Mirage

Mirage
Story of Cheria : kotak makan siang


__ADS_3

“Jangan ganggu aku! Aku jijik sama cowok kaya kalian, tahu nggak!” racau Cheria.


“Kita baik kok. Kita Cuma mau ngajakin kamu main aja,” sahut yang lainnya sambil mulai meraba-raba punggung wanita itu.


“LEPASIN!” teriak Cheria.


Samuel yang sedari tadi disibukkan dengan nama keluarga yang menurutnya tak asing itu pun tersadar, dan segera mengatasi ketiga pria itu.


“Maaf, Bung. Dia temanku. Bisa tolong tinggalin dia? Bapaknya seorang perwira polisi. Bisa gawat kalau kalian main-main dengannya,” bujuk Samuel.


Ketiganya pun segera menjauh dari Cheria, karena tak mau terkena masalah.


“Ya udah. Yuk pergi cari yang lain aja,” ucap salah satunya.


Mereka pun pergi meninggalkan Cheria sendiri lagi.


“Sebaiknya, aku carikan dia taksi aja kalau gini sih. Bisa repot kalau semalaman aku yang harus jagain dia,” keluh Samuel.


Barista itu memanggil salah satu pelayanan pria yang bekerja di paradise fall, dan memintanya untuk menggantikan sebentar.


“Mau ke mana, Bang Sam? Anu-anu ya,” ledek pelayan itu.


Bukannya menjawab, Samuel justru menjitak kepala penggantinya itu, dan keluar dari dalam lingkaran meja bar.


Dia kemudian memapah Cheria menuju ke pintu belakang. Dia bermaksud untuk membawanya keluar lewat sana dan memanggil taksi untuk membawa wanita itu pulang.


Namun, di saat mereka baru sampai di tengah lorong cinta, Cheria mual dan membuat Samuel panik.


Akhirnya, dia membawa masuk wanita itu ke dalam salah satu kamar cinta yang kosong. Dia segera memapahnya menuju kamar mandi yang ada di sana.


Sesampainya di depan toilet, Cheria langsung berjongkok di depan closet dan mengeluarkan semua isi perutnya.


Samuel yang menemani wanita itu pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, sambil sesekali menepuk-nepuk tengkuk Cheria dengan sedikit lebih kuat.


Selama sekitar setangah jam, wanita itu bersimpuh di depan tempat kotor itu, dan memuntahkan semua yang sempat masuk ke perutnya.


Cheria begitu lemas karena tak ada lagi yang tersisa di dalam sana. Dia mencoba bangun namun limbung dan hampir membertur tembok, kalau saja Samuel tak menangkap tubuhnya.


“Apa sudah selesai?” tanya Samuel datar.


“Maaf. Aku merepotkanmu,” sahut Cheria yang masih setengah sadar.


“Bagus kalau kamu tau. Sekarang pulanglah,” ucap Samuel yang kembali memapah Cheria hendak keluar dari kamar itu.


Namun, wanita itu justru menghentikan langkahnya dan membuat Samuel kembali mengerutkan keningnya.


“Ada apa lagi sekarang?” tanya Samuel.


“Biarkan aku tidur di sini saja? Aku takut pulang,” rengek Cheria.

__ADS_1


“Merepotkan sekali. Terserah kamu lah,” keluh Samuel.


Pria itu kemudian  meninggalkan Cheria di dalam sana, dan membuat wanita itu limbung dan jatuh ke atas tempat tidur dengan posisi kaki yang masih menyentuh lantai.


Cheria seketika tertidur.


...💋💋💋💋💋...


Keesokan harinya, Cheria yang semalam mabuk, kini bangun dengan pusing yang begitu hebat menyerangnya.


Dia duduk di atas ranjang dan bersandar di head board, sambil memegangi kepalanya yang terasa begitu berat.


“Ssshhh, sakit sekali. Ehem, tenggorokan ku juga kering,” keluh Cheria.


Dia menoleh ke kanan dan kiri bermaksud hendak mencari tas miliknya. Namun, saat melihat ke arah nakas di samping, dia melihat sebokol jus buah instan serta tas miliknya berada di sana dengan kondisi baik.


Cheria yang merasa kehausan pun meraih jus buah itu, dan segera meneguk isinya.


“Ahhh, segar sekali. Apa ini layanan kamar pagi hari di sini?” gumamnya.


Namun, matanya menangkap sesuatu di balik botol yang dipegangnya. Sebuah sticky note dengan pesan yang tertulis di sana.


