
Mira menoleh, dan menatap tajam ke arah Sisi, sambil tersenyum mengejek.
"Sebaiknya, ucapan lu itu, lu simpen buat diri lu sendiri. Karena gue sama sekali nggak pernah sok baik, nggak pernah merasa paling dielu-elukan, dan nggak pernah berharap dapet yang namanya tamu VIP. Kalau elu emang mau, ambil semuanya, Si. Tapi bener kata Tania, lu harus jual nyokap lu buat dapetin itu semua," ucap Mira yang kemudian langsung berbalik dan melangkah hendak pergi dari tempat itu.
"Oh … dan satu lagi, kasih tau sama yang nyuruh elu, kalau gue nggak pernah takut sama dia. Suruh dia temuin gue langsung kalau berani. Jangan bisanya main belakang mulu," tandas si ratu es.
Tania yang masih memegangi pipinya karena tamparan Sisi, maju dan berdiri di samping ladies yang baru saja dibuka topengnya itu.
"Mira nggak pernah sok baik. Dia justru selalu saja dingin dan nggak mau peduli. Dia juga nggak pernah mau dielu-elukan di sini, itu kenapa dia selalu pilih-pilih tamu. Justru, kedua Itu semua ada sama elu, Si. Elu yang kek gitu, bukan Mira. Dan elu nggak akan pernah tau, apa yang udah Mira lalui, sampai dia ada di titik ini. Jadi, kalau elu iri dan mau kek Mira, lu bener-bener bakal jual ibu lu sendiri, Si." Tania pun berjalan meninggalkan Sisi yang masih berdiri di sana.
Semua yang menyaksikan seluruh kejadian itu pun pergi satu persatu, sambil memandang jengah ke arah Sisi.
Mom Winda yang terakhir pergi. Dia menyempatkan berdiri di samping Sisi, dan menepuk pundak ladies-nya itu.
"Kamu sudah membuang orang yang benarz-benar peduli sama kamu, Si. Kamu ingat saat dulu mau pinjam uang sama Momy? Momy sempat menolak karena pendapatan sedang turun. Tapi, Mira memberikan uang pribadinya kepada Momy, dan meminta ku untuk memberikannya kepadamu." ungkap Mom Winda.
Sisi menoleh, dan menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang mucikari.
"Dia tau kalau kamu kesulian membiayai pengobatan ibumu, dan Mira adalah orang yang sangat mengerti akan kesusahan mu itu. Ibunya meninggal saat dia ke sana ke mari mencari uang untuk operasi ibunya. Jadi, aku sangat menyayangkan semua yang kau lakukan kepada Mira. Semoga setelah ini kamu baik-baik saja," ucap Mom Winda sambil berlalu pergi meninggalkan Sisi seorang diri di tempat itu.
Entah, tiba-tiba saja dada Sisi terasa bergemuruh, sesak dan sakit. Kakinya lemas, dan dia pun seketika duduk bersimpuh di lantai.
Air matanya luruh seketika di pipinya tanpa aba-aba. Dirinya kini menyesali semua perbuatan yang sudah ia laukan terhadap Mira.
Dia sama sekali tak tau jika wanita itu begitu peduli dengannya, tapi dirinya justru membalasnya dengan sebuah penghianatan.
"Dasar munafik. Harusnya lu nggak usah sok baik sama gue, Mir. Gue benci sama lu tau nggak. Selalu elu yang dapet perhatian dari semua orang. Gue benci sama elu. GUE BENCIIIIII!" teriak Sisi meraung-raung dalam tangisnya.
Di luar, Mom Winda masih berdiri di balik pintu. Saat dirinya hendak pergi, dia mendengar teriakan Sisi, dan mendengar semua yang diucapkan oleh ladies-nya itu.
"Hah …," Mom Winda merasa iba dengan Sisi. Namun, di sisi lain, dia pun kecewa dengan apa yang telah ladies-nya itu perbuat.
Wanita tua itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut, diiringi suara teriakan sisi yang masih menggema di sepanjang lorong itu.
__ADS_1
...💋💋💋💋💋...
Mira berjalan menyusuri lorong cinta di paradise fall, berpapasan dengan beberapa pasangan yang hendak menghabiskan malam bersama wanita-wanita bayaran.
Si ratu es melangkah masuk ke dalam lingkaran lantai dansa, di mana semua orang meluapkan emosi mereka lewat gerak tubuh yang cenderung tak beraturan.
