Mirage

Mirage
Lautan mawar


__ADS_3

Saat memasuki ruangan psikiater, Mira yang awalnya baik-baik saja, mendadak diam membatu, dengan tatapan yang terlihat ngeri dan ketakutan.


"Mir, kamu kenapa?" tanya Lingga yang tak mengerti dengan wanitanya.


Sedangkan sang psikiater itu, nampak memperhatikan ke mana arah tatapan Mira tertuju.


Ehm … jadi, dia takut dengan benda itu, batin si psikiater.


Dia pun lalu berdiri, dan mengambil jas hujan hitam bertudung kepala, yang menggantung di salah satu rak baju di sudut ruangan.


Psikiater itu pun menyimpannya ke dalam lemari, yang ada di samping gantungan rak baju.


Setelah benda itu menghilang, Mira seketika kembali ke dirinya sendiri. Kesadarnnya pulih, dan dia pun tersadar jika dia baru saja melakukan sesuatu yag aneh.


"Silakan duduk," ucap sang psikiater.


Lingga yang sedari tadi kebingungan dengan sikap Mira pun, akhirnya duduk di samping wanitanya yang masih merasa cemas.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Miranda. Kalau boleh tau, apa nyonya ini yang akan berkonsultasi?" tanya psikiater yang bernama Miranda itu.


"Benar, Dok," sahut Lingga.


Pria itu mewakili Mira, yang sedari tadi lebih banyak diam. Sepertinya pikiran mira seketika kacau kala melihat benda mirip jaket berhoodie, yang digunakan oleh si pengintai waktu itu.


"Bisa kita mulai saja terapinya? Sepertinya, ada sesuatu yang harus di keluarkan dari pikirannya," ucap Dokter Miranda.


Lingga menoleh dan memandangi wajah Mira. Dia pun meraih tangan wanitanya dan menggenggam tangannya erat, memberikan keberanian kepada si ratu es untuk menghadapi ketakutannya.


Mira menoleh, menatap langsung ke dalam kedua mata prianya.


"Kamu siap kan?" tanya Lingga memastikan.


Mira nampak ragu. Namun dia juga tak ingin selalu berada dalam ketakutan akan kemunculan kembali Erik, yang belum tentu benar adanya.


"Iya, Kak. Aku siap," sahut Mira.


"Kalau begitu, mari kita pindah ke sebelah sana," ajak Dokter Miranda.


Psikiater itu nampak berjalan menuju ke sebuah kursi santai, yang mirip kursi pantai atau kolam renang, namun berbahan lembut dan empuk seperti sofa.


Mira dan Lingga pun mengikutinya.


"Nyonya, duduklah di atas sini," ucap Miranda.


Lingga menepuk punggung Mira, pertanda jika ia memberikan semangat kepada wanitanya.


Wanita itu sempat menoleh. Sorot matanya terlihat ragu dan takut. Hingga Lingga pun menggenggam erat tangan Mira.


"Ada aku di sini. Kalau kau takut, pegang tanganku, hem," ucap Lingga.


Akhirnya, Mira pun mau untuk duduk di kursi santai itu. Lingga duduk di samping kiri, sedangkan dokter Miranda berada di sisi kanan.


Tangannya masih terus menggenggam Lingga, mencoba untuk meredam ketakutannya.


Miranda mengeluarkan sebuah bandul dengan rantai yang cukup panjang, dan menunjukkannya tepat di depan Mira.


"Rileks ya," ucap Dokter Miranda.


Mira nampak menghela nafas panjang, dan membuang semua keraguan serta kecemasannya.


"Nyonya, tolong sekarang Anda lihat benda yang saya pegang ini," seru Dokter Miranda.

__ADS_1


Mira pun menuruti perkataan Miranda. Pandangannya fokus pada benda yang dipegang dokter itu.


Miranda mulai menggoyang-goyangkan bandul tersebut ke kanan dan ke kiri. Bola mata Mira pun mengikuti gerakan benda tersebut.


"Mira, boleh saya panggil Anda dengan nama itu? Jika iya, cukup anggukan kepala Anda sekali saja. Jika tidak, gelengkan," ucap Miranda.


Mira seperti tersihir. Matanya tetap terbuka dan mengikuti pergerakan bandul, sedangkan tubuhnya mengikuti seruan dari dokter itu. Dia pun menganggukkan kepalanya, dengan mata yang tetap tertuju pada benda yang bergoyang di hadapannya.


"Oke, Mira. Sekarang, Anda merasa sangat mengantuk. Mata Anda sangat berat, hingga sulit untuk terbuka," ucap Miranda.


Dokter itu memberikan sugesti kepada pasiennya. Ajaib, mata Mira pun lambat laun mulai terasa berat. Kantuk semakin tak tertahan.


"Dalam hitungan ketiga, Anda akan tertidur. Satu … dua … tiga …," ucap Miranda.


Seketika, saat Miranda menyelesaikan hitungan di angka tiga, Mira jatuh tertidur. Lingga masih setia di sampingnya, dan menggengam tangan wanita itu yang mulai mengendur.


"Bisa kita mulai sekarang, Tuan?" tanya Miranda.


"Silakan, Dok." Lingga pun memberi ijin.


"Mira, saat ini, Anda sedang ada di sebuah ruangan yang luas. Semuanya berwarna putih. Namun, hanya ada satu pintu keluar yang ada di sana. Apa kamu bisa melihatnya? Anggukan kepala sekali jika iya," seru Miranda.


