
Hari sebelumnya, tepatnya saat Mira dan juga Thom baru saja sampai di tanah air.
Saat itu, mereka berdua tengah tertidur di apartemen Mira.
Thom merasa sedikit gelisah. Ia tak bisa tidur nyenyak, hingga pria paruh baya itu memutuskan untuk bangun lebih awal sebelum Mira.
Dia duduk di balkon, sambil berkirim pesan dengan seseorang.
Kapan Anda akan kemari? Sepertinya, waktu ku tak banyak lagi.
Begitulah isi pesan Thom, yang dikirim kepada seseorang di luar sana.
Sesaat kemudian, sebuah pesan balasan datang.
Baiklah, aku akan percepat jadwalnya menjadi minggu depan.
Nampak, Thom bernafas lega ketika membaca pesan balasan itu.
Terimakasih. Aku mohon, jaga dia.
Pesan terkahir dari Thom, yang tak mendapatkan kembali balasan.
Pria berperut buncit itu lalu duduk bersandar di kursi santai Mira yang hanya satu, karena wanita itu memang sengaja agar waktu bersantai di tempat favoritnya tak diganggu orang lain.
Thom menoleh ke arah dalam, dan memandangi Mira yang masih tidur bersembunyi di balik selimut tebalnya.
Sebuah senyum ia berikan, kala melihat gadis yang dulu pernah sangat takut kepadanya, kini justru menjadi orang yang paling dekat dengan dirinya, bahkan melebihi sang istri.
Saat melintas kata istri di kepalanya, senyum itu tiba-tiba menghilang. Ekspresi Thom berubah menjadi sangat aneh. Ada semacam kekhawatiran dan kemarahan di sana.
Hal ini berawal ketika ia tengah memeriksa laporan perusahaan, sebuah surel masuk dan memberitahukan jika selama ini, sang istri mengirim mata-mata untuk mengikuti ke mana pun ia pergi.
Ia sangat geram dengan ulah istrinya itu.
Thom pun lalu segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Pria paruh baya itu memilih untuk mencuci mukanya, dan bersiap-siap untuk pergi dari tempat itu.
Tak berselang lama, Thom telah selesai berganti pakaian dan siap dengan kopernya. Ia berjalan mendekat ke arah Mira yang masih tertidur nyenyak.
Sepertinya wanita itu sangat kelelahan, bukan hanya fisiknya tapi juga jiwanya.
Thom berdiri di samping tempat tidur, dan perlahan membungkukkan badannya, dan mengecup sekilas kening wanita yang lebih pantas menjadi anaknya itu.
"Aku akan tinggalkan mimpi indah untukmu, dan membawa pergi mimpi burukmu, Sayang." Thom berdialog dengan diri sendiri, kemudian kembali berdiri tegak, dan berbalik.
Ia berjalan menuju kopernya, dan sekali lagi, menoleh ke arah Mira. Ia mengulas senyumnya ke arah wanita itu.
Tanpa berkata lagi, Thom pun pergi dari tempat itu.
Dia berjalan menuju pintu masuk lobi the royal bloosom, di mana sang supir telah menunggunya.
Thom adalah tipe orang yang tidak suka menyetir kendaraan sendiri. Dia lebih memilih menggunakan jasa driver pribadi untuk setiap keperluan akomodasinya.
__ADS_1
Pria itu lebih suka menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, bahkan pada saat berada di dalam perjalanan. Namun, itu berbeda ketika dirinya tengah bersama Mira.
Wanita itu seperti memiliki magnet yang sangat kuat, dan selalu menarik dirinya agar terus memperhatikan Mira. Mungkin benar yang dikatakan oleh Mom Winda, kalau Thom bisa saja terkena Virgin effect dari Mira.
Dia masih ingat dengan jelas, ketika dirinya pertama kali meniduri wanita itu saat masih gadis, empat tahun lalu. Ketika nama 'Mari' masih ia gunakan. Usianya saat itu baru menginjak dua puluh tahunan.
Pada waktu itu ia tengah dalam pengaruh alkohol, dan tak sadar dengan siapa dia tengah bersama di dalam sebuah kamar.
Yang dia tahu, wanita yang bersamanya, sama saja dengan wanita-wanita lain yang biasa ia pesan di temoat itu. Tempat hiburan malam milik Mom Winda.
Namun, seteleh teripang daratnya melesak masuk, ia merasakan sebuah keanehan. Sesuatu yang tak biasa ia rasakan, ketika bercinta dengan wanita bayaran lainnya.
Namun, hasrat yang sudah menguasainya, membuatnya meneruskan apa yang telah ia mulai.
Tak ada suara ******* terdengar, hanya rintihan menahan sakit dan perih yang keluar dari bibir wanita yang tengah digagahinya.
Saat semuanya telah usai, baik Thom dan Juga si wanita yang tak lain adalah Mari remaja, seorang gadis yang baru saja kehilangan perawannya, tertidur karena kelelahan.
Pada pagi hari, Mari bangun lebih awal, dan merasakan sakit yang teramat di area intimnya. Ia terlihat kesusahan saat berjalan ke sekeliling tempat tidur, dan memunguti pakaiannya yang berserakan.
