Mirage

Mirage
Siuman


__ADS_3

Lingga nampak tegang, dan menggigiti kuku jarinya, sembari melihat Dokter Tama yang tengah memeriksa kondisi Mira saat ini.


Dokter itu melakukan beberapa pengecekan, seperti cek tensi darah, cek detak jantung dan pernafasan, serta respon pupil terhadap cahaya.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan sederhana, Dokter senior itu kembali menyimpan peralatan medisnya ke dalam tas.


Melihat pemeriksaan itu telah selesai, Lingga pun berjalan mendekati dokter pribadinya, dan menanyakan kondisi Mira.


"Bagaimana kindisinya, Dok? Dia baik-baik saja kan?" cecar Lingga.


"Boleh saya tahu, kenapa Nona ini bisa sampai pingsan?" tanya Dokter Tama.


"Dia diserang oleh seseorang, dan sempat di bekap dari belakang. Kemungkinan orang tersebut menggunakan obat bi*us yang disapukan ke atas sapu tangan itu," Lingga menunjuk sebuah sapu tangan yang tergeletak di atas meja, di seberang ranjangnya.


"Hem … wanita secantik ini memang sangat berbahaya, jika dibiarkan berkeliaran seorang diri di luar. Sebaiknya, Anda harus menjaganya lebih ketat lagi, Tuan." ucao Dokter Tama kepada Lingga.


"Kenapa aku yang harus menjaganya? Memangnya dia siapaku?" sahut Lingga tak terima ketika mendapat perintah seperti itu.


"Bukankah dia sangat istimewa untuk Anda, Tuan? Saya baru kali ini melihat seorang wanita yang bisa membuat Anda panik bukan main. Bahkan, dia pun sekarang tengah berbaring di atas ranjang Anda. Bukankah belum pernah ada wanita, yang pernah naik ke atas sini sebelumnya? kecuali ibu dan adik Anda," seru Dokter Tama yang membuat Lingga terdiam seketika.


Ia tak menyadari jika reaksinya sepanik itu, kala mendapati Mira yang tengah dalam bahaya hingga wanita itu tak sadarkan diri.


"Apa iya aku menganggapnya berharga?" batinnya.


Dokter Tama memperhatikan ekspresi Lingga yang terkesan kebingungan dengan dirinya sendiri, ditambah penuturannya perihal penilaian terhadap hubungan antara Lingga dan wanita yang masih tak sadarkan diri itu.


Dokter senior itu pun lalu beranjak dari duduknya, dan menenteng tas kerjanya. Ia berjalan menghampiri Lingga, dan menyerahkan selembar kertas berisi resep obat, yang harus diberikan kepada Mira setelah wanita itu bangun.


"Dia tidak apa-apa. Anda tidak perlu khawatir. Cukup pastikan dia minum minuman hangat ketika bangun nanti, dan ini resep obat yang harus Anda berikan kepadanya, untuk mengurangi efek dari obat bi*us yang sempat masuk ke dalam tubuhnya," pesan Dokter Tama panjang lebar.


Lingga pun menerima resep obat itu dari Dokter Tama, dan mengantarkan dokter senior itu menuju ke pintu keluar.


"Terimakasih atas bantuannya, Dok." Lingga mengulurkan tangan yang kemudian di sambut oleh Dokter Tama.


"Sama-sama. Saya permisi," sahut dokter itu.


Setelah Dokter Tama keluar, Lingga pun segera menutup pintu apartemennya, dan menelepon seseorang.


"Nick, apa semuanya sudah dibereskan?" tanyanya langsung.


"Sudah, Tuan. Meskipun ada beberapa anggota dewan yang sempat marah akibat pembatalan rapat ini," sahut Nicholas.


"Sudah, biarkan saja. Aku ada tugas lagi untuk mu," ucap Lingga.


"Apa itu, Tuan?" tanya Nicholas.


"Tolong belikan aku obat yang ada di resep. Nanti resepnya akan ku foto dan ku kirimkan padamu," tutur Lingga.


