
Hari berganti, dan kelakuan teman-teman Riri semakin menjadi. Arya sampai muak jika harus berada di rumah saat mereka datang.
Dia memilih untuk pergi dan membiarkan Riri dengan teman parasitnya itu.
Suatu sore, Arya sengaja pulang sekolah telat, karena sebelumnya mendapatkan informasi dari tukang kebunnya, jika teman-teman dang adik kembali datang ke rumah.
Dia memilih menghabiskan waktu bermain futsal dengan teman sekolahnya, dari pada harus melihat tingkah urakan mereka.
Waktu itu, pukul setengah lima sore. Arya baru saja turun dari mobil dan hendak masuk ke dalam rumah. Namun, istri si tukang kebun mencegahnya dan memberitahu Arya akan sesuatu.
“Den. Den Arya,” panggil Bu Sri, istri Pak Parman si tukang kebun.
“Iya, Bu. Ada apa?” tanya Arya menoleh.
“Ehmm, anu, Den. Tadi, Non Riri ngamuk, Den,” tutur wanita tua itu.
“Ngamuk? Ngamuk gimana, Bu?” tanya Arya.
“Jadi, tadi teman-temannya kan ke sini lagi. Terus nggak tau kenapa, Tiba-tiba Non Riri ngamuk dan ngusir mereka semua dari sini,” ungkap Bu Sri.
“Terus, dia di mana sekarang?” tanya Arya.
“Sepertinya di kamar,” jawab wanita tua itu.
“Makasih ya, Bu!” seru Arya.
Pemuda itu pun segera berlari ke arah kamar dang adik dan mengetuk pintunya.
“Ri, ini kakak. Kakak masuk ya,” seru Arya.
Dia kemudian memutar gagang pintu dan membukanya. Tampak tubuh sangat adik tertelungkup di atas tempat tidur.
Arya mendekati sang adik dan semakin jelas terlihat jika pundak Riri berguncang. Dia duduk di tepi ranjang dan menyentuh bahu Riri.
“Kamu kenapa? Kok nangis? Lapar? Apa habis ditolak sama cowo?” tanya Arya sengaja menggoda adiknya.
“Kakak!” pekik Riri tak terima.
“Iya, kenapa?” tanya Arya.
“Jangan ngasal deh,” keluh Riri.
“Ya makanya bilang dong. Jadi kakak kan nggak ngasal gitu,” kilah Arya.
__ADS_1
Riri bangun dan duduk di samping kakaknya. Jelas air mata bercucuran di wajah imutnya itu. Gadi kecil tersebut, mengusap lelehan yang keluar dari hidung dan mata dengan ujung seragam yang masih dikenakan.
“Kakak bener. Mereka emang parasit,” ucap Riri.
Arya menghela nafas panjang. Ia sudah mengira jika akhirnya akan seperti ini. Pemuda itu pun mengusap lembut kepala belakang sang adik.
“Coba cerita ke Kakak. Apa yang udah terjadi?” tanya Arya.
Riri pun menceritakan semua kejadian yang membuatnya marah, hingga mengamuk dan mengusir teman-teman barunya itu.
“Kakak bener, kalau mereka Cuma manfaatin aku doang. Mereka berteman sama aku karena ada maunya. Awalnya, aku kira mereka baik karena kita sama-sama anak orang berada, tapi ternyata, kelakuan mereka lebih miris dari Mari. Bahkan, Mari nggak pernah minta macem-macem sama aku,” jelas Riri.
Arya hanya diam sambil terus mendengarkan cerita dari adiknya itu. Dia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir mungil gadis kecil di sampingnya.
“Padahal, aku udah coba baik sama mereka. Setiap mereka minta jajan, aku kasih. Setiap mereka main ke sini dan ngacak-ngacak seisi kamarku, aku biarin. Tapi tadi, aku udah nggak bisa biarin lagi. “
“Awalnya, aku nggak tau kalau pembantu... Ehm … maksud Riri, ART kita nggak bilang. Mereka sengaja minta aku buat beliin jajan di swalayan, dan saat Riri sampe, mereka semua malah udah mau pulang. Riri bilang tunggu sebentar tapi mereka kayak maksa mau pulang”
“Pas aku mau anter mereka keluar, Bibi bilang ke Riri kalau mereka tadi sempet masuk ke kamar Mami. Jadi, pas di depan pintu, Riri hadang mereka dan geledah semua tas yang mereka bawa. Ternyata benar, hampir semuanya ngambil perhiasan Mami. Aku kesel dan akhirnya ku usir mereka. Aku nggak mau temenan lagi sama mereka, Kak. Mereka jahat. Bener kata Kakak kalau mereka Cuma parasit,” ungkoa Riri.
