
Setelah mengetahui kehamilan Mira, Lingga jarang sekali berangkat bekerja terlalu lama di kantor. Dia selalu ingin dekat dengan wanita dan calon anak mereka. Ini bahkan sudah hari ke lima, dan Lingga masih betah menemani Mira di apartemennya.
Pria itu lebih memilih untuk meminta Nicholas mengantarkan pekerjaan ke tempatnya, agar ia bisa selalu memberikan perhatiannya untuk wanita yang sangat ia cintai itu.
Sesuai janjinya, dia baru akan menikahi Mira setelah proyek di benua biru sudah berjalan. Jadi, Mira pun memahami hal itu dan bersabar menunggu hari baik mereka tiba.
"Kamu beneran nggak papa?" tanya Lingga di suatu pagi, saat mereka masih bermalas-malasan di atas tempat tidur.
"Aku nggak papa kok, Kak. Lagian, jaman sekarang banyak kok yang nikah pas setelah mereka udah punya anak," ucap Mira dengan entengnya.
"Nggak … aku nggak mau seperti itu. Cukup tunggu aku beberapa bulang lagi, dan aku pastikan kamu akan sah menjadi Nyonya Lingga Arya," seru Lingga sambil mendekap erat tubuh Mira.
"Ehm … senangnya jadi istri sultan. Hehehehe …," tutur Mira seraya terkekeh.
Lingga gemas melihat tinggah wanitanya yang selalu saja ceplas ceplos, hingga ia pun menarik hidungnya sampai Mira memekik keras.
"Kaaaaak! Sakit tau," gerutu si ratu es.
"Hehehe … habis gemes ama Mommy-nya lil baby," ucap Lingga yang mebuat Mira mendongak dan mengerutkan alisnya.
"Apaan lil baby? Anakku nggak kecil ya, dia itu super, produk premium, bibit unggulan, nggak kaleng-kaleng," ujar Mira.
"Idih … Mommy cemberut …," ledek Lingga yang tak kuat denga level gemasnya kepada Mira.
"Kak! Sakit … ih …," keluh Mira karena Lingga lagi-lagi mencubit pipinya.
"Hehehe … aaahhhh … aku seneng banget. Akhirnya sebentar lagi kita bisa bareng-bareng, Mir." Lingga kembali mendekap erat tubuh wanitanya itu.
"Ehm …," gumam Mira sambil mengangguk kecil mengiyakan perkataan Lingga.
Gue juga berharap begitu, Kak. Dan semoga itu bukan cuma angan-angan kita saja, batin Mira yang kembali sendu.
"Kak, gimana kalau nanti Mami nggak setuju sama hubungan kita?" tanya Mira kemudian.
Lingga pun merenggangkan pelukannya dan menatap lekat wajah Mira. Dia membingkai wajah itu dengan kedua tangannya, dan mengecup kening Mira dengan perasaan yang dalam.
"Aku nggak peduli kalau ada yang nggak setuju sama kita, sekalipun itu keluargaku sendiri, Mir. Kamu adalah harta ku yang paling berharga. Apalagi, sekarang sudah ada lil baby," ucapnya yang kemudian mengusap lembut perut rata Mira.
Mira pin meraih tangan Lingga, dan kedua tangan mereka berada di atas perutnya.
"Tapi, aku mau kita coba minta restu mereka, Kak." Mira kembali berucap dengan mengulas senyum, yang membuat hati Lingga bergetar.
"Pasti. Kita akan mencoba mendapatkannya. Tapi kalau mereka tetap kolot dan keras kepala, aku akan tetap memilihmu, dan anak kita," ucap Lingga.
Mira tersenyum tipis mendengar ucapan prianya itu.
__ADS_1
Gue mohon, jangan terus mengumbar janji sama gue, Kak. Gue takut. Takut banget kalau itu cuma mimpi, batin Mira.
Lingga mengecup singkat bibir Mira, dan kembali mendekap erat wanitanya.
"Mir," panggil Lingga.
"Ehm …," gumam Mira menyahuti panggilan pria itu.
"Kenapa namamu ganti Mira sih. Aku lebih suka nama Mari lho," ucap Lingga sambil mengusap-usap lengan atas Mira yang masih nyaman berada dalam pelukannya.
"Ehm … tanya saja sama Thom," sahut Mira.
"Oh … jadi nama itu dari thomas," gumam Lingga.
"Iya, soalnya dia waktu kepo sama aku. Mungkin karena virgin effect kali," ungkap Mira.
"Yah, dia memang pernah bilang, kalau dia yang sudah mengambil milikmu yang berharga," sahut Lingga lirih.
Pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Ada rasa nyeri di hatinya kala mengingat pengakuan Thomas pada saat itu. Ada rasa sesak di dadanya karena dia tak bisa menjaga wanita yang begitu ia sayangi, hingga hal buruk itu bisa menimpanya.
"Kak, sesak." Mira mengeluh karena pelukan Lingga yang begitu erat hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Oh … maaf, aku terlalu takut jauh dari mu," seru Lingga.
"Nggak kok. Nggak gombal, beneran aku nggak bisa jauh dari kamu, Mommy-nya lil Baby," seru Lingga dengan membelai lembut surai hitam Mira yang masih betah membenamkan wajahnya di dada bidany Lingga.
"Kak, kenapa semua orang manggil Kakak dengan nama Lingga, bukan Arya?" tanya Mira sambil mendongak melihat wajah prianya.
"Oh … itu kan emang namaku. Lingga Arya Putra Wijaya. Masa kamu lupa sih," sahut Lingga menagap mata Mira.
"Bukan itu maksudku, Kak. Tapi, kenapa bukan pake nama Arya aja. Kan waktu dulu, Kakak dipanggil Arya," tanya Mira lagi.
"oh … jadi gini, nama Arya itu cuma dipake sama Ibu, Ayah dan Riri aja. Sama satu lagi, kamu …," jawab Lingga sambil mencubit hidung wanita di sampingnya.
"Kalo Lingga? Siapa aja yang make?" tanya Mira.
"kalo nama itu, nama yang dipake semua orang. Kalo kamu nyari aku di kantor pake nama Arya, nggak akan ada yang kenal, atau kalau kamu keluar negeri dan bilang Arya itu pimpinan Shine group, mereka pasti akan bilang kamu gila," ucap Lingga menjelaskan
"Oh … jadi gitu. Berarti, aku termasuk orang-orang dekat kamu dong, Kak," seru Mira.
"Jelas dong. Kamu kan calon ibu dari anak-anakku." Lingga kembali mendekap erat Mira dan mengecup kening wanitanya itu.
Keduanya masih betah berlama-lama di atas ranjang, meski tak melakukan hal panas yang biasa mereka lakukan setiap malam.
Lingga benar-benar menjaga Mira dari h*sratnya agar wanita itu dan anak yang dikandung oleh Mira tak lagi mengalami gangguan seperti tempo hari, akibat dirinya yang terlalu bersemangat bercinta dengan si ratu es.
__ADS_1
"Ehm … Kak. Aki boleh pergi ke tempat temenku nggak?" tanya Mira.
"Temen? Temen yang mana?" tanga Lingga merenggangkan pelukannya.
Kesempatan ini diambil Mira untuk merebahkan badannya pada posisi terlentang seraya meregangkan otor tangannya yang kaku, karena Lingga yang terus memeluknya sedari tadi.
Dia kemudian bangkit duduk bersandar di head board lalu meraih ponselnya, dan membuka sebuah aplikasi chating yang sedang populer.
Mira kemudian membuka kanal status pribadi seseorang, dan melihat sebuah foto keakraban sebuah keluarga kecil, di mana ada ibu, ayah dan seorang anak permpuan, yang terlihat begitu bahagia.
"Kak, lihat deh." Mira menunjukkan potret itu kepada Lingga, yang ikut bangun dan duduk di samping Mira.
"Siapa mereka?" tanga Lingga meraih ponsel Mira.
"Ini temanku. Namanya Mia. Ini suami dan putri kecilnya," sahut Mira sambil menjelaskan satu persatu orang yang ada di dalam foto itu.
"Ehm … kita juga nanti bisa kayak gini. Cuman, nanti kita dapetnya boy atau girl yah?" ucap Lingga.
"Apa aja lah. Yang penting anak kita sehat dan lengkap," sahut Mira sambil bergelayut manja di lengan ayah dari anak yang ada dalam kandungannya, dan menyandarkan kepalanya di pundak Lingga.
.
.
.
.
Manis … manis … manis … diabetes nanti ah … jiwa LDR ku meronta😫😫😫😫😫😫
Dah lah, kalian jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
oh iya, aku ada rekomendasi novel nih, sambil nunggu novelku up lagi besok😊
ini karya teman aku sesama author Noveltoon, judulnya I'M A NIGHT BUTTERFLY karya author GUPITA
Panggil saja aku Mentari umur ku yang masih belia di paksa dewasa. Harus menerima masalah begitu berat dalam keluarga. Ibuku mati bunuh diri tak sanggup menerima kejahatan yang ayahku berikan.
Ayahku menjual ku kepada Mami Tiara hanya untuk membahagiakan istri mudanya. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya?
Atau aku mati saja ikut bersama ibu ku di surga. Bagaimana nasib adik ku Revalina jika aku mati?
kepo? cus ketik di pencarian ya😘
__ADS_1