Mirage

Mirage
Lepaskan dia!


__ADS_3

Iring-iringan mobil tengah berdatangan dan mengepung sebuah gudang di area pelabuhan dari berbagai arah. Keluar beberapa orang pria dari mobil paling depan yang berhenti tepat di depan pintu masuk, dan memberi komando kepada semua yang datang.


Nampak Lingga berjalan sambil mengambil sesuatu dari balik jasnya, dan berjalan di belakang anak buah Nicholas yang menyisir jalan di depan.


Saat pintu didobrak, terlihat banyak pria berpakaian serba hitam yang tengah berjaga di dalam. Pertempuran antara dua kubu pun terjadi.


Bak pertarungan antar gengster, semuanya maju menyerang dengan menggunakan senjata yang dimiliki masing-masing.


Lingga dan Nicholas memilih berdiri di belakang sebuah pilar besar dan membidik satu persatu orang-orang dari pihak lawan. Anak buah Nicholas yang memegang senapan laras panjang, terus mencoba membuka jalan untuk kedua bos mereka.


Setelah berhasil melumpuhkan para penjaga di bagian depan, mereka kemudian bergerak masuk dan mencari di mana tempa Mira disekap.


Baku hantam kembali terjadi saat mereka sampai di sebuah ruangan yang dijaga oleh beberapa orang.


"Mira pasti di situ. Cepat buat jalan agar aku bisa masuk!" seru Lingga.


Semuanya pun mulai kembali bertarung. Lautan darah tak lagi dihiraukan. Luka tembak, luka sayatan bahkan mayat yang tergeletak pun tak lagi dipedulikan.


Tujuan mereka malam itu hanya satu, menyelamatkan Mira.


Setelah berhasil melumpuhkan penjagaan dia depan, seorang anak buah Nicholas menendang pintu hingga jebol.


Tepat saat itu, Mira tengah ditodong senjata api oleh seorang wanita bergaun hitam. Lingga murka, dia pun maju tanpa peduli jika di dalam ruangan itu ada banyak penjaga.


CRAS!


Sebuah sayaran mengenai lengan kirinya. Dia pun menoleh dan seketika menembakkan pelurj dari senjatanya ke arah si penyerang. Semuanya masuk dan menodongkan senjata mereka.


Soraya nampak panik. Dia tak habis pikir jika dia akan kembali gagal menyingkirkan Mira dari dunia ini.


"Si*l! Serang mereka!" perintahnya kepada semua anak buah yang tersisa.


Namun, karena kalah jumlah, dengan mudah Lingga dan pasukan Nicholas pun berhasil membekuk semuanya dan meninggalkan Soraya seorang diri.


"Letakkan senjata Anda di bawah, dan angkat tangan Anda," seru Nicholas.


Lingga maju selangkah dari semua pasukannya, dan menatap tajam ke arah janda Thomas itu.


"Sebaiknya kalian menyerah. Dan untuk Anda Nyonya Wiratmaja, ikut kami ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu terhadap Mira.


Soraya tak berkutik. Dia sudah terkepung, dan hanya bisa balas menatap tajam ke arah Lingga dan semua pasukan yang ada di hadapannya.


"Tidak semudah itu, Tuan!" ucap seseorang yang mereka lupakan.


Erik. Pria licik itu memilih mundur saat mendengar keributan yang terjadi di luar, dan merencanakan serangan balasan yang bisa saja menguntungkannya.


Dia saat ini sudah berada di belakang Mira dan tengah meletakkan pisau di depan leher wanita itu.


Lingga pun terkejut akan hal itu. Sedari tadi dia tak menangkap keberadaan Erik, karena kakak tiri Mira itu bersembunyi di sudut gelap ruangan. Begitu soraya tersudut, dan semua fokus pada janda itu, dia keluar dan mendekat ke arah Mira yang masih terikat di kursinya.


"Suruh mereka meletakkan senjata di lantai. Cepat!" perintah Erik sambil mengeratkan rangkulannya yang membuat Mira meringis kesakitan.


"Jangan sakiti dia!" pekik lingga yang tak bisa tenang melihat wanitanya terancam.


"Kalaj begitu, cepat suruh mereka buang senjata ke lantai," seru Erik.


Lingga menoleh ke arah Nicholas, dan menganggukkan kepalanya. Sang asisten pun memberi kode pada anak buahnya agar meletakkkan semua senjata yang ada di tangan mereka ke lantai.


"Heh, kalian! Cepat punguti semua senjata mereka. Janhan sampai ada yang tersisa," seru Erik kepada anak buah Soraya yang masih bisa bergerak.


Janda Thomas itu pun menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, dan mengambil kembali senjata yang sempat ia lempar.

__ADS_1


"Ternyata, aku tak salah memilih orang. Kamu benar-benar bisa diandalkan, Erik!" puji Soraya.


Wanita itu pun mendekat ke arah Mira dan mengambil alih tempat Erik.


"Biar aku yang jaga dia. Kau, urus tuan muda itu sampai selesai!" seru Soraya.


"Baiklah," sahut Erik.


Erik menarik menjauhkan pisaunya dari leher Mira, saat Soraya sudah menodongkan kembali senjatanya tepat di pelipis kanan wanita hamil itu


"Jangan apa-apakan dia, pengecut!" pekik Lingga yang semakin histeris.


"Kak," panggil Mira lirih.


Wanita itu sudah tak tau lagi harus berbuat apa. Nasibnya sudah benar-benar di ujung tanduk.


Mungkin, ini adalah akhir dari hidupku. Mungkin, ini lah ujung dari semua kemalangan yang menimpaku. Tapi, biarkan pria itu pergi dari sini, batin Mira.


