
"Lalu, kenapa kamu terus mengatakan kalau dia sudah kembali? Memang siapa dia? Dan kembali dari mana?" tanya Lingga yang semakin penasaran.
Seketika, Mira membuka matanya. Dia kembali teringat dengan sosok yang mirip Erik, yang mengawasinya saat berada di taman rooftop kantor Lingga.
Tanpa terasa, rangkulannya berubah menjadi cengkeraman yang membuat pria itu merasa kesakitan.
"Awwww … Mir. Kenapa kamu merem*s lenganku?" pekik Lingga yang merasa sakit akibat tindakan Mira yang di luar kendali.
"Em … ma … maaf, Kak. Aku nggak sengaja," ucap Mira.
Wanita itu hendak berdiri, namun segera ditahan oleh lengan Lingga yang kembali melingkar di perut wanita itu.
"Mira, kamu percaya aku kan? Apapun masa lalu kamu, aku akan tetap menerima mu, hem," ucap Lingga.
Dia meletakkan dagunya di ceruk leher Mira, hingga membuat wanita itu sempat merasa geli. Namun, kecemasannya mengusir semua rasa yang lain.
"A … aku … aku beneran nggak papa, Kak." Mira nampak genetar hanya dengan memikirkan Erik yang bisa saja telah kembali dan akan mengusik hidupnya lagi.
Lingga melepaskan pinggang Mira, dan meraih kedua pundak wanita itu. Ia mengahadapkan si ratu es tepat ke arahnya.
Pria itu mengamati setiap jengkal lekuk wajah Mira dan jelas terlihat ketakutan di sana. Tak ada lagi ceria dan tingkah nakal yang selama ini dia tunjukkan.
"Mir, aku tau kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Aku akan diam jika itu memang tak begitu serius. Tapi, aku melihatmu sangat cemas karena hal ini," ucap Lingga denga tatapan yang menghujam Mira.
Bibirnya terasa kelu untuk mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahannya tersebut. Dia hanya ingin meyakinkan diirnya jika semua itu hanya bayangannya saja.
"Mir, katakan siapa 'dia' yang sudah kembali itu?" desak Lingga.
Mira menatap lurus ke arah manik mata Lingga yang hitam. Terlihat jelas kekhawatiran di sana yang bisa ia rasakan.
"Di … dia … ka … Kak Erik, Kakak tiriku," ucap Mira pada akhirnya.
"Erik? Kakak tiri?" tanya Lingga yang terus mencari tau.
"Ehm … dia lah orang yang sudah menjualku lima tahun lalu demi untuk membayar hutang judinya," jawab Mira.
Lingga terus mengejar mata Mira yang berlarian ke sana kemari. Wanita itu benar-benar merasa cemas. Hanya dengan menyebutkan namanya saja, sudah mampu membuatnya ketakutan.
Kakak tiri? Jadi, dia selama ini, punya sodara tiri? Lalu, ke mana orang itu? Kenapa membiarkan Mari hidup sendirian? tanya Lingga dalam hati.
Lingga menuntun kepala Mira untuk kembali bersandar di dadanya, dan kedua lengannya saling menautkan selimut agar kembali menutupi tubuh mereka.
"Di mana dia selama ini?" tanya Lingga.
Mira menggeleng pelan.
"Aku nggak tau, Kak. Dia tiba-tiba menghilang setelah hari itu. Bahkan, saat pemakaman ibu pun, dia sama sekali tidak terlihat," ucap Mira.
Lingga bisa merasakan jika wanita yang ada dalam dekapannya itu gemetar. Isaknya terdengar lirih dan tertahan. Pria itu pun mengeratkan pelukannya kepada si ratu es yang tengah rapuh saat ini.
"Lalu, dari mana kamu tau dia sudah kembali?" tanya Lingga.
Mira menghentikan tangisnya dan menyisakan isakkan kecil.
Apa gue kasih tau aja ya, kalau gue ketemu Kak Erik di kantornya? batin Mira.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Lingga pun kembali bertanya.
__ADS_1
"Apa lewat mimpimu?" tanya Lingga lagi.
"Ehm … lewat mimpi," Mira menyahut seolah diberi pilihan jawaban oleh Lingga.
