
Seminggu telah berlalu semenjak peristiwa yang mengerikan itu. Bayangan akan kehilangan calon anaknya, masih membayangi Mira sampai detik ini.
Lingga merasa telah gagal melindungi miliknya yang berharga. Dia terus saja merutuki ketidak mampuannya dalam menghalangi Soraya dan Erik menyebabkan semua kekacauan itu.
Mira memang selalu menyembunyikan kesedihannya dari Lingga, namun pria itu selalu bisa melihat kabut di mata bening wanitanya.
Si primadona paradise fall terlihat masih lelap dalam tidurnya. Lingga terus saja menemaninya hingga tak peduli lagi dengan ambisinya untuk menjalankan bisnis kelas Eropa yang selalu ia impikan.
Tangannya terus menggenggam tangan Mira, hingga ia tertidur dalam posisi duduk, sambil menelungkupkan kepalanya di samping ranjang Mira.
Tiba-tiba, sebuah panggilan masuk mengusik lamunannya. Dia pun meraih ponsel yang berada di atas nakas.
Tertera jelas nama penelepon di layar gawainya.
“Riri?” gumam Lingga.
Dia pun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah balkon. Pria itu kemudian menggeser tombol hijau ke kanan untuk menerima panggilan tersebut.
“Halo, Ri. Kenapa?” sapa Lingga.
“Dasar anak nakal! Kenapa kejadian seheboh ini bisa terjadi di tempat tinggalmu, hah?” pekik suara di seberang.
Lingga seketika menjauhkan ponselnya dari telinga, untuk Menghindari rusaknya gendang di indra pendengarannya.
“Kenapa nenek sihir itu yang bicara sih? Dasar Riri tukang ngadu,” gerutu Lingga.
Dia kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya, saat tak lagi mendengar teriakan dari seberang.
“Ada apa sih, Bu? Tiba-tiba langsung teriak gitu?” keluh Lingga kepada Ibunya, Aletta Wijaya.
“Kamu yang ada apa! Siapa wanita itu? Kenapa dia bisa ada di dalam apartemenmu? Dan lagi, kenapa kamu sampai terlibat dengan aksi premanisme sih?” cecar Aletta panjang lebar.
“Satu-satu tanyanya, Bu. Aku bingung tau mau jawab yang mana dulu,” sahut Lingga malas.
“Dasar anak nakal. Selalu saja bikin pusing orang tua. Kemarin masalah sama wanita, sekarang sama preman. Mau jadi apa kamu, Ar? Ingat, kamu itu anak laki-laki satu-satunya di keluarga Wijaya. Seharusnya kamu jaga sikap di luaran sana. Bukannya malah jadi begini,” gerutu Aletta kesal.
“Siapa dia, nanti akan ku bawa dia ke negeri panda untuk menemui mu dan menjelaskan semuanya, setelah masa pemulihannya selesai. Untuk sekarang, aku hanya bisa mengatakan hal itu saja, Bu,” jawab Lingga.
“Tidak perlu. Sekarang juga ibu sedang menuju ke rumah sakit tempat dia dirawat,” seru Aletta.
Lingga membelalakkan matanya karena tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita yang telah melahirkannya itu.
“Ti... Tidak usah, Bu. Biar nanti aku yang bawa dia ke sana,” ujar Lingga.
“Telat, Kak. Kita sudah hampir sampai. Mami langsung minta terbang ke mari, saat mendengar kabar soal Kakak dan Mira dari mata-mata Mami. Aku coba hubungi Kakak, tapi nggak pernah diangkat. Jadi ya, gimana lagi. Tuh, rumah sakitnya sudah kelihatan,” Bisik Cheria yang kembali mengambil alih ponselnya.
__ADS_1
Lingga tampak mengacak rambutnya. Dia khawatir jika ibunya sampai tau semua tentang Mira, dan menolaknya mentah-mentah untuk dijadikan menantu.
“Mati aku. Gimana ini? Mana Mira masih tidur lagi,” gumam Lingga yang nampak panik.
Pria itu kemudian bergegas keluar dari ruang rawat Mira, bermaksud untuk menghadang jalan ibu serta adiknya, sebelum berhasil sampai di ruangan tempat wanitanya berada.
Dia berlari menuju ke arah lift, namun terlambat, karena lift baru saja pergi. Dia pun berbalik dan hendak menuju ke arah pintu darurat.
Akan tetapi, sebuah suara memanggilnya dan membuat kakinya berhenti.
“Kak Arya!” pekiknya.
Lingga berbalik dan betapa terkejutnya dia, saat melihat adik dan juga ibunya baru saja keluar dari dalam lift.
Dia kemudian bergegas menghampiri kedua wanita itu.
