Mirage

Mirage
Tempat mengerikan, Grand Moon


__ADS_3

Malam itu, Lingga pulang lebih awal. Sekitar pukul tujuh, dia sudah sampai di apartemennya. Namun, tempat itu nampak gelap dan sepi.


Dia menyalakan semua lampu, dan mencari keberadaan Mira di apartemen itu.


"Mir," panggil Lingga sambil berjalan naik ke atas.


Apartemennya begitu sepi, hingga suara detak jarum jam dinding pun sangat jelas terdengar. Sesampainya di kamar, dia pun tak mendapati keberadaan Mira.


"Mir," panggilnya sambil melihat ke kamar mandi.


Ia kemudian mencarinya di dalam walk in closet serta balkon. Lingga bahkan pergi ke apartemen sebelah, berharap siapa tau si ratu es sedang berada di sana.


Namun, semuanya nihil. Mira tak menampakkan dirinya sama sekali.


"Di mana kamu, Mir?" gumam Lingga.


Dia pun bergegas keluar dari tempat itu, dan kembali ke apartemnnya sendiri. Ia mengambil ponsel yang ada di dalam tas kerja, yang ia letakkan di atas sofa.


Lingga nampak buru-buru mencari nomor wanita itu, dan segera melakukan panggilan.


Tut! Tut! Tut!


Panggilannya sama sekali tidak terhubung. Nomornya sedang tidak aktif, dan hanya mesin penjawab otomatis dari provider layanan seluler saja yang menjawabnya.


"Kamu di mana sih?" gumam Lingga semakin merasa gelisah.


Di tengah kebingungannya, dia teringat sebuah tempat yang mungkin saja Mira datangi.


"Paradise fall. Yah, aku harus ke sana, siapa tau dia ada di tempat itu," gumamnya.


Tanpa berganti pakaian, Lingga seketika itu juga berlari menuju lift, dengan hanya membawa ponsel dan kunci mobilnya.


Setelah sampai di parkiran, dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke tempat yang mungkin didatangi oleh Mira.


Butuh waktu lima belas menit lebih cepat dari biasa untuk sampai di paradise fall dari The royal blossom. Kini, Lingga segera memasuki tempat hiburan malam tersebut.


Ia nampak memperhatikan satu persatu setiap wanita yang ada di sana, terlebih yang memiliki ciri-ciri sama dengan Mira.


"Mira ... Maaf, permisi." Lingga membalikkan badan setiap wanita-wanita itu, dan kemudian dia meminta maaf karena telah salah orang.


Lagi dan lagi, sampai Samuel, seorang ladies, seorang pria muda yang tengah berada di bar pun memperhatikan tingkah Lingga yang cukup aneh.


"Sam, itu cowo yang booking si Mira, kan?" tanya Tania kepada Samuel.

__ADS_1


"Ehm ... ya ...." Samuel sekilas melirik ke arah pria yang juga memperhatikan sikap Lingga yang terbilang aneh.


Dia tak enak jika harus mengiyakan pertanyaan Tania di depan pria itu, mengingat dia yang belum kenal siapa Mira sebenarnya.


"Booking Mira? Apa maksudnya?" tanya pria itu kepada Samuel dan juga Tania.


"Anda orang baru yah? Makanya nggak kenal siapa Mira?" ucap Tania yang kemudian melambaikan tangannya dan memanggil Lingga.


"Hei, Tuan. Kau cari Mira?" Teriaknya.


Lingga seketika mencari sumber suara itu, dan melihat seorang wanita yang duduk di depan meja bar bersama seorang pria yang sangat ia kenal.


"Steve Lee? Sedang apa dia di sini? Jangan-jangan, Mira pergi ke sini bersama dengan dia," gumam Lingga dengan kepalan tangan yang telah mengeras.


Pria itu berjalan mendekat dan segera mencengkeram kerah baju Steve yang sedari tadi duduk di depan bar Samuel.


"Di mana Mira?" Tanya Lingga geram.


Steve terkejut dengan serangan mendadak yang dilakukan oleh pria tersebut.


"Aku tidak tau di mana dia," sahut Steve.


"Nggak usah ngelak! Kalau nggak sama Mira, ngapain kamu di sini, hah?" ucap Lingga dengan geram dan semakin merem*s kerah Steve.


"Ini tempat umum, Bro! Tempat hiburan malam. Semua orang bebas kemari," jawab Steve yang semakin menyulut emosi Lingga.


