
“Aku akan berangkat empat hari lagi,” Ucap Nicholas.
“Maksudnya?” tanya Tania yang terus memakan buah segar potong yang tersaji di atas meja.
Pria itu nampak meneguk habis minuman, yang tadi dituangkan oleh Tania. Ladies itu pun kembali menuang minuman ke dalam gelas kosong tersebut.
“Tugasku adalah mengikuti ke mana pun atasan ku pergi. Empat hari lagi, Tuan Lingga dan Nona Mira akan berangkat ke Perancis. Aku juga akan pergi ke sana bersama mereka,” tutur Nicholas.
“Lalu?” Tanya Tania acuh.
Nicholas nampak kembali meneguk minumannya hingga tandas. Dia kemudian meletakkan gelas ke atas meja dengan sedikit hentakkan.
“Ikutlah denganku?” ucap Nicholas dengan tatapan lurus ke arah Tania.
Wanita yang sedari tadi nampak tak peduli dengan perkataan Nicholas itu, tiba-tiba menoleh dengan kedua bola mata yang membulat. Bukan tanpa alasan dia bersikap acuh, pasalnya, selama beberapa bulan ini, selama menemani Mira atas perintah Lingga, dia mencoba untuk dekat dengan pria itu, namun sikap Nicholas selalu saja kaku dan datar, seolah tengah menolaknya.
Sejak pernikahan Mira dan Lingga sebulan yang lalu, mereka pun sudah sangat jarang bertemu, meski kadang Tania sengaja mengunjungi apartemen temannya, dan berharap bisa bertemu dengan Nicholas.
Namun, dia selalu tak berhasil bertemu pria yang sudah membuatnya penasaran itu, hingga akhirnya Tania hanya berakhir curhat kepada Mira akan hal tersebut. Dia bahkan sudah gak peduli lagi dengan perasaannya dengan pria itu, dan berusaha menyingkirkannya jauh-jauh.
Tapi sekarang, Tania tak menyangka sama sekali jika pria itu akan memintanya untuk ikut bersamanya ke Perancis.
Atas dasar apa? Nggak masuk akal banget kalo gue ngikut dua. Mau apa coba, batin Tania.
Tania segera memalingkan lagi wajahnya. Dia mencoba bersikap sebiasa mungkin dan ingin tahu maksud sebenarnya dari ucapan Nicholas tadi.
Dia kembali mengambil sepotong buah melon dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Kenapa juga aku harus ikut kamu? Emangnya aku mau ngapain di sana? Nggak jelas. Mending di sini aja, udah jelas ada kerjaannya,” jawab Tania ketus.
“Kamu bisa temenin Nona Mira lagi seperti sebelumnya. Pasti dia akan senang,” sahut Nicholas.
Tania terperangah dengan jawaban tersebut.
Gila aja? Gue Cuma disuruh nemenin tuh anak doang? Ogah! batin Tania kesal.
“Hah ... Maaf, Nick. Kalau Mira, aku yakin dia sudah tak butuh aku lagi buat nemenin dia. Bukankah dia sudah ada suami sekarang,” ucap Tania datar.
“Tapi ...,” sahut Nicholas.
__ADS_1
“Udah ya, Nick. Malam masih panjang. Masih banyak tamu yang harus di layani. Aku sibuk. Sebaiknya kamu segera pulang dari pada nanti mabuk di sini,” sela Tania.
Dia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Nicholas, yang tak percaya dengan reaksi Tania.
“Kalau aku?” pekiknya.
Tania masih terus berjalan pergi, dan membuat Nicholas bangkit berdiri.
“Kalau untuk temani aku bagaimana?” pekiknya lagi.
Tania berhenti tepat di ambang pintu yang sudah terbuka lebar. Dia menoleh dan melihat jika pria itu berjalan menghampirinya.
“Ikut dan temani aku di sana. Apa kamu bersedia?” tanya Nicholas lagi.
“Kenapa juga aku harus menemanimu? Bukankah kamu nggak peduli sama sekali dengan ku,” jawab Tania.
“Aku tau kalau sikap ku sama kamu terlalu acuh. Aku hanya merasa, kamu itu terlalu mengganggu. Tapi sebulan ini, selama aku sibuk mengurus pendaftaran kuliah Nona Mira di sana, aku merasakan ada yang hilang. Hari-hariku hampa, dan aku pun bingung kenapa.”