Gadis itu kembali menumpahkan air matanya. Dia menyesal karena tidak mau mendengarkan kata-kata kakaknya.
Arya tetap diam. Dia tak mau menyalahkan sang adik yang saat ini pasti sangat menyesali perbuatannya. Dia hanya mengusap punggung Riri sembari terus mencoba menenangkan gadis kecil itu.
Namun, gerakan Arya tiba-tiba berhenti. Dia menarik kembali tangan yang sedari tadi mengusap lembut punggung sang adik.
“Kamu yakin belum terlambat?” tanytanya.
“Maksud Kakak?” tanya Riri balik.
“Mari gimana? Jangan bilang kamu udah lupain sikap mu ke dia terakhir kali?” cecar Lingga.
Riri tertegun dengan pertanyaan sang kakak yang terlihat sangat kecewa padanya. Dia tertunduk mengingat semua perkataan kasarnya pada gadis kecil, yang dulu sering menemani harinya.
“Maaf,” gumam Riri lirih.
Arya menghela nafas panjang melihat sikap sang adik yang entah itu.
“Cobalah temui dia. Katakan kalau kamu ingin minta maaf dan memang menyesal, serta mau berbaikan lagi dengannya,” ucap Arya.
Setelah mengucapkan hal tersebut, Arya mengusap surai hitam Riri dan kemudian pergi keluar dari kamar sang adik.
Namun, belum sempat Riri mencari sahabatnya, kejadian penculikan itu terjadi dan membuat mereka berdua terpaksa meninggalkan tanah air, dan meninggalkan Mari seorang diri.
__ADS_1
Arya menceritakan semua hal kepada Aletta dan membuat sang ibu terus mengawasi setiap pergerakan putri bungsunya.
Flash back off.
Saat ini, Cheria sudah berhasil bertemu dengan teman kecilnya, meski pun hubungan mereka belum kembali dekat seperti sebelumnya.
Namun, Cheria merasa bersukur karena dia bisa bertemu kembali dengannya, dan meminta maaf atas semua kejadian di masa lalu.
Hari ini, Cheria begitu sibuk dengan setumpuk dokumen yang berada di hadapannya. Dibantu oleh Jenifer, asisten yang sedari awal mengikutinya sejak menangani cabang Shine group di negeri panda, saat membantu sang ayah.
“Jen, apa masih belum selesai?” tanya Cheria yang terlihat begitu kelelahan di sore hari itu.
Jenifer nampak menghitung dokumen, yang masih menumpuk di meja depan bosnya.
“Masih ada sekitar tiga laporan lagi yang harus diperiksa, Nona,” sahut Jenifer.
“Haaaah, boleh kita rehat sebentar? Tolong kamu pesankan sesuatu yang segar dong,” seru Cheria.
“Apa yang Anda mau, Nona?” tanya Jenifer.
“Ehm, bagaimana kalau es krim stroberi dengan potongan buah stroberi segar,” jawab Cheria seraya menelan salivanya yang menggenang di rongga mulut.
“Baik. Mohon tunggu sebentar,” ucap Jenifer.
Sang asisten pun keluar dan meninggalkan nona muda itu untuk mengistirahatkan diri sejak di sofa, yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Ah... Lelah sekali. Heran, Kakak justru suka mengurus kantor yang di sini. Baru dua bulan saja aku di sini, rasanya benar-benar seperti kerja rodi. AKU CAPEEEEEEKK!” keluh Cheria.
Dia duduk dan menyandarkan punggung di sofa, dan mencoba memejamkan mata barang sejenak.
Namun tiba-tiba, seseorang masuk begitu saja, dan duduk di samping wanita itu. Cheria yang merasa terkejut pun mau tak mau kembali membuka matanya, dan melihat siapa yang berani menganggunya.
“Kamu?!” pekik Cheria.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1