Mirage

Mirage
Tunggu dan lihat


__ADS_3

"Terimakasih ya, Steve. Kau sudah menolong ku semalam," ucap Mira saat pria itu sudah duduk di kursi yang semula ditempati oleh Lingga.


"Kebetulan aku tau kau dalam bahaya, jadi sudah kewajibanku untuk ikut menolong kan," sahut Steve.


"Yah, Tuan ini langsung lari menyusul Tuan Lingga, saat tau ada yang tidak beres denganmu," timpal Samuel yang sedang duduk di samping bisnya.


"Tapi, dari mana Tania tau kau akan ke Grand moon? Apa kalian melakukan permainan bodoh lagi?" terka Mom Winda yang penasaran akan masalah ini.


"Tidak, Mom. Tania tidak ada kaitannya dengan semua ini. Malah, aku juga penasaran dari mana dia tau," sanggah Mira.


"Lalu, mau apa kau ke sana?" tanya Mom Winda mentap tajam ke arah Mira.


Mira pun seketika diam.


Aku nggak mungkin bilang yang sebenarnya kan. Aku harus minta penjelasan dulu dari anak itu, batin Mira.


"Nggak mungkin kan kau ke sana karena uang? Apa Tuan Lingga tak mencukupi semua kebutuhanmu, hah?" cecar Mom Winda.


"Ah ... Mom. Ayolah … dia itu sultan. Mana mungkin dia pelit. Kemarin aja aku baru di transfer setengah EM," tutur Mira dengan bangganya.


"Lalu ... apa alasanmu ke sana, hah? Iseng?" ucap Mom Winda kesal.


"Hehehe ... Mom bisa aja. Mana mungkin aku se-gabut itu sampai pergi ke sana. Hahaha ... hah ...," sahut Mira dengan senyum terpaksa, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Dasar anak ini. Kenapa kau selalu berbuat seenaknya sih hah. Apa kamu tau betapa khawatirnya aku saat tau kau pergi ke tempat mengerikan itu. Coba kalau Tuan Lingga dan Tuan Lee tidak sampai tepat waktu. Kau mungkin sudah jadi orang gila sekarang. Apa yang harus ku katakan saat bertemu dengan Thomas nanti di akherat," ucap Mom Winda bersungut-sungut.


"Bilang saja aku iseng," seloroh Mira.


"Dasar anak ini," ucap Mom Winda kesal.


"Hahahha ... aku hanya bercanda, Mom. Ayolah. Lagi pula, Tuan Lingga nggak akan tinggal diam saat tau aku menghilang. Dia pasti akan memcariku, karena pria itu tak bisa tidur kalau aku tak ada di sampingnya … hahaha …," kelakar Mira.


Mom Winda hanya bisa melipat kedua lengannya dan mencebik kesal dengan jawaban Mira yang di nilai tak serius sama sekali.


Mira terus saja tertawa. Dia tak tau jika pria yang saat ini duduk di sampingnya, merasa tidak nyaman saat Mira dengan gamblangnya mengumbar hubungan antara dirinya dan Lingga di depan semua orang.


Apa aku sudah tak punya kesempatan sama sekali, Mir? batin Steve.


Samuel bisa menangkap hal itu. Namun, dia memilih diam dan hanya mengamati saja dari jauh.


"Ehm ... Mir, sepertinya aku harus pergi. Masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan," ucap Steve sambil memaksakan senyumnya.


"Oh ... cepat sekali? Baiklah, kau pasti sibuk. Hati-hati yah," sahut Mira.


"Nyonya, Sam, aku permisi dulu," pamit Steve kepada kedua orang yang sedang duduk di sofa.

__ADS_1


...💋💋💋💋💋...


Di dekat parkiran luar, Lingga nampak berbicara pada seseorang. Sepertinya sebuah pembicaran yang serius.


"Apa? Kenapa bisa begitu?" tanya Lingga yang terdengar emosi.


"Maaf, Tuan. Kami juga belum begitu tau. Kabar tersebut baru pagi ini sampai, dan mereka telah mulai meratakan tanah yang ada di sana. Namun sepertinya, jika kita tidak segera membangun proyek ini, maka kita akan tersalip oleh kompetitor dan kemungkinan akan rugi besar karena kalah start mengingat jaraknya yang cukup dekat dengan tempat kita," papar orang di seberang yang tak lain adalah sang asisten.


