Mirage

Mirage
Membuka topeng


__ADS_3

Malam hari di paradise fall,


Nampak pengunjung sudah mulai berdatangan, dan bahkan beberapa sudah ada yang mem-booking ladies yang ada di sana.


Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Masih sangat sore untuk sebuah tempar hiburan malam yang semakin larut semakin ramai.


Di dalam base camp para ladies, Tania nampak keluar dari dalam toilet, dan berjalan ke arah meja rias. Ruangan itu begitu sepi, tetapi ada tang janggal di sana. Tirai penutup ruang ganti, tertutup rapat. Padahal di sana tak ada siapaun, selain Tania dan juga Sisi, yang tengah memoles lipstik merah di bibirnya.


"Gercep ya, Si. Jam segini lu udah dapet mangsa aja," sindir Tania yang baru saja tiba di depan meja rias.


"Biasa aja, Tan. Bukannya sejak Mira nggak ada, kita semakin dapet banyak pelanggan," jawab Sisi dengan tenang.


"Kayaknya, lu seneng banget si Mira nggak ke sini lagi," cibir Tania.


"Elu ngomong apa sih, Tan. Gue biasa aja kok," sahut Sisi.


Ladies itu memasukkan semua make up-nya ke dalam tas, dan kemudian bersiap pergi dari sana.


Tania tak menghiraukannya, dan dia tetap mendandani dirinya, karena kebiasaan Tania selalu berdandan saat sudah berada di paradise fall, sangat berbeda dengan Mira yang sudah cetar sejak dari apartemen.


Saat Sisi selesai berkemas, dan dia hendak berbalik pergi, Tania melirik sekilas ke arah pantulan rekanya itu.


"Gimana kabar nyokap lu, Si?" tanya Tania.


Sisi seketika diam di tempat. Dia seolah mematung. Namun, tak lama kemudian menoleh dan tersenyum ke arah Tania.


"Tumben lu tanya nyokap gue? Dia baik-baik aja kok. Kenapa emang?" ucap Sisi balik bertanya.


"Nggak kenapa-kenapa, cuma nanhmya doang," sahut Tania datar.


"Oh … oke," ucap Sisi yang kembali berbalik hendak pergi.


"Gue denger, minggu lalu dia dioperasi yah?" tanya Tania lagi.


Sisi seketika menoleh. Dia nampak mengernyitkan kedua alisnya dan memandangi pantulan rekan kerjanya tersebut.


"Kenapa? Lu kaget kenapa gue bisa tau?" lontar Tania.


Sisi masih diam, dan mencoba tenang.


"Kok bisa kebetulan banget yah, samaan gitu harinya dengan kejadian yang menimpa si Mira," lanjut Tania lagi.


Sisi seketika tersentak kaget. Kedua matanya membola dan dia kesulitan menelan salivanya. Tubuhnya mulai gemetar ketakutan.


Nggak … Nggak mungkin dia denger pembicaraan gue sama orang itu, batin Sisi.


Tania berbalik, dan berjalan sambil bersedekap menuju ke arah Sisi yang masih berdiri diam.

__ADS_1


"Gue penasaran, gimana reaksi nyokap lu kalo dia tau … elu … udah jual temen lu sendiri demi bayar biaya operasinya," ungkap Tania dengan penuh penekanan, sambil menunjuk tepat di depan wajah rekannya itu.


Gawat … dia beneran tau masalah ini, batin Sisi mulai resah.


Kedua bola matanya berlarian ke kanan dan kiri, seolah menghindari tatapan tajam Tania.


"Gila ya … gue nggak nyangka kalo elu tega ngelakuin hal kotor kek gitu ke temen lu sendiri. Apa lagi, dia yang selalu nolongin elu. Ckk … Kasian banget si Mira. Dia terlalu b*doh, sampai bisa percaya sama orang kek elu … hahahah … Hah … beg* banget dia," ejek Tania yang terus, sambil berbalik dan berjalan kembali ke arah cermin rias.


Sisi nampak mengepalkan kedua tangannya, merasa geram dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut Tania.


Kurang ajar … beraninya dia mengolok gue, batin Sisi geram.


"Tania … Tania … elu nggak usah muna' deh. Sok-sokan peduli sama si Mira. Bukannya elu yang palinh nggak suka sama dia. Kalian selalu saja berselisih kan. Jadi nggak usah deh sok nyuduten gue kek gitu."


"Lagian, semuanya juga ngerasa seneng kok kalo Mira nggak ada. Secara itomatis, pendapatan mereka juga meningkat karena 'si dominan' udah nggak ada," kilah Sisi yang mencoba menutupi kekesalannya dengan tameng orang lain.


"Hahahha … gue sama Mira nggak pernah akur, itu bener. Tapi, gue dan yang lainnya nggak pernah sama sekali nusuk dia dari belakang. Gue tuh … apa yah … Ehm … kagum … heran … apa takjub … oh, gue tau. Gue salut sama elu, jiwa usaha elu itu luar biasa banget. Udah jual diri, jual temen, habis itu apa lagi yang mau lu jual, hah? Jangan-jangan, elu bakal jual ibu lu sendiri," cibir Tania.


"Jaga mulut lu ya," bentak Sisi sambil melangkah menghampiri Tania.


