
Suara dering dari ponsel, membangunkan pria yang tengah menemani wanitanya tidur di rumah sakit.
"Ehm โฆ," erangan lirih keluar dari mulut pria itu.
Dia mengangkat kepalanya yang sedari tadi ditelungkupkan di samping Mira. Pria itu menoleh ke kanan kiri, dan menangkap benda pipih yang tergeletak di atas sofa ruang rawat itu.
Lingga pun berjalan sambil memegangi kepalanya yang terasa goyang karena kantuk yang masih tersisa.
Dia melihat nama yang tertera di layar. Nampak nama sang asisten di sana. Lingga pun membawa ponselnya itu dan berjalan ke arah luar kamar rawat itu.
"Halo, Nick. Ada apa pagi-pagi telepon?" tanya Lingga.
"Maaf, Tuan. Tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan," ucap Nicholas.
"Apa? Cepat katakan," seru Lingga.
"Kami berhasil menemukan alat penyadap di apartemen Anda. Bukan hanya satu, tapi lebih dari lima, dan itu ada di setiap sudut ruangan yang Anda tempati itu," ungkap Nicholas.
"Apa?!" pekik Lingga.
Pria itu terkejut mendengarkan penuturan sang asisten.
"Apa kau yakin itu alat penyadap?" tanya Lingga memastikan.
"Saya yakin, Tuan," sahut Nicholas.
Penyadap? Untuk apa dia memasang banyak penyadap di apartemenku? Ada apa ini? batin Lingga.
"Ehm โฆ Nick, kamu coba sisir lagi, jangan sampai ada yang tertinggal satu pun di sana," perintah Lingga.
"Baik, Tuan," sahut Nicholas.
Sambungan pun terputus. Lingga nampak masih diam di tempat. Pikirannya terus mencerna informasi yang baru saja ia terima dari sang asisten.
"Apa sebenarnya yang dia cari? Penyadap? Untuk apa?" gumam Lingga.
Dia pun kembali ke dalam ruang rawat dan melihat jika Mira masih tertidur, begitu pun dengan Tania.
"Hah โฆ," Lingga nampak mengusap kasar wajahnya, dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Dia tenggelam dalam pikirannya yang mencoba mencari jawaban dari banyaknya pertanyaan yang terlintas di dalam benaknya.
...๐๐๐๐๐...
Dua hari kemudian, Lingga mendapatkan telepon dari Nicholas, jika ada sebuah perusahaan yang hendak berinvestasi untuk proyek Eropanya, dan berencana membuka salah satu gerai mereka di sana.
"Benarkah? Kapan mereka meminta bertemu?" tanya Lingga yang terlihat begitu antusias.
"Siang ini ,Tuan. Saya sudah mencoba mengajukan diri sebagai wakil Anda, namun mereka hanya mau untuk bertemu dengan Anda secara langsung," tutur Nicholas.
"Baiklah. Aku akan ke sana," sahut Lingga.
__ADS_1
Dia pun memutus sambungan teleponnya.
"Ada kabar bagus apa, Kak?" tanya Mira yang sedang duduk di samping Tania.
Wanita itu menyuapi rekannya yang masih mengeluh sakit jika banyak bergerak.
Lingga berjalan mendekat dan membingkai wajah wanitanya, kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir Mira.
"Ada yablng mau berinvestasi di proyek Eropaku, Mir!" ucap Lingga yang terlihat begitu bersemangat.
"Wah โฆ beneran, Kak?" tanya Mira memastikan.
Wanita itu pun terlihat sangat senang mendengar jika proyek Lingga mengalami kemajuan yang baik.
"Iya, dan siang ini akan ada pertemuan dengan pihak investor itu. Kamu nggak papa kan kalau aku tinggal? Aku akan minta anak buah Nick buat โฆ," ucap Lingga bersemangat.
"Nggak usah!" potong Mira langsung.
Lingga menganggkat kedua alisnya dan memiringkan sedikit kepalanya menatap Mira
"Aku sudah nggak papa. Lagian Kak Erik sudah ketangkep kan," lanjut Mira.
"Mir, di iyain aja sih. Kalau ada apa-apa, gue udah nggak bisa bantuin elu lagi. Nggak lihat nih badan masih sakit semua," seru Tania.
"Ish! Udah nggak papa sih. Tenang aja, gue bisa jaga diri kok. Asalkan buka Kak Erik, gue berani," sahut Mira.
