Mirage

Mirage
Di sana aku melihatnya


__ADS_3

Di ruang kerja Dokter Miranda, seorang psikiater yang mendapat janji temu dengan Lingga dan juga Mira, saat ini tengah melakukan hipnosis kepada si ratu es, untuk mengetahui sebesar apa ketakutannya yang saat ini tengah di alami wanita itu.


"Bukalah pintu itu, dan coba lihat apa yang ada di sana," ucap Miranda.


Miranda dan juga Lingga, terus mengamati dengan seksama setiap mimik wajah serta gerakan yang ditimbulkan oleh Mira, yang saat ini terlihat tengah tertidur pulas. Namun, dia masih bisa mendengar dan melakukan apa yang dikatakan oleh Miranda seorang.


"Apakah yang kau lihat adalah bunga? Jika iya, anggukan kepala sekali," seru Miranda untuk yang kesekian kali.


Mira mengangguk pelan, dengan kedua matanya yang masih tertutup. Tubuhnya tampak begitu nyaman dan tenang.


"Apakah itu bunga mawar? Bunga mawar yang banyak?" tanya Miranda.


Mira kembali mengangguk pelan.


"Kenapa kau bisa tau?" tanya Lingga penasaran.


Miranda mengalihkan pandangannya ke arah Lingga, yang duduk di seberangnya.


"Saya bisa mengetahuai karakter, dan kegemaran dari seseorang, bahkan sejak pertama kali melihat orang tersebut, hanya dari penampilannya. Untuk Nyonya Mira yang terlihat begitu cantik dan elegan, dan menyukai dandanan dengan lipstik yang berwarna terang dan berani, saya bisa tau jika mawar adalah bunga kesukaannya," ungkap Miranda.


Lingga nampak manggut-manggut saat mendengar penjelasan dari si psikiater. Mereka pun kembali menoleh ke arah Mira, dan fokus pada setiap gerakan dan ekspresi yang dilakukan oleh wanita itu.


"Nonya Mira nampak begitu tennag. Itu berarti, sampai saat ini, dia sedang melihat hal yang ia sukai," tutur Miranda.


Namun, beberapa saat kemudian, Mira nampak mengerutkan keningnya. Wajahnya yang sedari tadi tenang, kini terlihat ketakutan. Ia mulai menggeliat tak tenang, dan menggumamkan sesuatu.


"Nggak … nggak mungkin … Kenapa dia ada di sini?" gumam Mira yang semakin erat menggenggam tangan Lingga, yang sedari tadi memeganginya.


"Mira, apa yang Anda lihat saat ini?" tanya Miranda.


"Kak Erik! Itu Kak Erik. Aku harus lari," ucap Mira.


wajahnya semakin terlihat ketakutan. Peluh mulai keluar dari pelipisnya, dan pegangannya semakin erat, hingga Lingga merasakan sakit. Namun, pria itu mencoba menahannya, karena saat ini Mira lebih membutuhkan dirinya.


"Coba hadapi dia. Anggap dia hanya sebuah bayangan," seru Miranda.


"Tidak … Aku harus lari … Kak arya, tolong aku, Kak …," ucap Mira yang begitu gelisah di dalam tidurnya.


"Aku di sini, Mir. Kamu akan baik-baik saja," ucap Lingga.


"Dia tidak akan mendengar suara Anda, Tuan. Percuma. Sebaiknya kita akhiri saja dulu sampai di sini," ucap Miranda.


"Kak Arya … tolong aku, Kak … tolong aku … Kak Arya …," rintih Mira lirih.


"Mira, dengar kata-kataku. Pada hitungan ketiga, Anda akan bangun. Satu, dua, tiga." Miranda menjentikkan jarinya.


"KAK ARYAAAAA," pekik Mira yang seketika membuka matanya.


"Mir. Mira, kamu nggak papa?" tanya Lingga yang begitu lega melihat wanitanya sudah bangun.

__ADS_1


Mira langsung terduduk, dengan nafas yang begitu cepat. Degupan jantungnya seakan berkejaran. Ketakutan bahkan rasa sakit dari duri yang menyayat-nyayat kulitnya pun masih terasa.


Dia menoleh ke arah Lingga yang masih setia di sisinya. Genangan muncul, dan meleleh begitu saja di pipinya.


"Kak," panggil Mjra yang mulai terisak.


Lingga pun bangkit dan berdiri di samping Mira. Dia mendekap wanitanya, dan mencoba mengurangi rasa takut yang dialami si ratu es.


"Ssstttt … ssssttt … tenang. Sudah tidak apa-apa. Aku ada di sini, hem," ucap Lingga sambil menepuk-nepuk pelan punggung wanitanya yang terisak.


