Mirage

Mirage
Foto dua dimensi hitam putih


__ADS_3

Tak berselang lama, Lingga kembali bersama seorang perawat dan juga dokter. Mereka terkejut melihat Mira yang tengah duduk bersimpuh di depan washtafle.


Pria itu pun segera berlari menghampirinya.


"Mir, kamu kenapa duduk di sini? Apa kamu jatuh? Kamu luka nggak?" tanya Lingga yang terlihat panik.


Mira masih diam. Namun, bisa dilihat jelas jika dia gemetar.


"Mir, kami nggak papa, kan?" tanya Lingga lagi.


Wanita itu kemudian menoleh. Matanya seketika berembun, kala melihat wajah Lingga di hadapannya.


Ada rasa sesak didalam hatinya, saat melihat wajah pria itu.


Bagaimana ini? Dia ingin aku jadi istrinya. Tapi aku sangat menjijikan begini, batin Mira sedih.


"Tuan, sebaiknya cepat angkat pasien kembali ke tempat tidur," seru dokter wanita yang menangani Mira sebelumnya.


Lingga pun langsung mengangkat tubuh Mira, dan membawanya dalam gendongan. Wanita itu mengalungkan lengannya di leher Lingga, dan merebahkan kepala di dada prianya.


Pria itu kemudian meletakkan Mira kembali ke atas tempat tidur.


Dokter lalu mengambil alih, dan memeriksa kondisi Mira. Beberap tes pun dilakukan untuk memastikan jika Mira sudah baik-baik saja.


"Rasa pusing yang dialami itu hal wajar. Semua diakibatkan karen efek obat yang teralu kuat. Namun, semuanya sudah tidak apa-apa. Anda hanya perlu beristirahat beberapa hari, dan akan kembali pulih," ucap dokter.


Perawat yang datang bersama tadi pun kemudian berinisiatif membetulkan baju Mira yang terbuka di bagian atasnya.


Seketika, Lingga tersadar kenapa Mira terlihat begitu terpukul. Bahkan, tadi dia sempat merasakan jika tubuhnya bergetar.


Jadi, kau melihatnya, batin Lingga.


Setelah dokter dan perawat itu pergi, Lingga berjalan mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang.


Ia meraih tangan wanita itu, dan mengecup ruas-ruas jarinya dengan lembut dan dalam.


Mira menatap prianya itu dengan tatapan sendu.


Kenapa aku sekarang cepat sekali sedih jika menyangkut soal pria ini? Apa aku mulai melibatkan perasaan? batin Mira.


Lingga pun menatap Mira, dan menemukan genangan yang mulai terkumpul di pelupuk mata wanita tersebut.


Dengan lembut, pria itu mengulurkan tangannya, dan menyentuh pipi mulus Mira.


"Lupakan semuanya. Anggap tidak ada yang terjadi, hem," ucap Lingga.


"Apa kamu nggak jijik menyentuhku? Setelah apa yang Kakak lihat tadi malam," tanya Mira.


Air mata lolos, turun menyusuri pipinya.


Lingga pun bangkit dan memeluk Mira. Isaknya semakin keras terdengar, dan tubuhnya terasa kembali berguncang.


"Aku udah pernah bilang, kan. Mau seperti apa kamu, mau bagaimana hidupmu, apa pun pekerjanmu, masala lalu mu, semuanya aku sama sekali nggak peduli."

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Mir. Asal kau berjanji tetap bersamaku, menjadi milikku, aku akan selalu ada untukmu dan melindungimu," ucapnya.


Tangis Mira seketika pecah, mendengar penuturan Lingga yang begitu tulus dan menghangatkan relung hatinya.


Lingga semakin mengeratkan pelukannya, sambil mengusap lembut punggung wanita itu.


"Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri, Mir. Aku sakit mendengarnya. Seolah kamu nggak percaya jika aku benar-benar tulus padamu," lanjut Lingga.


Mira mendongak ke atas, membuat Lingga merenggangkan pelukannya.


"Tapi, kejadian semalam ...," ucap Mira.


"Sssttt ... sudah ku bilang, tidak ada yang terjadi," sahut Lingga yang menempelkan ujung telunjuknya di bibir wanita cantik itu.


"Tapi, aku lihat ...," perkatan Mira kembali terpotong.


"Hanya sampai di situ. Mereka tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi. Kamu pasti bisa merasakan kalau tubuhmu baik-baik saja, kan," tutur Lingga.


Mira pun mengernyitkan kedua alisnya, hingga hampir menyatu, dan mencoba merasakan kondisi badannya.


