Mirage

Mirage
Kedatangan Moris


__ADS_3

Disebuah toilet umum di salah satu swalayan yang masih berada di kawasan The Royal blossom, tampak seorang pria berpakaian petugas perawatan saluran air, tengah mencuci tangannya.


Dia melepas topi dan penutup wajah, dan membasuh muka yang terlihat berdebu. Pria itu memandangi wajahnya di cermin dengan sebelah sudut bibir yang terangkat ke atas.


"Hah ... semewah itu hidup mu sekarang, Mari. Oh atau, harus kupanggil juga dengan nama Mira?" Gumamnya pada pantulan dirinya sendiri di cermin.


Beberapa saat yang lalu,


"Nggak profesional banget sih! Harusnya dicek dulu alat-alatnya. Lengkap apa nggak. Jangan malah dibuka dulu kaya gitu. Kan yang repot gue juga," gerutu Tania.


"Kenapa sih?" tanya Mira.


"Gue keluar bentar. Lu diem di dalem aje ye," seru Tania.


Seperginya Tania, Erik yang saat itu menyamar menjadi tukang ledeng, menyunggingkan senyumnga. Dia pun kemudian melepaskan pipa yang sedari tadi memang tidak pernah dicopot sama sekali.


Pria itu berjalan mendekat ke arah Mira yang sedari tadi tengah duduk sambil menonton TV, dan tidak menyadari jika Kakak tirinya ada bersamanya di dalam apartemen.


Erik nampak mengulurkan tangannya, dan hendak meraih pundak Mira. Namun, wanita itu terlebih dulu berbalik dan tersentak kaget dengan keberadaan tukang ledeng yang sudah berdiri di sampingnya.


"Mau apa kamu?" tanya Mira terkejut.


"Maaf, Neng. Apa ada cotton bud?" tanyanya.


"Hah … kirain apaan, Bang. Bentar aku cari dulu," sahut Mira sambil mengusap-usap dadanya, menetralkan degupan jantungnya karena terkejut tadi.


Mira pun beranjak dari duduknya dan meninggal Erik yang menyamar, tetap dalam posisnya. Waniga itu naik ke atas dan masuk ke dalam kamar.


Erik terus memperhatikan adiknya itu hingga menghilang di balik pintu.


"Bagus. Saatnya beraksi," gumam Erik.


Dia pun kemudian berkeliling di seluruh ruangan apartemen tersebut, dan menempelkan beberapa benda hitam bulat dan kecil di tempat-tempat yang tersembunyi.


Hampir setiap sudut sudah Erik jamah, hanya tinggal ruang atas. Dia berencana mengendap-endap naik ke atas, dan menempelkannya di kusen pintu.


Namun, belum sempat ia naik ke, Mira sudah lebih dulu keluar dari kamarnya.


*Br*ngsek. Gue nggak bisa naruh ini di sana deh*, batin Erik.


Pria itu pun memilih kembali ke dapur dan berpura-pura membetulkan saluran air yang sama sekali tidak bermasalah.


Dia sudah merencanakan hal ini sebelumnya dan menyumbat aliran air yang menuju ke unit milik Lingga, hingga membuat semua ini seolah kebetulan.

__ADS_1


"Ini, Bang," ucap Mira sambil menyerahkan sekotak cotton bud kepada tukang ledeng yang tak lain adalah Erik.


"Makasih, Neng," sahut Erik.


Mira kembali berjalan menuju ruang tengah. Melihat sang adik tiri sudah menjauh, Erik pun kemudian menekan sesuatu di telinganya dan nampak berbicara pada seseorang.


"Buka penyumbatnya. Gue udah selesai," ucapnya.


Tak lama kemudian, air pun kembali mengalir.


"Neng, airnya udah bener nih," panggil tukang ledeng gadungan itu.


Mira bangun dan menghampiri Erik di dapur, dan melihat bahwa air sudah bisa mengalir lagi.


"Terus, tadi temen ku gimana, Bang? Kenapa disuruh beli lem pipa segala?" keluh Mira.


"Maaf, Neng. Ternyata tadi saya sakuin. Jadi, pas ngecek di tas nggak ada. Hehehhe … maaf, yah," ucap Erik.


