
"Wah … baru pulang langsung cari mangsa aja," celetuk Samuel yang menyajikan minuman kepada Mira.
Wanita itu membetulkan posisi duduknya, menghadap ke arah samuel, dan menerima cocktail buatan bartender itu.
"Aku nggak cari mangsa kok, malah aku mangsa mereka," sahut Mira sambil menyesap minumannya.
"Seperti biasa, sedingin es." Samuel mengangkat bongkahan es batu yang ada di genggamannya.
Mira hanya mengedikkan kedua bahunya, dan memainkan jari telunjukknya di bibir gelas dengan gerakan memutar.
"Bagaimana jalan-jalan mu ke negara K?" tanya Samuel sambil menyiapkan minimuman untuk tamu lain yang duduk di depan barnya.
"Lumayan," jawab Mira singkat.
"Yah, kau pasti menikmati liburanmu itu kan," ucapnya sambil mengedikkan kedua bahunya tanpa menatap wajah wanita di depannya, dan tetap fokus pada pekerjaannya.
"Ehm … tenang saja, aku sudah siapkan oleh-oleh buatmu," ucap Mira sambil kembali menyesap minumannya.
Samuel sontak menoleh dan tersenyum menatap Mira.
"Kamu memang terbaik, Mir!" serunya yang kembali sibuk dengan racikannya.
Mira hanya menaikkan kedua alisnya dan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, lalu menyesap kembali cocktail buatan Samuel.
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang memeluk Mira, dan membuat wanita itu hampir tersedak.
"Mira!" seru orang itu.
Mira pun menoleh dan melihat sahabatnya yang bernama Sisi, sesama wanita penghibur di paradise fall, tengah berdiri di sana dengan senyum cerahnya.
"Mir, aku kangen!" serunya lagi sambil tetap memeluk Mira dengan erat.
"Si, bisa nggak jangan ngagetin?" keluh Mira yang merasa penampilan sempurnanya hampir berantakan gara-gara tersedak.
"Nggak! Nggak bisa. Aku kangen banget sama kamu. Kamu liburan sama Oom Thomnya kelamaan sih," gerutu Sisi.
"Siapa yang liburan sih? Orang aku di sana juga kerja kok," sanggal Mira.
"Tapikan kerjanya sambil liburan. Pasti seru," ujar Sisi yang masing bergelayut manja di pundak sahabatnya itu.
"Biasa aja," jawab Mira singkat.
__ADS_1
"Iissshhh! Dasar bebal!" keluh Sisi.
"Ehem!" terdengar seorang wanita lain berdehem, dan membuat kedua sahabat itu menoleh.
"Nenek lampir dateng!" gerutu Mira sambil kembali memalingkan wajahnya ke arah depan.
"Ada apa, Tan?" tanya Sisi kepada wanita itu, yang bernama Tania.
"Noh si Mira di suruh ke ruangan Mom Winda. Pulang-pulang bukannya laporan malah nongkrong di sini. Sengaja lu ya mau tebar pesona?" sindir Tania.
"Sam, masukin tagihan ku ya." Mira beranjak dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan Tania.
"Eh Tania, lu kira kita ini tentara? Pake acara lapor-lapor segala lagi? Anak paskib kali ah, hahaha …," ucap Mira sabil berlalu pergi meninggalkan Tania yang merasa kesal dengan ucapannya.
"Si*alan lu, Mir." pekik Tania.
Mira yang mendengar suara Tania, terus saja berjalan tanpa menoleh, sambil mengacungkan jari tengahnya ke atas.
Sisi pun turut pergi mengekori Mira yang menuju ke ruangan Mom Winda.
Tania adalah teman seprofesi Mira. Namun hubungan mereka tidak terlalu baik. Keduanya kerap kali berselisih paham, dan berakhir dengan acara tawuran masal antar pendukungnya, yang membuat Mom Winda pusing dibuatnya.
Tak ada alasan khusus kenapa keduanya sering terlibat keributan. Karena baik Mira maupun Tania, masuk ke paradise fall di hari yang sama, dan tak ada senioritas di antara mereka. Bahkan, soal kecantikan dan popularitas mereka di tempat itu pun, hampir sama.
Pernah suatu ketika, mereka berdua dipesan oleh seorang pria. Tania berusaha membuat Mira yang dikenal tak bisa mende*sah, malu karena tak mampu menggoda pria itu.
