
Pintu kamar mandi terbuka. Mira yang baru saja menyembulkan kepalanya ke luar, langsung dikagetkan oleh Lingga yang seketika mengangkat tubuhnya, dan membawanya menuju ke tempat tidur.
“Aaahhhh, Kak!” Pekik Mira yang kaget karena ulah sang suami.
“Kamu duduk di sini dulu. Biar aku yang ambilin baju,” seru Lingga.
“Ya, tapi.... Kak!” sahut Mira terpotong karena suaminya lebih dulu menghilang di balik pintu walk in closet.
Tak lama berselang, Lingga datang dengan membawa sebuah dress terusan panjang yang memiliki band pinggang, sehingga area perut ke bawah lebih longgar.
“Sini, aku bantu kamu pakein,” seru Lingga.
Mira seketika menahan tangan suaminya dan menatap lekat wajah prianya.
“Kenapa ditahan? Ayo aku pakein,” seru Lingga lagi.
“Kak! Sebenernya kamu lagi kenapa sih? Aku baru selesai mandi, baru mau keluar dari sana kamu langsung ngagetin aku, udah gitu gendong aku dan entah kenapa ambilin baju segala ... Terus sekarang mau bantuin aku pake baju? Lebay tau nggak. Aku cuma muntah doang, nggak sakit parah sampe nggak bisa angapa-ngapain,” keluh Mira.
Lingga yang tadi hendak melepas bath robe yang melekat di tubuh sang istri, kini diam. Dia memegang pundak Mira dan menatap lekat mata hitam menawan itu.
“Oke, aku minta maaf kalau bikin kamu bingung. Tapi, aku Cuma nggak mau kamu kesusahan. Makanya ku bantu,” ucap Lingga.
“Aku nggak papa kok, Kak. Biar aku pakai sendiri aja ya,” sahut Mira.
Lingga pun mengangguk. Dia memilih untuk menuruti sang istri dan membiarkannya mengganti pakaian sendiri. Sementara dia duduk di bibir ranjang, tepat di belakang Mira.
Setelah selesai, Mira duduk di depan meja rias dan mulai mendandani dirinya.
Lingga terus menatap lekat wajah sang istri dari pantulan cermin. Mira yang menyadari hal itu pun, balas menatap pantulan sang suami dan tersenyum ke arah pria itu.
“Aku cantik banget ya?” goda Mira.
“Ehm, cantik banget sampe aku tergila-gila,” sahut Lingga.
Mira terkekeh.
“Habis ini, kita ke rumah sakit dulu ya,” seru Lingga.
Mira seketika berbalik, dan menatap suaminya.
“Ngapain?” tanya Mira.
“Cuma mau priksain kamu aja. Aku khawatir soalnya kamu mual-mual terus. Nanti malam kan masih ada acara. Buat jaga-jaga aja,” jawab Lingga.
“Oke deh,” sahut Mira.
Dia pun kembali berdandan, dengan Lingga yang setia menunggunya.
Setelah selesai, mereka sepakat untuk pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Mira. Namun, Mira kembali dibuat bingung, saat mereka justru akan masuk ke dalam ruang praktek seorang dokter kandungan.
“Kak, kenapa ke sini?” bisik Mira.
“Udah, ikutin aja,” sahut Lingga.
__ADS_1
Dengan ragu, Mira mengikuti suaminya masuk dan duduk di depan meja dokter.
“Selamat sore, Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa dibantu?” tanya Dokter Sharon.
“Tolong periksa kandungan istri saya,” seru Lingga.
Mira menoleh ke arah sang suami, dengan kedua alis yang mengerut hampir menyatu.
Bukannya menjelaskan, Lingga justru meraih tangan Mira dan mengusapnya lembut.
“Baik. Nyonya Lingga, kapan terakhir Anda datang bulan?” tanya Dokter Sharon.
Mira pun mulai mencoba mengingat, kapan dirinya terakhir membuat sang suami berpuasa. Keningnya semakin mengkerut, seolah kejadiannya sudah begitu lama.
“Ehm, sepertinya sudah lebih dari dua bulan,” jawab Mira ragu.
“Kurang yakin yah? Baiklah, silakan Anda naik ke tempat tidur,” seru sang dokter.
Wanita itu pun menurut dan naik ke sana, ditemani oleh Lingga yang sedari tadi terus menggenggam tangannya erat.
“Kak, apa mungkin aku hamil?” tanya Mira tak yakin.
“Kita tunggu hasilnya aja yah,” seru Lingga, sembari mengusap puncak kepala sang istri yang telah berbaring dengan begitu lembut.