Mira menangis meluapkan rasa takutnya atas apa yang ia alami di mimpinya dalam pelukan Lingga.


Lama mereka berpeljkan, hingga Dokter Miranda pun harus meninggalkan keduanya beberapa saat.


Sekitar dua puluh menit, Mira akhirnya bisa sedikit lebih tenang. Tangisnya mulai hilang dan hanya tersisa isakan kecil dari mulut wanita itu.


Dokter Miranda sudah kembali ke ruangannya. Dia berjalan menuju ke arah water dispenser dan mengambil segelas air minum. Dia pun kemudian duduk di kursinya. Lingga menuntun Mira untuk kembali duduk di depan meja kerja sang psikiater.


"Tuan, silakan berikan minum kepada Nyonya Mira agar sedikit lebih tenang," seru Miranda.


Lingga pun meraih gelas berisi air yang tadi di bawa oleh dokter itu, dan memberikan kepada Mira.


Wanita itu nampak meminum air tersebut hingga tandas. Mira menyeka mulutnya kasar dengan punggung tangannya.


"Terimakasih, Dok," ucap Mira.


Mira masih nampak mengatur nafasnya yang belum kunjung normal, ditambah degupan jantungnya yang sedari tadi berpacu cepat, tak juga kunjung mereda.


"Apa Anda sudah siap menceritakan apa yang Anda lihat di mimpi tadi?" tanya Dokter Miranda.


Mira terdiam. Dokter Miranda terus memperhatikan pasiennya itu.


"Bagaimana Nyonya?" tanya Miranda.


"A … aku melihatnya," ucap Mira.


"Apa yang Anda lihat?" tanya Miranda.


"Kak eErik. Ya, aku melihatnya," jawab Mira.


Pandangan si ratu es terlihat tak bisa fokus ke satu titik. Nampak jelas jika dia sedang dilanda ketakutan.


"Dimana? Apa di mimpi?" tanya Miranda lagi.


Mira seketika menggeleng dengan cepat. Jemarinya saling bertaut. Tatapan matanya terus berkejaran.


Miranda pun semakin mengejar pandangan Mira yang terlihat begitu gelisah.


"Mir," panggil Lingga sambil mengusap lembut kepalan tangan Mira.

__ADS_1


"Di mana Anda melihatnya?" tanya Miranda lagi.


"Di taman rooftop kantor Kak Arya," jawab Mira.


"Apa?" pekik Lingga yang begitu terkejut dengan penuturan wanitanya.


Miranda memberi peringatan kepada Lingga dengan jari telunjuknya, agar pria itu diam sejenak, hingga dokter itu selesai menanyai pasiennya.


"Apa Anda yakin di sana tempatnya?" tanya Miranda lagi.


"Ya, aku melihatnya di sana. Dia menatap ke arahku dan tersenyum. Itu terlihat sangat mengerikan. Dia pasti datang untuk merusak hidupku lagi seperti dulu. Aku … aku takut dia melukai anakku. Aku takut … Kak, aku takut," ungkap Mira.


Kini, Lingga tahu kenapa Mira selalu ketakutan setelah pulang dari kantornya. Dia pun tak tahan melihat wanitanya menangis lagi. Pria itu memeluk tubuh Mira yang berguncang, dan lelehan bening kembali menganak sungai di wajahnya.


Jadi, dia mengejarmu sampai sana? Kenapa bisa ada orang asing masuk? batin Lingga bertanya-tanya.


Seusai menenangkan Mira, Lingga pun pamit kepada Dokter Miranda.


"Datanglah lagi minggu depan. Kita akan coba terapinya, supaya dia bisa menghadapi ketakutannya itu," ucap Miranda.


"Baik, Dok," sahut Lingga.


Mereka berdua pun pergi dari tempat tersebut.


Di perjalanan, Lingga terus menggenggam erat tangan Mira, yang duduk di sampingnya. Sebelum pulang, Miranda memberikan obat penenang untuk Mira, agar wanita itu bisa beristirahat saat serangan cemas datang lagi.


Mira pun kini tertidur pulas. Lingga mengatur kursinya sedikit rebahan, agar Mira merasa nyaman tidur di dalam mobil.


Lingga pun menelepon seseorang, dan menempelkan hands free ke telinganya.


"Halo, Nick!" sapa Lingga.


"Ya, Tuan. Ada tugas apa menelepon saya?" sahut Nicholas.


"Cek CCTV enam hari yang lalu di sekitar taman rooftop. Cari tau apakah benar ada orang yang mengintai Mira saat dia sedang berada di taman itu?" perintah Lingga.


"Baik, Tuan."


.


.


.


.


Sudah ya, aku hari ini up 3 eps dong😎😎😎😎wow…sampe yang satunya belum ku urus demi gantiin yang kemarin😁


So, jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2