“Bu, tolong jangan buat ribut di sini. Aku mohon. Dia sedang sakit. Batinnya juga masih terguncang. Aku mohon, Bu,” pinta Lingga.
Aletta menatap datar wajah putranya. Keningnya sedikit berkerut saat melihat betapa gigihnya Lingga melindungi wanita asing itu.
Se istimewa apa dia? Sampai-sampai Arya begitu peduli padanya, batin Aletta.
Melihat ibunya diam saja, Lingga memberikan kode dengan matanya, agar Cheria membujuk wanita itu untuk pergi.
“Ehm... Mi, sebaiknya kita jangan buat ribut di sini deh, Mi. Lagian juga ini kan rumah sakit. Nggak enak kalau sampai ganggu pasien yang lain,” bujuk Cheria.
“Ri, apa kamu pikir Mami mu ini bodoh? Ini bangsal VIP, semua ruangan kedap suara. Jadi, nggak akan mungkin ada suara yang masuk atau keluar dari dalam dan luar ruangan. Mengganggu bagaimana? Alasan kalian saja,” keluh aletta.
“Bu, sebaiknya ibu ke apartemen ku dulu. Nanti aku akan jelaskan semua sama ibu. Tolonglah, Bu,” bujuk Lingga.
“Hah... Baiklah. Ayo kita ke hotel saja, Ri,” seru Alettta sambil berbalik dan berjalan pergi.
Cheria nampak hendak menyusul sang ibu, namun tangannya ditarik terlebih dulu oleh Lingga.
“Apa kamu sudah kasih tau ibu soal siapa dia?” tanya Lingga.
Cheria menggeleng.
“Baiklah. Tetap seperti itu dulu. Biar nanti aku saja yang jelaskan sama Ibu. Kamu jagain ibu ya,” pesan Lingga.
“Riri, ayo cepat!” teriak Alettan yang sudah berdiri di depan pintu lift.
“I ... Iya Mi,” sahut ceria.
Lingga melepaskan lengan sang adik, dan membiarkannya menyusul Ibu mereka yang nampak begitu kesal.
__ADS_1
Lingga melihat kepergian kedua wanita itu menghilang di balik lift. Dia mengusap wajahnya kasar, dan berakhir dengan berkacak pinggang.
Pria itu terlihat berbalik berjalan kembali ke arah ruang rawat Mira. Saat dirinya masuk ke dalam, nampak wajah pucat wanita yang begitu dicintainya, masih memejamkan mata di atas ranjangnya.
Dia duduk di samping wanitanya, dan meraih tangan lembut yang terlihat semakin kurus itu.
Dia menempelkan di pipinya, dan menyalurkan kehangatan satu sama lain.
“Mir, aku pasti akan perjuangin kamu. Aku nggak akan lepasin kamu lagi seperti dulu. Apapun taruhannya, apapun yang harus aku lepas, aku akan selalu memilihmu,” bisiknya.
Lingga memejamkan matanya, meresapi hangatnya sentuhan kulit Mira di pipinya.
Dia tak melihat, jika setetes bulir bening, jatuh dari sudut mata wanita itu.
...💋💋💋💋💋...
Keesokan harinya, Lingga meminta sang asisten, Nicholas untuk menjaga Mira di rumah sakit. Meskipun Erik dan Soraya sudah diamankan, namun Lingga masih trauma atas kejadian sebelumnya, dimana Mira tiba-tiba menghilang dan berakhir dalam penyekapan.
“Kamu mau ke mana, Kak?” tanya Mira pagi itu.
“Aku ada urusan sebentar. Kamu di sini sendirian nggak papa kan? Nanti aku minta Nick suruh Tania ke mari,” jawab Lingga.
“Penting banget yah?” tanya Mira.
Lingga mendekat dan mengusap lembut surai hitam Mira.
“Sangat penting, Sayang ... Ini tentang masa depan kita ..., “ Sahut Lingga yang dilanjutkan dalam hati.
“Ya udah. Kamu hati-hati ya. Semoga berhasil,” ucap Mira tersenyum.
Lingga pun tersenyum tipis melihat wanitanya yang selalu berusaha tegar di depannya, meski pun dia sangat tahu betul, bagaimana hatinya saat ini.
“Aku tinggal dulu ya,” pamit Lingga.
Mira hanya mengangguk.
Pria itu pun pergi dan menitipkan Mira kepada Nicholas dan anak buahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Finally, bisa update juga..maafkan othor yang bolos update kelamaan🤧🙏🙏🙏🙏
kali ini aku akan tamatin biar nggak bikin kalian penasaran. sekali lagi maafkan othor ini🙏dan terimakasih buat yang masih favoritin novel ini🤧