
"Lima dalam semalam?" seru Mira terkejut.
Marsha hanya mengangguk.
"Wait! Jangan bilang kemarin lu three*soome juga ya? Apa malah gang-bang?" tanya Mira tanpa tedeng aling-aling.
"Lima sekaligus maksud lu? Nggak lah! Cuma TS, itu juga yang paling terakhirku layanin. Emang kenapa?" sahut Marsha.
"Masuk lewat belakang juga?" tanya Mira lagi.
"Ya iya lah, kalo TS kan emang biasanya depan belakang penuh. Gimana sih, kaya nggak pernah aja," jawab Marsha ketus.
"Pantesan aja lu sembelit! Orang jalan keluarnya sempat tersumbat juga," gerutu Mira.
"Oh iya yah," seru Marsha yang mulai sadar.
"Oh iya ya … kek anak baru aja lu, Sha!" keluh Mira yang justru ditanggapi kekehan oleh Marsha.
"Mending lu minta libur aja deh malam ini. Dari pada elu nggak konsen gini kerjanya. Mom Winda pasti bakal ngertiin kok," saran Mira.
"Tapi, gue lagi butuh duit banget, Mir. Adek gue minta ditransfer buat biaya sekolahnya dia. Katanya minggu depan mau mid semesteran. Makanya, semalem gue berani nerima tamu yang minta TS," kata Marsha sambil terus memegangi perutnya.
"Hah … duit lagi. Kenapa sih semua orang selalu bingung kalo urusannya sama duit? Heran gue," gerutu Mira.
"Eh, Mir. Nggak semua orang kaya elu, yang emang nggak ada beban tanggungan apapun. Elu tuh manusia paling bebas yang pernah gue kenal. Gue aja sampe nggak percaya, kalah orang kek kamu bisa nyemplung ke sini," sahut Marsha.
"Gini deh, Sha. Malam masih panjang, dan pasti bakal ada lagi tamu yang mau sama gue. Gue bakal kasih setengah bayaran gue malem ini buat elu. Gimana?" tawar Mira.
"Seriusan, Mir? Lu nggak bohong kan?" tanya Marsha memastikan.
"Kapan gue pernah bohong?" sahut Mira dengan berbalik tanya.
"Hehehe … nggak tau kapan, tapi thanks yah. Gue ketolong," ucap Marsha sambil menggenggam kedua tangan Mira.
"Iya! Ya udah sono, lu ijin sama Mommy," perintah Mira.
"Oke, cantik! Muah!" seru Marsha girang, sambil mengecup sebelah pipi Mira.
Wanita itu pun lalu berjalan keluar dari toilet dengan masih memegangi perut dan pingganganya.
Mira hanya menggelengkan kepalanya melihat kepergian Marsha. Dia kembali berbalik dan menghadap cermin, lalu membasuh wajahnya lagi dengan air agar terasa segar.
__ADS_1
Wanita itu kemudian berjalan keluar dan menuju meja rias. Dia mulai merapikan dandanannya yang berantakan tadi.
Setelah selesai dengan riasan, dia pun merapikan rambutnya, dan tak lupa juga menyemprotkan parfum ke tubuhnya agar bau sisa-sisa bercinta tadi hilang.
Saat dia sedang memasukkan parfum ke dalam tas, tiba-tiba Tania muncul dan duduk tepat di sampingnya. Wanita itu pun tampak baru saja selesai dengan tamunya. Hal itu bisa dilihat dari lipstiknya yang agak pudar, dan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ternyata benar dugaan gue, kalo elu emang udah nargetin cowo tadi," ucap Tania tanpa menoleh ke arah Mira, dan sibuk memulas kembali lipstik di bibirnya.
"Ehm … yah, coba-coba aja mancing, kali aja dapet. Lagian, dia yang lihatin gue duluan kok. Jadi nggak salah dong kalau gue bales," sahut Mira sambil menyimpan kembali barang-barang miliknya ke dalam tas.
"Hah! Sok cakep lu," seru Tania yang lalu berjalan ke arah toilet.
Mira hanya mengedikkan bahunya, mendengar perkataan teman seprofesinya itu.
Dia kemudian berjalan keluar dan menuju ke lantai satu untuk kembali bekerja, menghabiskan malam panjang, dengan menemani para pria hidung belang.
...💋💋💋💋💋...
keesokan harinya, Mira bangun lewat tengah hari. Wanita itu selalu duduk merenung sendiri di balkonnya cukup lama, sebelum ia akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Saat itu, terdengar suara bising dari arah balkon sampingnya. Mira berjalan mendekat, dan melihat ke apartemen yang berada di sebelahnya.
