
Pagi hari, sekitar pukul tujuh, Mira baru saja pulang dari paradise fall, setelah semalaman bergumul dengan para lelaki hidung belang yang tergoda untuk menikmati tubuh indahnya.
Ia nampak terburu-buru masuk ke dalam, dan segera menuju ke kamar tidurnya. Ia berhenti sejenak di depan pintu, sambil mengatur nafasnya yang berkejaran.
Mira membuka pintu dengan perlahan, sambil melongokkan kepalanya terlebih dahulu untuk memastikan kondisi di dalam sana.
"Gelap?" gumamnya.
Ia pun melangkah masuk, dan meraih saklar lampu yang berada di balik pintu kamarnya.
"Hah …," terdengar helaan nafas lega, ketika netranya tak menangkap keberadaan pria menyebalkan, yang semalam sempat membuatnya emosi.
"Syukurlah, akhirnya dia sudah pergi," ucap Mira sambil menghempaskan tubuhnya ke atas kasur king size miliknya.
Namun, indra penciumannya menangkap aroma yang membuat Mira sempat terpaku semalam. Wangi maskulin bercampur aroma bunga mawar, yang berasal dari tubuh Lingga, yang sempat berbaring di sana.
Wanita itu memejamkan mata, dan menghirup dalam-dalam, seolah ingin menyimpannya seorang diri.
"Hah … kenapa bau ini sangat menenangkan?" gumamnya sambil tidur menyambing, dan membenamkan wajahnya di bantal, yang sempat dipakai oleh Lingga.
Karena lelahnya, ditambah dengan aroma yang ditinggalkan Lingga, yang membuat syaraf Mira mengendur, wanita itu pun terlelap tanpa membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dulu.
Siang hari menjelang sore, sekitar pukul tiga, Mira baru saja bangun. Ia mendapati dirinya yang masih terbalut baju yang semalam ia pakai, dengan wajah yang terasa begitu kaku akibat lupa membersihkan make up tebalnya.
"Ah … si*al! Aku harus segera mandi. Tubuhku sangat lengket," keluhnya.
Dengan malas, Mira pun melangkah menuju kamar mandi, dan tak lupa juga ia menyambar bath robe yang ada di sudut ruangan.
Mira duduk di sisi bath tube, dan mengisinya dengan air hangat. Tak lupa, ia juga mencampurkan minyak esensial aroma bunga untuk menemaninya berendam.
Ia merasa sangat lelah, dan butuh me-rileks-kan tubuhnya.
Setelah siap, wanita itu pun membuka bajunya, dan melemparkannya ke dalam keranjang laundry.
Saat itu, ia melihat pakaian Lingga yang masih berada di sana.
"Hah … setelah kejadian menyebalkan semalam, aku masih harus bertemu dengannya," keluh Mira, sambil menghela nafas panjang.
Akhirnya, Mira pun masuk ke dalam bak mandi, dan menenggelamkan seluruh badannya, hingga hanya tersisa bagian kepalanya saja.
Ia menyandarkan tengkuknya di bibir bath tube, dan memejamkan mata, sembari menghirup aroma dari minyak esesial yang ia tuangkan.
Sekitar setengah jam, Mira pun lalu keluar dari sana, dan menuju ke bawah shower. Ia kemudian membilas tubuh, dan menyelesaikan acara mandinya.
Seusai itu, Mira keluar dengan mengenakan bath robe, dan berjalan menuju dapur, sembari mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.
__ADS_1
Ia mengambil sekantung teh hijau kemasan, dan memasukkannya ke dalam cangkir. Lalu kemudian, ia menyeduhnya dengan air panas.
Mira kembali masuk ke dalam kamar, dan berjalan menuju balkon, tempat favoritnya di apartemen itu.
Dengan masih menggunakan jubah mandi, dan sebuah handuk kecil di kepalanya, Mira duduk bersandar di kursi santainya, sambil menyesap teh hijau buatannya sendiri.
"Baru bangun?"
Terdengar sebuah suara yang sontak membuat Mira menegakkan tubuhnya, dan melihat ke kanan dan kiri.
Matanya menangkat sebuah tangan yang terulur ke arah balkonnya dari arah balkon samping apartemennya, sambil memegang sekaleng bir dingin.
"Hah … dia lagi," Mira mendengus kesal.
Dia sudah bisa menebak siapa orang yang sudah menganggu waktu santainya itu.
"Apa tidurmu nyenyak, Nona Mira?" tanya Lingga.
Pria itu tengah berada di balkon apartemennya sendiri, dan tak bisa mengintip ke arah balkon Mira, karena terjeda oleh dua buah tembok sekat yang terpisah dengan ruang kosong, sehingga membuat sesama tetangga tak bisa saling lompat atau mengganggu privasi tetangga lainnya.
Hal itu lah yang membuat Lingga hanya bisa menyapa Mira, tanpa memperlihatkan dirinya.