"Obat? Apa Anda sakit, Tuan?" tanga Nick yang nampak khawatir dengan kondisi tuannnya.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Ini untuk orang lain. Cepat belikan saja, dan antar ke apartemen baruku," seru Lingga.


"Baik, Tuan," sahut Nick.


Sambungan pun terputus, dengan Nick yang nampak heran dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Beli obat untuk orang lain? Tumben sekali dia peduli dengan orang lain? Apa dia baik-baik saja? Atau tempat baru itu ada hantunya, yang bisa merubah sifat orang jadi berbeda seperti itu?" gumamnya setelah teleponnya terputus.


Nicholas pun lalu hanya mengedikkan kedua bahunya, dan bergegas menuju ke apotik terdekat, setelah mendapat pesan dari Lingga yang berisi foto resep obat dari Dokter Tama untuk Mira.

__ADS_1


Kembali ke apartemen Lingga, dimana saat ini, pria itu sudah kembali ke dalam kamarnya, dan duduk di bibir ranjang, tepat di samping perut Mira.


Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang susah diartikan, sembari tangannya bersedekap di depan dadanya.


"Hah … ada apa sebenarnya denganmu?" terdengar helaan nafas yang cukup berat keluar dari mulut pria itu.


Setengah jam berlalu, sejak panggilannya dengan Nicholas. Lingga mendengar seseorang menekan bel dari luar pintu apartemennya.


Pria itu pun lalu berjalan ke arah pintu depan, dan mendapati Nick yang telah sampai di sana, dengan membawa kantung berisi obat pesanannya.


"Ini pesanan Anda, Tuan." nick menyerahkan bungkusan kantung plastik itu kepada Lingga.


"Thanks, Nick. Kau boleh kembali sekarang," seru Lingga.


"Ehm … memangnya siapa yang sakit, Tuan?" tanya Nick sambil mencoba melihat ke dalam tempat itu.


"Bukan urusan mu. Sudah sana pulang, atau mau ku suruh kau lembur hari ini?" ancam Lingga.


"Eh … ti … tidak, Tuan. Baik, saya akan pergi. Permisi," ucap Nick yang kemudian buru-buru pergi dari sana.


Setelah Nick pergi, Lingga segera menutup pintu dan kembali ke lantai atas, kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Saat ia baru saja melangkah ke dalam, pandangannya tertuju pada Mira yang mulai tersadar, dan menggeliat dengan mata yang masih terpejam.


Wanita itu mengerang, dan lengannya terangkat ke atas menutupi separuh wajahnya.


"Eng …," gumamnya.


Lingga yang melihat itu, sontak menghampiri Mira, dan duduk di sampingnya.


"Kau sudah bangun? Bagaimana kondisimu? Apa yang kau rasakan? Apa semuanya baik-baik saja?" cecarnya seraya menyentuh kening, pipi dan bagian di bawah telinga wanita itu.


Setelah bisa membuka matanya, Mira mulai mengedarkan pandangan ke semua sudut kamar itu.


"Ehm … gue di mana?" tanyanya dengan suara yang masih terdengar lemah.


Ia merasa asing dengan tempat itu, sehingga ia pun memutuskan untuk bangun. Namun, rasa pusing yang ia alami cukup berat, akibat efek dari obat bi*us itu. Sehingga membuatnya tak mampu untuk bangun.


Lingga yang melihat Mira kesulitan pun lalu menahan bahu wanita itu, agar tetap berbaring di ranjangnya.


"Sebaiknya, kamu tiduran dulu saja di sini. Aku akan ambilkan minuman hangat untuk mengurangi pusingmu. Tunggu sebentar," ucap Lingga yang lalu berjalan keluar dan menuju dapur.


Mira sama sekali belum sadar, jika orang yang telah merawatnya dalah Lingga, si tetangga menyebalkannya.


Lingga mengambilkan air hangat yang dicampurkan dengan lima sendok madu dan dua irisan lemon ke dalamnya.


Kemudian, pria itu buru-buru membawanya ke atas untuk diminumkan kepada Mira.


Sesampainya di kamar, Lingga berjalan menuju nakas, dan meletakkan gelas berisi minuman itu di sana.