Minumlah jus ini. Meski tak bisa banyak membantu, tapi setidaknya ini bisa mengurangi pengar gara-gara mabuk semalam. Makan juga sandwich roti gandum itu untuk mengisi perutmu yang semalam terkuras habis.


Cheria menoleh kembali ke arah nakas, dan melihat sebuah kotak bekal biru bergambar ikan paus yang lucu.


“Sepertinya enak,” gumam Cheria.


Dia pun mengambil sebuah dan memakannya dengan lahap. Dia kembali mengedarkan pandangannya dan menyadari jika posisi tidurnya begitu baik.


Seingatnya, dia tidur dengan posisi sembarang dengan kaki yang menggantung ke bawah. Tapi kini, ada selimut yang membalut tubuhnya, dan bahkan sepatunya pun sudah terlepas dan berjejer rapi di bawah tempat tidur.


“Apa jangan-jangan, dia yang lakuin semua ini,” gumam Cheria.


Dia teringat sesuatu dan melihat di balik selimut. Cheria menghela nafas lega saat mendapati pakaiannya yang masih utuh.


Sebersit senyum pun mengembang di bibirnya.


“Ternyata, masih ada pria yang tidak melulu **** di kepalanya. Ehmmm, sandwich ini beneran enak,” ucap Cheria.


...💋💋💋💋💋...


Setelah menghabiskan sekotak sandwich dan jus buah yang ditinggalkan Samuel untuknya, Cheria segera menelepon Jennifer agar membawakan pakaian ganti untuknya ke paradise fall.


Saat melihat ponselnya tadi, dia melihat banyak sekali pangilan masuk dari ibunya, Aletta. Cheria terlebih dulu membersihkan dirinya dan berganti pakaian yang dibawakan oleh sang asisten.


“Apa ibukku menghubungi mu, Jenn?” tanya Cheria di sela kegiatannya mengaplikasikan make up di wajahnya.


“Iya, Nona. Semalam, Nyonya menanyakan keberadaan Anda,” jawab Jennifer.

__ADS_1


“Lalu, apa jawabanmu?” tanya Cheria.


“Saya jawab, Anda sedang dinas keluar kota, dan beliau minta agar saya memberikan telepon kepada Anda,” tutur Jennifer.


“Lalu?” tanya Cheria lagi.


“Saya bilang kalau saya tidak ikut, dan baru akan menjemput Anda besok paginya,” lanjut Jennifer.


“Apa ibuku percaya?” tanya Cheria.


“Saya tidak yakin, Nona,” jawab Jennifer.


“Baiklah. Terimakasih,” ucap Cheria.


Dia kini telah selesai bersiap dan hendak pergi kembali ke kantor. Saat dia sedang berjalan keluar dari kamar cinta itu, Aletta kembali menelepon.


Cheria pun segera menerima panggilan tersebut dan bersiap menerima amukan dari ibunya.


...💋💋💋💋💋...


Di kantor, Cheria kembali disibukkan dengan segudang pekerjaan yang cukup menguras otak dan tenaganya.


Namun,  ada yang berbeda dengannya hari itu. Senyum sesekali merekah di bibirnya, terlebih saat dia melirik ke arah kotak bekal yang Samuel tinggalkan untuknya pagi ini.


Namun, hal itu tak berlangsung lama karena panggilan dari sebuah nomor asing masuk ke ponselnya. Cheria ragu untuk menerima panggilan tersebut, namun dia pun penasaran siapa yang menelepon.


“Halo,” sapa Cheria.


“Halo, Ri. Ini aku, Joshua. Aku ingin berbicara dengan mu. Bisa kita ketemu di luar. Satpam di kantormu begitu galak. Hari ini aku sudah lebih dari lima kali diusir dari sana,” rengek Joshua.


Cheria nampak kesal karena pria itu telah merusak harinya yang susah payah dia tata.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Josh. Kita sudah selesai,” seru Cheria.


Dia kemudian hendak mematikan sambungan tersebut, tapi urung karena mendengar ucapan dari Joshua.


Dia kesal dengan apa yang diucapkan oleh pria itu, dan dengan terpaksa mengiyakan ajakan dari mantan kekasihnya.


“Kita ketemu saat makan siang nanti.  Dan aku harap, kamu jangan banyak buat ulah,” ucap Cheria sebelum dia benar-benar menutup teleponnya.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2