Mirage

Mirage
Kau ini cerewet sekali


__ADS_3

Dokter Tama tiba di apartemen Lingga, sekitar pukul setengah sebelas malam. Waktu yang cukup larut untuk meminta bantuan seseorang, yang kemungkinan sedang beristirahat saat itu.


Mira yang sebelumnya hanya mengenakan bath robe, kini telah mengganti pakaiannya dengan kaus Lingga yang kedodoran dan celana trening yang juga kebesaran.


Dia duduk dengan tenang di sofa yang berada di seberang tempat tidur, sambil memperhatikan kedua pria beda usia di depannya.


Dokter Tama memeriksa dan mengobati luka yang ada di punggung serta siku Lingga.


"Ini akan sembuh dalam beberapa hari. Pastikan lukanya jangan terkena air agar cepat kering. Lalu untuk kaki Anda, sebaiknya Anda periksakan lebih lanjut ke rumah sakit. Takutnya, ada tulang yang retak di sana," ucap Dokter Tama.


"Beberapa luka yang cukup parah sudah ku perban, tapi sebaiknya Anda jangan tidur telentang untuk sementara, dan jangan banyak bergerak dulu. Liburkan juga monstremu, Tuan," ucap Dokter Tama yang sontak membuat Lingga membelalak dan Mira pun mengulum senyumnya.


"Saya akan resepkan obat untukmu. Nanti Anda bisa minta nona itu untuk menebusmya di apotek tersekat," lanjut dokter tua itu sambil melihat ke arah Mira.


"Baiklah. Kalau sudah selesai, kau boleh pergi." Lingga merasa kesal dengan perkataan Dokter Tama sebelumnya, yang seolah menyindirnya.


"Hah … ya sudah. Kalau begitu, saya pamit dulu. Tolong jaga dia baik-baik, Nona," pesan Dokter Tama kepada Mira.


"Baik, Dok." Mira menyahut dengan tersenyum.


Wanita itu kemudian mengantarkan Dokter Tama sampai ke pintu depan. Sebelum sempat keluar, dokter itu menyerahkan resep obat yang harus ditebus dan diminumkan segera kepada Lingga agar lukanya cepat sembuh.


"Segera tebus obatnya. Usahakan malam ini dia tidur dengan nyenyak, Nona," ucap Dokter Tama di ambang pintu.

__ADS_1


"Baik, Dok. Saya akan pastikan hal itu," sahut Mira tersenyum ke arah sang dokter.


Dokter Tama pun keluar dan Mira kembali menutup pintu. Dia pun berjalan ke arah kamar Lingga untuk meminta ijin.


"Saya akan keluar sebentar. Ada yang mau Anda beli?" tanya Mira.


"Kemarilah sebentar," seru Lingga yang melambaikan tangan sambil tetap dalam posisinya yang terus menelungkup di atas ranjang.


Mira berjalan menghampirinya, dan meraih tangan pria itu.


"Jangan kemana-mana. Temani saja aku di sini," ucap Lingga yang menuntun Mira agar duduk di sampingnya.


Lingga meringsut dan membaringkan kepalanya di paha Mira, dengan wajah yang menghadap ke perut wanita itu.


"Saya cuma mau ke apotik untuk menebus resep obat, yang diberikan Dokter Tama tadi. Kenapa Anda jadi manja begini sih?" ucap Mira sambil mengusap lembut surai hitam Lingga.


"Biar Nicholas saja yang membelikannya. Kau cukup di sini menemaniku, hem," pinta Lingga sambil mengeratkan pelukannya di pinggang wanita itu.


"Nick? Tapi ini sudah hampir tengah malam. Pasti dia sudah tidurkan? Lalu tadi juga, ku kira Anda akan memanggil dokter besok, tapi ternyata malam-malam begini. Bagaimana kalau dia sedang istirahat tadi? Ditambah, Anda langsung mengusirnya begitu saja. Solan sekali Anda. Coba kalau Anda …," cibir Mira.


Lingga pun mendongak dan meraih tengkuk mira.


CUP!

__ADS_1


Pria itu mendaratkan kecupan di bibir seksi yang terus mencerocos itu. Mira bungkam seketika dan matanya membulat karena mendapatkan serangan mendadak dari Lingga.


"Kau ini cerewet sekali. Di sini, aku bosnya. Jadi ya suka-suka aku lah," ucap Lingga sambil kembali merebahkan kepalanya di pangkuan wanita itu.


Mira yang kembali tersadar dari keterkejutannya pun, mendorong pelan kepala Lingga hingga membuat pria itu terkekeh.


"Dasar nyebelin!" gerutu Mira.


Sebuah senyum mengembang di bibir Mira. Tangannya terus mengusap lembut surai hitam Lingga dengan penuh kasih sayang.


Perlahan, kebekuan di hatinya pun mulai mencair, dengan ketulusan Lingga yang selalu berada di sisinya dan melindunginya.


.


.


.


.


Cieh … yang akur🤭


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2