
Pukul sebelas siang waktu Paris-Perancis. Nampak Lingga tengah duduk di sebuah taman, dengan dedaunan berwarna jingga, karena saat itu sedang musim gugur, dan pemandangan seperi itu sangat umum di negara yang memiliki empat musim.
Dia terlihat tengah meminum kopi, sambil membaca sebuah buku di tangannya. Sesekali, dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tiba-tiba, seseorang datang menghampirinya dan duduk di samping pria itu.
“Apakabar, Tuan Lingga?” sapa orang tersebut.
Lingga pun menutup bukunya dan menoleh ke arah pria di sampingnya itu.
“Kabarku kurang baik, dan itu semua karena Anda, Tuan Lee,” sahut Lingga datar.
Dia jauh-jauh pergi ke Perancis, semata-mata hanya untuk menemui pria yang ada di dalam foto bersama dengan Mira, yang ibunya tunjukkan malam itu.
“Ada apa Anda jauh-jauh kemari mencari saya? Bukankah, urusan kita sudah selesai. Sekarang, saya hanya tinggal melakukan kewajiban sebagai arsitek Anda bukan?" tanya Steve
"Tapi sepertinya, ini bukan soal pekerjaan, karena Anda pasti akan meminta asisten andalan Anda itu untuk bertemu dengan saya. Benar bukan?” terka Steve sebelum Lingga berhasil menjawab pertanyaan sebelumnya.
Lingga mengambil selembar foto yang terselip di salah satu halaman buku yang tengah dipegangnya itu.
“Aku mau tau, apa maksudnya ini?” tanya Lingga memperlihatkan foto tersebut kepada Steve.
Pria bermarga Lee itu pun meraihnya dan melihat potret itu dengan seksama.
“Seperti yang Anda lihat, ini adalah saya dan Mira. Lalu, apa yang jadi masalahnya?” tanya Steve yang memang tak tau duduk perkaranya.
“Katakan, kenapa sampai ada foto kalian di situ? Apa yang sedang kalian bicarakan, sampai Anda berani memegang tangan wanita saya seperti itu?” cecar Lingga.
Dia berusaha untuk menahan amarahnya, agar tidak menimbulkan kekacauan di negeri orang.
“Coba saya ingat lagi...,” ucap Steve sambil terlihat berpikir.
Lingha diam. Dia tak ingin terpancing emosi, karena kelihatannya, Steve tengah menguji kesabarannya.
“Ah ... Saya ingat sekarang, ini saat dia menemui saya, dan membujuk saya agar mau menerima tawaran menjadi arsitek Shine group,” tutur Steve.
Lingga seketika menoleh. Dia tak habis pikir jika ternyata Mira telah melakukan hal itu di belakangnya.
__ADS_1
“Dan untuk pegangan tangan ini, saat itu saya memintanya untuk meninggalkan Anda, Tuan Lingga. Tapi, dia menolak dan malah memberitahukan bahwa dirinya tengah hamil, dan Anda bahkan belum tau akan hal itu,” lanjut Steve.
Tangan Lingga mengepal. Dia tak habis pikir, kenapa Mira justru memberitahukan hal tersebut terlebih dulu kepada pria bermarga Lee ini.
“Apa kau tau, anak siapa itu?” tanya Lingga dengan suara bergetar.
Dia sekuat hati menahan amarahnya yang sudah begitu memuncak. Hatinya ia keraskan untuk mendengar jawaban dari pertanyaan yang baru saja dia ajukan.
Namun, bukannya menjawab, Steve justru memicingkan matanya dan mengerutkan kedua alisnya. Dia seolah tengah menelisik ekspresi yang muncul di wajah Lingga.
“Apa sekarang, Anda sedang meragukan wanita itu?” tanya Steve.
“Jawab saja. Anak siapa itu? Kenapa Mira memberitahukan hal itu terlebih dulu padamu, dan bukan padaku? Katakan!” seru Lingga dengan gigi yang saling beradu hingga bergemeletuk karena geram.
“Kenapa Anda tak tanyakan pada Mira langsung? Kenapa justru jauh-jauh mencari saya kemari? Apa setidak percaya itu Anda pada dia? Kalau tau akan begini, saya menyesal karena telah melepaskannya untuk orang seperti Anda,” jawab Steve.
