
Nicholas nampak berjalan menuju ke suatu arah, masih di sekitar lantai di mana unit Lingga berada.
"Bagaimana? Apa ada yang mencurigakan? Aku dengar, tadi ada orang yang mengetuk pintu unit itu," ucap Nicholas pada seseorang yang terlihat memakai pakaian serba hitam.
"Memang tadi ada yang datang dan mengetuk pintu apartemen itu, dan kami mencoba menghampirinya karena curiga dengan penampilannya," tutur orang tersebut.
"Lalu bagaimana? Apa kalian mendapatkannya?" tanya Nicholas.
"Maaf, Bos. Dia sangat lihai. Padahal awalnya dia pun terkejut dengan keberadaan kami di sini. Namun, dia begitu cepat melarikan diri seolah dia sudah tau betul seluk beluk tempat ini, ungkap pria itu.
"Terus awasi tempat ini. Jika ada yang mencurigakan lagi, segera bereskan, dan jangan lupa laporkan padaku," seru Nicholas.
"Siap, Bos," sahut pria tadi.
Nicholas pun kemudian pergi dari sana dan kembali ke kantor menemui Lingga.
Setibanya di ruangan atasan, sang asisten pun memberitahukan semuanya kepada Lingga.
"Apa? Kenapa bisa sampe lepas sih? Dia cuma sendirian. Masa anak buah mu nggak bisa dapetin dia," keluh Lingga yang masih terduduk lemas di kursinya.
Pikirannya tertuju pada Mira yang pasti kembali merasa ketakutan sekarang.
"Apa kau bawa rekaman CCTV-nya?" tanya Lingga.
"Iya, Tuan. Tapi hasilnya sama saja. Dia begitu pintar menyembunyikan wajahnya, sehinga tak tampak sama sekali di CCTV. Saya pun sudah menyusur jejaknya, namun dia menghilang di tempat yang tak memiliki kamera pengawas," tutur Nicholas.
"Hah … kau mengecewakanku, Nick. Sekarang, aku mau kau tambah lagi orangmu untuk menjaga apartermen. Aku nggak mau sampe ada yang membuat teror lagi di tempat tinggalku," seru Lingga.
"Baik, Tuan." Nicholas pun kemudian pergi dari ruang kerja Lingga.
Pimpinan Shine group itu sungguh tak tau lagi harus bagaimana menghadapi teror yang terus mengincar Mira.
"Apa sebenarnya mau orang itu? Kalau uang, dia pasti akan minta secara terang-terangan kan. Aku rasa, ada hal lain yang lebih besar dari ini, yang sedang terjadi dan mengintai Mira. Aku ingin segera membebaskan wanitaku dari semua teror ini, tapi orang ini seperti belut. Susah sekali mendapatkannya," gumam Lingga.
Dia pun teringat akan Mira. Pria itu segera meraih ponsel, dan menghubungi wanitanya. Pada deringan pertama, panggilang seketika diterima.
"Halo, kak," sapa Mira.
"Halo, Mir. Kamu nggak papa kan? Aku dengar tadi dari Nick kalau …," cecar Lingga.
"Aku nggak papa kok, Kak. Ada tania yang selalu nemenin aku. Kalau panik lagi, aku juga bisa minum obat dari dokter supaya kembali tenang kan," potong Mira.
__ADS_1
"Hah … syukurlah. Apa sebaiknya kita pindah saja dari sana?" ajak Lingga.
"Pindah ke mana? Percuma, Kak. Dia akan selalu bisa nemuin aku lagi juga nanti. Aku pun akan semakin tertekan bukan. Ingat, kata dokter aku harus bisa menghadapinya, bagaimana pun keadaannya," sahut Mira.
"Aku hanya ingin kamu merasa aman, Mir. Aku takut terjadi apa-apa denganmu dan anak kita," keluh Lingga.
Pria itu terlihat frustasi dengan kondisi saat ini yang terus saja mengancam wanita dan calon anaknya.
"Aku akan baik-baik saja selama ada kamu di sampingku, Kak," ucap Mira.
Lingga merasa tersentuh dengan perkataan Mira tadi. Dia pu tak bisa lagi memaksa wanitanya untuk pindah, meski itu adalah jalanyang terbaik untuk saat ini, agar bisa terhindar dari teror yang terus datang.
...💋💋💋💋💋...
