
Malam hari, selepas menyuapi ratu esnya dan menenangkan Mira, Lingga bangkit dari tempat tidur dan memeriksa tab-nya.
Ia mendapatkan sebuah surel dari Nicholas, berisi beberapa rekaman vidio CCTV yang ada di perushaaannya.
Lingga seketika tahu, perihal apa vidio tersebut. Pria itu pun kemudian segera memutar rekaman yang dikirimkan sang asisten.
Terlihat jelas, seseorang yang mengenakan jaket hitam, mengendap-endap dan masuk ke dalam kedung Shine Group melalui pintu darurat, dan naik hingga ke lantai di mana kantor Lingga berada.
Dia bisa dengan mudah mengecoh keamanan, meskipun saat itu masih siang hari. Saat rekaman tersebut telah selesai, Lingga berlanjut ke vidio selanjutnya, saat orang itu tengah mengintai di balik pintu taman rooftop, tepat setelah Mira masuk ke sana.
Namun, tak lama kemudian, orang asing itu pergi dan kembali ke luar melewati rute yang sama.
Lingga pun kemudian berjalan menuju ke ruang bawah. Dia hendak menelepon sang asisten, dan membiarkan Mira untuk beristirahat sendirian di kamar, agara tak terganggu dengan obrolannya.
"Halo, Nick!" sapa Lingga.
Pria itu duduk di sofa ruang tengah, sambil menyandarkan punggung hingga tengkuknya ke sofa.
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sahut Nicholas.
"Kenapa semuanya nggak jelas? Apa nggak ada satu pun yang menampilkan wajah orang aneh itu?" tanya Lingga yang merasa pusing dengan masalah kakak tiri Mira ini.
"Maaf, Tuan. Sepertinya, orang ini sengaja menghindari kamera pengawas, agar wajahnya tidak terlihat," sahut Nicholas.
Pria itu memijit pangkal hidungnya, karena merasa pening.
Sepertinya dia profesional. Sebenarnya, siapa kakak tiri Mira, hingga bertindak seperti ini hanya untuk meneror adiknya sendiri, batin Lingga.
"Aku ada dua hal lagi untuk kau lakukan segera. Pertama, perintahkan beberapa orang untuk mengawasi Mira dari jauh, dan jangan sampai dia tau jika dia sedang diawasi. Kedua, coba cari rekaman CCTV di lantai apartemen ini siang tadi, dan cari jejak pria asing itu," seru Lingga.
"Baik, Tuan," sahut Nicholas.
Sambungan pun terputus. Lingga meletakkan ponselnya di atas sofa, tepat di sampingnya. Sebelah lengannya terangkat ke atas dan menutupi kedua matanya.
Aku penasaran, seperti apa kakak tiri Mira ini, batinnya.
...💋💋💋💋💋...
Sudah seminggu sejak kedatang pria yang di duga Erik ke apartemen Mira yang ditemui oleh Tania, kini ladies itu hampir setiap hari saat Lingga pergi ke kantor, selalu datang menemani rekannya yang sudah berhenti dari profesinya sebagai kupu-kupu malam.
"Puk, pesen makan kek. Apartemen lu nyiksa gue banget tau nggak. Dari kemaren-kearen nggak pernah ada yang namanya makanan. Adanya cuma minuman ama buah doang. Masa orang kaya nggak sedia cemilan di rumah sih," cerocos Tania.
"Eh, Bapuk. Elu di sini udah dibayar ama cowo gue. Kalo mau makan, pesen sendiri kali," ucap Mira yang sedari tadi duduk berama Tania di depan TV.
__ADS_1
"Dih … yang udah ngakuin cowonya. Manis banget sih, sampe diabetes gue. Hoek!" ejek Tania.
Mira menonyor kepala Tania hingga wanita itu terhuyung sedikit ke samping.
"Rese, lu," gerutu Mira.
"Hem … eh, Mir. Kata lu si Tuan Linggai punya asisten?" tanya Tania sambil kembali mencondongkan wajahnya ke hadapan Mira.
Si ratu es hanya mengangguk pelan, tanpa menoleh ke arah rekannya tersebut.
"Kamu bisa kali minta dia beliin makanan yang enak, habis itu, minta anterin ke sini," ucap Tania.
"Eh, Bapuk. Dia itu asistennya Tuan Lingga, bukan asisten gue. Asisten gue kan elu, jadi, lu aja yang beli sana. Hahahaha …," kelakar Mira.
