
"Jangan sentuh wanitaku!" seru Lingga yang baru saja tiba di sana.
"Kak." Mira terkejut dengan kehadiran pria itu di sana secara tiba-tiba.
Wanita itu seketika menegakkan posisi duduknya.
Lingga menghempaskan tangan Steve dan meraih tangan Mira. Pria itu pun menarik wanitanya dan membawanya pergi dari depan bar samuel.
Di saat mereka sampai di tengah lantai dansa, langkah Lingga terhenti karena Mira menghentikan langkahnya.
Lingga menoleh dan melihat ternyata Steve tengah memegangi sebelah tangan Mira yang satunya. Kini, posisi wanita itu berada di tengah keduanya, dengan kedua tangan yang masing-masing ditarik oleh kedua pria itu.
"Lepaskan tanganmu darinya!" perintah Lingga yang terlihat geram.
"kKau yang lepas. Tidak pantas seorang pria bersikap kasar pada seorang wanita," balas Steve tak kalah sengit.
"Kau … beraninya!" ucap Lingga yang kemudia melepas tangan Mira dan maju ke arah Steve.
Mira melihat gelagat tak baik dan menghempaskan tangannya dari genggaman Steve.
"Kak." Mira berdiri menghadang jalan Lingga, dan menahan dada pria itu agar tak melangkah lagi.
"Minggir!" seru Lingga.
"Kak. Kita bisa bicarakan ini di rumah," ucap Mira.
Lingga tak menyahut. Tatapannya masih tajam menikam mata Steve, yang tak kalah garang menatap Lingga.
"Ayo pulang!" perintah Lingga yang berbalik dan berjalan cepat mendahului Mira.
Mira menoleh ke arah Steve, yang masih berdiri di belakangnya.
"Steve, maaf yah. Aku harus pulang sekarang," ucap Mira yang merasa tidak enak dengan pria itu.
"Baiklah. Tapi, bolehkah aku meminta nomormu?" tanya Steve.
"MIRA! CEPAT!" pekik lingga yang kembali lagi dan melihat Mira masih berbincang dengan pria asing itu.
"Ehm ... kau bisa tanyakan pada Samuel. Dia tau nomorku," ucap Mira kepada Steve seraya berlalu dari sana.
Mira berjalan cepat menghampiri Lingga yang terlihat terus menatap tajam ke arah pria, yang masih berdiri di tengah lantai dansa.
"Ayo, Kak!" ajak Mira sambil merangkul lengan Lingga dan membawanya keluar.
Steve memandang kepergian kedua orang itu. Namun, tiba-tiba terbersit sebuah ingatan tentang sebuah kejadian.
...(cuplikan eps 44)...
"Yah, saat itu. Saat itu aku bertemu denganmu, dan juga pria tadi yang mengaku suamimu. Yah, aku ingat sekarang, Mir. Aku ingat kau lah si wanita piyama itu," gumam Steve saat kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan si ratu es.
...💋💋💋💋💋...
Sepanjang perjalanan, Lingga terus diam sambil mengemudikan mobilnya. Pria itu nampak begitu marah karena mendapati Mira yang terlihat dekat dengan pria lain.
__ADS_1
Sedangkan Mira, dia hanya bisa diam, sambil mencari cara untuk meredam amarah Lingga.
Sesampainya di apartemen, Lingga keluar dari mobil begitu saja, dan meninggalkan Mira. Wanita itu pun segera keluar dan berjalan menyusul pria itu menuju ke lift.
Begitu tiba di apartemen, Lingga langsung masuk begiu saja, dan lagi-lagi Mira buru-buru menyusulnya sebelum pintu tertutup.
"Kak, aku bisa jelasin." Mira berjalan terseok-seok mengikuti langkah kaki lingga yang lebar.
"Kak!" panggil Mira.
Tiba-tiba, lingga berhenti dan berbalik, membuat mira pun tak sengaja menabrak tubuh kekar itu. Mira mundur beberapa langkah karena benturan yang mengenai Lingga.
Pria itu tak berkata apapun. Dia berjalan mendekat ke arah Mira, dan seketika mendorong si ratu es hingga jatuh di atas sofa ruang tengah.
"Ah ...," pekik Mira.
Pria itu langsung mengungkungnya, dan menyambar pundak yang tadi dipegang oleh steve.
"Eeeehhhhhmmmm ...," Lingga menjil*t dan menyesapnya hingga meninggalkan bekas merah.
"Di mana lagi dia menyentuhmu? Katakan!" seru Lingga yang menatap tajam ke arah Mira.
"Kak, aku ... eeeeehhhhmmmm ...,"
Lingga tiba-tiba menyerah pundak sebelahnya, dan kembali menjilt dan menyesap hingga memerah.