"Heh โ€ฆ wanitamu? Memang kau siapa โ€ฆ Mira โ€ฆ," ucapnya terjeda.


Niat hati ingin memprovokasi, tetapi dia seketika tersadar dengan perkataan Tania, yang mengatakan jika pria yang tengah mencengkeram bajunya, adalah orang yang telah mem-booking Mira.


"Jadi kau ... booking Mira?" tanya Steve tak percaya dengan kenyataan itu.


Dia sempat mengira jika Mira dan pria di hadapannya adalah pasangan, tetapi hal mengejutkan justru terungkap.


"Bukan urusanmu. Cepat katakan di mana Mira," bentak Lingga.


"Ehm ... Tuan. Sepertinya Anda salah paham. Tuan ini sejak tadi sendirian di sini. Kalau kau cari Mira, cari saja dia di Grand moon," ucap Tania dengan santainya sambil menyesap minumannya.


Namun, hal itu justru membuat Samuel tersentak kaget, hingga membuat pahatan es di tangannya terjatuh, saat mendengar nama tempat yang disebutkan ladies itu.


Cengkeraman Lingga di baju Steve mengendur, dan seketika ditepis dengan kasar oleh pria bermarga Lee itu.


"Grand moon? Tempat apa itu?" tanya Lingga, sambil menoleh ke arah Tania.

__ADS_1


"Itu adalah tempat yang mengerikan. Tempat di mana para maniak **** berkumpul. Mereka sangat kasar, dan selalu melakukan pesta," ucap Tania.


"Kenapa Mira datang ke tempat seperti itu? Di mana alamatnya?" tanya Lingga.


"Di pinggiran kota, di sebelah barat. Sisi gelap ibu kota, di mana wanita yang pergi ke sana akan hancur dalam semalam," ucap Tania.


Tanpa berkata lagi, Lingga seketika berlari keluar dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan lobi.


Setelah mendengar perkataan Tania, dan melihat reaksi Lingga, Steve seolah tau hal buruk mungkin akan terjadi pada Mira. Dia pun segera menyusul Lingga untuk pergi ke tempat itu.


Sementara di dalam klub, Samuel menatap tajam ke arah Tania, yang justru nampak biasa-biasa saja.


"Jujur sama gue. Lu tau Mira pergi ke tempat itu dari mana?" tanya Samuel kepada ladies tersebut.


Wanita itu menyesap minumannya, dan melipat kedua lengan di atas meja bar.


"Keberulan aja gue tau, dan kali ini gue pengin dia berhutang sama gue," ucapnya sambil tersenyum menang.


...๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹...


Di tempat lain, di Grand moon.


Sebuah tempat penginapan yang terletak di pinggiran ibu kota bagian barat. Tempat yang terkenal dengan pesta s*ksnya, bersama seorang wanita saja, atau istilah lainnya adalah gang-bang. Sebuah penyimpangan s*ksual, di mana beberapa pria (lebih dari dua), bercinta dengan seorang wanita saja.


Tempat di mana wanita akan hancur dalam semalam. Yang bertahan akan mengalami trauma berat, bahkan tak jarang dari mereka meregang nyawa di tempat. Banyak wanita malam yang silih berganti datang ke tempat itu, karena tergiur dengan bayaran yang tinggi. Namun, tak satu pun dari mereka yang akan sanggup kembali lagi, karena terbayang akan keganasan para maniak di sana.


Mira baru saja turun dari taksi, dan berjalan menuju ke lobi depan tempat mengerikan itu. Suasana mencekam seketika itu terasa.


Beberapa pria nampak tengah duduk-duduk di kursi tamu. Banyak mata yang memandangi dirinya, tetapi Mira terus saja berjalan menuju ke meja resepsionis.


"Maaf, kamar 305 di mana ya?" tanya Mira kepada bagian resepsionis.


"Kamar 305 ada di lantai dua. Itu adalah VIP room. Silakan ikut saya," ucap pria petugas resepsionis tersebut.


Petugas itu berjalan mendahului Mira. Namun, ekor matanya seakan memberi isyarat kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Hal itu pun tertangkap mata oleh Mira, dan perempuan itu pun mulai curiga jika ada yang tak beres.


Gue mesti minta bantuan Kak Arya, batinnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen yah๐Ÿ˜Š kembang ma kopi juga boleh banget๐Ÿ˜


__ADS_2