Sebaiknya, gue rahasiain saja dulu. Gue juga belum yakin kalau itu dia. Semoga aja gue salah orang, batin Mira.
Lingga melonggarkan pelukannya, dan membuat Mira menegakkan duduknya. Mereka saling tatap.
Pria itu nampak membingkai wajah Mira yang masih terlihat cemas, dengan tatapan yang begitu lembut dan menenangkan. Senyumnya pun membuat Mira sedikit bisa bernapas karena merasakan keberadaan Lingga yang bisa di andalakan di sisinya.
"Kamu tenang yah. Aku tau mimpimu itu selalu membuat mu gelisah. Jadi, mulai sekarang, kamu hanya boleh mimpiin aku aja. Ngertikan," ucap Lingga.
Meskipun terdengar konyol, tapi perkataan Lingga mampu menenangkan hati Mira.
Lingga pun kemudian mengecup kening Mira, lalu turun ke kedua mata wanita itu, menyesap jejak aliran bening yang ada di pipinya, dan berakhir di bibir ranum Mira.
Si ratu es dengan sendirinya, melingkarkan lengannya di leher Lingga. Dia membuka mulutnya, dan ******* bibir bawah pria itu, hingga kecupan tadi berubah menjadi ciuman yang hangat dan dalam.
Mereka pun saling menyesap manisnya rasa kasih yang tercurah. Lingga mendobrak barisan gigi putih Mira dengan lidah, mengajak wanita itu untuk ikut membelit di dalam sana.
Mira merem*s rambut belakang Lingga, seiring pagutan mereka yang semakin lama semakin liar.
Lingga pun tak bisa menahan tangannya untuk tetap diam. Dia telah menjalar ke depan, menelusup ke dalam kaus dan menangkup buah dada mira yang tak memakai penutup, lalu mengusapnya dengan lembut dari balik kausnya.
"Eeehhhhmmmm …," l*nguhan terdengar dari mulut Mira yang penuh dengan bibir Lingga.
Lingga menarik pelan ujung mungil itu, dan membuat Mira semakin merintih di sela pagutannya.
Pria itu pun meninggalkan bibir seksi itu, dan membiarkannya terbuka karena sentuhan yang ia ciptakan di puncak bukit sintal Mira. Dia pun menyusuri leher jenjang nan mulis itu, sambil sesekali menyesap dan meninggalkan jejak merah di sana.
"Aaaahhhhh … Kak …," des*h Mira, saat merasakan rem*san di buah dadanya.
"Apa sudah tanya Dokter Stella, hem?" tanya Lingga dengan suara serak, karena susah payah menahan h*sratnya.
"eeehhhmmmm … belum, Kak … Aaaaaahhhhh …," sahut Mira yang kembali mendes*h karena ulah tangan Lingga yang masih bertengger di puncak.
"Kenapa, Mir? Aku sangat merindukanmu. Apa kita tidak bisa melakukannya sama sekali," bujuk Lingga yang terus menjil*ti cuping telinga Mira, hingga wanita itu menggeliat geli dengan sensasi yang menjalar hingga ke pangkal pahanya.
"Eeeehhhhmmmm … bisa aja … aaaahhhhhh …asal pelan-pelan …," jawab Mira yang juga mendambakan lebih dari sekedar sentuhan.
Lingga nampak menyeringai. Dia pun seketika melepas tangannya dari dua bulatan padat itu, dan mengangkat Mira, membawanya masuk ke dalam.
Dia merebahkan Mira di atas ranjang, dan kembali memagut bibir ranumnya hingga terasa kebas.
Lingga menarik ke atas kaus yang dipakai Mira, dan melepas sesaat pagutannya untuk meloloskan benda itu dari tubuh si ratu es.
Dia pun kembali menyesap bibir yang nampak pucat namun begitu memabukkan, dan dengan cepat melepaskan celana tidur yang ia pakai, hingga tersisa underwear-nya saja.
Mira pun membantu prianya untuk membuka kancing piyama yang dipakai Lingga hingga semua terlepas, dan membuat perut kotak-kotaknya terpampang jelas di hadapannya.
Lingga melepas pagutannya dan memandangi wajah Mira yang telah memerah, dengan tatapan sayu, dipenuhi kabut g*irah.