Tak jelas terlihat para pekerja yang tengah berada di dalam apartemen itu, namun dari suaranya sudah sangat jelas jika mereka sedang merenovasi tempat tersebut.
Mira pun lalu memutuskan untuk masuk ke dalam, dan mebersihkan diri.
Di kamar mandi, wanita itu menatap dirinya yang telah polos tanpa busana, dari pantulan cermin besar yang menempel di dinding.
Dia menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Bahunya naik turun, seolah ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Ada perasaan lelah dari raut wajahnya yang selalu datar dan dingin. Meski dia selalu mengulas senyum kepada setiap tamunya, namun dalam hati, dia merasa bosan dengan kehidupannya saat ini.
Pernah suatu waktu dia ingin berhenti, namun Mira gamang, dan akhirnya menghilangkan keinginnya itu. Dia tak tau harus melakukan apa setelah keluar dari paradise fall, karena belum ada tujuan pasti.
Dia tak ingin jika akhirnya hanya keluar masuk klub malam saja, karena belum ada rencana masa depan yang bisa ia rancang.
Saat ini, dia bisa menikmati segala kemewahan pun berkat kebaikan Thom yang mau menjadi pendukungnya. Jika tidak, Mira akan sama saja dengan pe*la*cur jalanan lainnya.
Mira kembali menghela nafas berat, dan perlahan memutar keran shower. Tetesan air mulai membasahi tubuh mulusnya, dan menciptakan embun yang menutupi permukaan cermin yang sedari tadi ia pandangi.
Wanita itu pun lalu berbalik dan membelakangi benda yang sudah tertutup rintik air itu, dan melanjutkan kegiatan mandinya.
__ADS_1
Seusai mandi, Mira lalu berjalan menuju walk in closet, dan memilih pakaian santai yang akan dia gunakan di waktu senggangnya.
Ia melihat-lihat semua koleksi bajunya, dan pilihannya jatuh pada sebuah kemeja kotak-kotak berwarna ungu putih, dengan ujung bagian depannya yang panjang, yang bisa ia ikat simple. Dipadu dengan celana blue jeans panjang press body.
Dengan inner atasan putih, dia memakai kemejanya tanpa menautkan kancingnya, dan hanya mengikat ujungnya saja.
Rambutnya ia ikat satu ke atas menyamping, dengan anak rambut yang dibiarkan menjuntai bebas, dan poni yang dijepit ke atas.
Anting lingkaran besar, ia gunakan untuk menunjang penampilan santainya, dan make up flawless dengan polesan lipstik yang berwarna terang, membuat tampilannya tetap mempesona siapa pun yang melihatnya.
Setelah siap, dia mengambil dompetnya dan keluar menuju lantai dasar, di mana ada sebuah restoran yang terkenal enak dengan pastanya.
Ia berencana untuk sarapan yang sudah sangat telat, bahkan makan siang pun sudah terlewat jauh. Dia duduk sendiri di salah satu meja yang ada di sudut restoran tersebut.
Di sampingnya ada kaca besar yang menampilkan pemandangan di luar gedung apartemen itu, di mana orang-orang tengah berlalu lalang, serta deretan mobil yang terparkir di sisi-sisi jalan.
Mira duduk bertopang dagu, sambil menyaksikan hiruk pikuk keadaan di luar sana. Kegiatan yang selalu ia lakukan ketika tengah berada di dalam kendaraan yang berjalan, pun ia lakukan di tempat itu.
Wajahnya yang biasa terlihat dingin dan datar, saat itu nampak begitu tenang dan damai. Hingga orang yang belum mengenalnya, tak akan pernah menyangka jika wanita itu begitu dingin sedingin es, dan bisa membekukan orang-orang yang berada di sekelilingnya dengan pesonanya.
Dari sudut lain restoran, seorang pria tengah menikmati pemandangan indah itu, dan tersenyum tipis, melihat wajah lain dari Mira.
"Akhirnya, kita berjumpa lagi … Mari."
.
.
.
.
Hem .... siapa yah kira2🤔tebak2an yuk😁
Oh iya, maaf kalau ada istilah2 baru seperti Three*soome atau TS, gang-bang atau GB, mohon maaf itu istilah kegiatan **** menyimpang, karena melibatkan lebih dari satu pria dalam satu waktu dengan hanya seorang wanita🙏
Mohon bijak dalam menanggapi bacaan yah, guys. Othor nggak maksud ngajarin, cuma ngasih hiburan aja🙏
udah othor kasih warning di eps 20 kan ye, jadi kalau nemu yang vulgar2 lagi, ya mohon maklum. Sekali lagi ini cerita soal lont*, jadi nggak mungkin bisa alim dong😅🙏kecuali dia tobat
yuk yang sudah baca, jangan lupa like dan komennya yah🙏😊
__ADS_1