Beberapa hari kemudian, pagi itu, Mira hendak membuatkan sarapan untuk Lingga. Namun, air di unit mereka mendadak mati. Untung saja, Mira dan Lingga sudah selesai mandi, meski Lingga masih berada di kamar dan sedang berganti pakaian.
"Yah … gimana nih? Pesen delivery order aja kali ya?" gumam Mira.
wanita itu pun berjala ke arah meja makan, dan mengutak atik ponselnya. Dia nampak menggulirkan layarnya sambil memilih menu makanan yang akan dia pesan.
Saat itu, Lingga turun dan melihat Mira tengah fokus berselancar dengan ponselnya. Dia berjalan ke arah belakang dan memeluk pundak Mira sembari mengecup pelipis wanitanya.
"Ehm … air mati, Kak. Jadi aku nggak bisa masak deh. Delivery order aja yah," sahut Mira yang masih fokus dengan layar ponselnya.
"Ya udah. Nanti aku coba hubungin pengembang biar mereka panggil tukang ledeng. Mau pesen apa emangnya?" ucap Lingga.
Pria itu pun kemudian berjalan menuju ke kursinya, dan duduk di sana.
"Belum tau. Ehm … Kak, makan nasi liwet aja gimana?" seru Mira.
"Boleh. Apa aja yang penting kamu suka," sahut Lingga tersenyum.
"Oke deh," ucap Mira.
Dia pun kemudian memesan menu yang dia inginkan.
Tak berselang lama, pesannya pun datang. Nasi liwet yang masih hangat, komplit dengan aneka lauk, sayuran, lalap serta sambal.
"Ehm … Kak, aku ijin gendut yah. Soalnya, n*fsu makanku naik terus tiap harinya. Hehehehe …," seru Mira.
"Nggak papa. Gendut juga enak kok. Empuk," sahut Lingga dengan kerlingan sebelah matanya.
__ADS_1
"Issh … mau makan juga, masih aja mesum," gerutu Mira.
Mereka pun kemudian sarapan sambil sesekali melempar candaan yang mewarnai suasana pagi itu.
Hingga selelai sarapan, Lingga yang sudah rapi, masih belum mau meninggalkan Mira, sebelum Tania datang dan menggantikannya menemani Mira di apartemen.
"Kenapa dia lama sekali sih?" keluh Lingga yang merasa sudah menunggu terlalu lama.
"Kak, kalau emang buru-buru, mending berangkat aja deh. Entar juga paling tuh anak ke sininya siangan. Ya, maklumin aja lah, Kak. Dia kan baru pulang pas fajar, paling nanti bangun tengah hari," tutur Mira.
"Hah … besok, minta dia langsung ke sini aja begitu pulang dari tempat Nyonya Winda," seru Lingga.
"Yang benar aja, Kak. Masa dia ke sini pagi-pagi sih. Entar kalo kamu lagi pengin nengokin lil baby pagian gimana? Bisa nahan emang?" cibir Mira.
"Waduh … iya, aku lupa soal itu. Bisa repot nanti," keluh Lingga yang tak tau lagi harus bagaimana berurusan dengan ladies satu itu.
"Mending, Kakak berangkat aja. Kalo si bapuk … eh … Tania dateng, dia juga pasti chat aku dulu kok," seru Mira.
"Nggak … nggak … aku nunggu dia aja," ucap Lingga bersikeras.
"Kak, kamu harus profesional dong kalau kerja. Nggak boleh gini. Katanya pengin cepet-cepet bisa pegang kendali penuh di sini. Kalau kinerjanya gini, gimana bisa cepet-cepet nikahin aku," sindir Mira.
"Hah … kamu itu, pinter banget sih bikin orang bingung. Ya udah, aku tunggu setengah jam lagi. Kalau dia nggak dateng juga, aku suruh Nick ke sini buat jagain kamu," ujar Lingga.
"Lah terus, Kakak di kantor gimana kalau nggak ada Nick? Emang nggak papa?" tanya Mira.
"Aku juga nggak yakin. Tapi, dari pada aku khawatirin kamu. Kamu diajakin ikut ke kantor nggak mau gara-gara takut lihat taman itu. Diajak pindah juga nggak mau, katanya malah nambah beban pikiran aja. Terus, aku mesti gimana?" keluh Lingga.
Mira tercengang mendengarkan perkataan Lingga barusan. Dia nampak mengepalkan tangannya, dan menunduk.
"Kalau memang ini terlalu membebani, aku bisa pergi kok dari sini. Lagi pula, ini urusanku sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan mu," ucap Mira dengan suara bergegar.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1