"Bagaimana sampai tidak tau hal penting begini? Baiklah, aku akan coba untuk segera cari solusinya," ucap Lingga dengan kesal.


Pria itu seketika menutup teleponnya.


"Yang benar saja. Departement store dengan jarak hanya tiga kilo dari tempat ku? Ini sama saja ngajakin perang. Nggak. nggak bisa. Rencanaku nggak boleh gagal … demi Mira." Lingga mengacak rambutnya kesal.


Tepat saat itu, Steve muncul dari dalam rumah sakit, dan berjalan menuju tempat parkir.


Lingga menangkap kedatangan pria bermarga Lee itu dengan gamang.


Apa iya aku harus memohon padanya? batin Lingga.


Tanpa sengaja, tatapan keduanya bertemu. Namun, Steve segera berbelok menuju ke arah mobilnya yang terparkir agak jauh dari tempat Lingga berdiri.


Demi Mira. Apapun akan ku lakukan, sekalipun mengemis padanya, batin Lingga.


Pria itu pun berjalan cepat menghampiri Steve yang sudah membuka pintu mobilnya.


Lingga mendorong pintu mobil Steve hingga menutup dan membuat pria bermarga Lee itu terkejut dengan perlakuan pimpinan Shine group padanya.


"Tunggu. Ada yang ingin aku bicarakan," cegah Lingga sebelum pria itu mulai memarahinya.


"Tentang apa?" tanya Steve.


"Mari kita bicara di caffe sebelah sana," ajak Lingga sambil menunjukkan sebuah tempat di seberang jalan.


Steve menaikkan sebelah alisnya, tetapi kemudian dia berbalik dan berjalan menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Lingga.


...💋💋💋💋💋...


Di ruang rawat VVIP rumah sakit pusat yang berada di pusat ibu kota, Mira masih ditemani oleh Mom Winda dan juga Samuel.


Mom Winda berdiri dan berjalan menuju kursi yang tadi sempat ditempati oleh Lingga dan juga Steve.


"Sam. Bisa belikan aku jus buah segar?" seru Mom Winda.


"Baik, Bos." Samuel pun segera melaksanakan perintah yang diberikan oleh Mom Winda kepadanya.

__ADS_1


Seperginya Samuel, Mom Winda menatap tajam Mira, yang sedari tadi begitu asik memandangi bunga yang diberikan oleh Steve kepadanya.


"Mir. Jawab dengan jujur. Kenapa kamu sampai pergi ke sana? Aku yakin kalau kamu masih waras, untuk pergi tanpa alasan yang jelas ke tempat gila itu " cecar Mom Winda.


Mira nampak menghirup aroma bunga-bunga itu dalam-dalam, dan menghembuskannya sekaligus.


"Hah … bunganya terlihat sangat indah dan wangi. Namun sayang, durinya begitu menyakitkan." Mira meletakkan buket bunga itu di pangkuannya dan menoleh ke arah Mom Winda.


"Apa kau tau, Mom. Sejak awal aku paling tidak bisa percaya dengan orang lain. Karena kapan waktunya, pasti mereka akan menyakiti kita, sebaik apapun kita pada mereka," ucap Mira.


Mom Winda mengerutkan keningnya dalam, mencoba mencerna perkataan Mira tadi.


"Di Paradise fall, siapa yang paling aku pedulikan? Siapa yang selalu berusaha dekat dengan ku sejak awal? Kau pasti tau kan, Mom," lanjut Mira dengan tatapan dinginnya.


"Mir … apa kau serius? Ini nggak boleh dibiarkan . Kita harus interogasi dia," seru Mom Winda yang geram setelah mendengar penuturan Mira.


"Tidak, Mom. Aku punya rencana lain agar dia mengungkap sendiri, apa yang telah ia perbuat di depan semua orang," ucap Mira dengan pandangan menerawang.


"Apa rencanamu?" tanya Mom Winda.


Mira menoleh, "Tunggulah nanti, Mom. Kau akan lihat sendiri."


Mira tersenyum dengan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya ke atas.


Mom Winda mengerutkan kedua alisnya hingga hampir menyatu.


Dasar bocah licik. Apa rencanamu? batin Mom Winda.


.


.


.


.


Rencana apaan nyai?


Mira : lihat aja ntar


Yelah ... paling juga ntar aku yang ngajarin😏


Mira : boleh ngumpat nggak sih🙄kesel bener ma othor


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2