Dia pun kemudian duduk di bibir ranjang, tepat di samping kepala wanita itu.


"Apa kau bisa bangun?" tanya Lingga dengan suara lembut.


"Ehm …," Mira hanya bergumam dan mengangguk pelan.


Lingga pun membantu wanita itu bangun, dan membuat Mira bersandar pada tubuhnya.


Dengan sebelah tangan yang menopang pinggang Mira, ia mengambilkan minuman dengan tangan satunya.

__ADS_1


Perlahan, ia meniup-niupkan minuman yang masih cukup panas itu, lalu dengan hati-hati meminumkannya kepada Mira.


Seteguk, dua teguk berhasil masuk ke dalam kerongkongan mira yang kering.


"Bagaimana? Agak enakan?" tanya Lingga memeriksa kondisi Mira.


Mira tak menyahut. Dia hanya mengangguk pelan karena masih merasa pusing, dan efek obat bius masih membuatnya lemas.


"Mau lagi?" tawar Lingga.


Mira kembali mengangguk pelan, dan dengan telaten, Lingga meniup-niup minuman itu, dan meminumkannya.


"Lagi?" tanya Lingga.


Mira menggeleng pelan.


"Cukup," ucapnya lirih.


Lingga pun menaruh kembali gelas itu ke atas nakas yang ada di sampingnya. Dia lalu membaringkan kembali Mira ke atas tempat tidur, dan menyelimuti tubuhnya.


"Apa kau butuh sesuatu lagi?" tanya Lingga saat selesai menyelimuti wanita itu.


"Terimakasih," ucapnya lirih.


Lingga tersenyum tipis mendengar kata itu keluar dari bibir Mira, wanita yang selalu saja dingin dan ketus kepadanya.


"Sudah kewajiban ku sebagai tetangga yang baik bukan?" ucap Lingga yang disambut senyum oleh Mira.


Namun, senyumnya mendadak hilang kala menyadari kata tetangga yang diucapkan oleh penyelamatnya. Ia berusaha memfokuskan pandangannya, dan ingin melihat dengan jelas siapakah orang yang sudah menolongnya itu.


"Anda?" tanya Mira ketika berhasil melihat dengan jelas, sosok pria yang ada di hadapannya.


"Tentu saja aku. Memang siapa lagi tetangga baik hatimu?" ucap Lingga dengan penuh percaya diri.


Mira nampak jengah melihat sikap over confident dari pria itu.


"Sudah. Sebaiknya kau istirahat saja. Kondisi tubuhmu masih sangat lemah. Aku akan menemanimu dari sofa itu," ucap Lingga sambil menunjuk ke arah sofa di seberang tempat tidur.


Malam itu, Mira meminta ijin kepada Mom Winda untuk tidak bekerja dan beralasan jika ia sedang kurang sehat. Tak lupa, ia juga mengirimkan foto obat-obatan yang diberikan oleh Lingga sesuai resep dari Dokter Tama.


Mau tidak mau, Mom Winda pun mengijinkannya, karena memang sangat tidak mungkin melayani orang ketika tengah dalam kondisi sakit.


Lingga meminta Mira untuk sementara istirahat di tempatnya dulu, sampai dia benar-benar pulih. Mira hanya mampu menurut, karena ia belum bisa untuk memberikan perlawanan terhadap pria menyebalkan itu.


Setelah meminum obatnya, Mira kemudian tertidur. Sedangkan Lingga, ia berjalan menuju ruang tamu.


Ia nampak tengah menghubungi seseorang dari sambungan telepon.


"Firasat Anda benar. Sepetinya, semua sudah dimulai. Hari ini, Mira diserang oleh orang yang tak dikenal. Beruntung, saya datang tepat waktu sebelum sempat terjadi apa-apa padanya," ucapnya.


.


.


.


.


event sisa dua hari lagi ya😊yg masih punya vote, boleh dong kasih ke sini🤭ya ampun othor recehan banyak maunya😅

__ADS_1


next eps, besok lagi ya😁hari ini lumayan panjang, 1500 kata✌jadi, boleh dong minta kopi atau kembangnya🤣


__ADS_2