Dia sudah pasrah dengan nasibnya. Namun, satu hal yang menjadi doanya, yaitu agar Lingga bisa selamat dan keluar dari tempat itu.


Erik maju menghadapi Lingga. Dia nampak memandang dengan tatapan mengejek.


"Tuan muda, asal kau tau ya, Aku ini bukan seorang pengecut. Aku akan berikan kamu kesempatan unuk menyelamatkan wanita dan anak yang dikandungnya itu. Ayo kita bertarung satu lawan satu, dengan senjata yang kita pegang saat ini," seru Erik.


Lingga menatap geram ke arah pria di depannya itu.


"Kau licik! Dari awal, kau memang tak menginginkan pertarungan yang adil kan. Aku sudah tak memegang senjata apapun, dan kau masih punya sebuah pisau di tanganmu," ucap Lingga dengan sinis.


"Yah, itu resikonya. Kalau kamu menolak, ucapkan selamat tinggal untuk calon istri dan juga anaknya. Hahahahhaha …," tawa Erik menggelegar di dalam ruangan itu, membuat emosi Lingga semakin memuncak.


"Bajingan!" maki Lingga.


Hanya pukulan dan tendangan yang Lingga punya, sedangkan Erik berkali-kali mencoba menghunuskan pisaunya ke bagian vital lawan.


Lingga yang memiliki dasar bela diri sebagai bekal calon penerus perusahaan besar pun, sedikit banyak bisa menghindari serangan-serangan berbahaya dari Erik yang terus menargetkan perut maupun dadanya.


Erik yang mulai kewalahan menghadapi Lingga yang terus saja bergerak lincah, akhirnya memberi kode kepada salah satu anak buah Soraya untuk membidik pria yang tengah bertarung dengannya.


Dia mengarahkan pandangannya ke bawah, tepat di kaki Lingga.


DOR!


Aaarrrgghhh!


Suara tembakan yang disertai teriakan Lingga terdengar menggema di dalam rungan itu.


"Kaaaaak!" pekik Mira yang melihat prianya nampak kesakitian.


"Kalian curang!" maki Nicholas.


"Lu licik, Kak! Jangan sakitin dia, aku mohon!" jerit Mira.


"Heh, berisik! Diem aja deh!" hardik Soraya yang semakin menekan laras pistoknya ke pelipis Mira.


"Kalian benar-benar licik!" maki Mira.


"Hahahaha … apa kalian pikir, kita beneran bakal biarin kalian pergi dari sini hidup-hidup hah? Jangan mimpi!" ucap Erik terbahak dan disambut oleh semua yang ada di sana termasuk Soraya.


Saat itulah, Erik lengah dan Lingga bangkit menyerang lengan pria itu hingga pisau yang dipegangnya jatuh.


Lingga membanting Erik ke lantai dan meraih pisau yang tadi terjatuh tak jauh dari tempatnya.

__ADS_1


CRAS!


CRAS!


CRAS!


CRAS!


Aaaarrrrgghhhh!


Empat kali sayatan diberikan Lingga di masing-masing pergelangan kaki dan tangan Erik, untuk memutus urat syaraf pria itu, dan membuatnya menjadi lumpuh.


Lingga tak berniat membunuh Erik, karena dia lebih ingin jika pria itu merasakan pembalasan yang setimpal.


Erik pun mengerang kesakitan.


Soraya mulai ponik melihat rekannya itu sudah tumbang.


Lingga bangkit, dan mencoba untuk berdiri. Namun, kakinya yang tadi sempat tertembak, membuatnya kesulitan untuk bangun.


"Kak!" panggil Mira.


Wanita itu sudah berlinang air mata melihat kekasihnya tengah kesakitan.


"Apa kau merasakan sakit? Sepertinya aku harus membunuh pria itu terlebih dulu, agar kau lebih tersiksa dan memohon untuk segera menyusulnya mati," ucap Soraya di belakang telinga Mira.


Si ratu es pun seketika menoleh ke belakang, namun Soraya kembali mendorong pelipis Mira menggunakan moncong peluru.


"Tolong, biarkan dia pergi dari sini. Urusanmu hanya dengan ku. Aku mohon," pinta Mira.


"Hahahahaha … benar kan. Lihat reaksimu. Akan lebih menrik jika pria itu yang mati lebih dulu," ucap Soraya.


Wanita itu pun maju ke depan, dengan Mira yang ada di sisi belakang samping kirinya.


Semua pasukan Nicholas seolah lumpuh. Saat Mira ditodong pisau oleh Erik, mereka menyerahkan semua senjata kepada pihak musuh. Bahkan sekarang, saat bosnya ditodong pistol oleh Soraya, mereka pun tak bisa bergerak karena takut akan lebih membahayakan Lingga dan Mira.


Soraya mengangkat senjatanya, dan mengarahkannya ke arah Lingga. Mira terus berusaha melepaskan diri. Namun, ikatannya di kursi sangat kencang.


Namun, kakinya masih bebas bergerak karena tak terikat, dan memungkinkan dia untuk bisa melompat.


Saat Soraya menarik pelatuknya, Mira seketika melompat ke arah wanita itu, hingga keduanya pun terjatuh.


DOOOOR!


Pelatuk yang sudah terlanjut ditarik pun terlepas dan melesatkan sebuah proyektil peluru di dalamnya.


.


.


.


.


Nah lho, telat lagi😫🙏maaf kemarin nggak up, soalnya ada yang minta tahun baru bakar-bakaran😅maaf ya guys🙏


Sambil nunggu si nyai up, bisa kok mampir ke novelku yang lain😊



Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2