
"Kau pasti tau sesuatu kan?" tanya Mira.
"Sesuatu apa maksudmu, Mir?" tanya Lingga yang belum paham arah pertanyaan Mira.
"Kau … kau bertanya apa aku sedang berada di dalam mobil itu atau tidak. Iya kan? Kenapa? Kenapa kau tanyakan hal itu? Kau tau sesuatu kan? CEPAT KATAKAN!" cecar Mira seraya meluapkan emosinya.
"Oke! Oke! Aku akan katakan, tapi dengan satu syarat. Kau harus tenang. Kalau kau tidak mau tenang, aku gak akan pernah memberi tahumu apapun juga," ancam Lingga yang membuat Mira kembali terisak.
Wanita itu duduk dengan memeluk kedua lututnya dan bersandar pada dinding. Ia membenamkan wajahnya di sana, dan terus terisak.
Lingga pun kemudian bergabung dengan Mira. Ia merangkul punggung wanita itu, dan mengusap kedua pundaknya. Dia berharap, bisa mengurangi rasa sedih yang dirasakan oleh Mira saat ini.
Lama Mira menangis, hingga akhirnya dia kelelahan, dan tertidur dengan posisi yang sama.
Lingga yang menyadari hal itu pun, mengangkat kepala Mira dan menyandarkannya pada pundak kekarnya.
Lingga bisa saja membawanya ke tempat lain yang lebih nyaman. Namun, dia ingat jika wanita itu adalah Mira, wanita yang akan berlaku bar-bar saat dirinya dengan lancang menyentuh tubuhnya, kecuali jika wanita itu tengah dalam keadaan pingsan.
Pria itu menunggu Mira hingga wanita itu terbangun dengan sendirinya.
Cukup lama Mira tertidur, hingga tiba-tiba dia memekik dengab keras menyebut nama Thomas.
Lingga pun menenangkan Mira yang kembali menangis.
"Kau sebaiknya beristirahat. Aku antar kau pulang ya," bujuk Lingga.
__ADS_1
"Aku ingin melihat Thom untuk terakhir kalinya," pinta Mira.
Lingga pun menghela nafas panjang. Ia tau itu adalah hal yang mustahil, mengingat semua keluarga dan kolega bisnis pria tua itu, pasti tengah berada di rumah duka saat ini.
"Aku mohon," lanjut Mira yang membuat Lingga tak mampu menolak.
"Baiklah. Tapi bersikaplah setenang mungkin, oke?" ucap Lingga.
Mira mengangguk mantap.
Mereka pun lalu berdiri, dan berjalan menuju rumah duka yang masih berada dia area rumah sakit.
Ketika hampir sampai di sana, Lingga bertanya kepada petugas medis yang bertugas, perihal letak jenazah Thom berada.
Dari situlah ia tau bahwa saat ini, jenazah Thom masih dibersihkan di ruang mayat oleh petugas, setelah sebelumnya dilakukan otopsi padanya.
Beruntung, Thomas belum dibawa ke rumah duka dan tak ada siapa pun di ruangan tersebut, sehingga mereka berdua bisa leluasa melihat jenazah pria tua itu
"Apa kamu benar-benar siap?" tanya Lingga meyakinkan.
Mira tak menjawab. Dia hanya mengangguk, namun terlihat sedikit keraguan di sana. Lingga mencoba memberikan kekuatan dengan menggenggam tangan wanita itu. Saat ini, mereka masih berdiri di depan kamar jenazah.
Mira memejamkan kedua matanya, dan menghela nafas panjang berkali-kali. Dia berusaha memantapkan hatinya, untuk melepas kepergian Thom selamanya.
"Ayo masuk!" ucap Mira.
__ADS_1
Dengan ditemani Lingga, Mira pun masuk ke dalam.
Saat masuk, bau formalin yang pertama kali menyapa indra penciuman mereka. Namun, Mira tak sedikit pun merasa terusik oleh hal itu. Sedangkan Lingga, pria itu sempat menutupi hidungnya dengan tangan.
Dilihatnya, sebuah ranjang beroda, yang berada tepat di tengah ruangan, dengan seseorang yang berada di atasnya, telah tertutup kain putih dari ujung kaki hingga kepala.
Mira perlahan berjalan mendekat, masih dengan Lingga yang setia menggenggam tangan wanita itu.
Setelah mencapai ranjang besi itu, Mira melepaskan kaitan tangan Lingga. Dia mengulurkan tangannya, dan hendak membuka kain penutup itu.
Mira nampak ragu. Dia beberapa kali menarik kembali tangannya, namun kemudian mengulurkannya lagi ke arah jenazah itu.
"kalau kau ragu, sebaiknya kita sudahi saja, Mir. Aku tak ingin kamu jatuh pingsan," ucap Lingga yang merasa khawatir dengan kondisi psikis Mira saat ini.
"Aku baik-baik saja," sahut Mira datar.
.
.
.
.
Next eps besok guys
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