
Tania terus memperhatikan Lingga yang terlihat begitu khawatir dengan kondisi Mira.
Lingga nampak mengusap lembut kening Mira dan menyingkirkan anak rambut yang ada di sana. Tiba-tiba, Lingga menoleh ke arah Tania, dan membuat ladies itu terperanjat mendapat tatapan tajam dari pimpinan shine group itu.
"Siapa kamu? Dan kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lingga menginterogasi.
"Woho … santai, Tuan. Aku bisa jelasin! Si bapuk … eh … si Mira yang telepon aku dan minta aku buat ke sini nemein dia," jawab Tania yang mencoba menghilangkan gugupnya di depan Lingga.
"Emang kamu siapa?" tanya Lingga.
"Aku? Kenalin, aku Tania. Temen kerjanya Mira," sahut Tania sambil mengulurkan tangannya ke arah Lingga.
Namun, Lingga tak meraih uluran tangan itu, dan hanya memandangnya datar.
"Temen kerja di tempat Nyonya Winda?" tanya Lingga lagi.
Tania tersenyum kecut dan menarik kembali uluran tangannya.
"Iya," jawab Tania ketus.
"Kami bukan yang namanya Sisi Sisi itu kan?" cecar Lingga.
"Sisi? Bukan lah! Aku sama dia beda. Lagian, aku udah bilang tadi kalo namaku tuh Tania. Gimana sih," keluh Tania yang kesal disamakan dengan Sisi.
"Oke, kamu tunggu di sini. Aku masih perlu denger penjelasan dari kamu, kenapa Mira bisa sampe kek gini," seru Lingga.
Pria itu kemudian menggendong Mira dan membawanya menuju ke lantai atas. Dia meletakkan tubuh wanita yang tengah mengandung anaknya itu ke atas tempat tidur dengan perlahan.
Lingga pun menarik selimut dan menutupi tubuh wanitanya hingga ke dada. Dia pun megecup singkat kening Mira dan mengusap pelipisnya dengan lembut.
"Aku sudah pulang. Sekarang istirahatlah," ucap Lingga lirih.
Dia pun kembali turun dan bergabung dengan Tania. Lingga duduk di atas karpet dan bersandar di sofa, sama seperti apa yang dilakukan Tania.
Pria itu menengadahkan kepala dan bertumpu pada sofa yang ada di belakangnya, sembari memejamkan mata.
"Ceritakan apa yang terjadi, sampai dia jadi seperti itu?" ucap Lingga.
"Aku ngvgak tau, Tuan. Yang jelas tadinya dia baik-baik aja, sampai ada yang datang dan mencari seseorang," ungkap Tania.
Lingga membuka matanya, dengan masih menumopukan kepala di sofa.
"Ada yang datang? Siapa?" tanya Lingga.
"Ya mana ku tau. Oranganya aja aneh banget. Siang-siang panas gini pake jaket item. Cakep sih, cuma dari tampangnya kaya orang nggak bener, sangar." Tania bergidik saat mengingat kembali sosok pria yang ia temui di depan pintu.
__ADS_1
"Jaket hitam?" tanya Lingga lagi.
"Iya. Tadinya ku kira dia kurir makanan, eh taunya nyari orang," sahut Tania yang kesal.
"Cari orang? Siapa yang dia cari?" tanya Lingga sambil menegakkan duduknya, dan menoleh ke arah Tania.
Pria itu seolah tengah menunggu jawaban dari wanita di sampingnya.
"Ehm … kalau ngga salah … siapa tadi ya … mi … ma … Mari … iya, Mari. Orang itu cari Mari," tutur Tania.
Lingga seketika membulatkan matanya saat mendengar ada orang yang mencari Mira dengan nama kecilnya, Mari.
Pasti orang itu. Mira pasti ketakutan karena orang itu bisa sampai di tempat ini, batin Lingga.
Tangannya tampak mengepal dan merasa geram atas semua teror yang dialami oleh wanitanya. Yang lebih membuatnya marah adalah, pelakunya adalah orang terdekat Mira.
"Apa dia sempat melihat Mira? Atau Mira sempat melihat orang aneh itu?" tanya Lingga.
Tania melihat jika pria di sampingnya terlihat begitu marah, saat dia mengucapkan nama 'Mari' tadi.