Musik yang menggema di seluruh ruangan, menghentakkan setiap jiwa yang lelah, memompa gejolak muda, dan menuntun semua orang untuk mengekspresikan diri mereka.
Mira yang tengah diliputi amarah, kekecewaan, dan kesedihan, meluapkannya lewat tariannya. Tubuhnya meliuk-liuk di antara para pengunjung yang hadir.
Paras cantiknya yang selalu berhasil menggoda siapa saja, membuat para kumbang jantan itu berkerumun di sekeliling Mira yang asik dengan tariannya sendiri.
Tak jarang di antara mereka yang dengan senagaja mencuri sentuhan di tubuh Mira. Namun, wanita itu tak meresponnya sama sekali seolah dirinya tak tersentuh.
Hingga, seorang pria dengan sengaja memeluk Mira dengan melingkarkan sebelah tangannya di perut wanita itu dari belakang, sambil menggesek-gesekkan teripang daratnya ke bok*ng Mira.
Wanita itu sontak berhenti, dan berbalik menatap tajam ke arah pria tersebut.
"Hai, Mira. Lama nggak ke …," ucapnya.
PLAK!
PLAK!
PLAK!
PLAK!
Tamparan beruntun mengenai kedua pipi pria kurang ajar tadi.
"Lu beneran mikir gue ini semurahan itu hah? Lu pengin kaya gue? Lu mau semua yang gue punya? AMBIL!" pekik Mira membuat semua mata melihat ke arah wanita itu dan pria yang masih memegangi kedua pipinya.
Dari kejauhan, Samuel dan juga Tania yang sedang berada di bar pun turut menyaksikan hal tersebut.
__ADS_1
DJ yang sedari tadi memainkan musik pun menghentikan kegiatannya, dan membuat tempat yang awalnya begitu hingar bingar menjadi senyap seketika.
"Lu nggak tau apa yang udah gue lalui selama ini. Lu cuma taunya hidup gue enak, Mewah, lu nggak pernah tau sepahit apa hidup yang gue lalui."
Semuanya diam mendengarkan teriakan Mira yang seolah tengah meluapkan emosinya kepada seseorang yang sudah membuatnya kecewa.
"Gue beda ama elu. Gue nggak jual diri, tapi gue dijual sama orang yang gue nggak kenal. Gue hampir mati dua kali tanoa tau alasannya. Gue muak sama hidup gue yang kayak gini. Kalo lu emang mau, ambil semua. Gue udah nggak butuh! AMBIL BR*NGSEEEEEK!" teriak Mira dengan sekencang-kencangnya.
Setelah selasai dengan makiannya, Mira menghirup nafas dalam-dalam dan membuangnya seketika. Wanita itu kemudian berjalan menuju panggung DJ dan meraih microphone yang ada di sana.
"Cek … cek … cek … Perhatian semuanya! Gue Mira. Malam ini, adalah malam terakhir gue berada di sini. Jadi, sebagai pesta perpisahan buat kalian, gue bakal traktir semua yang ada di sini. Lu boleh pesan minuman sepuas lu … Sam, masukin semua ke tagihan gue," ucap Mira yang disambut riuh tepuk tangan para pelanggan yang datang ke paradise fall.
Musik kembali bergema, dan semuanya turun ke lantai dansa, sambil masing-masing memegangi sebotol minuman ditangan mereka.
Suasana pun semakin ramai karena para tamu memanggil semua teman mereka agar bisa menikmati traktiran dari Mira.
Wanita itu pun lalu turun dari panggung DJ, dan berjalan menuju pintu keluar. Tania nampak berjalan mengikutinya dari belakang, dan saat mencapai lobi, Mira berhenti tepat di teras depan.
"Elu nyesel udah marahin dia?" tanya Tania yang berjalan menghampiri Mira.
Si ratu es pun menoleh sekilas, lalu kemudia menghadap kembali ke arah jalan raya.
"Dari awal gue nggak punya siapa-siapa. Jadi, dia juga bukan siapa-siapa, yang harus gue sesalin," sahut Mira.
.
.
.
.
Mira nggak bisa sekejam itu membakas Sisi, karena Nyai emang udah nganggep Sisi kaya adiknya sendiri dengan tingkah sisi yang selalu manja sama Nyai.
__ADS_1
🤧sabar nyai, temen lu nggak cuma dia. othor juga. lain kali kalo mau traktir, traktir ponggol setan tegal aja ya, jadi othor bisa ikutan nimbrung😅😅😅
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