"Sialan lu. Mana ada pembokat kece badai kek gue. Sembarangan aja," gerutu Tania.
"Hahahaha … kece? Dari mananya? Dari lobang sedotan? Pe de amat sih lu," ucap Mira.
"Iisshh … serah lu dah, Mir. Serah," keluh Tania yang sudah enggan menanggapi kelakar rekannya itu.
Tiap hari, hubungan Mira dan Tania semakin dekat. Keduanya pun semakin saling mengerti satu sama lain yang belum pernah mereka tahu sebelumnya.
Siang itu, saat keduanya tengah memperdebatakan sesuatu hal yang tidak penting sama sekali, tiba-tiba pintu depan diketuk oleh seseorang.
Seketika, Mira yang sedari tadi berkelakar dan mengejek Tania, mendadak bungkam. Tubuhnya beringsut mundur merapat ke sofa, dan menekuk lututnya hingga menutup dada. Dia pun memeluk kedua lutut erat, sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Lu diem di sini ya. Biar gue yang lihat siapa di luar," seru Tania.
Wanita itu pun beranjak meninggalkan Mira yang masih meringkuk ketakutan. Dia berjalan menuju ke arah pintu depan.
Tania mencuri lihat terlebih dahulu melalui lubang intip yang ada di pintu. Namun sayang, dia tak melihat seorang pun di depan sana.
"Nggak ada orang? Apa orang iseng yah?" gumam Tania.
Wanita itu pun berbalik dan berjalan kembali ke arah Mira. Tapi tiba-tiba, sebuah ketukan membuatnya melompat kaget.
"Eh, k*pret! ngagetin aja deh. Tadi nggak ada orang lho, sekarang ngetuk lagi. Bikin merinding aja. Masa siang-siang ada hantu," gerutu Tania.
Dia pun memberanikan diri untuk mendekat kembali ke arah pintu. Dia mengintip sekali lagi dari lubang di sana.
"Wah … cowo ganteng siapa tuh? Tadi perasaan nggak ada orang? Kenapa tiba-tiba ada pangeran berkida putih?" gumam Tania.
Dia pun kemudian membenahi dirinya sejenak dan kemudian membuka pintu lebar-lebar.
__ADS_1
"Ehm … cari siapa ya?" tanya Tania dengan semanis mungkin.
"Maaf, saya Nicholas. Asisten Tuan Lingga. Saya ke sini untuk mengantarkan makan siang untuk Nona Mira, sesuai perintah Tuan Lingga," ucap pria yang ternyata adalah asisten Lingga.
"Oh … eh, kalau gitu, silakan masuk," seru Tania.
Nicholas pun masuk ke dalam dan diikuti Tania yang mengekorinya sambil memperhatikan pria tersebut.
Mira nampak lega saat mengetahui jika yang datang adalah Nicholas. Dia pun kembali tenang dan bersikap biasa saja.
"Selamat siang, Nona. Saya bawakan pesanan Anda," ucap Nicholas.
"Ehm … terimakasih, Nick. Maaf sudah merepotkan," ucap Mira.
Nicholas berjalan menuju ke meja makan, dan dan meletakkan semua barang bawaannya di sana. Tania masih saja mengekor dan memperhatikan Nicholas.
"Ehm … maaf, Tuan Nicholas …," ucap Tania.
"Nick. Panggil saya Nick saja, Nona," sela Nicholas.
"Oh, baiklah, Nick. Aku tania, dan jangan panggil Nona," sahut Tania.
"Baiklah, Tania," awab Nicholas.
"Maaf ya, Nick. Aku tadi lama membukakan pintu untukmu. Soalnya, pas aku lihat di lubang pintu, tidak ada orang di sana, jadi ku biarkan saja," ujar Tania.
"Aku? Tidak kok. Aku baru saja ketuk pintu sekali, dan kamu langsung membukanya. Makanya tadi aku sempat terkejut," tutur Nick.
Tania seketika membulatkan matanya mendengar perkataan Nicholas barusan.
"Ja … jadi, kamu baru saja sampai dan baru mengetuk pintu tadi yang langsung kubuka?" tanya Tania.
Nicholas mengangguk. Tania dan Mira saling melempar pandangan. Kedua wanita itu tiba-tiba meremang mendengar penuturan sang asisten tersebut.
Itu pasti dia. Pasti, batin Mira.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf, kemarin mau post malam eh ketiduran😅maaf yah🙏
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