Namun, Mira justru menunjukkan sisi liarnya, dan dengan nakal memancing gairah pria tersebut hingga kepuncak.
Tania yang tak mau kalah, berusaha menyingkirkan Mira dari atas tempat tidur. Sedangkan Mira yang juga tak mau kalah pun, berusaha mendorong rivalnya itu.
Akhirnya, aksi saling dorong terjadi, dan berlanjut dengan saling jambak dan cakar antara keduanya. Pria yang telah memesan mereka berdua dibuat panik dan segera menghubungi Mom Winda.
Segera, Mom Winda datang melerai keduanya, yang telah dalam keadaan kacau dan setengah telanjang, karena sempat menggoda pria itu dengan tubuh mereka.
Setelah keluar, huru hara tak langsung berhenti. Aksi saling sindir kembali terjadi di ruang make up para pekerja malam itu.
Tawuran pun kembali terjadi, dan kali ini tak hanya melibatkan kedua wanita cantik nan seksi itu, melainkan hampir seluruh wanita penghibur milik Mom winda, turut berpartisipasi dalam kekacauan yang dibuat Mira dan Tania.
Alhasil, paradise fall ditutup selama seminggu akibat para wanita malamnya mengalami cedera ringan dan lebam di wajah cantik dan tubuh mereka.
Mira berjalan menyusuri lorong panjang, yang sisi kanan dan kirinya dipenuhi dengan banyak kamar-kamar panas.
__ADS_1
Di ujung sana, tepatnya sebelum dapur, terdapat sebuah tangga yang menghubungkan ke lantai dua, di mana kantor Mom Winda berada.
Saat pertama kali berada di lantai dua, kita bisa menemukan sebuah ruang karyawan yang cukup besar, dan terbagi menjadi dua, ruang karyawan laki-laki dan perempuan.
Setelah melewati ruangan itu, sampailah mereka di depan ruang ganti dan make up para wanita malam yang bekerja dengan Mom Winda.
"Mir, aku ke sini dulu yah." Sisi memisahkan diri dari Mira, dan masuk ke dalam ruangan yang biasa disebut base camp oleh pada wanita-wanita cantik di tempat itu.
Mira hanya menoleh sekilas, tanpa berkata dan bersuara. Dia kembali menghadap ke arah depan, dan berjalan menuju ruangan, yang berada tepat di ujung sana.
Tok! Tok! Tok!
Mira mengetuk pintu yang terbuat dari kaca tebal itu, ketika ia telah sampai di depannya.
"Masuk!" seru suara seorang wanita di dalam ruang tersebut.
Tanpa di perintah dua kali, Mira segera meraih handle pintu dan kemudian membukanya. Nampak sebuah ruangan yang mirip dengan kantor, namun tetap terlihat seperti ruang pribadi seorang wanita, dengan segala macam pernak-perniknya.
Mira berjalan masuk, dan langsung duduk di sofa empuk, dengan memanggu sebuah bantal berbulu, untuk menutupi paha mulusnya yang terekspos.
Di seberang sana, tampak seorang Wanita paruh baya, berumur sekitar hampir setengah abad, dengan dandanan yang cukup menor dan pakaian yang bisa dibilang tidak sesuai usianya, tengah duduk di kursi kebesarannya.
Wanita yang tak lain adalah bos dari tempat hiburan malam itu, atau yang sering dipanggil Mom Winda, bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah Mira berada.
Ia kemudian duduk di kursi yang berada tepat di depan wanita cantik berbaju merah menyala itu.
"Hai, Mom!" sapa Mira ketika Mom Winda telah menyamankan posisi duduknya.
"Bagaimana operasimu, Mir?" tanya Mom Winda sambil menyulut sebatang ro*kok yang terapit telunjuk dan jari tengah tangan kirinya.
"Cukup baik. Setidaknya, sekarang aku bisa memakai baju dengan punggung terbuka seperti ini," jawab Mira, sembari mengambil sebatang ro*kok milik Mom Winda, yang berada di atas meja.
"Baguslah, karena minggu depan aku ada tugas khusus buat mu," ucap Mom Winda.
.
.
.
.
__ADS_1
Yang baca, silakan tinggalkan like dan komen di bawah ya😊
Cerita masih datar, slow dulu ... see u next eps😘