Mirage

Mirage
Panik


__ADS_3

PRAAAANG!


Tania menoleh dan melihat jika Mira limbung dan berpegangan pada meja makan. Gelas yang sedari tadi ia pegang, kini telah pecah berhamburan ke atas lantai.


Wanita itu pun segera berlari menghampiri rekannya yang terlihat sudah sangat pucat, jelas jika tubuhnya gemetar.


"Mir, lu nggak papa?" tanya Tania yang seketika itu merasa cemas melihat sikap Mira yang tak biasa.


"Dia dateng! Dia udah sampe sini! Gue mesti gimana?" ucap Mira lirih namun masih bisa terdengar oleh tania.


"Lu kenapa Mira? Lu sakit?" tanya Tania lagi sambil memegangi kening Mira.


Nggak panas, tapi dia berkeringat dingin, batin Tania.


"Kita ke sana dulu yuk. Duduk di sana," ucap Tania.


Dia memapah Mira dan membawanya agar duduk di sofa ruang tengah. Setelah itu, dia pergi ke dapur dan mengambilkan lagi minuman untuk wanita yang terlihat ketakutan itu.


"Nih, lu minum dulu biar tenang," ucap Tania.


Mira pun segera meraih gelas yang disodorkan oleh Tania dan meneguknya hingga tanda. Nafasnya terdengar memburu, dengan tatapan mata yang terus berlarian.


Nih anak kenapa sih? Nggak biasanya dia kelihatan takut banget gini? batin Tania.


"Lu di sini dulu. Gue beresin gelas yang pecah tadi biar nggak kena kaki elu," ucap Tania.


Dia pun berdiri dan hendak berjalan ke dapur. Namun, Mira seketika itu meraih tangannya dan menahan agar Tania tidak pergi ke kemana-mana.


"Jangan tinggalin gue. gue takut banget, Tan. Please, jangan tinggalin gue," pinta Mira.


Nih anak beneran ada yang salah deh, batin Tania.


"Gue nggak ke mana-mana kok, Puk. Gue cuma mau ke dapur doang, buat ambil sapu sama serokan sampah buat beresin pecahan gelas itu. Lu duduk tenang dulu di sini baek-baek ye," seru Tania yang sebisa mungkin halus, namun tetap saja bar-bar.


Mira pun perlahan melepaskan tangannya dari Tania. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, dan memeluk lututnya sendiri.


Tania terus melihat ke arah Mira yang sangat aneh, dan baru kali ini ia melihat sikap rekannya tersebut begitu terintimidasi seperti itu.


Setelah menyelesaikan kekacauan yang ditimbulkan oleh Mira, Tania pun kembali duduk di samping rekannya yang masih dalam posisi memeluk lututnya sendiri.


"Mir, lu kenapa sih?" tanya Tania.


"Dia ke sini, Tan. Gue takut. Gue takut banget. Elu … elu di sini aja sampe Tuan Lingga pulang ya," pinta Mira.


"Lu takut ama apaan sih? Gue seumur-umur kenal ama lu, nggak pernah lihat lu ketakutan sampe segitunya," tanya Tania yang penasaran.


"Dia … dia udah nemuin tempat ini. Gu … gue udah nggak bisa sembunyi lagi," ucap Mira yang masih terus memeluk lututnya.

__ADS_1


Nih anak aneh parah sumpah. Apa gue telepon Tuan Lingga aja ya? batin Tania.


"Ehm … Mir, hand phone lu mana? Gue pinjem bentaran dong," ucap Tania.


Namun, Mira tak juga menjawab. Dia justru berbicara sendiri, dan terus mengatakan 'dia datang' secara terus menerus.


Tania pun akhirnya berdiri dan mengedarkan pandangannya. Ia melihat jika benda itu berada di atas lemarin pendingin. Mira meletakkannya begitu saja di sana, saat hendak mengambil air minum.


Wanita itu pun kemudian mengambilnya dan mencoba mencari nomor lingga di daftar kontak ponsel Mira.