Seketika Tania pun berbalik, dan menghadap Sisi dengan posisi menantang, saling membusungkan dada.


"Apa? Lu nggak terima? Emang nyatanya gitu kan. Apa-apa lu jual. Mau jual temen? Sekarang udah nggak ada yang mau temenan sama elu. Yang lu punya sekarang tinggal nyokap lu. Bisa jadi kan, lu bakal jual dia juga, hah"


"Brengsek lu, Tan!" Sisi maju dan hendak menampar Tania.


"Apa? Mau mukul gue? Berani lu samague, hah?" bentak Tania sambil melangkah ke depan, dan mendorong-dorong tubuh Sisi hingga terdorong ke belakang.


"Diem nggak lu!" hardik Sisi yang semakin gemetar menghadapi Tania.


"Nggak, gue nggak bakal diem. Gue bakal kasih tau semua orang, kalau elu bakal jual ibu lu demi uang!" ejek Tania.


PLAK!


Sebuah tamparan kali ini tepat mengenai pipi Tania. Mata Sisi membulat dan merah. Dia begitu geram dengan omongan rekannya itu.


"Gue emang udah jual Mira, tali gue nggak sejahat itu buat jual ibu gue sendiri. Puas lu!" pekik Sisi yang sudah tak bisa menahan emosinya kepada Tania.


Namun, Tania justru menatap Sisi dengan senyum mengejek.


"Gue … sangat … puas," ucap Tania penuh penekanan di setiap kata-katanya.


PROK! PROK! PROK!


Terdengar sebuah tepukan tangan dari balik tirai, yang menutupi ruangan yang biasa dipakai sebagai tempat berganti pakaian.


Sisi menoleh ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya saat tirai dibuka, rupanya di sana sudah ada beberapa orang ladies. Terlebih lagi, seseorang yang sedari tadi menjadi bahan cekcok antara dirinya dan Tania, telah berada di sana.

__ADS_1


Ya, Mira berada di antara para ladies yang bersembunyi di balik tirai, dan bertepuk tangan saat Sisi mengakui semuanya di depan semua orang.


Bahkan, Mom Winda pun turut menyaksikan semua itu, dan dia tengah menatap tajam ke arah Sisi.


Mira nampak melangkah keluar dari dalam ruang ganti, dan menghampiri tempat Sisi dan Tania berdiri.


"Luar biasa. Jadi begini aslinya elu, Si? Busuk juga ya lu," ejek Mira langsung di depan ladies itu.


Sisi mundur selangkah. Dia gemetar menghadapi Mira yang berdiri tepat dihadapannya.


"Mir … gue … gue …," Sisi gentar.


"Lu nggak perlu ngomong apa-apa lagi, Si. Kita semua udah tau kok siapa elu sebenernya. Dan satu hal lagi, makasih buat semua yang udah lu lakuin ke gue. Tenang aja, gue bakal keluar dari sini kok. Jadi, selamat bekerja keras ngumpulin duit buat nyokap lu, dan jangan pernah nyari gue lagi," ucap Mira.


Wanita cantuk itu pun beranjak pergi dari tempat itu, namun suara Sisi menahan langkahnya.


"Lu jangan sok baik deh, Mir. Lu nggak usah munafik. Gue tau kok kalau elu nganggep gue cuma pengganggu yang terus nempel sama elu. Dan elu semua, kalian juga nganggep Mira sebagai penghalang kalian aja kan. Karena setiap ada Mira, pendapatan kalian berkurang."


"Lu nggak usah sok jadi yang paling dipuji-puji di sini deh, Mir. Asal lu tau yah, semua ladies di sini tuh iri sama elu. Kenapa cuma elu yang bisa dapet tamu VIP kaya Thomas dan Lingga. Kenapa kita enggak bisa? Semuanya tuh benci sama elu, bukan cuma gue yang benci. Karena semenjak elu pergi, semua tamu yang nggak bisa nemuin elu, selalu saja mengasariku. Gue capek terus ada di dalam bayang-bayang lu, Mir."


"Tapi, syukur deh kalo elu emang mau pergi. Gue bisa tenang sekarang," ungkap Sisi.


Wanita itu seolah mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya saat itu juga, hingga membuat Mira nampak mengepalkan tangannya.


.


.


.


.


Guys, aku mau kasih rekomendasi novel yang bagus nih. Sambil nunggu Nyai Mira up besok,


Ini novel temen aku, ceritanya bagus lho. Aku kasih sedikit cuplikannga biar kalian penasaran🤭


...Bukan istri yang sempurna...


Sebagai seorang wanita yang sudah kehilangan rahimnya dia tetap tegar menjalani hidup. Walau terkadang hinaan menerpanya


Diam-diam suaminya menikah lagi karena menginginkan seorang anak, membuat ia meminta cerai karena sudah merasa dikhinati


Pertemuannya dengan seorang anak kecil membuat harinya dipenuhi senyuman, tetapi ia dilema saat anak itu meminta dirinya menjadi ibu sambungnya.


Akankah ia memenuhi permintaan anak kecil tersebut atau kembali pada mantan suaminya?


__ADS_1


Cus cari di pencarianmu, dan favoritkan biar selalu tau up datenya😊🙏


__ADS_2