Mira pun mengangguk.


"Bisa kamu pergi ke sana? Jika iya, anggukkan kepala sekali," seru Miranda yang kembali memberi sugesti.


Mira kembali mengangguk.


"Bagus. Jika sudah sampai, anggukan kepala sekali lagi," perintah Miranda.


Tak berselang lama, Mira kembali mengangguk.


...💋💋💋💋💋...


Mira tengah berada di dalam sebuah ruangan. Semua terlihat putih, dan tak telihat batas antara sisi satu dengan yang lainnya.


"Di mana gue?" gumam Mira.


Dia pun melihat ke sekeliling, dan mendapati sebuah titik yang memiliki warna berbeda.


"Apaan tuh? Apa itu pintu keluarnya?" tanya Mira.


Dia pun berjalan menuju ke arah titik hitam yang berbeda dari yang lainnya tersebut.


"Bener ini pintunya," ucapnya.


Wanita itu pun meraih pegangan pintu, dan memutarnya. Seketika, pintu pun terbuka.


Hamparan bunga mawar menghadang jalan di depan Mira.


"Wah … banyak sekali bunga mawarnya. Tempat apa ini?" gumamnya.


Mira pun melangkah keluar dan menghampiri lautan bunga mawar yang ada di balik pintu tadi. Dia terlihat begitu terpesona dengan tempat itu.


"Indah dan wangi. Apa ini milik Kak Arya?"


Wanita itu nampak memandangi ke sekeliling hamparan tanaman mawar itu. Dia mulai melangkah masuk ke dalam lebatnya tumbuhan berduri dengan bunga yang indah tersebut.


Jalan setapak yang begitu sempit, namun masih cukup aman untuk menjaga jarak dengan duri-duri mawar yang sangat banyak itu.


"Hem … harum sekali. Warnanya pun beragam. Aku suka tempat ini."

__ADS_1


Mira terus mengagumi tempat yang begitu indah, dan berbau harum. Bunga mawar melambangkan sebuah kecantikan, namun di dalamnya, terdapat bahaya yang mengancam karena duri-durinya yang siap melukai siapa pun yang mendekatinya.


Dia terus melangkah, hingga sampai di tengah-tengah padang bunga itu.


"Yah, buntu. Padahal aku masih penasaran ada apa lagi di sana? Lalu, apa aku harus kembali ke dalam tempat aneh tadi?" gumamnya.


Mira berbalik dan hendak pergi dari kebun bunga itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang mengenakan jubah hitam bertudung kepala, sedang berdiri tepat di tengah jalan yang tadi dilalui wanita itu.


Mira membeku. Matanya tak bisa lepas dari sosok hitam di depannya yang nampak menunduk.


Siapa dia? Kenapa aku sangat takut melihatnya? batin Mira.


Sosok asing itu terlihat mengangkat wajahnya, dan membuka tudung yang sedari tadi menutupi kepalanya. Sebuah seringai yang mengerikan terlukis dari bibir sosok itu.


Nggak … nggak mungkin … kenapa dia ada di sini? batin Mira.


Wanita itu menggelenggelengkan kepalanya, berusaha untuk tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sosok itu tak lain adalah mimpi buruknya selama ini. Sang kakak tiri, Erik, yang selalu membuat hidupnya dalam kesusahan.


Pria itu nampak melangkah maju mendekat ke arah Mira, dan seketika itu pun, si ratu es mundur perlahan untuk menjauh dari sosok yang ia yakini adalah Erik itu.


Namun sayang, jalan di belakangnya buntu. Mira tak punya jalan lain selain menerjang kumpulan mawar berduri tersebut. Dia pun kemudian menoleh ke depan lagi, dan ternyata Erik sudah semakin dekat.


Mira pun dengan nekat menerobos rimbunnya semak mawar yang penuh duri, yang siap mengoyak setiap kulit dan daging yang menyentuhnya.


Wanita itu tak peduli lagi rasa sakit yang menderanya, berapa banyak luka sayatan yang ditimbulkan oleh bunga yang cantik nan wangi itu.


Mira terus berlari, dan mencoba bersembunyi dari kejaran Erik yang terus berjalan mengikutinya.


Kak Arya … tolong aku, Kak … tolong aku … Kak Arya … KAK ARYAAAAA," pekiknya dalammhati.


.


.


.


.


Udah baca ep sebelumnya? maaf yah, harusnya itu dua bab buat kemaren😔tpi y gitu deh, DITOLAK🤧


maaf ya kalo kemarin aku nggak up🙏


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


sambil nunggu next eps, mampir ke novel temen ku yuk😊kali aja suka😎


...PAST FOR FUTURE...


Area 21+ harap bijak dalam memilih bacaan.


Berawal dari kisah seorang Bulan yang trauma akan masa lalu yang Ayahnya torehkan.


Hingga akhirnya sesuatu hal membuatnya harus menikah dengan calon kakak iparnya.


***


Olivia Baskara, wanita cantik yang memiliki seorang kekasih yang sangat ia cintai. Namun saat Oliv mendapati kekasihnya memiliki rahasia besar, saat itulah hubungan mereka berada di ujung tanduk.


Apa sebenarnya rahasia yang disembunyikan kekasih Oliv?? Akankah kisah cinta mereka berlanjut?


__ADS_1


__ADS_2