Mira pun kembali bersandar, dan menyesap teh hijaunya.
"Kebetulan, aku mendengar suara pintu bergeser. Aku sempat melihat tipe pintu kamar mu yang menghubungkan ke balkon, jadi aku tau jika kamu sedang ada di situ," jawab Lingga.
"Oh …," sahut Mira singkat.
"Jam berapa kau pulang?" tanya Lingga.
"Bukan urusan Anda, Tuan." Mira menjawab dengan ketus.
"Baiklah. Lalu, kapan kamu akan mengembalikan pakaianku yang tertinggal?" tanya Lingga, dengan suara yang sengaja dikencangkan.
Mira melotot, dan bangkit menuju tepi pembatas.
"Jaga ucapanmu, Tuan! Tetangga yang lain bisa salah paham nanti," seru Mira sambil mencondongkan dirinya ke arah luar, hingga ia bisa melihat Lingga, yang tengah berdiri dan bersandar di pagar pembatas, seperti dirinya.
"Oh, maaf! Aku memang sengaja … hahahhaa …," kelakar Lingga yang membuat Mira memutar bola matanya akibat jengah.
Mira lalu memundurkan kepalanya, agar tak terlalu menjorok keluar.
"Nanti akan saya bawa ke binatu dulu. Setelah bersih, akan saya kembalikan kepada Anda," Ucap Mira sembari memandang lurus ke depan.
Lingga menoleh, dan memandangi wanita yang kini menjadi tetangganya itu. Ia mengagumi pesona Mira dalam diam.
__ADS_1
"Wah … apa dia sengaja mau menggodaku, dengan hanya mengenakan bath robe dan rambut yang masih setengah basah itu? Hah … tahan, ini belum saatnya," batin Lingga, yang merasa terusik dengan penampilan Mira saat itu.
Lingga lalu membuang pandangannya ke depan, dan meneguk bir dingin kalengan yang ia genggang.
"Sebaiknya kau masuk dan pakai bajumu, Nona. Hari sudah semakin sore dan udara mulai dingin sebentar lagi. Kau bisa saja masuk angin, jika masih memakai jubah mandi seperti itu di balkon," ucap Lingga sembari menoleh ke arah Mira di ujung kalimatnya.
Mira pun menoleh dan pandangan mereka bertemu. Dia mengulas senyum tipis, lalu kemudian meneguk kembali teh hijau yang tersisa di dalam cangkirnya.
"Ah … teh saya sudah habis. Kalau begitu, saya permisi, Tuan," ucap Mira menoleh dan tersenyum sekilas ke arah tetangga barunya itu.
Wanita itu pun lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya, dan menutup rapat pintu geser yang menghubungkan kamar tidurnya dengan balkon.
Mira kemudian berganti pakaian, dan berencana untuk keluar membeli beberapa kebutuhan pribadi dan juga dapurnya yang sudah mulai habis.
Sore itu, mira keluar dengan mengenakan out fit casual. Sebuah kemeja kotak-kotak hijau hitam yang dipakai tanpa menautkan kancing-kancingnya, serta dipadu inner hitam, dan celana jeans berwarna army dengan aksen robek-robek di lututnya.
Rambutnya yang biasa ia ikat, kali ini ia kepang satu dengan poni yang ia biarkan menyamping. Ditambah aksesoris sebuah topi hitam, dan kaca mata hitam yang menempel di kerah baju dalamnya.
Ia keluar dari apartemen dan segera berjalan menuju ke area parkir basement.
Seperti biasa, ia selalu menggunakan lift langsung dari unitnya menuju ke tempat mobilnya berada.
Saat itu, ia berjalan keluar dari lift seperti biasa, dan menuju ke tempat mobilnya terparkir. Mira tak merasa takut ataupun curiga sama sekali, dengan keadaan basement yang terbilang sepi di waktu sore hari, di mana biasanya para penghuni mulai ramai berdatangan dari tempat mereka bekerja.
Dari kejauhan, dia sudah bisa melihat mobil sport mahalnya. Namun, langkahnya terhenti kala seseorang tiba-tiba membekap mulutnya dengan menggunakan sebuah sapu tangan.
Mira berontak, namun tenaganya kalah kuat. Dia pun semakin melemah, dan ditengah antara sadar dan tidak, ia mendengar sebuah ke gaduhan, dan ia merasakan dirinya terjatuh ke lantai.
Tepat sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri, Mira mendengar seseorang memanggil nama lamanya.
"Mari!"
.
.
.
.
Nah lho😱ada apa ini? siapa yah orang yang mau nakal sama Mira alias Mari?🤔
Ikuti terus, dan jangan bosen kalo alurnya lamaaaaaaaaaaaaa😅cuma mau biar ceritanya tuntas dan tak kecepetan🤭(othor suka ngeles🤣)
Tunggu next eps ya, dtunggu juga dukungan buat cerita recehan ini😊😘
__ADS_1