"Beneran, Kak? Beneran mereka nggak melakukan itu sama aku?" tanya Mira dengan tatapan penuh harap.


Lingga menangkup kedua pipi Mira, dan memandanginya dengan tatapan yang begitu teduh.


"Nyaris … aku nyaris terlambat," ucapnya.


Mira mengembangkan senyumnya, dan kembali masuk ke dalam pelukan prianya itu.


Lingga pun membalas pelukan Mira dengan mendekap erat wanitanya itu.


Pagi itu, Lingga memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit menemani Mira.


"Halo, Nick. Aku hari ini akan menemani Mira. Jika ada hal penting atau berkas yang perlu ku setujui, bawakan saja ke mari," ucap Lingga dari sambungan telepon.


"Baik, Tuan." Sang asisten pun menyahut.


Seorang perawat masuk sambil mendorong troli berisi sarapan untuk Mira. Dia meletakkan semuanya di atas nakas. Tak lupa juga obat yang harus dikonsumsi oleh Mira.


"Jangan lupa obatnya diminum setelah makan," pesan perawat itu.


"Baik, Sus. Terimakasih," ucap Lingga mewakili Mira.


Setelah perawat itu pergi, Lingga yang sedari tadi duduk di samping Mira, kini bangkit dan berjalan menuju ke arah nakas yang ada di seberangnya.


Nampak beberapa makanan yang sudah di sediakan, seperti nasi, sup, lauk, buah potong dan juga jus buah yang baik untuk mengusir pusing.


"Mau yang mana?" tanya Lingga.


Mira melihat sekilas, namun ia mencebik tak suka.


"Cckk ... nggak ada yang suka," keluh Mira sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tapi kamu harus makan, Sayang. Makan yah," bujuk Lingga dengan lembut.

__ADS_1


"Nggak mau yang itu, Kak. Nggak ada yang enak. Sopnya juga pasti hambar," rengek Mira.


"Kan belum di coba. Coba dulu yah," rayu pra itu lagi.


"Nggak mau, Kak. Beliin yang lain aja," pinta Mira.


"Emang kamu mau makan apa?" tanya Lingga.


"Apa aja yang penting jangan itu. Aku nggak suka makanan rumah sakit," rengek Mira.


"Hah … ya udah. Tapi kamu diem aja ya. Jangan banyak gerak apa lagi jalan-jalan keluar sendirian," seru Lingga memperingati.


"iya … iya … bawel. Udah sana beliin," rengek Mira.


"Tapi janji dulu," ujar Lingga.


"Iya aku janji nggak akan kemana-mana sendirian," ucap Mira.


"Good." Lingga tersenyum sambil mengusap puncak kepala Mira dengan lembut.


Hah … kalau aja Nick nggak sibuk, mending ku suruh dia saja. Tapi, ya udah lah, cuma bentar ini, batin Lingha berjalan keluar meninggalkan Mira.


Sepeninggal Lingga, Mira memilih untuk kembali berbaring. Namun, pandangannya tertuju pada map yang ada di atas meja di seberang tempat tidurnya.


"Map apa tuh?" gumamnya.


Dia pun mengurungkan niatnya untuk berbaring, dan bangun dari tempat tidur. Mira berjalan menuju ke arah sofa dan duduk di sana.


wanita itu meraih map yang tergeletak begitu saja di atas meja, dan mulai membukanya satu demi satu lembar kertas yang ada di dalamnya.


"Laporan hasil fisumku," gumamnya.


Ia terus membaca hasil laporan itu dengan seksama. Muncul reka adegan yang terbentuk otomatis di dalam kepalanya atas kejadian semalam yang tidak ia ketahui.


"Jadi, semalam memang nyaris yah. Kalau dia terlambat sedetik saja, mungkin … ah, sudah lah." Mira mengusir jauh-jauh pikiran-pikiran yang muncul dalam benaknya tentang kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi tadi malam.


Dia terus membaca satu per satu, hingga sampailah dia di lembar terakhir. Sebuah laporan, yang diserati dengan foto hitam putih, yang menunjukkan hasil pemeriksaan organ dalam dua dimensi.


Nampak sebuah bulatan yang sangat kecil di tengah-tengahnya. Mira tak mengerti sama sekali maksud gambar itu.


"Foto apa ini? Apa ini jantung?" gumam Mira yang mengira jika bulatan kecil itu adalah organ jantungnya.


Wanita itu kemudian membaca keterangan di lembar kertas terakhir. Netranya membulat seketika kala mendapati sebuah kenyataan yang mengejutkan tengang kondisi dirinya saat ini.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2