"Katakan di mana lagi!" seru Lingga yang masih diliputi amarah.
"Nggak a ... eeeeehhhhmmmmm ...,"
"Hah ... hah ... Kak, aku nggak ada apa-apa sama dia." Mira mencoba menjelaskan di sela kemarahan Lingga.
"Nggak ada apa-apa? Kenapa kalian sangat akrab, hah?" tanya Lingga.
"Eeeehhhhmmmm ...,"
Mira kembali bungkam oleh bibir Lingga. Pria itu benar-benar marah. Ciumannya tak terasa lembut sedikitpun.
Gawat! Mati gue! Dia marah besar. Gue harus gimana? batin Mira yang terus meronta di bawah kungkungan Lingga.
Wanita itu memukul-mukul punggung Lingga, berharap pria itu melepaskan pagutannya yang membuat bibirnya seperti robek dan terasa perih.
"Katakan siapa dia?" tanya Lingga.
"Aku udah bilang ... eeeeehhhhhmmmmm ...,"
Mira kembali dibungkam. Pria ini seakan tak memberikan kesempatan Mira untuk menjelaskan. Lingga terus mengeksplor setiap inci kedalam mulut wanita itu.
Nggak bisa. Kalau dia terus dilawan, bisa-bisa aku habis malam ini. Sebaiknya, ku ikuti aja permainannya, batin Mira.
Mira pun mengendurkan cengkramannya di punggung Lingga, dan beralih melingkarkan di leher pria itu. Dia mulai membalas ciuman Lingga, dan ikut membelit lidah pria yang sedang emosi itu.
Lambat laun, ciuman Lingga yang kasar, berubah semakin lembut, seiring dengab balasan yang Mira berikan.
Bagus. Dia sudah lebih baik sekarang, batin Mira yang terus membalas setiap gerakan bibir dan lidah pria itu.
__ADS_1
Lama mereka berciuman, Akhirnya Lingga pun melepaskan bibir Mira, yang telah mati rasa karena serangan yang sebelumnya.
Mira menatap sayu ke arah Lingga, dan membelai lembut telinga pria itu, dan menyusurinya hingga rahang dan dagu. Ia mengusap sisa basah di bibir Lingga dengan ibu jarinya.
"Aku dan dia hanya bertemu beberapa kali, dan ini yang terlama. Kami hanya mengobrol biasa, dan gak ada apapun diantara aku dan pria itu, Kak." Mira membelai surai yang menutupi kening Lingga, menjuntai hingga ke alis.
"Tapi, kau terlihat sangat dekat dengannya tadi, dan aku tak suka," ucap Lingga yang terdengar merengek.
Mira tersenyim tipis, sambil menangkup kedua pipi pria besarnya itu.
"Kak, apa kamu lupa apa pekerjaanku, hem? Aku dituntut agar selalu dekat dengan tamuku, melayani mereka dengan baik, sehingga mereka nyaman dan betah berada di sana. Aku hanya terbiasa dengan hal itu, jadi itu pin berlaku padanya, meski aku tidak sedang bekerja," ucap Mira denga pandangan yang begitu menghipnotis Lingga, hingga pria itu hanya bisa diam.
"Tapi aku nggak suka kamu seperi itu dengan pria lain, Mir. Aku nggak suka," rengeknya, sambil menjatuhkan kepala di ceruk leher Mira.
Wanita itu pun memeluk pria besarnya, dan menepuk-nepuk punggung Lingga, mencoba agar pria itu merasa tenang.
Bagus. Semua sudah selesai sekarang. Game over, dan aku yang menang, batin Mira dengan seringainya di balik punggung Lingga.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan pria lain lagi yah," rengek Lingga yang masih betah berada di atas Mira.
"Aku dan dia hanya berteman, Kak. Aku kan sekarang jadi milikmu," ucap Mira.
Lingga seketika mendongak dan menatap manik hitam wanita esnya.
"Benarkah? Hanya milikku saja?" tanya Lingga terdengar begitu berharap.
"Ehm ...," gumam Mira sembari mengedipkan kedua matanya, memberikan jawaban ya kepada Lingga.
Mereka pun saling tersenyum, dan lingga merangkak semakin ke atas, dan kembali menautkan bibir keduanya.
Malam panas pun kembali mereka lalui bersama, setelah semua kemarahan Lingga atas kedekatan Mira dengan pria asing bernama Steve itu.
.
.
.
.
Nyai, pinter bener dah ah naklukin si abang, belajar dimana nyai?
Mira : kan othor yang ngajarin
Oh, iya lupa.
Mira : jurus andalan buat naklukin suamikan itu🤭
isshhh ... jangan bilang-bilang dong
dah ah, abaikan becandaannya
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1