
Di tempat lain, Lingga yang kini tengah mengurus berkas-berkas soal rencana ekspansi bisnisnya ke eropa, nampak begitu serius saat melakukan rapat terbatas dengan sekitar enam staff pilihannya, yang ia tunjuk untuk menangani proyek besar tersebut di ruang kerjanya.
"Apa kalian sudah temukan rancangan yang bagus?" tanya Lingga kepada para staffnya.
"Ada beberapa arsitek yang sudah mengirimkan rancangan mereka ke perusahaan kita, dan kami telah memilih tiga terbaik yang mendekati sesuai dengan apa yang anda inginkan," papar staff tersebut.
"Bagaimama dengan sistem konstruksi yang rencanakan oleh masing-masing arsitek? Apa sesuai dengan kontur tanah dan kondisi sekitarnya?" tanya Lingga.
"Sudah kami konfirmasikan dengan pihak pengembang di sana, dan menurut mereka hal ini sudah sesuai. Tinggal menunggu persetujuan Anda," jelas Nicholas.
"Baiklah. Aku akan lihat-lihat lagi. Selanjutnya, untuk perijinan dan ganti rugi, apa semua sudah clear?" tanya Lingga lagi.
Masing-masing staff memaparkan hasil kerja masing-masing dalam merancang rencana besar tersebut. Lingga begitu serius menggarap proyek besar ini, demi agar dirinya bisa tetap berada di tanah air dan menemani Mira.
Sebenarnya, bisa saja dia membawa Mira ke negeri panda merah, dan hidup berdekatan dengan keluarga besarnya.
Namun melihat sifat Mira yang pembangkang, rasanya akan lebih nyaman jika mereka berdua hidup mandiri, dan terpisah dengan keluarga besarnya yang hanya akan mengekang kebebasan wanita itu. Begitulah menurutnya.
Di tengah kesibukannya yang bergumul dengan berkas-berkas yang berserakan di atas meja dan bahkan ada yang sampai berada di lantai, tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya yang berada di atas meja.
Ia melirik sekilas, dan seketika tersenyum kala melihat nama yang tertera di sana.
__ADS_1
"Apa ada yang perlu disampaikan lagi?" tanya Lingga yang masih memperhatikan berkas-berkas di depannya.
"Sementaara ini cukup, Pak. Jika nanti ada informasi baru, kami akan segera laporkan ke Bapak," sahut seorang staff.
"Baik lah. Kalau begitu bereskan semua ini dan berikan padaku rangkumannya. Kita sudahi rapat hari ini. Silakan kalian bisa istirahat," ucap Lingga yang kemudian berjalan menuju kursinya, sementara para staff tampak sedang merapikan berkas yang berserakan di sekitar tempat rapat tadi.
Lingga membuka pesan dari Mira sambil menyesap kopi yang berada di atas meja kerjanya.
Ppuuuuuffff!
Seketika pria itu menyemburkan kopi yang baru saja meluncur ke dalam mulutnya, dan membuat semua staff yang berada di sana langsung menoleh ke arahnya.
Dia menunggu sampai staff-staff-nya keluar semua dari ruangan itu, dan setelah itu Lingga kembali membuka pesan dari ratu esnya.
"Bagaiman kalau malam ini kita dinner romantis berdua? Aku baru saja membeli gaun yang cantik 😘"
Mira menyematkan sebuah gambar yang memperlihatkan pakaian yang menyerupai gaun panjang se mata kaki, dengan belahan bawah yang tinggi hingga paha, serta bagian dada yang nampak seperti bra dengan bahan brokat.
Namum jika dilihat dengan lebih dekat, dress itu begitu tipis hingga terkesan transparan. Hal itu lah yang membuat Lingga terkejut sampai-sampai menyemburkan kopi yang ia minum tadi.
__ADS_1
"Kau nakal sekali." Lingga nampak mengetikkan sesuatu di atas keypad-nya.
"Apa menu makan malamnya?" pesan Lingga.
Tak berselang lama, sebuah pesan balasan masuk.
"Teripang darat monstermu 🤣🤣🤣🤣" balas Mira dengan emoticon tertawa lepas.
"Awas kau ya. Habis kamu malam ini, Mari." Lingga ikut tersenyjm membaca pesan dari wanita es itu.
.
.
.
.
Nyai lagi mancing teripang🤣🤣🤣
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1