"Tetap saja, nanti aku akan meminta Nick untuk mengirim anak buahnya ke sini dan berjaga-jaga di depan," seru Lingga.
"Hah โฆ ya udah deh. Serah kamu aja, Kak," sahut Mira pasrah.
Siang hari, Lingga telah pergi dan meninggalkan Mira dalam penjagaan anak buah Nicholas yang bersiaga di depan kamar rawat Tania.
Saat itu datanglah seorang dokter bersama dengan perawat laki-laki menuju ke arah kamar rawat yang dijaga dua orang berpakaian hitam itu.
"Permisi, saya mau memeriksa Nona Mira," ucap pria berpakaian dokter itu.
Kedua penjaga yang ditempatkan di depan ruang rawat Tania, saling memandang dan kembali menatap kedua pria berpakaian medis di hadapan mereka.
"Tolong buka maskernya," seru salah satu penjaga.
Nampak pria berjubah dokter membuka masker, namun pria satunya lagi segera mematahkan leher salah satu penjaga, disusul dengan pria berjubah dokter yang juga menyerang penjaga yang lainnya.
Setelah kedua penjaga itu tumbang, mereka berdua masuk ke dalam dengan memperbaiki letak penutup wajah yang sempat dilepas tadi.
Nampak kedua wanita itu tengah berselancar di dunia maya menggunakan ponsel masing-masing.
Pria berseragam perawat mendekati Tania dan menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan infusnya.
"Lho, Dok. Nggak kecepetan ya visit-nya?" tanya Tania yang mulai hapal dengan jadwal kunjungan dokter yang menanganinya.
Namun, tak ada satu pun yang menyahut pertanyaan Tania, hingga wanita itu merasa aneh. Dia pun menatap ke arah kedua pria itu dan menangkap kejanggalan pada diri mereka.
__ADS_1
Sepatu boot? Sejak kapan petugas medis memakai sepatu boot? batin Tania.
Pria berpakaian dokter itu lalu mendekati Mira yang juga tengah berbaring di ranjangnya. Dia meraih lengan wanita itu dan hendak menyuntikkan sesuatu di sana.
"Lho, Dok. Saya nggak butuh suntikan," ujar Mira.
Tania yang melihat keanehan itu pun berusaha bangkit dari tempat tidur, namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
Gawat! Obat apa yang dia masukin ke infus gue, batin Tania.
Mira yang melihat rekannya sempoyongan pun semakin panik.
"Lu apain teman gue? Lepasin gue! Tolooong! TOLOOOONG!" pekik Mira.
Pria yang menyuntikan sesuatu padanya, akhirnya membuka penutup wajahnya. Mata Mira membulat saat melihat wajah gang begitu ia kenal.
"Hai, Mari," sapanya sambil menyeringai.
"Kak โฆ Kak Erik?" gumam Mira.
"Lu โฆ lu bukannya โฆ," ucap Tania yang semakin merasa pusing dan akhirnya jatuh pingsan, setelah sempat melihat wajah Erik.
"Tania! Bangun, Tan! Kak, lu apain temen gue?" ronta Mira.
Erik melepaskan tangan Mira dan membiarkan wanita itu menghampiri Tania yang sudah tergeletak di lantai.
"Tan, bangun. TOLOOOOONG! TOLOOOOONG!" teriak Mira.
Namun, tak ada seorang pun yang mendengar. Justru, Erik dan komplotannya semakin keras menertawakan Mira yang terlihat sangat ketakutan.
Semakin lama, Mira melemas, dan tak sadarkan diri.
"Bawa masuk kursi rodanya," seru Erik kepada rekannya.
Tak berselang lama, pria itu masuk dan mendorong sebuah kursi roda. Erik mengangkat Mira yang telah pingsan dan mendudukannya di atas benda tersebut.
"Ayo kita bawa dia kepada wanita itu," seru Erik.
Mira pun dibawa pergi oleh kedua pria yang menyamar itu, meninggalkan Tania yang masih tergeletak di lantai.
Mereka mendorong Mira yang berada di atas kursi roda, dan memakaikannya penutup wajah serta selimut yang menutupi badannya. Mereka membawanya hingga ke tempat parkir, di mana sebuah mobil van terlihat telah menunggu kedua pria itu.
.
.
.
.
Maaf yah, sekarang up nya nggak pasti๐๐๐๐
__ADS_1
ikutin terus kelanjutan kisah Nya Mira yah๐
Jangan lupa like dan komen yah๐ kembang ma kopi juga boleh banget๐