"Hah … ya udah deh. Udah selesaikan?" ujar Mira.


"Udah, Neng. Kalo gitu, saya permisi dulu," pamit tukang ledeng tersebut.


Erik pun berjalan keluar diantar oleh Mira. Seperginya tukang ledeng gadungan itu, si ratu es yang merasa ingin buang air kecil dari tadi pun segera naik ke atas menuju toilet.


Saat dirinya sedang menunggu lift datang, tiba-tiba lift di sampingnya terbuka dan terlihat Tania yang terburu-buru keluar dan berlari menuju ke unit Lingga, di mana Mira berada.


Erik segera memalingkan wajahnya, dan menutupi sebagian dengan topi yang dikenakan. Tepat saat itu, lift yang ditunggu datang dan dia pun buru-buru pergi dari lantai dua puluh empat, meninggalkan semua kehebohan yang dibuat oleh Tania.


Pria itu segera menuju ke tempat di mana komplotannya sudah menyiapkan pakaian ganti untuk menyingkirkan penyamarannya.


Saat sudah selesai berganti pakaian, dia nampak keluar dari toilet dengan membawa tas punggung berisi peralatan menyamarnya. Wajahnya masih tetap memakai penutup muka untuk menghindari sorotan CCTV.


Dia nampak menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Misi selesai. Siapkan bayaran buat gue, Robert," ucap Erik.


"Asal pekerjaanmu beres, Nyonya tidak akan lupa untuk memberimu jumlah yang sesuai," sahut orang yang tak lain adalah Robert, pengawal pribadi Soraya.


Panggilan berakhir. Erik pun berjalan menuju mobil van yang sedari tadi terparkir di pelataran swalayan. Dia masuk ke dalam kendaraan tersebut dan melaju pergi.


Waktumu akan segera berakhir, Mari. Kita lkhat, apakah keberuntunganmu masih berlaku sampai sekarang, batin Erik.


...💋💋💋💋💋...

__ADS_1


Beberapa hari semenjak kejadian tukang ledeng gadungan itu, Lingga memutuskan untuk terus berada di apartemen, menjaga sendiri wanitanya yang hampir celaka tempo hati. Dia meminta Nicholas, sang asisten, untuk membawakan semua pekerjaan yang bisa ia handle dari kediamannya.


"Kak, nggak ngantor lagi?" tanya Mira yang duduk di samping Lingga, sambil menggonta ganti siaran TV di depannya.


"Ehm … aku udah nyuruh Nick buat bawa semuanya ke sini. Aku lagi lengin jagain kamu aja," sahut Lingga yang saat itu berbaring dengan kepala yang berada di atas paha Mira.


"Ehm … kamu masih marah sama Tania? Kasihan lho dia, Kak. Kakak jahat banget tiba-tiba mukul dia kek gitu," keluh Mira yang merasa sikap Lingga kemarin itu terlalu berlebihan.


"Aku cuma nggak suka dia seenaknya gitu, Mir. Kalau tukang ledeng itu ngapa-ngapain kamu gimana?" ujar Lingga.


"Tapi kan kamu bisa lihat sendiri kalau aku nggak papa, Kak," sanggah Mira.


"Tetep aja itu bahaya," tukas Lingga.


"Ishh …," desis Mira kesal.


Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar. Mira seketika memasang sikap siaga dan hal itu pun membuat Lingga segera bangkit berdiri dan menghampiri pintu.


Dia mengintip dari lubang yang ada di sana.


"Siapa dia?" gumam Lingga.


Nampak seorang pria paruh baya dengan gaya yang formal, tampak memegang tas koper kecil, tengah berdiri di depan pintu apartemennya.


Lingga pun membuka pintu dengan mode waspada. Takut-takut jika orang itu salah satu komplotan si peneror yang selama ini membuat Mira cemas.


"Permisi, apa benar Nona Mira tinggal di sebelah?" tanyanya.


"Maaf, Anda siapa?" tanga Lingga.


"Apa mungkin Anda Tuan Lingga?" tanya pria itu balik.


"Ya, saya sendiri. Tolong jawab, Anda siapa?" cecar Linhgga.


"Perkenalkan, saya Ricard Moris. Pengacara Tuan Thomas Wiratmaja," ucap pria itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2