"Tidak. Mereka tidak saling bertemu. Aku yang menemui di depan pintu, tapi langsung kututup sata ku tau dia salah alamat," sahut Tania yang merasa ngeri dengan tatapan tajam Lingga saat marah.
Benar juga. Wanita ini tidak tau nama kecil Mira, batin Lingga.
Kepalan tangannya berangsur-angsur terlepas, dan dia kembali menyandarkan punggungnya di sofa.
"Ehm … ya, begitulah. Karena dia yang tanya, jadi aku jawab. Apa itu salah, Tuan?" tanya Tania.
"Tidak. Kau tidak salah." Lingga terlihat menunduk dan menumpukan keningnya pada kedua lutut.
"Aku justru berterimakasih karena ada kau di sini," lanjut pria tersebut.
Tania tak paham maksud dari perkataan Lingga, namun sekilas ia bisa menebak jika ada hal buruk yang sedang mengintai Mira saat ini.
Matahari sudah bergulir ke sisi barat, dan Tania yang merasa tugasnya sudah selesai pun pamit undur diri.
"Datanglah lagi kemari saat aku tidak ada. Aku sangat menghargai kesediaanmu untuk.menjaga Mira," ucap Lingga.
"Aku akan pertimbangkan jika ini menguntungkan," ucap Tania sambil mengemas barang-barangnya.
"Baiklah. Aku akan bayar kau satu juta sehari. Tapi tolong pastikan Mira aman dan tak ada yang mengganggunya," ucap Lingga.
Waw … sehari sejuta cuma nemenin si Bapuk doang. Lumayan lah. Nggak capek ini, batin Tania yang bersorak kegirangan.
"Ehem … Oke. Aku akan pikirkan dulu. Selamat tinggal, Tuan. Permisi," pamit Tania.
__ADS_1
Lingga pun mengantar wanita itu hingga keluar apartemen, dan memastikan jika pintu kembali tertutup dengan rapat.
...💋💋💋💋💋...
Malam hari, Lingga masih terus menemani Mira yang tertidur dari sejak siang. Pria itu berbaring di samping si ratu es, sambil menopangkan kepalanya pada kepalan tangan.
"Mau sampai kalan kamu tidur, Mir. Ini udah lewat waktu makan malam," gumam Lingga.
Tangannya terulur dan mengusap lembut surai hitam wanitnya. Dia pun sesekali mengecup pelipis Mira yang sedikit ditumbuhi anak rambut.
"Ehm …," Mira mengerang lirih dan menggeliat.
Wanita itu nampak mengerjap-kerjapkan mata dan mencoba untuk membukanya.
"Selamat malam, ratu es ku, Mommy-nya lil baby," sapa Lingga yang masih memandangi wajah bantal Mira.
"Ehm … Kak. Kamu udah pulang?" tanya Mira tersenyum.
"Ehm … dari tadi siang," sahut Lingga.
"Oh …," sahut Mira sambil meregangkan otot tanganya ke atas.
Tiba-tiba, Mira berhenti meregang, dan matanya membola. Dia pun seketika memeluk Lingga dengan erat dan kembali gemetaran.
"Kak …," panggil Mira.
"Ssssttt … Sssttt … sudah nggak papa. Ada aku di sini. Kamu nggak usah takut lagi ya," ucap Lingga yang seolah tau apa yang membuat Mira tiba-tiba memeluknya dan ketakutan seperti itu.
"Dia … dia dateng, Mak. Dia ke sini. Aku … aku udah nggak bisa sembunyi lagi," ucap Mira.
"Tenang. Kamu nggak sendirian, Mir. Ada aku. Percayalah kalau aku akan selalu jagain kamu, dari siapa pun yang berusaha nyakitin kamu dan anak kita," tutur Lingga.
Mira pun semakin mengeratkan pelukannya pada pri itu. Dan terdengar kembali isakan lirih dari mulutnya.
Kurang ajar. Aku harus secepatnya bertindak. Aku nggak mau Mira terus-terusan seperti ini. Aku nggak akan biarin siapa pun nyakitin dia baik fisik maupun mentalnya, batin Lingga.
.
.
.
.
Hari ini othor kasih 4 bab ya guys🤧🤧🤧🤧terhura sumpah ngejar ketinggalan😁
__ADS_1
Kopiin ama vote aku dong😋
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