Lingga terlihat bangkit berdiri dan meraih kerah baju Steve. Tangannya mengepal dan hendak melayangkan sebuah pukulan ke arah wajah pria bermarga Lee itu.
“Anak itu milik Anda.” Ucapan Steve membuat gerakan Lingga terhenti di udara.
“Anak itu adalah anak Anda, Tuan Lingga. Alasan kenapa Mira memberitahukannya kepada saya terlebih dahulu, adalah agar dia bisa memberitahukannya kepada Anda. Karena dia baru akan memberitahukan hal ini kepada Anda, saat proyek Eropa Shine group sudah berjalan, dan itu artinya, saya harus setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan Anda. Apa sudah jelas?” ungkap Steve.
“Apa kamu yakin? Apa semua ini benar?” tanya Lingga.
“Aku tak menyangka, kalau ketulusan Mira dibalas dengan sebuah kecurigaan oleh Anda. Harusnya saat itu, aku paksa saja dia untuk ikut kemari bersama ku,” pungkas Steve.
Lingga diam. Dia tak mampu lagi berkata apa-apa.
Steve menghempaskan tangan Lingga dari kerah bajunya, dan membuat pria itu kembali terduduk di tempatnya semula.
Pria bermarga Lee itu nampak berdiri, dan merapikan pakaiannya yang kusut karena ulah Lingga.
“Sebaiknya, sekarang Anda pulang dan temui dia. Minta maaflah padanya karena Anda sudah mencurigainya. Saya tak tau dari mana Anda mendapatkan foto itu, tapi yang jelas, dia sudah melabuhkan hatinya pada Anda seorang, dan saya mengaku kalah sejak saat itu,” ucap Steve.
Pria itu kemudian berjalan pergi meninggalkan Lingga yang kini terdiam sendiri. Dia menyesali tindakannya yang sudah menaruh curiga atas perasaan Mira padanya selama ini, dan meragukan anak yang sempat dikandung oleh wanita itu.
Tanpa terasa, bulir bening menetes dari sudut matanya, dan buru-buru ia menyekanya agar tak menjadikannya malu, pada orang yang berlalu lalang di taman tersebut.
__ADS_1
Lingga bangun dan segera berlari ke tepi jalan raya, untuk menghentikan sebuah taksi.
“Hotel X, please!” serunya.
Lingga bergegas kembali ke hotel tempatnya menginap, untuk mengambil kembali barang-barangnya, dan berencana segera pulang ke tanah air saat itu juga.
...💋💋💋💋💋...
Di apartemen Lingga, terlihat Mira tengah duduk termenung seorang diri. Dia masih memikirkan nasib hubungan antara dirinya dan Lingga kedepannya.
Saat itu, terdengar sebuah ketukan di pintu depan. Mira pun bangun dan membukakan pintu tersebut. Terlihat, Tania yang masih nampak begitu mengantuk datang dan masuk begitu saja ke dalam apartemen.
“Gue disuruh ke sini lagi ama si manusia kayu. Emang babang tamvan lu kemana pagi-pagi begini hah?” tanya Tania yang langsung mengubah bentuk sofa yang ada di depan TV.
“Dia nggak pulang semalem,” sahut Mira yang ikut berjalan di belakang temannya itu.
Tania yang tadinya hendak merebahkan diri, seketika terbangun kembali dan menegakkan duduknya.
“Dia nggak balik? Wah, ati-ati tuh, Mok. Jangan-jangan, dia udah dapet cewe lain lagi. Wah, gawat nih,” celetuk Tania.
Namun kali ini, Mira tak membalas Kata-katanya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
Hal itu justru membuat Tania semakin curiga dengan kondisi hubungan keduanya.
“Mok, elu ama dia baik-baik aja kan? Nggak ada masalah kan?” tanya Tania.
“Nggak kok. Nggak ada apa-apa. Gue ke kamar dulu ya. Lu kalo mau tidur, tidur aja gih,” sahut Mira sembari berlalu.
Tania terus memperhatikan kepergian Mira dalam diam.
Ini sih udah pasti bener ada yang nggak beres sama mereka berdua, batin Tania.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen yah😊