“Saat aku kembali ke mari, aku sempat menemui tuan Lingga di apartemennya, dan kamu tahu apa yang aku ingat? Kamu. Aku seketika sadar kalau Aku kehilangan wanita cerewet yang selalu mengganggu ku. Aku juga nggak tau kenapa bisa begitu. Aku memang selalu seperti itu dengan lawan jenis. Aku beda dengan Tuan Lingga yang punya segudang pengalaman tentang wanita. Tapi yang aku tahu jelas, aku ingin kamu selalau ada di sekitarku, dan menggangguku setiap saat,” ungkap Nicholas panjang lebar.
Tania tak percaya jika pria kaku di hadapannya itu bisa bicara seperti tadi. Dia sampai mengedipkan berkali-kali kelopak matanya, karena sangking tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.
Wah.... Apa gue udah mabook se sore ini? batin Tania.
“Maukah kamu ikut dengan ku? Menemaniku di sana?” tanya Nicholas memastikan.
Tania melepas genggaman tangan pria itu dengan perlahan, dan melipat keduanya di depan dada.
“Ehem ... Berapa?” tanya Tania.
Nicholas mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan tak jelas itu.
“Berapa uang yang kamu punya? Harga ku mahal. Jika kamu hanya minta gratisan, aku nggak mau. Banyak pria yang ingin menikmati ku dan rela membayar mahal atas itu semua,” jawab Tania dingin.
“Aku akan menebusmu, seperti yang dilakukan Tuan Lingga kepada Nona Mira. Aku punya cukup uang untuk melakukan itu,” sahut Nicholas.
“Wah, jadi tuan asisten ini kaya juga ya. Lalu, kalau kamu nebus aku, berarti aku pengangguran dong,” ucap Tania.
“Cukup temani aku, dan apapun yang kamu mau, akan ku berikan,” seru Nicholas.
__ADS_1
“Oh ya? Boleh aku minta DP di sekarang?” tanya Tania.
Nicholas berbalik dan mengambil ponsel yang ada di atas meja. Dia duduk kembali di sofa, sedangkan Tania mengikutinya dan duduk di atas meja, tepat di hadapan pria itu.
Tania bingung dengan apa yang akan dilakukan Nicholas selanjutnya, saat dirinya minta uang muka saat ini juga.
“Aku akan transfer ke rekeningmu. Berapa yang kamu mau?” tanya Nicholas yang ternyata tengah membuka layanan m-banking.
Tania melongo. Dia tak percaya jika pria itu akan benar-benar melakukannya. Si ladies pun tertawa karena melihat kekakuan Nicholas.
“Kenapa tertawa? Aku serius menanyakannya. Kamu kira aku nggak sanggup. Cepat katakan berapa?” Tanya Nicholas.
Tania menghentikan tawanya, dan menatap lekat mata hitam keabu-abuan itu. Dia meraih dasi yang menempel di leher Nicholas, dan memainkannya dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba, dia menarik benda panjang tersebut, dan membuat Nicholas mendekat ke arahnya. Dia memiringkan wajahnya hingga bibir mereka pun menempel satu sama lain.
Pria itu terlihat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Tania. Dia membelalak dan hanya bisa diam dengan kedua tangannya yang terangkat ke atas.
Tania memaagut bibir atas dan bawah Nicholas hingga basah, dan memberikan gigitan kecil, hingga membuat pria itu membuka mulutnya.
Dengan cepat, lidah wanita itu menerobos masuk dan menyapa Nicholas di dalam sana.
Tania merasakan jika gerakan pria itu sungguh kaku. Dia pun terus bermain di rongga mulut Nicholas dan megajak lidahnya menari.
Bener-bener kaku. Tapi, lucu juga reaksinya, batin Tania.
Cukup lama mereka berciuman, dan tangan Nicholas masih terus terangkat ke atas, tak berani menyentuh tubuh Tania sedikitpun.
Akhirnya, Tania pun melepas pagutaannya, dan menjauhkan diri dari wajah Nicholas yang memerah. Dengan ibu jarinya, Tania mengusap bibir bawah Nicholas yang basah akibat salivanya.
“Terimakasih DP-nya, Nick. Sekarang, temuilah Mom Winda,” seru tania.
.
.
.
.
__ADS_1
Cieee, Nick. Kalo di komik, banyak kembang bertebaran 🤣🤣🤣🤣
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