Saat itu, Thom pun terbangun dengan sakit kepala yang begitu menghantam dirinya. Ia bangkit dan duduk bersandar di head board, dan sekilas matanya menangkap sosok gadis kecil dalam keadaan te*lan*jang tengah memunguti pakaian-pakaiannya.
Seketika itu, Thom teringat dengan rasa yang berbeda tadi malam. Dengan segera, Thom menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat bercak darah yang telah mengering di atas spreinya.
Pria paruh baya itu mengusap kasar wajah, dan menjambak rambut depannya.
"Apa yang telah ku lakukan?" gumamnya.
Ia melihat nanar ke arah Mari, yang berjalan tertarih menuju ke kamar mandi. Thom pun kemudian bangkit dan segera melilitkan handuk di pinggangnya.
Pria itu mengangkat tubuh polos Mari, dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi, lalu kemudian mendudukkannya di atas closet duduk.
"Bisa mandi sendiri kan?" tanya Thom dengan suara yang terdengar dingin.
Mari hanya mengangguk pelan.
Thom meraih pakaian-pakaian yang ada di dalam pelukan gadis itu, dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Tak berselang lama, dia kembali lagi dan membawakan jubah mandi untuk Mari.
"Mandilah, dan pakai ini!" Thom menggantung benda itu di gantungan yang berada di sudut, kemudian ia kembali pergi meninggalkan Mari di kamar mandi.
Pria itu menjejerkan pakaian Mari yang ia ambil, dan tertulis nama sebuah swalayan di sana. Sepertinya, Mari tengah bekerja di swalayan tersebut, sebelum kemudian seseorang membawanya ke tempat sesat itu.
Thom duduk di bibir ranjang. Ia merutuki kesalahannya sendiri yang telah merusak seorang gadis polos.
Gemericik air mulai terdengar. Thom menduga, pasti saat ini gadis kecil itu tengah menangis, meratapi nasib buruk yang telah menimpanya.
Thom segera menghubungi Mom Winda, orang yang menyediakan jasa wanita malam untuknya.
"Kenapa kamu memberiku seorang gadis yang masih polos, Winda? Bukankah kamu sangat tahu kalau aku anti dengan perawan. Itu hanya akan membawa sial pada ku," keluh Thom.
__ADS_1
Mom Winda terkejut mendengar penuturan Thom barusan. Ia tidak merasa memberinya seorang gadis perawan.
"Aku rasa ada kesalah pahaman di sini. Aku memberimu seorang ladies ku seperti biasa, bukan seorang perawan. Apa kamu tidak salah masuk kamar, Thom?" seru Mom Winda.
"Datang sendiri ke sini!" perintah Thom yang langsung memutuskan teleponnya.
Tak berselang lama, Mom Winda tiba di kamar tempat Thom berada.
"Ini bukan kamarmu, Thom. Aku menyuruh ladies ku untuk datang ke kamar di seberang," serunya setiba di sana.
"Tapi aku ingat betul, kalau kamar di seberang, sedang dipakai orang lain," sanggah Thom.
"Tapi, aku yakin betul jika semalam telah memerintahkan ladies ku untuk menemuimu," sahut Mom Winda.
"Tapi dia masih sangat kecil, Win!" tepis Thom.
"Lalu, di mana anak itu sekarang?" tanya Mom Winda.
"Tunggu lah! Dia sedang di kamar mandi," jawab Thom menunjukkan dengn ekor matanya.
Mom Winda mengikuti arah yang diberikan oleh mata Thom, dan ia pun lalu duduk di kursi kayu yang ada di samping tempat tidur.
Selang beberapa saat kemudian, ketika kedua orang itu menunggu dengan saling diam, Mari keluar dari kamar mandi, memakai jubah mandi yang diberikan Thom sebelumnya.
Sementara bajunya, Thom letakkan di atas tempat tidur.
Mom Winda seperti mengenal anak ini. Ada rasa tak asing ketika melihat wajahnya. Bagai melihat seseorang yang pernah ia kenal di masa lalu.
"Aku seperti mengenalnya. Tapi siapa?"
.
.
.
.
Nah ... gimana? Bingung nggak guys?😁
Jadi, ceritanya othor lg kilas balik sewaktu Thom nginep di tempat si Mira pas baru pulang ke tanah air, tapi kan dia pergi pagi2 banget tuh, malah sebelum Mira bangun.
Biasanya sih, masalah kerjaan, tapi kali ini soal lain. Nah, ini dia penjelasannya.
Terus, di tengah perjalanan, Thom ples bek saat pertama kali ketemu si mira pas masih namanya Mari. Masih segelan😄
Ada yang masih inget nggak, mimpi Mira pas di awal2, waktu dia mau di anu-anuin sama orang?
waktu itu dia pake baju apa? terus ples beknya si Thom pake baju apa? hayo … ada yang nyadar nggak yah?🤔😄
Kalau masih penasaran, ikutin terus kisahnya dengan hikmat ya😅. tunggu next eps besok😊
__ADS_1
jempol, kembang, ama kopi jangan lupa😁komennya juga😘 (othornya rakus🤣🤣🤣)