.
"Sejak saat itulah, aku merasa jika ada seseorang yang terus saja membuat hidupku susah, hingga saat ini, dan entah apa alasan dari semua itu," lanjut Mira.
__ADS_1
Lingga tertegun mendengar pengakuan Mira saat itu. Tak disangkanya sama sekali jika selama jauh darinya, telah banyak hal buruk yang menimpa Mari kecilnya itu.
Lingga segera memeluk wanitanya. Hatinya terasa sakit mendengar penuturan Mira, akan masa lalunya yang sangat sulit.
.
.
.
.
Udah makin jelas ya semua, Mira nyemplung jadi pela cur bukan karena kepepet sama yang namanya duit😏
tunggu next eps semoga lolos sensor😔
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1