Dokter Sharon mulai menuang gel dingin ke atas perut bagian bawah Mira, dan perlahan menggerakkan alat sensor USG di atasnya.
Mira menegang. Tanpa disadari, dia bahkan menahan nafas, saat kulitnya mulai merasakan benda itu menekan perutnya.
“Seperti yang bisa kita lihat sama-sama di layar monitor, bahwa ada janin yang sedang tumbuh di rahim Anda. Kalau diperhatikan, usianya sudah sekitar sepuluh minggu,” jelas sang dokter.
Lingga mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Selamat, Sayang. Kamu akan jadi ibu,” ucap Lingga.
“Kak ...,” sahut Mira yang tak bisa berkata-kata lagi.
Lelehan bening mulai turun dari sudut matanya. Dia tak menyangka jika dia akan diberikan kesempatan lagi untuk mengandung seorang bayi, setelah sebelumnya dia pernah kehilangan calon anak pertamanya.
Setelah melakukan pemeriksaan USG, Mira dan Lingga benar-benar mendengarkan penjelasan dan nasehat dari sang dokter, tentang hal-hal apa saja yang perlu dan tak perlu dilakukan selama masa kehamilan di trimester pertama ini.
Mira harus bisa menjaga kondisi badannya agar tak terlalu lelah, dan pikirannya pun tak boleh terlalu banyak tekanan. Dokter mewanti-wanti kepada pasangan tersebut, agar selalu memperhatikan setiap keluhan sang ibu.
Ditambah, Mira yang sempat mengalami keguguran, membuat kehamilan keduanya ini perlu perhatian yang lebih baik lagi.
...💋💋💋💋💋...
Di tempat acara fashion show MW fashion, di ruang ganti, Mira baru saja datang ditemani oleb Lingga yang dengan posesif menuntun kemana pun sang istri berada.
“Kamu duduk di sini,” seru Lingga.
Pria itu mengambil sebuah bantal, dan meletakkannya di belakang punggung Mira, agar wanita itu merasa nyaman.
Perhatian super lebay itu terus diamati oleh Tania, yang saat itu tengah di make up oleh perias model profesional.
__ADS_1
“Kamu mau makan apa? Biar ku carikan buatmu,” tanya Lingga yang begitu perhatian dengan sang istri, lebih tepatnya melayani calon ibu dari anaknya.
“Ehm, mulutku masih pahit, Kak. Aku mau yang hangat-hangat. Sup ayam enak kali ya,” jawab Mira.
“Sup ayam? Mau yang beli atau buatan ku?” tanya Lingga.
“Beli aja. Kalau bikin nanti kamu repot lagi. Tapi minta jangan pake bawang putih ya. Aku nggak suka baunya,” jawab Mira.
“Ya udah. Aku carikan dulu ya,” sahut Lingga.
Mira hanya mengangguk.
Setelah Lingga pergi, Tania mulai bersuara, menyampaikan ocehannya tentang sikap suami dari temannya itu.
“Ceileh! Lebay amat lakik lu, Mok? Mentang-mentang habis dapet *****,” sindir Tania.
“Siapa yang *****? Orang nggak jadi kok,” sahut Mira.
“Lah, terus tadi pulang ngapain aja?” tanya Tania.
“Gue muntah-muntah di rumah. Jadinya ya tidur. Habis itu dia suruh gue buat periksa ke dokter,” jawab Mira.
“Terus kata dokter, lu sakit apa?” tanya Tania lagi.
“Gue hamil,” jawab Mira singkat.
“Hah?! Seriusan?” tanya Tania dengan mata yang membulat.
“Seriusan! Gue hamil, Puk,” sahut Mira lagi.
Tania bangkit berdiri dan membiarkan dandanannya yang belum selesai begitu saja. Dia memilih untuk menghampiri temannya, dan langsung memeluk Mira dengan erat.
“Selamat ya, Mok. Akhirnya lu bisa hamil lagi,” ucap Tania.
“Makasih ya, Puk,” Sahut Mira.
Tania mengurai pelukannya, dan menatap lurus ke arah teman se nasibnya itu. Dia mengusap lembut perut Mira yang masih rata, dengan mata berkaca-kaca.
“Baik-baik di sini ya, Nak,” ucap Tania lirih.
Mira tersenyum mendapat perlakuan manis seperti itu dari temannya.
“Elu kapan?” tanya Mira.
“Jangan tanya gue. Gue masih takut,” sahut Tania.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