"Apa aku boleh mulai?" tanya Lingga memastikan wanitanya siap.
Namun, Mira yang sudah dipenuhi h*sratnya, tak mampu lagi menjawab. Dia hanya menatap Lingga sambil menggigit bibir bawahya, dan beralih menatap sesutau yang masih terbungkus di antara selangk*ngannya.
"Aku anggap itu jawaban 'ya', Sayang. Bersiaplah," ucap Lingga dengan seringainya.
__ADS_1
Lingga dia pun melepas penutup terakhir di tubuh mereka, lalu turun dari atas Mira. Wanita itu mengubah posisinya hingga memunggungi prianya.
Lingha pun berbaring dengan posisi yang sama, dan menempelkan dadanya ke punggunga Mira. Ia mengangkat sebelah kaki Mira dan menumpukannya ke atas pinggulnya, dan mengarahkan montersnya ke milik Mira.
"Eehhhhhhmmm … pel … aaaan … kaaaak … aaaaahhhhh …," ucap Mira saat merasakan teripang monster Lingga mulai melesak masuk sedikit demi sedikit.
"Eeehhhhmmmm … ini sangat sempit, Sayang … Aaahhhh …." Lingga terus mendorong miliknya hingah bisa masuk sepenuhnya ke dalam lembah Mira yang telah basah.
Ia membenamkan bibirnya di pundak wanita itu, sambil sesekali memberikan hisapan dan meninggalkan jejak cintanya.
Suara-suara indah menggema dan saling sahut di antara keduanya, kala Lingga mulai memacu miliknya di dalam Mira.
Kedua tangan Lingga menyusup ke depan, dan menangkup kedua gunung itu, dan merem*snya, hingga Mira semakain menggila dibuatnya.
"Eehhhhhmmmm … kak …,"
Lingga semakin liar, saat miliknya terasa terjepit di antara b*kong sintal Mira yang membuatnya ingin mempercepat gerakannya, namun ditahan oleh Mira.
"Pelan, Kak … aaaahhhh … pelan …," seru Mira di tengah des*hannya.
"Maaf, Sayang. Ini terlalu nikmat hingga aku lupa … uuuugggghhhh …," sahut Lingga yang kembali melambatkan ritmenya.
Pria itu melepas salah satu gunung kembar Mira, dan merayap ke bawah. Ia mengusap lembut perut rata wanitanya, dan masuk menelusup ke celah lembah yang basah.
Dia menemukan buah kecil yang terjepit di sana, dan memainkannya dengan jemarinya. Mira semakin merintih-rintih merasakan nikmat yang tiada tara.
Kakinya menegang, dan membuat Lingga merasa semakin terjepit oleh lembah Mira.
"Kak … aaaahhhhh … aku … aku … eeeeehhhhhmmm …," ucap Mira yang sudah melayang ke nirwana.
"Lepaskan, sayang. Lepaskan … aaaaarrrrggggh …," sahut Lingga.
Mira semakin menegang, seiring jemari Lingga yang makin liar memainkan buah mungil di antara lembahnya itu.
"Aaaahhhhhhh …," Mira pun sampai pada puncaknya, seiring denyutan yang terasa semakin merem*s monster Lingga, dan membuat pria itu memacu sedikit kencang, hingga ia pun menegang dan sampai pada puncaknya.
"Aku datang, Sayang … aaaarrrrgghhhh … aaaarrrgghhh … eeeeeeehhhhmmm …," Lingga menciumi tengkuk Mira yang berkeringat, dan menyingkirkan rambut wanita itu dari leher jenjangnya.
Dia kemudian memeluk Mira dari belakang dan menetralkan degupan jantungnya yang begitu kencang.
Begitu pun Mira. Napasnya memburu, dan membuatnya sulit menelan saliva karena mulutnya terbuka sedari tadi selama mereka bercinta.
"I love you, mommy-nya lil baby," ucap Lingga.
"Me too, honey," sahuy Mira.
Lingga menarik selimut yang ada di kakinya hingga bisa diraih tangannya dan menarik benda tersebut hingga menutupi tubuh keduanya. Mereka berdua pun terkulai lemas berasam, dan kembalinm terlelap di pagi yang cerah itu.
.
.
.
.
Maaf, pagi2 bikin panas😁
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