Mirage

Mirage
Sebuah pesan


__ADS_3

Mira terbangun, dan tak mendapati Lingga di sampingnya. Ia menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


"Ehm … di mana si maniak itu?" gumam Mira sambil melihat ke sekelilingnya.


Ia lalu bangun dari tidurnya, dan berjalan menuju keluar kamar. Ia mendengar suara gaduh di dekat dapur, dan melangkah mendekati asal suara.


Ia mengintip dari balik tembok, dan ternyata Lingga yang menciptakan kegaduhan tersebut. Pria itu tengah berkutat dengan wajan dan kuali, sambil mencampur berbagai bahan dan bumbu ke dalamnya.


"Selamat pagi," sapa Mira yang kemudian berjalan mendekati pria itu.


"Pagi," jawab Lingga singkat.


"Sedang masak apa, Tuan?" tanya Mira.


"Aku membuatkan mu sup dan ayam kecap. Apa kau suka?" tanya Lingga sambil menoleh ke arah Mira.


Pria itu tiba-tiba saja tertegun melihat penampilan Mira kala itu. Rambut acak-acakan dan muka bantalnya, terlebih lagi kemeja kedodoran yang dipakai Mira, membuat Lingga sulit menelan salivanya.


Cepat-cepat, Lingga menyadarkan dirinya, agar tak semakin tergoda dengan si ratu es itu.


"Ehm … sepertinya enak," ucap Mira dengan santainya.


"Ehem … sebaiknya, kau mandi dan ganti baju. Aku sudah mengambilkannya untukmu," ucap Lingga sambil memalingkan wajahnya dari Mira.


"Di mana?" tanya Mira.


"Di sofa yang ada di kamar," jawab Lingga singkat.


Mira pun segera naik kembali ke atas meninggalkan Lingga.


"Hah … kenapa dia sembarangan sekali berpakaian di depan pria sih. Bikin tidak tenang saja," keluh Lingga yang mengelus-elus dadanya.

__ADS_1


Dia pun kembali melanjutkan acara masaknya, sambil menunggu Mira selesai mandi dan bergantin pakaian.


Sekitar empat puluh menit kemudian, Mira telah kembali ke lantai bawah menghampiri Lingga di meja makan.


Semua hidangan telah tersaji di sana. Lingga pun tengah duduk menunggu Mira, sambil mengecek email yang masuk dari macbook-nya.


"Kau sudah selesai?" tanya Lingga.


"Seperti yang Anda lihat," jawab Mira datar.


Mira mengenakan sebuah sweeter dengan kerah tinggi hingga menutupi leher, dengan celana jeans panjang selutut yang tentunya atas pilihan Lingga.


Tanpa make up dan tanpa aksesoris, Mira terlihat cantik secara alami.


"Ayo makan. Aku harus berangkat ke kantor setelah sarapan," ucap Lingga.


Mira tak menyahut. Dia hanya makan, dan tak mengeluarkan suara sama sekali hingga sarapan mereka selesai.


Hari ini dia akan cukup sibuk, mengingat rencana jangka panjang yang ia susun untuk merambah pasar eropa.


Banyak meeting dengan beberapa orang penting, untuk memperlancar tujuannya yang mungkin baru akan terwujud beberapa tahun kedepan.


Sebuah langkah besar dan beresiko yang ia ambil, demi tujuannya kembali ke tanah air, memegang kepemimpinan di pusat, dan menemani Mira selamanya.


Itu adalah salah satu janjinya kepada para dewan direksi, ketika mereka mencoba menolak kehadiran Lingga di tanah air.


Siang itu, Lingga sedang berada di tengah rapat. Ia menitipkan ponselnya kepada sang asisten, Nicholas. Rapat ini terbilang penting, hingga tak bisa seenaknya membuka ponsel bahkan hanya sekedar untuk melihat pesan.


Seusai rapat, Nicholas mengembalikan ponsel bosnya, dan memebritahukan jika ada pesan dari Thom.


"Tuan, tadi ada beberapa panggilan dari Tuan Thomas, dan juga sebuah pesan. Maaf, saya tidak sempat menerimanya, karena terlalu fokus pada acara rapat tadi," tutur Nicholas, yang memang bertugas sebagai operator saat rapat berlangsung.

__ADS_1


"Baiklah. Kau boleh istirahat," ucap Lingga yang kemudian duduk di kursi kerjanya.


Pria itu lalu membuka ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan masuk dari Thom.


"Lima puluh tiga panggilan? Ada hal penting apa sampai Thom menelponku sebanyak itu?" gumam Lingga.


Ia pun lalu membuka pesan chat dari rekan bisnisnya tersebut, dan Lingga seketika terlonjak kaget, dengan mata membulat sempurna.


"Tuan, Mira dalam bahaya. Cepat cegah dia memakai mobilnya!"


Setelah membaca pesan dari Thomas, Lingga segera keluar dari gedung kantornya, dan mengendarai mobilnya menuju apartemen.


Ketika hampir sampai, Lingga berhenti di perempatan karena lampu sedang merah. Saat itu lah, ia melihat mobil Mira meluncur ke arahnya, dan menerobos lampu lalu lintas, hingga sebuah truk besar menghantamnya dari sisi kanan.


BRAK! SRAAAAAK! DUM!


"MARIIIIIIII"


.


.


.


.


Nah lho😱😱😱😱😱ada apa ini😱😱😱😱😱😱


Tunggu next eps besok ya guys🤔


jangan lupa like dan komen di bawah😊

__ADS_1


__ADS_2