"Kok nggak ada sih? Dia kasih nama apaan yah?" gumam Tania.


Dia pun kembali menghampiri Mira yang masih terlihat ketakutan.


"Mir, Tuan Lingga lu kasih nama apaan sih?" tanya Tania.


Mira menoleh, dan melihat ponselnya. Dia segera merebut benda itu dari tangan Tania, dan menekan-nekam layarnya.


Sesaat kemudian, dia menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.


"Halo," terdegar sahutan dari seberang.


"Halo, Kak. Dia datang, Kak. Dia ke sini. Aku takut, Kak. Aku takut," ucap Mira histeris.


Tania yang melkhat hal itu pun begitu terkejut, dan tak menyangka sosok dingin dan angkuh seperti Mira bisa menjadi seorang yang paranoid seperti ini.


Melihat Mira terus meracau ditelepon, Tania pun merebutnya dan hendak mengambil alih percakapan. Namun, gerakannya terhenti saat melihat nama yang tertera di layar.


Daddy-nya lil baby? Siapa? Tuan Lingga? Namanya aneh banget? batin Tania.


Dia pun kemudian segera meletakkan benda pipih tersebut ke dekat telinganya.


"Halo," sapa Tania.


"Halo, ini siapa?" sahut suara di seberang.


"Ini Tuan Lingga?" tanya Tania.


"Ya. Mana Mira?" tanya Lingga yang terdengar panik


"Maaf, aku Tania. Saat ini Mira terlihat aneh. Dia seperti ketakutan. Bisakah Anda pulang sekarang? Sepertinya ini serius," ucap Tania.


"Ada apa lagi ini … ehm … Tania? Tania kan?" tanya lingga.


"Ya, aku Tania," sahut Tania.


"Ambil obat yang ada di dalam laci nakas sebelah kiri tempat tidur. Di sana ada botol obat. Kamu minumkan dua butir pada Mira sekarang. Aku akan segera pulang," seru Lingga.

__ADS_1


"Oke," sahut Tania.


sambungan pun terputus.


Tania segera berlari ke arah kamar dan mengambil obat yang sudah diberitahukan letaknya oleh Lingha. Dia mengambil dua butir lalu kemudian kembali meletakkan botol obat itu di tempatnya.


Ia kembali turun dan menghampiri Mira yang masih merapalkan kata-kata yang sama.


"Mir, lu minum ini dulu yah," seru Tania.


Mira segera meraih kedua butir pil tersebut dan meminumnya. Dia pun meraih gelas yang ada di atas meja dan meneguknya.


Dia lalu kembali memeluk kedua lututnya dengan erat, sambil terus gemetar ketakutan.


Tania pun dibuat pusing dengan sikap Mira yang aneh ini.


Lambat laun, Mira mulai melemas. Ucapannya pun terdengar mulai melambat, dan pada akhirnya dia terjatuh dan meringkuk di atas sofa.


Tania segera membetukan posisi tidurnya agar lurus dan terlentang, dengan kepala di atas bantal.


"Hah … udah tenang sekarang," gumam Tania.


Wanita itu kembali duduk di atas karpet, di bawah Mira yang tidur di atas sofa. Tania bersandar di sofa, bersebelahan dengan lutut Mira.


Dia pun kembali menikmati acara televisi yang sempat terganggu tadi.


Tak berselang lama, terdengar kunci pintu terbuka sendiri dari luar, dan seseorng masuk. Nampak, Lingga berjalan cepat ke arah Tania yang juga melihat ke arah pria tersebut.


"Mana Mira?" tanya Lingga yang tak melihat dengan jelas sekelilingnya.


Tania hanya menunjuk dengan mengunakan dahunya.


Lingga pun segera mendekat menghampiri wanitanya yang telah tertidur pulas.


"Kamu kenapa lagi, Mir?" gumam Lingga.


.


.


.


.


Nah kan, aku kasih banyak hari ini. maaf kemarin udah bolos🤧🤧🤧🤧🤧


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2